
Di rumah tuan Angga, suasana dirumah kini sudah tidak lagi sepi. Ganan dan Maura di karuniai sang buah hati sekaligus tiga. Perasaan bahagia kini tengah dirasakan oleh keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta. Namun sayangnya, disaat kelahiran putra dan putri Ganan sang kakek tidak berada di rumah. Melainkan kakek Wilyam berada di Amerika bersama Zio.
Terlihat aura pada Maura dan Ganan yang memperlihatkan rasa bahagianya. Sang ibu maupun ibu mertua ikut membantu menjaga ketiga buah hati.
"Sayang, lihatlah ketiga cucu kita. Aku rasa tidak ada yang mirip dengan kedua orang tuanya, bukan?" ledek Nyonya Qinan.
"Benarkah? lalu mirip siapa?" jawabnya Tuan Angga sambil memainkan tangan mungilnya milik cucunya.
"Milik kamu, aku rasa kedua cucu putra kita benar benar mirip kamu." Ucapnya memuji, sedangkan Ganan dan Maura hanya saling melempar senyum saat kedua orang tua Ganan sedang menghibur ketiga cucunya.
"Iya, benar. Kedua cucu putraku benar benar mirip denganku, yang tampan dan juga pintar pastinya. Dan lihatlah, rupanya cucu perempuanku mirip denganmu, sayang.." jawab Tuan Angga tersenyum.
"Iya dong, neneknya kan cantik dan juga pintar tentunya." Ucapnya yang tidak mau kalah.
"Ngomong ngomong nih, anak anak kalian berdua mau diberi nama siapa? apakah kalian sudah menyiapkan nama yang terbaik untuk kedua putra dan putri kalian." Tanya ibu Romlah mengingatkan.
"Sudah dong, ma.. Ganan dan Maura sudah menyiapkan nama yang cocok untuk mereka bertiga. Anak yang pertama Reynan Wilyam, yang kedua Zakka Wilyam, dan yang ketiga Neyla Wilyam." Jawab Ganan menyebutkan satu persatu.
"Nama yang sangat bagus dan baik. Semoga nama yang kamu berikan untuk anak anakmu, kelak akan akan menjadi sosok yang sangat bijaksana dan baik budi pekertinya." Ucap tuan Angga ikut menimpali dan mendoakan, begitu juga dengan ibu Romlah dan istri tuan Angga yang ikut mendoakan ketiga cucunya.
"Terimakasih, ma.. pa.." jawab Ganan Maura bersamaan.
Tidak lama kemudian, keluarga Danuarta telah sampai dirumah tuan Angga.
__ADS_1
"Wah.... selamat Brother, akhirnya kamu mendapatkan sesuatu yang tidak pernah diduganya. Aku ikut bahagia atas kelahiran kedua putra dan putrimu." Ucap Tirta yang langsung memeluk Ganan dan memberi ucapan selamat.
"Terimakasih, Bro. Kamu sendiri, kapan istrimu diperkirakan lahiran?" jawab Ganan dan bertanya.
"Tidak lama lagi, tinggal beberapa bulan lagi." Jawab Tirta yang juga ikut tersenyum bahagia. Semua kini berada didalam kamar mengucapkan selamat atas kelahiran kedua putra dan putri Ganan dan Maura. Semua nampak bahagia dengan kelahiran kedua putra dan putri cucu tuan Angga.
Tidak hanya itu, kakek Danuarta sangat bahagia. Karena sekali menerima cicit sebanyak tiga bayi.
"Wah... Kakek sangat bahagia, Ganan. Semoga Tirta pun akan mendapatkan hal yang sama seperti kamu." Ucap kakek Danu dengan senyum yang mengembang.
"Iya, kek. Ganan doakan, semoga Tirta akan mendapatkan seperti yang Ganan dapatkan." Jawab Ganan dan tersenyum.
"Iya nih, Tirta selalu merahasiakan calon bayinya. Aku rasa anaknya pun pasti kembar, lihatlah perut istri kamu seperti sudah sangat susah untuk bernafas." Ucap nyonya Qinan ikut menimpali. Sedangkan Nessa hanya membalas dengan senyuman, setelah itu segera mendekati Maura yang masih duduk dan bersandar diatas tempat tidur.
"Maura, selamat ya. Semoga putra dan putrimu menjadi anak yang bijaksana dan memiliki budi pekerti yang baik. Dan semoga aku akan segera menyusulmu, dan melahirkan dengan mudah. Aku ikut bahagia atas kelahiran anak anak kamu." Ucap Nessa memberi ucapan selamat.
