Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter#5


__ADS_3

Tiba waktunya hari bahagia Vika dan Dika, semua tamu undangan tengah memadati gedung xxx.


Tidak hanya itu, Keluarga Wilyam dan keluarga Danu tengah menghadiri pesta pernikahan putra dan putri tuan Vino dan tuan Galuh.


Tirta hadir bersama Ganan, sedangkan tuan Angga bersama tuan Ferdi.


Tiba tiba tuan Ferdi dan juga tuan Angga dikagetkan oleh dua sosok pria paruh baya yang tidak asing.


"Hei, kakek Angga dan kakek Ferdi. Apa kabarnya?" seru salah satu pria paruh baya memanggil dan menyapanya sambil senyum garing.


"Sialan, rupanya kalian berdua." Jawab tuan Angga terkekeh.


"Lantas apa aku masih pantas memanggil kalian berdua, Bro? kalian berdua sudah menjadi kakek. Terimalah kenyataan itu, beda dengan kita berdua ini. Yang masih belum mempunyai menantu." Ucap Miko sambil meledek.


"Wah wah... rupanya kalian berempat sudah datang. Ayo masuk, didalam sudah ada tuan Galuh." Ucap tuan Vino mengagetkan.


"Baiklah," jawabnya serempak.


"Dok, apakah kamu masih ingat saat namamu menjadi Dona?" ledek tuan Miko mengingat masa lalu saat dirinya terjebak dalam pesta yang dihadiri para tamu ibu ibu dan nenek nenek.


"Ejek terus... ini kan gara gara idenya tuan Takur. Eh, maksud aku tuan Angga Wilyam. Iya, kan?" jawab Dokter Doni sambil mengedipkan matanya. Yang mendengarkannya pun tertawa.


"Tuan Takur, nama yang unik. Kamu tidak salah kasih nama buatnya kan, Dok?" ucap Ferdi ikut menimpali dan meledek. Sedangkan tuan Angga hanya


"Payah kalian, apa aku ganti profesi saja. Biar kalian tidak memanggilku dengan sebutan nama yang aneh, sungguh kalian terlalu." Jawab Angga menimpali sambil melangkahkan kakinya untuk menemui Galuh sepupunya. Sedangkan tuan Ferdi, tuan Miko maupun Doni tertawa lepas.


"Kalian semua sudah sama tuanya, lihatlah para tamu undangan. Semua terasa geli melihat ekspresi kalian." Ucap tuan Vino sambil berjalan.

__ADS_1


"Aaah, sudah sudah.. kita ucapkan selamat dulu dengan tuan Galuh dan tuan Vino. Doakan untuknya, agar segera menjadi kakek." Ucap Dokter Doni ikut menimpali sambil senyum lebar.


Semua para tamu undangan, pandangannya tertuju dengan rombongan tuan Angga yang terlihat begitu kompak, tidak ada yang tidak membicarakan kekompakan atas persahabatan dari jaman masih muda sampai tua. Meski terjadi permusuhan diantaranya, namun tetap menjadikan kekeluargaan yang pernah terputus.


Tuan Angga dan yang lainnya kini menghampiri Galuh yang sedang menerima ucapan ucapan selamat dari para tamu undangan.


"Selamat, atas pernikahan putra dan putri kalian. Semoga dihari pernikahan putra putri kalian selalu membawa kebahagiaan." Ucap tuan Angga memberi ucapan selamat kepada saudara dan juga sahabatnya. Begitu juga dengan yang lainnya ikut memberi ucapan selamat kepada tuan Galuh dan tuan Vino. Setelah itu, tuan Angga dan yang lainnya memberi ucapan selamat kepada Dika dan Vika.


"Ayo ikut aku, kita nikmati kebersamaan kita. Bukankah kita sudah terpisah sangat lama, aku sangat merindukan kalian semua." Ajak tuan Galuh kepada sahabat sahabatnya.


"Tuan Ferdi, kenapa rambut kamu cepat sekali sudah banyak yang memutih?" tanya tuan Miko sedikit meledek.


"Kamu tahu, aku sangat lama menunggunya. Dan barusan kamu bilang cepat sekali memutih? hitunglah, sudah 50 tahun aku menunggu rambutku memutih. Apakah bagimu itu cepat, aah tidak!" jawab tuan Ferdi sambil mengusap usap rambutnya yang kini terlihat licin tatanannya.


"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, tuan Miko? lihatlah, bahkan kening kamu sudah terlihat lagi. Justru setelah aku perhatikan sudah menyaingi lapangan bola." Ucap Dokter Doni ikut menimpali meledek. Sedangkan tuan Miko hanya mengernyitkan dahinya, sedangkan yang lainnya tertawa puas.


