
***
Miranda dan aditya sudah asyik bercanda gurau dengan nyonya mirna
Miranda melirik jam dinding“mah, kita pulang ya” ucap Miranda
nyonya mirna menautkan kedua alisnya “kok pulang sih? Nginep sini dong” pinta nyonya mirna
“tapi nanti ayah pasti marah mah" balas miranda
"biarin saja ayahmu marah. Rumah ini kan diberikan buat hadiah pernikahan mama dan atas nama mama jadi ayahmu gak berhak ngusir kamu tanpa seizin mama” balas nyonya mirna
“mama” panggil dimas menyapa mamanya
“wah ada Miranda dan aditya toh” ucap dimas yang baru melihat kedatangan sahabat dan adiknya saat memasuki ruang tamu
“iya dim, kami dari siang tadi di sini” balas aditya
“kenapa gak kabarin aku dulu, coba kalau aku tahu kalian di sini pasti aku cepet pulang” balas dimas menepuk bahu aditya
“sorry ya dim, lain kali pasti aku ngabarin kamu” balas aditya
Dimas melirik penampilan adiknya “bisa juga ya adikku yang bar-bar satu ini, hamil” ucap dimas melirik perut adiknya yang sudah cukup besar
“ih gitu banget sih kak, ngomongnya? Miranda kan
perempuan ya bisa hamil lah” balas Miranda kesal dengan ucapan kakaknya membuat dimas terkekeh
dimas melirik aditya “oh ya, jadi kamu nempatin rumah yang di daerah taman salak?” Tanya dimas
“jadi lah, tapi mungkin nanti kalau Miranda sudah lahiran dan bisa ngurus bayi sendiri” balas aditya
dimas mengangguk paham “iya sih. Tapi kalau kamu mau pindah kapanpun sudah bisa kok, rumahnya sudah selesai aku renovasi dan juga sudah ada yang kerja di sana buat urus rumah” balas dimas
miranda melirik aditya dan dimas bergantian “rumah apaan mas kok Miranda gak tahu?” Tanya Miranda
“oh itu salah satu rumah yang diberikan ayah buat mas seperti ningrum dan kak zian yang sudah di beri rumah, terus direnovasi sama kakakmu. Katanya dia pengen kasih sesuatu ke adiknya jadi aku bilang sama kakakmu boleh milih rumah yang mana aja. terus dimas milih rumah yang di taman salak, soalnya menurut dimas rumah yang di kasih ayah letaknya gak jauh dari kantor” balas aditya
“iya, dan rumah itu juga Cuma 10 menit dari sini kalau naik mobil jadi kakak renovasi yang itu saja, jadi kalau mama kangen kamu
gampang kesananya” tambah dimas
Miranda memeluk kakaknya “ih makasih ya kak” ucap Miranda
“ini jadi salah satu kado kakak untuk pernikahanmu” balas dimas
__ADS_1
nyonya mirna melirik dimas “oh ya aditya, rencana resepsi pernikahan kalian kapan?” Tanya nyonya mirna
“ aditya sih pengennya setelah Miranda sudah pulih setelah melahirkan. Tapi mama aditya ada rencana gelar pernikahan aditya, zian dan ningrum bersamaan. Soalnya ningrum yang lebih dulu menikah belum gelar acara resepsi dan kak zian juga ada rencana nikah” balas aditya
nyonya mirna tersenyum senang “ih barengan aja, jadi kan capeknya sekalian jugaan pasti lebih rame dan seru, juga yang bantu bikin acaranya jadi banyak” balas
nyonya mirna semangat
“apa-apaan, acara resepsi barengan gitu?” Tanya tuan
bharata menyela pembicaraan nyonya mirna
nyonya mirna melirik tuan bharata
“apa-apaan juga asal nimbrung orang ngomong?” balas nyonya mirna
tuan bharata menatap tajam ke arah nyonya mirna “kamu sekarang berani ya lawan ayah?” Tanya tuan
bharata
“biarin” balas nyonya mirna membuang mukanya kasar
Tuan bharata menoleh kearah aditya dan mirna
