
Ningrum berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan sambil membaca buku dengan fokus
mama kaila menggelengkan kepalanya melihat ningrum “baca itu duduk rum, bukannya sambil jalan gitu” nasehat mama kaila
Ningrum membalik bukunya sambil menyeruput jus jeruk miliknya lalu duduk di kursi tanpa mengalihkan pandangannya “iya mah, ningrum lagi serius nih, soalnya nanti mau praktek pelajaran biologi” balas ningrum
“rum nanti kamu berangkat sama kak rafasya ya, kak aditya mau ada urusan organisasi kampus soalnya”
ucap kak aditya
Ningrum mengangguk “ya kalau kak rafasya bisa datang jemput gak masalah, kalau gak bisa juga papa, ningrum bisa berangkat sendiri” ningrum mendongak ke arah kakaknya
“hai” sapa kak rafasya melambaikan tangannya dengan senyum manisnya
“sejak kapan kakak datang?” tanya ningrum memegang dadanya karena terkejut
“sejak tadi, sejak mamamu teriak-teriak minta kau bangun tidur” balas kak rafasya
Ningrum terkekeh “ketahuan lagi ya” gumam ningrum tertawa, mengingat dirinya sering ketahuan diteriaki mamanya untuk bangun pagi
“ningrum ningrum “gumam mama kaila menggelengkan kepalanya
“kamu tuh ya bangun pagi Cuma kalau ada maunya saja, selain itu mah kerjaannya bangun
siang. malu tahu anak gadis kelakuannya gitu” ucap mama kaila
“hehehehe”ningrum hanya tertawa mendengar ucapan mamanya
Setelah sarapan, semua orang melakukan aktivitasnya masing-masing, ayah virza dan
zian ke kantor, aditya pergi mengurus acara BEM kampusnya, sedangkan mama kaila akan mengajak kakek hafizhan kontrol rutin ke rumah sakit
“ningrum berangkat ya” pamit ningrum memeluk mamanya
“pamit ya tan” ucap rafasya menyium punggung tangan mama kaila
Ningrum masuk ke mobil rafasya menuju sekolahnya dan kembali membuka bukunya untuk mempelajari materi praktikum yang akan dilakukannya di sekolah
Rafasya melihat ningrum heran “kau serius banget sih rum, suka banget ya sama pelajaran biologi?” tanya rafasya
Ningrum mendongak “suka apaan?” kakak gak tahu sih, ningrum itu selalu remidi pelajaranini, ningrum gak suka!” balas ningrum mencebikkan bibirnya
“terus kalau kamu gak suka kenapa malah kamu baca terus?” tanya rafasya menautkan kedua alisnya
“ningrum gak mau dapat nilai jelek jadi, ningrum harus serius dengan pelajaran ini” balas ningrum kembali membaca buku biloginya
ningrum memang terbiasa mendapat nilai bagus walaupun dia jarang belajar. ningrum memang bukan peringkat 1 tapi dia kategori anak yang cukup cerdas
tangan rafasya memegang kemudi sambil membenarkan posisi spion di bagian depan “oh ya rum, kakak sudah rundingan jadwal bantu kamu belajar, kata kakak-kakak kamu yang lain mereka sedang sibuk jadi mungkin kakak saja yang akan membantumu belajar persiapan ujian kenaikan kelas” ucap rafasya
__ADS_1
ningrum mengangguk "iya" ningrum mengalihkan meletakkan bukunya di pangkuan “emang
kakak gak sibuk?” tanya ningrum
“sibuk sih rum, tapi untukkmu kakak bisa meluangkan waktu sebanyak-banyaknya” balas rafasya mengacak rambut ningrum
ningrum merapihkan rambutnya “terserah kakak saja, tapi kalau sibuk jangan dipaksakan. Lagian orang tua ningrum gak pernah permasalahin nilai ningrum, yang penting ningrum sekolah dan gak aneh-aneh katanya sudah cukup “ balas ningrum tersenyum
“iya,iya, kakak hanya akan meluangkan waktu untukmu jika memang sempat” balas rafasya
Berkendara selama 20 menit akhirnya ningrum sampai ke sekolahnya “ berangkat sekolah dulu ya kak” pamit ningrum bergegas berlari
menuju sekolahnya
“iya” balas rafasya melajukan mobilnya menuju kampus tempat ia menempuh pendidikan
***
Rafasya menuju gedung dosen fakultasnya untuk bimbingan skripsi ke ruangan dosen pembibimbingnya
