
Setelah sudah cukup berbicara dengan putranya, tuan Angga segera pergi dari ruangan Ganan.
"Sayang, kenapa terburu buru? ada masalah?" tanya sang istri penasaran.
"Aku mau pergi ke kantor polisi, karena ada sesuatu yang mengganjal." Jawab tuan Angga.
"Sesuatu yang mengganjal?" ucap sang Istri yang penasaran.
"Galuh dan Vino, aku harus memastikan keduanya di sel tahanan. Kalau begitu aku pamit untuk pergi, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan pergi bersama Alfan." Jawabnya yang langsung memanggil Alfan. Sedangkan Nyonya Qinan hanya mengangguk.
Semoga keluargaku tidak lagi mendapatkan dendam dimasa lalu. Kasihan Ganan dan Maura, aku yakin pasti putraku dan menantuku yang akan menjadi ancamannya. Batinnya sambil berdoa.
Sedangkan Tuan Angga dan Alfan kini sudah siap untuk berangkat.
Sedangkan Ganan sedang sibuk di ruang kerjanya. Dirinya sedang memikirkan sesuatu yang bisa saja menyerang keluarganya.
Didalam perjalanan, pikiran tuan Angga masih saja belum tenang. Ditambah lagi putranya yang sudah menceritakan semuanya.
"Maaf tuan, kalau boleh tahu ada apa dengan kantor polisi?" tanya Alfan sedikit canggung.
"Kenapa masih memanggilku tuan, panggil saja paman." Sekarang kamu sudah menjadi keponakan paman, maka segera buang jauh jauh sebutan tuan untuk pamanmu ini." Jawab tuan Angga tersenyum.
"Baik, paman... saya rasa saudara dan teman paman masih berada didalam penjara. Dan yang menjadi sosok orang tua dari anak anaknya adalah pesuruh dari saudara paman sendiri." Ucap Alfan sambil fokus menyetir.
"Apa...! dari mana kamu bisa tahu, apakah selama ini kamu?" tanya tuan Angga yang tiba tiba kalimatnya menggantung.
"Iya, selama ini saya dan Ganan selalu mengawasi anak anak saudara paman. Dia bernama Revan, Vika, dan Dika." Jawab Alfan menjelaskan.
__ADS_1
"Siapa siapa yang anak Vino dan Galuh, katakan!" pinta tuan Angga semakin penasaran.
"Dika adalah putra Galuh, sedangkan Vika dan Revan adalah anaknya Vino. Kakek Jaya Karsa masih hidup, sedangkan Vika adalah adalah anak dari Meika putri dari Ibu Leni yang pernah menjadi saudara." Jawab Alfan menjelaskan sedetail mungkin.
Sssstttttttt.... mobil yang dikemudi Alfan pun berhenti mendadak, yang dimana ada seorang kakek yang hampir saja Alfan menabraknya. Tuan Angga segera keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan sang kakek.
Jeduar... jantung tuan Angga seakan mau copot, kedua matanya terbelalak saat melihat sosok kakek yang tidak asing baginya. Tuan Angga segera memeluk hangat sang kakek, tuan Angga pun menitikan air matanya. Bertahun tahun tuan Angga mencari keberadaan kakek tersebut tidak kunjung ditemukan beradaannya.
"Paman Jaya... Aku sangat merindukanmu paman.." ucap tuan Angga sambil menangis bahagia. Yang dimana dimasa lalunya yang sudah menyelamatkan istrinya dari tembakan Tuan Burhan, yang tidak lain ayah dari sepupunya Galuh.
"Angga.. benarkah kamu Angga." Ucap sang kakek Jaya yang juga menangis bahagia bisa bertemu kembali dengan Angga yang juga sudah dianggapnya anak sendiri.
"Benar paman, aku Angga yang dulu selalu bermanja dengan paman. Bagaimana kabar paman? dan sekarang paman tinggal dimana?" tanya tuan Angga penuh selidik karena penampilan kakek Jaya seperti sudah tidak terurus, layaknya seperti orang gelandangan.
"Maaf paman, sebaiknya paman dan kakek masuk ke dalam mobil. Karena saya takut ada seseorang yang mengikuti kita, paman..." pinta Alfan yang sedikit cemas akan keselamatan pamannya maupun sang kakek.
Setelah sudah berada di dalam mobil, Alfan segera mencari tempat yang menurutnya aman dan tidak ada yang mencurigakan.
