Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Perubahan istri Tirta


__ADS_3

Nessa yang masih terlelap dari tidurnya, tiba tiba terbangun. Tirta yang masih memeluk tubuh istrinya semakin mengeratkan pelukannya tatkala istrinya bergerak.


"Sayang, lepasin... aku tidak bisa bernafas." Hardik Nessa, entah kenapa istrinya tiba tiba emosional. Tirta yang mendengarkannya pun heran dan juga kaget tentunya.


"Kamu kenapa, sayang... bukankan kamu lebih suka aku peluk. Bahkan bau ketiak pun kamu tidak perduli. Apa aku bau badan?" tanya Tirta heran, sedangkan Nessa segera bangun dari tidurnya.


"Kamu tidak bau, cuman aku benci saja melihat muka kamu." Jawab Nessa yang tiba tiba berubah menjadi ketus.


"Kamu benci denganku? salahku apa, sayang? bukankah aku tidak bermain wanita. Waktuku saja hanya buat kamu, aku pun tidak mempunyai taman wanita. Lantas kenapa kamu membenciku? waktu mau tidur saja kamu begitu manja. Bahkan kamu menggodaku dengan rayuan mautmu itu. Dan sekarang diwaktu yang sudah larut malam kenapa kamu mbenci melihatku?" Ucap Tirta yang juga masih belum mengerti akan penuturan dari istrinya yang membuatnya benar benar heran.


"Pokoknya aku bosan menatap wajahmu, aku tidak menyukaimu." Jawab Nessa dengan enteng. Tirta sendiri hanya mengernyitkan dahinya.


"Kamu pasti sedang dalam keadaan tidak sadar, dan kamu pasti sedang bermimpi. Tetapi kamu terbawa dalam kesadaran kamu. Sudahlah , sayang.. ayo kita lanjutkan tidurnya." Ajaknya yang tidak menghiraukan ucapan demi ucapan dari istrinya. Tirta hanya menganggapnya sedang terbawa mimpi. Namun Nessa justru kaluar dari kamar, Tirta pun heran dibuatnya.


"Kamu mau kemana, sayang? jangan bilang kalau kamu mau jalan jalan. Ini sudah larut malam, tidak baik untuk kesehatan. Ayolah tidur, kamu jangan menuruti mimpi burukmu itu." Ucap Tirta berusaha menghentikan langkah kaki istrinya, Nessa pun tidak memperdulikan ucapan dari sang suami. Justru Nessa tetap pada langkah kakinya.


Tirta yang heran hanya mengikuti langkah kaki istrinya dari belakang dengan pelan.


Mau kemana sih istriku ini? apa iya, mimpi buruknya membawanya ke alam sadar. Ada ada saja, perasaan sebelum tidur dirinya begitu manja. Dan juga menggodaku, dan membuatku tidak bisa mengendalikan diri. Terus kenapa berubah membenciku? apa iya, ada laki laki lain dihatinya? aku rasa tidak ada. Batin Tirta yang mencoba menebak tingkah aneh pada istrinya.


Tanpa Tirta sadari, ternyata istrinya menuju arah dapur, dan dilihatnya yang sedang mengupas buah. Tirta pun heran, tengah malam kenapa makan buah? pikirnya. Tirta pun masih memperhatikan gerak gerik istrinya di dapur. Lampu dapur pun hanya remang remang, hingga tubuh Tirta tidak terlihat saat dia mengintip istrinya.


Setelah selesai mengupas dan memotong berbagai macam buah, Nessa segera masuk ke kamar.

__ADS_1


Bug.... "awww" reflek suara Nessa yang tengah menabrak tubuh sang suami yang sedang mengintip. Nessa pun segera menyalakan lampu, dan untung saja buah yang sudah berada di piring tidak jadi jatuh karena suaminya tengah memegangnya.


Nessa tiba tiba berubah menjadi cemberut, perasaan kesal pun muncul seketika itu juga.


"Dimakan itu buahnya, habiskan!" ucap Nessa ketus lalu segera masuk kamar. Tirta hanya melotot, dan mengekori istrinya dari belakang.


Nessa yang awalnya tergoda dengan buah, dan akan segera menghabiskannya. Tiba tiba selera untuk makan buah pun hilang.


"Sayang, kenapa berubah menjadi marah sekarang?" tanya Tirta yang masih memegang piring yang sudah ada buah siap makan.


