
Raka membawa kasih masuk ke dalam ruangan baju nenek angel “kamu pilih saja mana
baju yang kau suka” ucap raka menunjuk koleksi pakaian mamanya, sedangkan dirinya memilih duduk di kursi panjang dalam ruangan menunggu kasih memilih baju
Kasih memilih-milih baju koleksi nenek angel “yang ini aja bang” ucap kasih mengambil
mini dress bermotif bunga berwarna hijau muda
raka mengangguk “ya sudah, ganti di kamar abang saja” ajak raka menggandeng tangan kasih menuju pintu yang berada di ruangan itu
Kasih heran dengan arah yang di tuju raka “kok kita lewat sini, bukannya tadi lewat
sana ya bang?” tanya kasih menunjuk pintu yang ia lewati tadi
“ini dulu kamar mama dan ayah sebelum pindah ke bawah, jadi ada pintu yang langsung
menuju kamar abang” raka membuka pintu, dan benar saja mereka langsung sampai
ke kamar raka
Kasih memindai setiap sudut kamar raka “ kamu ganti sini saja ya, abang mau mandi
dulu” tunjuk raka pada kamar mandi miliknya
“iya bang” balas kasih
Raka langsung menyambar baju miliknya dan masuk kamar mandi, sedangkan kasih
mengganti pakaiannya dengan terburu-buru, takut keduluan raka yang selesai mandi. Setelah selesai berganti pakaian kasih duduk di depan cermin di kamar raka, sambil memindai kamar raka “ rapih” gumam kasih menilai kamar pribadi raka yang tersusun rapih dan bernuansa coklat
“ceklek” raka sudah keluar dengan memakai kaos dan celana olahraga panjang “sudah selesai?” tanya raka sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil
Kasih mengangguk “sudah bang, kasih pulang ya” ucap kasih bergegas membuka kenop pintu kamar raka tapi buru-buru di tahan raka
Kasih menoleh ke arah raka menautkan kedua alisnya “dimana kalung yang tadi kau minta?”
tanya raka melirik leher kasih yang terlihat kosong
Kasih melihat arah tatapan raka “itu ada di tasku” tunjuk kasih pada tas selempang
yang taruh di bahu kanannya
“sini” pinta raka menadahkan tangannya ke arah kasih
“abang mau ambil lagi?” tanya kasih
“sini” ulang raka
Kasih mengambil kalung tersebut dan memberikan pada raka
Raka membuka kotak pembungkus kalung tersebut “hadap sana” pinta raka agar kasih
__ADS_1
berbalik
"kenapa? " tanya kasih
"hadap sana" ulang raka
“ah, iya” jawab kasih segera berbalik memunggungi raka
Raka menyelipkan rambut kasih yang panjang sebahu ke arah depan bagian kiri pundak kasih
Raka memasangkan kalung tersebut ke leher kasih “bukankah kau memintanya, jadi pakai
saja, jangan Cuma untuk di simpan” ucap raka membenarkan rambut kasih setelah kalungnya di pasangkan
Kasih mengangguk , menyentuh liontin kalung yang baru saja di pasang Raka “iya bang” balas kasih
“ya sudah, ayuk turun” ajak raka membukakan pintu untuk kasih dan turun ke lantai bawah
Nenek angel melihat kedatangan raka dan kasih “sudah selesai ganti kasih?” tanya
nenek angel
Kasih mengangguk “sudah tante, ini kasih pilih baju ini, gak papa kan? " tanya kasih memastikan
“tentu saja” nenek angel melirik kalung yang di pakai kasih “wah kamu sudah pakai kalungnya?
