
“dia siapa rum?” tunjuk mama kaila dengan
lirikan matanya pada kasih yang sedang
mengobrol dengan nenek angel dan kakek sakti
Ningrum melihat arah tatapan mata mama kaila “oh dia teman baruku mah” ningrum
menghampiri kasih dan mengajak kasih untuk berkenalan dengan mamanya
“selamat malam tante” sapa kasih sopan pada mama kaila
Mama kaila memindai tubuh kasih dari atas sampai bawah “kok wajahmu gak asing ya?
Apakah kita kenal?” tanya mama kaila merasa begitu familiar dengan wajah kasih
kasih tersenyum “sepertinya kita belum pernah ketemu tante” balas kasih sopan
Kakek sakti menghampiri mama kaila “dia anak William davis kai, dia mirip sekali dengannya jadi pasti wajahnya tak asing buatmu” ucap kakek sakti
“oh ya, aku baru ingat” mama kaila bertepuk tangan girang kenapa mama kaila tak asing dengan wajah kasih “Saat aku bertemu ayahmu di korea aku melihat fotomu dikantornya jadi makanya kau terasa tak asing” balas mama kaila tersenyum karena menyadari apa yang terganjal di pikirannya
“fotoku di kantor daddy ku?” tanya kasih tak percaya
“iya” balas mama kaila
“apa tante gak salah lihat?” tanya kasih memastikan
Mama kaila menggeleng “tidak mungkin, tante ingat betul karena kita belum lama bertemu dengan william dan fotomu cukup besar di ruangannya jadi tante ingat betul bagaimana wajahmu di foto itu” balas mama kaila
Kasih mulai oleng tak bisa berdiri dengan benar saking terkejutnya “nona gak papa?” tanya mas ojo yang sigap menangkap tubuh kasih yang selalu mengikuti keberadaan kasih di belakang
Kasih memegang pelipisnya “kasih mau pulang mas” pinta kasih lirih
Kasih menoleh ke arah ningrum “maaf rum, aku agak lelah, aku pamit dulu” ucap kasih
buru-buru pergi meninggalkan kediaman ningrum
“Sahabatmu kenapa rum?” tanya mama kaila heran melihat kepergian kasih yang begitu tiba-tiba
Ningrum
menghela nafas panjang “nanti ningrum ceritain mah” balas ningrum
Mama kaila mulai teringat sesuatu “oh ya, gimana selama mama tinggal berdua, senang?” tanya mama kaila melirik ke arah rafasya yang sedang berbincang dengan raka dan Julian
“apa sih ma?” ningrum mulai berkeringat dingin karena malu
“ya mama kira kamu sudah mau kasih mama cucu” balas mama kaila menyenggol lengan
ningrum
__ADS_1
“mama! ” teriak ningrum menutup wajahnya malu
Jack berjalan mendekati ningrum “rum, kasih
mana? Kok kakak cari-cari gak ada” tanya jack tak mendapati keberadaan kasih
“barusan dia pulang kak, katanya dia lelah” balas ningrum
“kok dia gak pamit sama kakak?" tanya jack
Ningrum sedikit mendekat ke telinga jack “dia barusan dengar hal tentang orangtuanya
dari mama kaila, mungkin perasaannya kurang nyaman” balas ningrum berbisik
“ah, kalau gitu kakak pamit dulu ya rum” ucap
jack ingin segera menyusul kasih dan di jawab anggukan oleh ningrum
Raka yang melihat jack pergi dan tak mendapati keberadaan kasih memilih menghampiri ningrum untuk bertanya kepada keponakannya itu “ kemana dia pergi?” tanya raka menunjuk jack dengan dagunya
“nyusul kasih” balas ningrum datar
Raka mengerutkan keningnya “kalau gitu om juga pergi nyusul dia juga” ucap raka bergegas pergi
Ningrum menahan tangan om raka “jangan coba-coba mengusiknya!” bentak ningrum
“om hanya ingin menyusulnya rum, om mau bicara dengannya ”balas raka lirih
Ningrum berkacak pinggang “emang om mau ngapain? Kan jack sudah nyusul kasih, ya sudah
“justru karena dia nyusul kasih, om harus ikutan nyusul dia ” balas raka mulai ikut kesal pada ningrum
“om mau apa? Hah?” tanya ningrum
“om mau,,,,” raka bingung untuk melanjutkan ucapannya
Keluarga besar ningrum dan raka bingung, kenapa ningrum seberani itu melawan pada om nya.