Tuan Angga langsung meneruskan pembicaraannya mengenai keadaan kakek Jaya.
"Paman, katakan padaku. Sekarang paman tinggal dimana? kenapa penampilan paman berubah seperti ini? dimana perusahaan paman?" tanya tuan Angga penasaran.
"Paman dibuang oleh cucu cucu paman dan putranya Galuh. Paman dibuang disuatu tempat yang sangat sepi, paman berhari hari hanya menapaki jalanan untuk mencari daerah yang bisa dijangkau kedamaiannya. Dan sisaat paman reesesat, paman diantarkan kembali ke kota ini. Namun paman tidak memiliki siapa siapa, paman ingin mengunjungi kamu, tetapi paman tidak ingin merepotkan kamu. Paman takut akan ada konflik antara kamu dan Galuh maupun Vino. Cucu paman yang perempuan pun sama halnya, tidak lebih dari kelakuan kakaknya." Jawab kakek Jaya sambil tertunduk lesu didalam mobil. Alfan pun segera menyuguhkan air minum dan roti, mungkin saja kakek Jaya sangat haus dan juga lapar. Yang dimana penampilannya sungguh sangat memprihatinkan.
"Paman, minum dan makan lah roti ini. Setelah ini akan saya ajak pulang kerumah, namun sayangnya papa sekarang tinggal di Amerika bersama Zio." Ucap tuan Angga sambil memberikan minuman dan roti kepada kakek Jaya.
Dengan senyum tenang, kakek Jaya menerimanya dan segera meminum, lalu manikmati rotinya. Angga yang melihat kondisi kakek Jaya sangat teriris hatinya. Yang dimana dulu orang yang sukses bahkan sangat menyayangi anak dan istrinya, kini harus menerima kenyataan pahit mendapat perlakuan buruk dari kedua cucunya dan juga anak dari Galuh saudara sepupunya sendiri.
__ADS_1
"Siapa laki laki ini, Angga?" tanya kakek Jaya penasaran.
"Dia adalah menantunya Zio, paman. kalau putraku sekarang sedang berada di rumah. Setelah ini aku akan mengajak paman untuk tinggal bersama kami. Di rumah ada Qinan, istriku yang pernah paman selamatkan." Jawab tuan Angga menjelaskan, sedangkan kakek Jaya tersenyum bahagia.
Setelah merasa sudah cukup untuk mengobrol, kini tuan Angga mengajak kakek Jaya untuk pulang ke rumah tuan Angga. Dengan kecepatan sedang, Alfan melajukan mobilnya.
Selama perjalanan pulang, tuan Angga dan kakek Jaya bernostalgia tentang masa kecilnya tuan Angga bersama kakek Jaya. Kedua tertawa bersama, membuat kakek Jaya merasa tidak lagi dalam kepenatan, seakan beban yang begitu berat berubah menjadi ringan.
Tidak lama kemudian, Mobil yang dikendarai Alfan sudah sampai di halaman rumah tuan Angga.
Tuan Angga membukakan pintu mobil dan menuntun kakek Jaya untuk masuk ke dalam rumah.
Nyonya Qinan yang kebetulan sedang berada di ruang tamu merasa penasaran akan sosok orang tua yang tidak asing dalam penglihatannya.
"Paman Jaya... apa kabarnya?" sapa nyonya Qinan dan langsung mencium punggung tangan milik kakek Jaya. Perasaannya pun terasa tersayat saat melihat kondisi kakek Jaya.
"Kabar paman sangat baik, Qinan... kamu sendiri bagaimana kabarmu?" jawab sang kakek dan menyapa balik.
"Kabar Qinan sangat baik juga, paman..." jawab nyonya Qinan tersenyum.
"Alfan, cepat panggilkan pelayan laki laki untuk membantu paman beristirahat dan katakan kepada salah satu pelayan untuk memasak makanan yang lengkap. Karena kita kedatangan keluarga." Perintah tuan Angga kepada Alfan.
Sedangkan tuan Angga segera mengantar kakek Jaya untuk beristirahat.
**Maaf ya, readers... jika Authornya telat update, karena author ada kesibukan di dunia nyata dan juga update di novel satunya. Jadi... maaf maaf banget ya, readers..
Oh iya, novel ini sudah memasuki diakhir cerita loh... tetap semangat menanti ya... ☺**
__ADS_1