
Mas ojo memandang tajam kearah Raka yang sudah babak belur di tangannya “kali ini
aku akan berhenti sebentar karena harus mengecek keadaan non kasih, tapi setelah aku melihat keadaannya baik saja, aku pasti akan kembali memberikan pelajaran untukmu” ucap mas ojo tajam
Raka sayup-sayup mendengar kasih yang terluka “kasih kenapa?” tanya Raka cemas mendengar kasih terluka
Mas ojo mengabaikan Raka, menoleh kearah bawahannya “jaga dia, aku akan kembali
setelah memastikan keadaan nona” ucap mas ojo
“kasih kenapa?!” teriak Raka dengan sisa tenaganya
"kasih" Raka menangis memikirkan kasih yang sedang terluka tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena tangan dan kakinya saja terikat dan luka di sekujur tubuhnya
***
“ayo ke rumah sakit sekarang” pinta ningrum
Ningrum membalut tangan kasih dengan sapu tangannya, menuntun kasih menuju mobil dengan berhati-hati
Rafasya membawa mobil dengan cemas melihat banyaknya darah yang mengalir dari tangan
kasih dan wajah kasih yang makin pucat
“maaf ya kasih” ucap kakek sakti tak tega melihat keadaan kasih
“tidak apa om, harusnya aku yang minta maaf membuat kalian takut” ucap kasih menunjuk
tangannya yang masih mengeluarkan darah segar
“kenapa kamu harus pakai cara ini? Untuk
menghubungi dia? apa tak bisa dengan cara lain? " tanya kakek sakti penasaran
Kasih tersenyum “dia menanam GPS di tubuhku, jadi dia bisa dengan mudah menemukanku
juga akan langsung tahu saat aku terluka.” Balas kasih
“hah?” heran keluarga ningrum tak percaya
dengan apa yang diperbuat mas ojo untuk menjaga kasih yang terkesan sangat
berlebihan
“pasti kalian semua tahu tentang kejadian saat aku diculik dulu bukan?” tanya kasih
__ADS_1
“iya kami tahu” balas kakek sakti
“itu dia lakukan karena terlalu menyayangiku. Baginya aku adalah keluarga satu-satunya orang yang paling berharga di hidupnya. Dia pernah ketakutan setengah mati saat aku diculik 16 tahun lalu, jadi mas ojo gak ingin kecolongan lagi. Kasih sangat mengerti ketakutannya jadi kasih gak pernah mempermasalahkannya” jelas kasih
Kasih menatap orang yang ada dalam mobil bergantian “nanti kalian menjauh lah biar
kasih yang bicara. Takutnya kalau kalian berada di sekitarku mas ojo akan marah dan akan melakukan sesuatu di luar kemampuanku untuk membatasinya” pinta kasih
“baik kami mengerti. Sekali lagi terima kasih” ucap kakek sakti dengan bersungguh-sungguh
***
keluarga besar Ningrum berdiri di dalam ruangan yang terdapat banyak layar besar, mengamati kasih yang berada di salah satu ruangan Di rumah sakit, lebih tepatnya di ruang UGD, kasih tengah diperban oleh perawat jaga
“brak” terdengar suara pintu di buka dengan kasar dan suara perawat yang berteriak pada mas ojo melarang nya masuk ke ruang UGD
“non kasih” panggil mas ojo dengan nada cemas
Kasih menoleh ke arah datangnya suara “nona
kenapa? Tanya mas ojo memegang tangan kasih yang terluka dan sudah di balut perban
Kasih memandangi wajah mas ojo yang cemas melihat keadaan kasih “dimana mas ojo bawa
Mas ojo mendongak, menautkan kedua alisnya menatap tak percaya kearah kasih “ apa nona sengaja melukai tangan nona untuknya!” balas mas ojo dengan suara tinggi
mas ojo memberitahukan pada kasih perihal ia yang menanam GPS di tubuh kasih agar ia bisa tahu dimana pun lokasi kasih, dan juga mas ojo yang bisa tahu kalau kasih terluka dari alat yang ada di tubuh kasih.