Sedangkan tuan Angga dan tuan Ferdi maupun yang lainnya duduk bersama di ruang keluarga. Di dalam ruangan keluarga semua bersenda gurau dibarengi dengan suasana bahagia. Sedangkan Ganan menemani sang istri ditemani ibu Romlah.
Di ruang keluarga, dua keluarga tengah kumpul bersama sambil menikmati makanan ringan dan ditemani dengan teh hangat.
"Ayo kita tebakan, Apakah anak Tirta kembar?" tanya tuan Angga membuka percakapan.
"Kalau menurutku, Tirta hanya memiliki putri semata wayang. Karena apa? yang satu ada pada Ganan. Kalau menurutmu bagaimana, Angga?" jawab tuan Ferdi mencoba menebak dan bertanya balik ke tuan Angga.
__ADS_1
"Menurutku ada dua," jawabnya yang mencoba ikut menebak.
"Aku tidak bisa menjawab, karena jawabannya sudah kalian berdua jawab." Ucap nyonya Qinan ikut menimpali.
"Apalagi aku, hanya bisa berharap dan berdoa." Ucap nyonya Tiara yang juga ikut menimpali.
"Sudah sudah.. ayo kita nikmati cemilan ini. Sepertinya sangat menggoda," ajak kakek Danu.
"Ini kueh, pasti buatan Nessa. Kenapa tidak kamu kembangkan bakat kamu, Nessa. Tante rasa nanti kamu akan memiliki sebuah nama yang terkenal. Kueh kamu benar benar sangat menggugah selera, dari tampilannya saja sudah menarik perhatian. Apalagi rasanya, tante rasa perlu di kembangkan." Ucap nyonya Qinan memuji.
"Aku yang melarangnya, aku tidak ingin cucuku nanti akan kurang perhatiannya. Jika kedua orang tuanya sibuk bekerja, jadi aku sengaja untuk tidak mengizinkannya." Jawab nyonya Tiara yang juga ikut menimpali.
"Loh, kan bisa mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk mengelolanya. Nessa tinggal mengajari salah satu karyawan yang dipercaya. Mudah, kan? selain itu dapat memberikan lowongan pekerjaan bagi yang membutuhkan. Kita dapat membantu perekonomian mereka yang membutuhkan pekerjaan. Jadi... kita bisa mengurangi pengangguran." Ucap nyonya Qinan.
"Benar itu, apa yang dikatakan Qinan ada benarnya. Tapi... sekarang cucu menantuku sedang hamil. Jadi.. fokus saja pada anak kamu. Jika setelah anak kamu besar nanti kamu dapat melakukan aktivitas yang kamu sukai. Dan kamu, Tiara dan Ferdi. Jangan mengatur anak kamu dan menantu kamu, biarkan melakukan aktivitasnya. Terkecuali itu sangat berlebihan, kalian berdua berhak untuk melarangnya." Ucap kakek Danu mengingatkan dan menasehati.
"Iya, Pa. Ferdi mengerti, Ferdi hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi, Jika nanti menginginkan beraktivitas sesuai keinginannya Ferdi dan Tiara tidak akan melarang Tirta maupun Nessa melakukan kegiatannya.
"Nah, begitu dong. Papa senang mendengarnya." Ucap sang kakek yang kemudian tersenyum. Sedangkan Nessa ikut melempar senyumannya.
"Oh iya Fer, kamu sudah dapat kabar dari tuan Vino dan tuan Galuh, belum?" tanya tuan Angga.
"Sudah, kemarin mampir ke rumah. Tetapi waktu itu aku sedang keluar, hanya istriku yang ada dirumah. Kita akan datang sebelum hari pernikahannya, atau pas resepsinya." Jawab tuan Ferdi dan bertanya.
__ADS_1
"Bagaimanan kalau waktu resepsi hari pernikahannya, agar kita lebih leluasa untuk bernostalgia. Dan kita bisa bertemu dengan Miko dan Doni. Aku sudah sangat merindukan masa masa itu, saat kamu dan yang lainnya memberiku kejutan. Tapi rupanya, kejutan itu adalah kepulangan Zio." Jawab tuan Angga mengingat masa lalunya. Sedangkan nyonya Qinan pun teringat saat nama Zio disebut.
Semua hening, tanpa ada yang bersuara.