Bagus sekali” ucap nenek angel memuji kalung yang di pakai kasih
Nenek angel melirik raka putranya tapi raka hanya bersikap biasa saja
“oh ya tadi ningrum dan rafasya sudah pulang duluan, karena tadi rafasya bilang besok ada rapat pagi jadi mereka buru-buru pulang, gak papa kan?” ucap nenek kasih
Kasih
tertunduk lesu “yah kasih pulang sendiri deh, ya sudah gak papa tante, kasih pulang ya,
nanti takut kemalaman” ucap kasih berniat menyalami tangan nenek angel
“kunci mobilmu mana?” tanya raka tanpa basa-basi
Kasih menatap heran raka "buat apa?" tanya kasih
“mana?” ulang raka menadahkan tangannya ke arah kasih meminta kunci mobil kasih
kasih mengambil kunci mobilnya dari dalam tas “ini bang” kasih memberikan kunci mobilnya pada raka
Raka melirik mamanyan“nih mah, suruh sopir antar ke alamat yang sudah aku kirim ke ponsel mama” raka memberikan kunci mobil kasih ke mamanya lalu menarik tangan kasih
Nenek angel menatap heran putranya itu, sampai lupa ingin bicara apa? “bentar kali
bang, kasih belum pamit” kasih melepaskan pegangan raka lalu menghampiri nenek
__ADS_1
angel dan kakek sakti untuk mencium punggung tangan mereka “kasih pamit dulu ya”
belum selesai kasih berucap raka sudah menarik kasih lagi “udah keburu kemalaman” ucap raka
“raka antar kasih dulu ya mah, pah. Jangan lupa suruh supir antar mobil kasih” ucap
raka setengah berteriak
Nenek angel menatap kepergian anaknya dengan menautkan kedua alisnya tak paham “perasaan
aku belum suruh dia antar kasih kan? Ada yang salah ya sama anak kita?” tanya nenek angel pada kakek sakti
Kakek sakti mengedikkan bahunya “entahlah, yang pentingkan anak kita antar kasih pulang” balas kakek sakti
“iya sih, tapi gak biasanya aja, dia inisiatif antar perempuan selain ningrum?” tanya nenek angel
“udah ah, tidur yuk, mas sudah ngantuk” ajak kakek sakti menggandeng tangan nenek
angel masuk kamar mereka yang ada di lantai yang tak jauh dari ruang keluarga
***
raka tengah konsentrasi memegang kemudi mobil "emangnya abang gak capek antar kasih pulang? Kasih bisa pulang sendiri kok” ucap kasih
“Cuma antar kamu aja ya gak mungkin capek” balas raka datar
Kasih melirik pakaian raka tersenyum simpul “abang ganteng deh kalau lagi pakai baju begini” ucap kasih tanpa di filter
“hah?” raka menatap heran kasih “emang biasanya aku gak ganteng?” tanya raka
“ganteng sih, tapi kasih lebih suka abang pakai pakaian biasa seperti ini, lebih nyaman
dan lebih terlihat santai” balas kasih terkekeh
raka tersenyum simpul “kamu goda abang ya?” tanya raka
Kasih tergagap “goda apa? Enggak kok” ucap kasih sedikit terbata-bata karena gugup
dengan pertanyaan raka
Raka memutar setirnya ke pinggiran dan mengerem mendadak “ada apa bang?” tanya kasih yang terkejut karena Raka tiba-tiba menghentikan mobilnya
kasih yang gugup menoleh ke arah raka dengan terburu-buru “cup” mata kasih terbuka lebar melihat benda kenyal berwarna merah muda itu menempel ke bibirnya
raka melepas kecupan singkat itu mendekat ke arah telinga kasih
“diam, biarkan aku berkonsentrasi membawa mobil “ ucap raka kembali memasang sabuk pengamannya, yang entah kapan ia lepas, ia kembali membawa mobilnya melaju ke rumah kasih
Kasih hanya diam termenung tanpa bisa berkata sepatah katapun. Ia masih sangat
terkejut dengan kejadian tadi, kasih hanya diam saja memegang sabuk pengamannya
__ADS_1
seperti patung. Raka yang melihat itu hanya menyunggingkan sudut bibirnya tersenyum samar yang hanya terlihat dari balik kaca spion