"Aku sudah bilang, aku tidak suka melihat wajahmu. Dan kenapa kamu masih mengikutiku? selera makanku sudah hilang gara gara kamu." Jawab Nessa yang terlihat cemberut. Tirta sendiri bingung akan perubahan sikap istrinya yang menurutnya sangat langka dan aneh.


"Aku pingin sup ayam dicampur jamur kering, dan rempah rampah dari China." Pinta Nessa yang sangat tidak masuk akal.


"Sayang, kita sedang di Amerika. Mana bisa kita dapatkan sup seperti yang kamu katakan. Mintanya yang mudah untuk dicari, sayang..." jawab Tirta yang bingung dan memohon.


"Besok kita sudah pulang, jadi dirumah saja kita masak supnya. Ini sudah larut malam, mana mungkin kita bisa mencari rempah rempah orang China." Jawab Tirta menjelaskan.


"Buatkan saja sup ayam, tapi jangan pakai bawang. Cukup garam dan jahe, itu sudah sangat segar." Pinta Nessa yang masih terlihat lesu.


"Baik lah, akan aku buatkan sup ayam yang kamu mau." Jawab Tirta berusaha sabar, karena mungkin istrinya masih berada tekanan bawah sadar.


"Aku tunggu dikamar." Ucap Nessa pamit langsung masuk ke kamarnya. Tirta hanya geleng geleng kepala saat melihat perubahan pada istrinya yang terlihat sangat sensitif.

__ADS_1


Dengan telaten, Tirta membuatkan sup ayam untuk istri tercintanya.


"Tirta.. kamu sedang apa?" tanya Tantenya mengagetkan.


"Eeeeh, tante Qinan. Istri Tirta minta dibuatkan sup ayam, Tante.." jawab Tirta tanpa canggung.


"Tengah malam minta sup ayam? bukannya tadi sudah makan malam?" tanyanya heran.


"Tidak tahu juga, Tante. Tiba tiba istri Tirta bersikap aneh, dan tiba tiba tidak suka melihat wajah Tirta. Dan minta buatkan sup dengan rempah rempah dari China. Lalu salah Tirta apa coba?" jawab Tirta sambil membuatkan sup. Sedangkan Tantenya hanya tersenyum mengembang.


"Kamu ingin tahu? kenapa istrimu tiba tiba bersikap tidak wajar dari sebelumnya. Coba tanyakan tanggal berapa istri kamu telat datang bulan. Tante curiga jika Nessa hamil, karena yang kamu ceritakan tidak jauh beda dengan Maura, menantu tante. Kamu tahu? Maura tidak suka bau badan Ganan. Dan permintaan istrinya pun macam macam. Jadi, coba kamu tanyakan pada istri kamu. Jika memang telat, segeralah kamu periksa ke Dokter, sebelum kita pulang ke tanah Air." Ucap Tantenya tersenyum.


"Jadi maksud tante kalau Nessa sedang hamil?" tanya Tirta yang masih belum percaya.


"Iya, semoga saja apa yang kamu harapkan terkabul." ucapnya.


"Aamiin. Baiklah Tante kalau begitu, Tirta segera masuk kamar. Kebetulan supnya sudah matang, tante mau?" jawab Tirta menawarkan sup.


"Terimakasih, tante sudah kenyang. Cepatlah masuk kamar, nanti keburu istri kamu cemberut." Ledeknya dibarengi senyum.


Dengan senyum mengembang, Tirta segera menaruh supnya ke mangkok. Kemudian segera memberikannya kepada sang istri tercintanya.


Benarkah istriku hamil? aku tidak lagi bermimpi kan? padahal baru saja menikah. Kenapa secepat ini ya? Apa karena markotop. Ah iya, malam itu kan langsung tancap meski malam kedua. Batin Tirta dibarengi senyum sambil membawa satu mangkok sup ayam rasa jahe. Entah apa rasanya, tanpa penyedap dan tanpa bumbu lainnya.

__ADS_1


Ceklek, Tirta membuka pintu kamarnya. Dan dilihat istrinya yang sudah terlelap tidurnya, membuat Tirta merasa bersalah. Karena istrinya harus menunggunya lama. Dengan pelan Tirta membangunkan istrinya sambil mencium keningnya, karena jika keadaan sadar takut akan menolak akibat sikapnya yang kian berubah aneh.


"Sayang... bangun... sayang.. sup ayam yang kamu minta sudah matang. Ayolah bangun, aku temani kamu." Ucap Tirta didekat telinga sang istri.


__ADS_2