“pagi pak” sapa rafasya saat membuka pintu
“pagi” balas pak doni dosen pembimbing rafasya
“ini skripsi saya pak”rafsya menyerahkan dokumen skripsi miliknya
“terima kasih pak” bals rafasya bergegas menuju jurusannya untuk mengurus pendaftaran
Selesai mengurus skripsinya rafasya menuju kantin untuk makan siang
“hei bro” sapa romi menepuk punggung rafasya
“hai, dimana yang lain?” tanya rafasya mengedarkan pandangannya ke sekeliling
“katanya sih sebentar lagi mereka ke sini” balas romi
Tak lama menunggu kak aditya, Julian dan martin datang menghampiri “ wah parah! gak nunggu kita ya” kesal Julian menyenggol bahu romi dan rafasya
“ya kalian lama, aku laper ya makan lah” balas rafasya memakan mie ayam yang sudah ia pesan
aditya menyenggol bahu rafasya “adik aku kamu anter dengan selamat kan?” tanya aditya
“aman” balas rafasya mengangkat satu jempolnya
rafasya menyudahi makannya menatap para sahabatnya “tadi aku sudah bilang ke ningrum kalau kalian sibuk jadi tidak bisa bantu dia belajar, tapi aku akan berusaha meluangkan waktu untuk menemaninya belajar” ucap rafasya
“terima kasih” balas ke empat sahabatnya serempak mengangkat kedua jempol mereka
Rafasya mengangguk mengiyakan ucapan terima kasih dari para sahabatnya
__ADS_1
“gimana urusan kampus? beres? “ tanya romi pada aditya
Aditya mengangkat jempolnya “ beres”
“lalu gimana dengan pacarmu rom?” tanya aditya tersenyum miring
Romi menimpuk kepala aditya “apa-apaan sih ngeledek aku melulu” ucap romi
“secara di antara kita, kamu doang yang sudah punya pacar” kekeh aditya
Romi berkacak pinggang “kata siapa aku doang yang punya pacar, noh, noh “ tunjuk
romi pada martin dan Julian “mereka juga punya kali, kamu sama rafasya aja yang
gak punya pacar” balas romi dan dia tambah kekekehan martin dan julian
aditya berdiri berkacak pinggang menatap ke tiga sahabatnya “waah parah, sudah
punya gebetan semua, tega ya ninggalin aku” ucap aditya kesal
“salah sendiri, kebanyakan nolak cewek” balas martin
“ya itu karena belum ada yang menggetarkan hatiku, kakak aku saja yang sudah mau 30
saja belum pacaan, jadi aku mah santai saja” kekeh aditya
“kalau kamu kenapa gak pacaran? Bukan ada yang suka sama kamu, siapa ya itu namanya “
ucap romi tampak berpikir
“mila“ balas martin yang diangguki ke tiga sahabat yang lain
“dia suka aku itu urusan dia, bukan urusanku. Aku..." rafasya menggelengkan kepalanya " gak ada yang bisa membuatku ingin memikirkannya atau peduli padanya jadi buat apa aku pacaran” balas rafasya datar
julian memajukan bibirnya “kata siapa gak ada yang bisa buat kamu mikirin dia?” tanya Julian
ketiga sahabatnya yang lain menyipitkan matanya serempak “siapa?” tanya aditya, martin dan romi serempak
“ningrum lah” kekek Julian dan diikuti sahabat yang lain
“iya juga, Cuma ningrum saja yang bisa bikin dia kepikiran, sudah makan apa belum lah. pulang di jemput siapa? belajarnya susah apa enggak? sakit pengen apa? dan diam tahu banget apa yang ningrum mau, dan selalu bisa tolerir dengan jailnya ningrum” kekeh martin
Kak aditya yang ikut tertawa , menyudahinya tiba-tiba “tunggu-tunggu” pinta aditya untuk menghentikan tawa para sahabatnya “kamu gak suka adikku kan?” tanya aditya
nafas rafasya serasa tercekat tapi beberapa detik kemudian Rafasya terkekeh “apaan sih dit, dia masih kecil kali” balas rafasya tertawa yang di ikuti sahabat lainnya
“iya, gak mungkin kamu suka adikku yang kamu lihat sejak dia masih dalam perut, kotorannya saja kamu ikut bersihin dulu” cicit kak aditya tertawa
Melihat itu rafsya sedikit memalingkan wajahnya agar tak bisa di lihat para sahabatnya, rafasya menghentikkan tawanya dengan tatapan yang sulit di artikan
__ADS_1