“jangan seperti ini mas, dia gak melukaiku. Jadi tolong lepaskan dia” pinta kasih lirih
“gak melukai gimana? Dia sudah berani menyentuh nona dan gak bertanggung jawab
dengan perbuatannya” ucap mas ojo kesal
“dia mau bertanggung jawab mas, tapi kasih yang menghindarinya. Kasih yang selalu menolak ajakannya untuk bicara” balas kasih
“bohong!" mas ojo memundurkan tubuhnya menatap sendu ke arah kasih "Nona selalu begitu, berbohong demi orang-orang yang jahat sama nona” balas mas ojo mulai menjatuhkan cairan bening dari sudut matanya
“dulu saja, saat nyonya Clara mendorong nona dengan sengaja, nona malah membelanya
mengatakan bahwa nyonya clara tak sengaja menabrak nona karena nona yang tak
berhati-hati. Tapi bagaimana bisa nona tak berhati-hati sedangkan saat itu nona
hanya duduk diam dekat tangga!” teriak mas ojo mengingat kejadian kasih yang terjatuh dari tangga karena di dorong istri om john Davis adik ayah kasih
__ADS_1
“kasih gak bohong mas, kejadian sekarang berbeda dengan dulu” balas kasih
“aku gak percaya sama nona” balas mas ojo menggelengkan kepalanya “pasti nona berniat menyelamatkannya saja” mas ojo menolak percaya dengan ucapan nona mudanya
Kasih mengusap air matanya yang sudah tumpah sedari tadi “inilah yang aku takutkan, mas ojo pasti tidak akan melepaskannya jika mas ojo tahu dia menyentuhku” ucap kasih
“tentu saja! Jelas aku tak akan melepaskannya. Aku pasti membunuhnya!. Akan aku buat dia memohon padaku untuk mati dari pada hidup!” teriak mas ojo
Untung saja di ruang UGD hanya ada kasih karena memang keluarga ningrum yang meminta
agar UGD di pindahkan sementara karena pasti akan ada keributan besar di sana
“aku mohon lepaskan dia mas” pinta kasih lirih menundukan wajahnya dan menangis sesenggukan
“kenapa? kenapa memohon untuknya!? " tanya mas ojo menatap tajam kasih
Kasih mendongak menatap sendu mas ojo “aku hamil mas” ucap kasih
Mata mas ojo membelalak lebar “nona hamil?” tanya mas ojo tak percaya dengan ucapan kasih
“iya mas, aku hamil anaknya. jadi kasih mohon Jangan biarkan anakku jadi yatim sebelum dia lahir” pinta kasih mengatupkan tangannya di hadapan mas ojo
Mas ojo berbalik meraup mukanya kasar “aaaaaakhhhhhhh!” teriak mas ojo frustasi
karena kecolongan di depan matanya
“lepaskan dia, dan aku janji akan pergi dengan mas ojo. Aku juga yang akan memohon ampun
pada ayah tak akan melibatkan mas ojo sama sekali ” ucap kasih terus mengalirkan cairan bening dari sudut matanya
“aku mohon mas hiks hiks hiks hiks “ kasih menangis tersedu memohon pada mas ojo
agar mengampuni raka dan melepaskannya
Ningrum menutup mulutnya dengan satu tangannya tak percaya dengan yang ia dengar
Ningrum, rafasya, ayah dan kakeknya berdiri di
ruang CCTV mengamati perbincangan kasih dan mas ojo, karena kasih yang sudah meminta mereka untuk menjaga jarak sejauh mungkin agar tak memicu kemarahan pengawalnya itu, jadi mereka memutuskan mengawasi melalui CCTV
“aku salah dengar gak?” tanya ningrum menatap rafasya suaminya
Rafasya menggeleng “enggak, dia hamil anak om raka, cucu kakek sakti” ucap rafasya menatap kakek sakti
“astaga putraku satu itu” gumam kakek sakti meraup mukanya kasar
__ADS_1