
Kasih sedang melihat foto USG anaknya sambil tersenyum bahagia mengusap foto anaknya yang masih berusia 7 minggu itu
“kasih Cuma lihat Bulatan kecil ini, kok bisa bahagia ya mas?” tanya kasih tak melepaskan pandangannya dari foto USG anaknya
Mas ojo tersenyum melihat kebahagiaan kasih nona mudanya itu “berapa usianya non ?” tanya mas ojo
“sudah 7 minggu mas” balas kasih
“dia sehat kan?” tanya mas ojo lagi
“sehat, kata dokter anakku sehat di sana ” balas kasih
Mas ojo ragu-ragu bertanya pada kasih “non, kalau mau tetap tinggal di sini dan bersamanya gak papa kok non, biar nanti mas ojo yang bicara pada ayah nona dan akan bertanggung jawab menerima kemarahan tuan william” ucap mas ojo
kasih tersenyum menanggapi niat mas ojo
“gak papa kok mas, biar kasih saja yang bicara. Mas urus saja hal-hal disini sebelum kepergian kita” balas kasih
***
2 minggu kemudian
“sudah di bawa semua non?” tanya mas ojo
“sudah mas” balas kasih mengecek barang yang ingin kasih bawa
Mas ojo memasukkan semua barang bawaan kasih ke dalam bagasi dan berniat masuk dalam mobil bersama kasih
“mau kemana kalian?” suara bariton suara pria paruh baya mengagetkan kasih yang ia kenali
betul suara milik siapa itu
Kasih menoleh “mommy, daddy” gumam kasih menatap kedua orang tuanya secara bergantian
“kasih” teriak mommy janet memeluk anak yang sudah hampir 15 tak ia temui
“monmy” kasih balas memeluk mommy janet dengan isak tangis meluapkan rasa rindu yang selama ini ia tahan
“mommy kangen kamu sayang” ucap mommy janet menangis sesenggukan
“kasih juga kangen mommy” balas kasih memeluk mommy nya erat
“apa hanya mommy mu yang kau rindukan? Bagaimana dengan daddy? " tanya tuan William merentangkan kedua tangannya
Kasih berlari memeluk tuan wiliam “kasih juga kangen daddy” balas kasih sesenggukan
kasih tiba-tiba tersadar akan sesuatu “tunggu dulu” kasih melonggarkan pelukannya menatap tuan William “ ada angin apa daddy menemui ku? bukannya selama bertahun-tahun ayah tak pernah menemui kasih bahkan menelpon kasih saja masih bisa aku hitung dengan jariku” tanya kasih menunjuk jari-jari tangannya, mengingat
__ADS_1
berapa kali Daddy nya menelpon dirinya
“ah, itu karena ada seseorang yang menangis sambil berlutut memohon pada daddy” tunjuk tuan William pada raka yang duduk di kursi roda yang tak jauh dari keberadaanya
Kasih menutup mulutnya tak percaya melihat orang yang di tunjuk tuan William “abang”
Kasih mendekat ke arah raka menatap raka dari atas sampai bawah, memeluknya erat “maafin
kasih ya bang, gara-gara kasih abang harus duduk di kursi roda seperti ini” ucap kasih
Raka membalas pelukan kasih mengusap punggung kasih lembut “gak papa kasih, abang
kaya gini juga kan gara-gara kesalahan abang” balas raka lirih
“abang gak salah, kasih yang salah kalau kasih nolak abang tegas mana mungkin itu terjadi. Karena kasih semua itu terjadi” balas kasih menangis sesenggukan
"kamu menyesal? " tanya Raka
"bukan itu maksud kasih bang, tapi itu terjadi karena kesalahan kita bukan cuma kesalahan abang. kenapa cuma abang yang kena pukul? " ucap kasih menangis sesenggukan
Raka mengusap punggung kasih “iya, kita berdua yang salah” balas raka tersenyum karena kasih yang mau bicara dengannya tampa di paksa
Raka melonggarkan pelukannya “ bisakah kau tak pergi” pinta raka
Kasih mengangguk “kasih gak akan pergi bang, kasih akan jagain abang” ucap kasih lirih