Hal yang tak biasa ningrum lakukan,
Mama kaila menarik lengan ningrum “rum kamu kok gak sopan sama om kamu sih ?” tanya mama kaila
“ya itu gara-gara om yang kurang ajar sama kasih mah” balas ningrum menoleh pada mama kaila
Rafasya, Julian dan raka sudah balapan larin detak jantung karena mengamati reaksi ningrum yang seperti bom waktu, takut-takut ningrum yang tak bisa mengontrol ucapannya
Julian menghampiri rafasya, menyikut lengannya “cepat” pinta Julian untuk menahan ningrum bicara
“kurang ajar gimana?” tanya nenek angel tak paham ucapan ningrum
“itu mmmmm” belum sempat ningrum berucap rafasya membekap mulut ningrum dengan
__ADS_1
tangannya agar tak melanjutkan ucapannya
“itu karena raka suka kasih” rafasya melirik raka “cepetan kejar om” pinta rafasya agar raka segera menyusul kasih
Rafasya melepas tangan ningrum, membuat ningrum menatap tajam suaminya
“anakku suka kasih?” tanya nenek angel mulai kepo
Rafasya bingung harus menjawab apa “tanya Julian saja nek, dia lebih tahu” tunjuk rafasya pada Julian
Julian menatap tajam rafasya “kurang ajar memang kau, selalu melemparkan semua hal yang tak enak ke aku” umpat Julian tak perduli dengan pandangan orang-orang
“cepat jelaskan pada nenek” pinta nenek angel yang tak bisa menahan gejolak jiwa kepo nya
“hehehehe” tawa Julian “nanti Julian di gorok raka kalau bicara” ucap Julian memperagakan
menggorok leher lalu mengatupkan bibirnya rapat
Merasa ada sesuatu yang janggal Mama kaila memutuskan untuk membubarkan para
sahabatnya agar lebih jelas bertanya pada Julian dan rafasya
“maaf semuanya” seru mama kaila pada sahabat mama kaila yang hadir di rumahnya
“hari ini aku sangat lelah, kita lanjut ngobrol lagi saat aku sudah tidak terlalu lelah dari perjalananku ya” ucap mama kaila meminta semua orang pergi dengan sopan
Semua orang mulai pulang termasuk keluarga besannya serta para sahabat dekat mama
kaila
***
Mama kaila menatap ningrum, Julian dan rafasya yang di landa kegugupan “sekarang semua orang sudah pergi, hanya tinggal kita” ucap mama kaila menunjuk, dirinya, ayah virza, ningrum, rafasya dan kedua orang tua raka. Kakek hafizhan
sudah beristirahat terlebih dulu karena memang tubuh tuanya yang sudah sangat lelah akibat perjalanan jauh
Julian menyikut lengan rafasya “kamu aja yang cerita sya” pinta Julian
Rafasya mengerutkan keningnya “kok aku sih, kan kamu tadi yang nyuruh aku cegah ningrum bicara” balas Rafasya
“sebenarnya ada apa ini! jangan berputar-putar tak jelas” bentak kakek sakti
Ningrum, rafasya dan Julian terdiam karena suara kakek sakti yang sudah meninggi membuat
mereka makin gugup
“siapa yang mau jelasin” pinta kakek sakti menatap ketiga orang di hadapannya
“biar ningrum saja” ningrum berdiri menatap yakin kakek sakti
Julian menggelengkan kepalanya “rum” melarang ningrum untuk bicara
__ADS_1
Ningrum menatap tajam Julian “biarin mereka tahu kelakuan om raka kak ” balas ningrum
Ningrum menatap kedua orang tua raka “om sudah tidur sama kasih” ucap ningrum lantang