Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Permintaan pergi ke gunung


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, yang dimana kedua orang tua Ganan sedang bersiap siap untuk kembali ke kota. Mau tidak mau, Ganan dan Maura tidak diizinkan ikut ke Amerika. Karena kondisinya yang sedang hamil muda.


Untuk beberapa waktu, Ganan dan Maura akan tinggal di kampung halaman orang tua Maura. Karena kondisinya yang sedang hamil muda, maka tidak diperbolehkan untuk kembali ke kota.


"Sayang, ayo kita keluar. Sepertinya Mama dan Papa sudah menunggu kita untuk sarapan, dan pagi ini juga Mama dan Papa akan kembali ke kota." Ajak Ganan pada istrinya yang sedang sibuk didepan cermin.


"Iya, sayang. Sebentar lagi aku selesai, kok.." jawab Maura sambil merapikan pakaiannya.


Setelah merasa sudah rapi, Maura dan Ganan ke ruang makan. Keduanya duduk dengan rapi dan berdekatan.


"Ayo kita sarapan. Soalnya Mama dan Papa tidak punya waktu lama, takut ketinggalan pesawat. Dan pagi ini juga Mama dan Papa akan kembali ke kota. Jadi, kalian berdua nikmati bulan madu kalian di kampung ini. Udara yang masih segar dan juga tidak banyak polusi.


"Baik, Ma.. salam buat Zeil dan juga Alfan ya, Ma.." jawab Maura menitipkan salam.


"Iya, tenang saja. Nanti juga mereka berdua akan kembali ke Tanah Air." Ucap Ibu mertua.


"Sudah.. kapan sarapannya kalau tanya jawab terus, keburu dingin nanti tidak enak. Lihatlah, semua makanan ini sangat menggoda seleraku." Ucap Ganan.


"Iya iya... ayo kita sarapan." Jawab sang Ayah ikut menimpali. Dan saat itu juga semua menikmati sarapan pagi. Masih seperti biasa, tanpa ada yang membuka suara. Hanya suara dentingan sendok yang menyapu piring.


Setelah usai menikmati sarapan pagi, kedua orang tua Ganan segera bersiap siap untuk kembali ke kota. Sedangkan Ganan dan juga Maura maupun Ibu Romlah kini sudah berada didepan rumah menunggu kedua orang tua Ganan.


Dan tibalah saatnya kedua orang tua Ganan berpamitan.


"Mama dan Papa pulang dulu ya, Nak.. kalian berdua jaga diri baik baik. Kalian nikmati liburannya, dan ingat! jangan makan sembarangan. Jaga calon cucu Mama dan Papa. Kalau begitu, Mama dan Papa pamit pulang." Ucap sang Ibu berpamitan.

__ADS_1


"Baik, Ma..." jawab keduanya.


"Hati hati diperjalanan, Ma.. semoga selamat sampai rumah." Ucap Maura lalu memeluk Ibu mertua. Keduanya pun terlihat seperti Ibu dan anak kandung sendiri.


"Ibu Romlah, kami berdua mau pamit pulang dan saya titip Anak anak kita dan calon cucu kita. Dan maafkan saya yang sudah merepotkan Ibu Romlah." Ucapnya tidak enak hati.


"Tidak apa apa kok, Bu.. saya tidak merasa direpotkan. Justru saya sangat senang Ibu Qinan dan juga Pak Angga datang kemari. Hati hati diperjalanan ya, Bu... Pak.. semoga tidak ada halangan apapun, dan selamat sampai tujuan. Aamiin..." jawab Ibu Romlah.


"Kalau begitu Papa pamit pulang, jaga istrimu dengan baik. Jangan membuatnya menangis, apa kamu mengerti?" ucap sang Ayah kepada putranya dan berpamitan pulang.


"Baik, Pa.. Ganan akan selalu menjaga Maura dan juga calon anak Ganan. Hati hati untuk Papa dan Mama, salamkan untuk Zeil dan juga Alfan." Jawab Ganan lalu memeluk sang Ayah. Keduanya kini terlihat jauh lebih baik keharmonisannya, Ayahnya kini benar benar sangat lega akan perubahan Putranya yang sudah salah paham terhadapnya yang memakan waktu yang lumayan cukup lama.