Raka tersenyum lebar dengan ucapan kasih “kasih akan menerima keadaan abang apapun itu” raka mulai menautkan kedua alisnya “kasih gak papa kok walaupun abang gak bisa jalan lagi,
abang gak bisa jalan lagi, dan gak bisa kerja juga gak masalah. Uang kasih banyak kok. kasih masih bisa ngehidupin abang tanpa abang kerja, dengan abang nemenin kasih juga sudah cukup” ucap kasih panjang lebar
Rafasya menutup mulutnya menahan tawa yang segera ingin ia tumpahkan. Sedangkan tuan willliam dan istrinya hanya geleng-geleng kepala melihat kepolosan anaknya
Raka menatap tak percaya ke arah kasih “ kamu beneran ngomong begitu?” tanya raka
“iya” balas kasih mengangguk
“berarti kalau kita nikah sekarang, kamu mau?” tanya raka memastikan
Kasih mengangguk “ iya bang kasih mau, kasih akan jagain abang seumur hidup kasih” balas kasih yakin
kasih tak tahu saja akibat dari ucapannya itu
“oke kalau begitu, semuanya jadi saksi ucapan kasih ya” ucap raka meminta persetujuan semua orang yang kebetulan ada disana dan menjawab pertanyaan raka dengan anggukan kepala
“oke” balas semua orang mengacungkan jempolnya dengan tersenyum lebar
Kasih heran dengan reaksi semua orang yang malah tertawa
__ADS_1
Raka berusaha beranjak dari kursi rodanya “abang mau apa?” tanya kasih cemas dengan raka
Raka melepas pegangan kasih dan berdiri tegak ke arah kasih “kakak bisa berdiri?” tanya kasih tak percaya dengan apa yang ia lihat
“abang juga masih bisa jalan” raka berjalan dengan susah payah karena keadaannya yang
belum pulih betul, sehingga membuatnya kesulitan melangkah
“abang bisa jalan? aku pikir abang gak bisa jalan? ” balas kasih tak mengerti dengan keadaan yang ia hadapi sekarang
Raka terkekeh “kapan ada orang yang bilang abang gak bisa jalan?’ tanya raka
“tapi abang duduk di situ?” tunjuk kasih pada kursi roda yang di pakai raka
Raka mengusap puncak kepala kasih lembut
“itu hanya karena keadaanku yang belum pulih betul, makanya abang harus duduk di kursi
roda. Kan tidak semua orang yang pakai kursi roda tak bisa jalan kasih ” balas raka terkekeh
Kasih mengelus dadanya lega “syukurlah abang masih bisa jalan” gumam kasih
Raka menggenggam tangan kasih “jangan khawatir kasih, setelah abang benar-benar sembuh kita masih bisa buat adik untuknya yang banyak” ucap raka mengusap perut kasih yang masih rata
“apaan sih bang” balas kasih memukul lengan raka, jangan tanya lagi bagaimana wajah
kasih, mukanya sudah merah seperti kepiting rebus karena malu
Tuan William sudah tak tahan dengan adegan di hadapannya “sudah cukup, karena kasih
sudah setuju, kita bisa mulai acara pernikahannya” ucap tuan William
“apa?” tanya kasih terkejut
Tuan William menatap kasih heran “kan kamu
sendiri yang bilang setuju menikah dengan raka hari ini” ucap tuan wiliam
“tapi dad" protes kasih yang merasa tak siap menikah hari ini
“pegang lah kata-katamu” ucap tuan wiliam tajam
Tuan William menoleh kearah rafasya “sya minta keluargamu datang dan urus pernikahan disini” pinta tuan wiliam pada rafasya yang kebetulan ada disana menemani raka
“oke om” balas rafasya menunjukkan kedua jempolnya, lalu tertawa dengan lepas “hahahahaha” tawa rafasya memegang perutnya yang sakit karena tertawa terlalu keras
“rafasya!” teriak raka
__ADS_1
“iya om. Ok” Rafasya dengan gerak cepat
menelfon keluarganya dan juga keluarga istrinya untuk segera mengurus pernikahan raka dan kasih