"Apa kalian juga tidak melihat pada penampilan tuan Angga?" ucap tuan Galuh ikut menimpali. Sedangkan yang lainnya langsung menengok kearah tuan Angga. Diperhatikannya penampilan tuan Angga dari atas sampai bawah.


Sempurna dari mana, botaknya saja hampir menyaingi lapangan bola juga. Lihatlah, Dagunya saja sudah tidak mulus lagi. Apa tuan Vino rabun? gumam tuan Galuh sambil memeriksa penampilan tuan Angga dan sambil mengusap ngusap kepalanya yang tanpa sadar bahwa tuan Galuh sendiri pun tidak jauh beda dengan yang lainnya.


"Kamu tidak lagi kambuh, kan?" tanya tuan Angga pada tuan Galuh.


"Enak saja, aku masih normal dan masih doyan." Jawabnya tersenyum garing.


"Doyan?" ucap semua sahabatnya serempak menatapnya dengan penuh rasa keheranan.


"Aaaah sudahlah, jangan semakin panjang pertanyaan kalian. Sekarang ayo kita makan bersama, sudah lama kita tidak menikmatinya kebersamaan ini." Ajak tuan Galuh, lalu yang lainnya mengikuti ajakannya untuk menikmati makan bersama seperti masa muda yang sudah dilewatinya.

__ADS_1


Suasana kali ini tidak lagi hening, entah karena sangat menikmati kebersamaan yang sudah lama tidak pernah kumpul bersama atau karena faktor usia. Tidak hanya Dokter Doni saja yang selalu mengajak bersenda gurau, tetapi semuanya ikut bersenda gurau dan menikmati kebersamaan yang sudah lama tidak tercipta.


Setelah merasa sudah cukup dan puas, tuan Angga dan sahabat yang lainnya berpamitan untuk pulang.


Didalam perjalanan, tuan Angga maupun tuan Ferdi masih bercerita masa masa mudanya. Tidak seperti biasanya, tuan Angga yang lebih suka diam kini tiba tiba terlihat sangat bahagia. Tuan Ferdi pun merasa ada yang aneh akan perubahan tuan Angga.


"Kamu terlihat bahagia, apakah kamu mendapatkan hoki?" tanya tuan Ferdi penasaran.


"Tentu saja aku sangat bahagia. Kamu tahu, kebahagianku kini benar benar sempurna. Aku mendapatkan cucu sekaligus tiga, dan aku mendapat keluarga yang pernah dirundung masalah karena dendam kini sudah kembali seperti yang aku harapkan." Jawabnya menjelaskan.


"Syukurlah, aku pun ikut bahagia." Ucap tuan Ferdi dan tersenyum.


Setelah mengantarkan tuan Ferdi, tuan Angga segera pulang karena sudah sangat merindukan ketiga cucunya.


Aku berharap, ketiga cucuku kelak nanti akan menjadi penerus keluarga Wilyam. Semoga tidak akan ada yang menyimpan perasaan iri dan dengki. Cukup masa lalu yang pernah menjadi pelajaran berharga untuk keluarga Wilyam. Gumam tuan Angga sambil fokus menyetir.


Tidak lama kemudian, tuan Angga telah sampai di halaman rumahnya. Dengan langkah kakinya yang begitu gesit, membuat tuan Angga terburu buru ingin segera menemui dan menggendong ketiga cucunya.


"Reynan, Zakka, Neyla.. kakek pulang..." seru tuan Angga memanggil ketiga cucunya.


"Sayang, jangan keras keras memanggilnya. Rey dan Ney sedang pulas tidurnya, kasihan kalau mereka berdua terbangun." Ucap nyonya Qinan mengingatkan.


"Baiklah, ajaklah Zakka kemari. Aku ingin menggendongnya," perintah tuan Angga yang sudah tidak sabar ingin menggendong cucu cucu kesayangannya.


Nyonya Qinan segera menemui Zakka yang sedang dalam pangkuan Maura.


"Maura, papa ingin menggendong Zakka. Boleh, kan?" tanya sang ibu mertua.

__ADS_1


"Boleh kok, ma... Zakka pasti sangat senang jika digendong papa." Jawab Maura dan memberikan Zakka putranya ke ibu mertuanya. Kemudian Nyonya Qinan segera menggendong Zakka cucu kesayangannya.


Hai readers.. sebentar lagi bonus chapternya akan selesai loh... kira kira kelanjutan cerita selanjutnya dari keluarga Danuarta atau keluarga Wilyam, ya?


__ADS_2