Setelah berpamitan, kedua orang tua Ganan segera masuk mobil. Ganan dan istrinya maupun Ibunya Maura menunggu sampai hilangnya bayangan mobil kedua orang tua Ganan. Sedangkan Ibu Bella kemudian segera masuk rumah, dan diikuti anak dan menantunya dari belakangnya. Dan keduanya segera masuk kedalam kamar.


Ceklek, Ganan membuka pintu kamar segera masuk dan diikuti Maura dibelakangnya.


"Aku belum mempunyai keinginan, tapi tidak tahu setelah ini. Bisa jadi, permintaanku dadakan, sayang... tidak apa apa, kan? jawab Maura dan balik bertanya.


" Tidak apa apa, asal jangan yang sulit untuk aku cerna akan permintaan kamu." Jawab Ganan sambil senyum menggoda.


"Sayang, aku lupa." Ucap Maura mengagetkan.


"Lupa dengan apa?" tanya Ganan penasaran.


"Aku pingin durian, dan kamu yang memanjatnya. Mau, kan?" jawab Maura sambil merengek akan permintaannya.

__ADS_1


"Apa? memanjat pohon durian? yang benar saja, sayang... yang jelas saja. Aku mana bisa memanjat pohon durian, yang ada aku tidak bisa turun. Duriannya beli saja ya, sayang..." ucap Ganan dengan belas kasihan. Namun tidak bagi Maura, justru Maura sangat menginginkan momen yang spesial baginya. Yaitu yang dimana ingin buah Durian, tetapi suaminya lah yang berusaha.


"Aku tidak ingin beli, itu bukan kerja keras kamu. Aku inginnya kamu yang memetik buah durian. Lagian buahnya tidak beli kok, sayang... mau, ya...." jawab Maura sambil memohon.


"Tapi kan, jauh... kasihan dengan kandungan kamu sayang, lebih baik kita beli saja." Ucap Ganan mencoba membujuk.


"Jalannya tidak jelek, bahkan mobil bagus sekalipun bisa sampai di gunung Papa. Tenang saja, ada Bondan dan juga Soni. Aku yakin, mereka berdua pasti mau menemani kita untuk ke gunung. Percayalah, aku baik baik saja." Jawab Maura merayu dan meyakinkan.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menelfon Soni dan juga Bondan. Kamu bersiap siaplah, dan ingat! jangan macam macam kalau sudah berada di gunung. Ingat, kehamilan kamu masih muda. Jadi, jangan ceroboh. Apakah kamu mengerti?" Ucap Ganan mengingatkan.


"Iya iya, sayang.. aku mengerti." Jawab Maura tersenyum mengembang. Sedangkan Ganan segera menelfon Soni dan Bondan.


Tidak lama kemudian, Bondan dan Soni telah tiba sampai dirumah Maura.


"Ada apa, Bos?" tanya Bondan.


"Hari ini temani kita berdua ke gunung, istriku menginginkan buah duren. Sedangkan aku tidak bisa memanjatnya, jadi aku meminta bantuan kamu untuk mengajariku memanjat pohon duren." Jawab Ganan.


"Apa, Bos? mengajari Bos Ganan untuk memanjat pohon duren? yang benar saja, Bos." Ucap Bondan sambil garuk garuk kepala yang tidak gatal.


"Iya, ajari aku manjat. Selama ini aku tidak bisa memanjat pohon. Entahlah ini calon anakku sedang menguji kesabaranku." Jawab Ganan sambil menggaruk kepalanya yang juga tidak gatal.


"Anak Bos Ganan pasti cowok. Lihatlah, permintaannya saja manjat pohon. Aku yakin itu, pasti cowok." Ucap Soni ikut menimpali.


"Seperti peramal saja, kamu Son.." jawab Ganan tidak percaya.

__ADS_1


"Iya nih, Soni suka menebak nebak. Dan tebakannya selalu meleset. Kurang belajar ilmu teka teki, kamu Son.." ucap Bondan meledek.


"Sudah sudah... ayo kita siap siap untuk berangkat." Ajak Ganan.


__ADS_2