“ngapain kalian kesini?” Tanya tuan bharata
Miranda, Miranda akan pergi” balas Miranda menarik tangan aditya agar meninggalkan rumah orang tuanya
“baru juga di bentak segitu langsung benar gak pulang? Dulu saat ayah lebih galak dari itu kamu juga gak peduli?” Tanya tuan
bharata membuang mukanya
Semua orang terkekeh dengan ucapan tuan bharata
Miranda berjalan menghampiri ayahnya “ayah gak marah lagi?” Tanya Miranda menggoyang lengan ayahnya
Aditya berdiri menghadap tuan bharata “maafkan saya
ya om kalau mungkin cara saya menikahi Miranda salah, tapi saya benar-benar mencintai Miranda dan bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan miranda Miranda. Saya janji sama om kalau saya pasti akan
mencintai dia seumur hidup saya dan akan membahagiakan dia” ucap aditya
Tuan bharata menghela nafas panjang, lalu duduk di
samping nyonya mirna “sebenarnya saya gak pernah benci kamu ditya, saya cuma
__ADS_1
kesal saja dengan kelakuan putriku yang satu ini" tuan bharata melirik miranda "Aku juga malu pada keluargamu yang cukup baik tapi dapat mantu model kaya begini” ucap tuan bharata menunjuk
Miranda
“ayah” sahut Miranda mengeluh pada ayahnya
Aditya tersenyum “apapun kekurangan dan kelebihan
Miranda saya sudah menerimanya, begitupun sebaliknya. Cukup kalian doakan saja kebahagiaan kami dan keluarga kecil kami” balas aditya tersenyum ramah pada anggota keluarga Miranda
dimas menoleh ke arah ayahnya “dimas gak nyangka loh, ayah bisa ngomong kaya gini? Kirain ayah benar-benar gak peduli sama Miranda lagi?” Tanya dimas
“mana mungkin ayah gak peduli lagi? Lagian ayah tuh
dari dulu sudah tahu mereka sudah pacaran. Ayah ke inggris itu karena ayah pikir hubungan mereka berakhir karena Miranda mengundurkan diri” balas tuan
bharata
Miranda menautkan kedua alisnya “ayah sudah tahu?” Tanya Miranda
“sudah lah. Emangnya ayah melepas mu begitu saja di
sana seorang diri?” Tanya tuan baratha
“tapi kenapa ayah mau tetep jodohkan Miranda?” Tanya
Miranda
Tuan bharata menghela nafas panjang “ayah tuh sudah bakal ngira arjuna akan menolak perjodohan karena dia sudah punya calon istri, bahkan sudah punya anak lebih
dulu dari kalian" jelas tuan bharata
"Waktu itu ayah mengajakmu pulang untuk bertemu dengan arjuna dan keluarga besarnya
sekalian mau membatalkan perjodohan kalian" tuan bharata menoleh ke arah aditya "tapi malah aditya sudah lebih dulu ngirim keterangan hamil kamu sama keluarga wirawan dan bikin ayah kesal karena tidak jadi mengejek wirawan” balas tuan bharata dengan raut wajah kesal
Miranda menghampiri ayahnya “ah ayah” Miranda memeluk erat ayahnya
tuan bharata menyambut pelukan Miranda dan mengusap punggung Miranda pelan “ayah memang keras Miranda tapi putra-putri ayah
tetap jadi kesayangan ayah, dan selalu jadi yang utama” balas tuan bharata
Miranda kembali duduk di samping aditya “terima kasih ya yah” ucap aditya
tuan bharata menoleh ke arah aditya “semoga kau bisa kuat dan sabar menghadapi putriku yang satu ini ya” ucap tuan bharata
__ADS_1
aditya tersenyum ke arah tuan bharata “malah kalau tak ada dirinya aku yang tak kuat. Dia adalah sumber kebahagiaan aditya dan hidup aditya" balas aditya tersenyum ke arah keluarga Miranda sembari menggenggam erat tangan Miranda