
***
“OK, kita serius” ucap Julian mulai tampang seriusnya
Rafasya dan Mila sudah menghadap Julian untuk mengikuti jalannya acara
“asyik ya sya, bisa suruh jonathan ngurus ini semua” ucap Julian yang takjud dengan dekor pesta pernikahan rafasya dan Mila
“Julian!”teriak rafasya
Juliah terkekeh “iya sih, yang mau cepet masuk kamar” ledek Julian yang mendapat hadiah tatapan tajam dari rafasya
“ok ok sya” ucap Julian mengkode dengan tangannya
“baik semua para tamu undangan, terima kasih sudah hadir di acara resepsi pernikahan rafasya dan Mila” ucap julian membungkuk memberi hormat pada para tamu undangan
“ya” balas para tamu undangan serempak
Julian menoleh ke arah rafasya dan Mila “mereka sebenarnya sudah menikah sekitar 5 bulan lalu, tapi baru bisa mengadakan resepsi karena yah kalian lihat sendiri” ucap julian mengedarkan pandangannya ke setiap sudut aula pesta “pestanya wah bukan? jadi butuh waktu yang cukup lama untuk memeprrsiapkannya, aku saja dan teman-teman yang lain di buat sangat sibuk dengan acara pernikahan sahabat kita satu ini” ucap Julian dengan
takjub akan proses persiapan pernikahan rafasya dan mila
Semua orang bertepuk tangan “ini juga salah satu kerja keras sahabat kami, O’neils Jonathan” ucap Julian menunjuk jonathan yang berada di deretan kursi tamu undangan
“aku juga nanti ya jo” pinta Julian dibuatkan pesta seperti rafasya membuat semua orang tertawa
Julian kembali menatap kedua mempelai di hadapannya “pernikahan mereka mungkin terkesan buru-buru tapi jangan ragukan cinta mereka”
Julian melirik Mila “dia jatuh cinta pada rafasya untuk pertama kali sejak 10 tahun lalu. Aku sendiri tahu bagaimana perjuangannya untuk mendekati suaminya ini” Julian menoleh kearah rafasya “tapi suaminya yang sok kegantengan ini jual mahal pada istrinya dulu” Julian mulai menceritakan awal perjalanan kisah cinta rafasya dan Mila
“itu kan dulu! sekarang enggak” balas rafasya dengan cepat membuat semua orang tertawa dengan reaksi rafasya
julian ikut tertawa “iya, itu benar kalau emang dulu, kalau sekarang cintanya, cinta mati kali ya?" seru julian
__ADS_1
julian tersenyum jahil pada rafasya "kalau sekarang, Di tinggal ke toilet aja ngikut” balas Julian yang
kebetulan pernah melihat rafasya terus mengikuti Mila sampai ke toilet pun di ikuti karena terlalu takut ditinggal jauh oleh mila
Semua orang tertawa dengan apa yang diucapkan julian “jangan buka kartu napa?” pinta rafasya menggaruk tengkuknya yang tak gatal
“tapi wajar kok sya kalau kamu mencintai Mila sampaisegitunya. Tentu kita semua disini tahu, bagaimana perjuangan Mila menjaga rafasya” Julian menatap para tamu undangan
Julian menghela nafas panjang “dulu dia terkena ledakan bom, awalnya kita semua mengira dia sudah mati tapi ternyata dia terluka sangat parah. Untung saja badannya masih utuh walaupun banyak luka” kekeh Julian tapi air matanya sudah terjun bebas membasahi pipi
“saat itu dia” tunjuk Julian pada rafasya yang berdiri di hadapannya “terluka sangat parah, banyak luka bakar disekujur tubuhnya, anggota badannya sangat sulit untuk digerakkan. Untuk makan saja, rafasya hanya bisa minum air” jelas Julian
“mukanya paling juga ancur saat itu, gak ganteng lagi” ledek Julian dengan suara yang sudah serak karena menangis
“tapi mila dengan telatennya menjaga rafasya yang berkali-kali harus menjalani operasi. Mila menjaga rafasya dengan sepenuh hati dan membuat rafasya bisa sembuh” Julian berjalan kearah rafasya dan meminta rafasya
berbalik kearah para tamu undangan “tiga tahun berlalu setelah kejadian naas itu, dia sudah baik-baik saja sekarang, dia juga sudah bisa jalan dan lihat sendiri sudah ganteng lagi” tunjuk Julian pada wajah rafasya
Rafasya mengusap pipinya yang sudah basah karena mendengar penuturan julian
Julian memberikan mic pada rafasya “berikan ucapan cintamu pada istri tercintamu” pinta Julian menggeser tubuhnya ke pinggiran podium
Rafasya memegang MIC “omongan Julian emang ngeselin ya sayang?” Tanya rafasya tersenyum kearah mila
Mila mengangguk “iya” balas mila lirih
“tapi walaupun ucapannya nyebelin, tapi apa yang dia ucapkan adalah kebenaran, jika sampai aku kehilanganmu pasti aku akan menyesal seumur hidup” tambah rafasya
“kau adalah sosok wanita yang selalu ada di sampingku, mendukungku, menjagaku, menghormatiku dan bahkan tak akan sungkan memarahiku jika aku salah” rafasya menghela napas panjang “hidupku tak akan ada artinya jika tak ada kamu sayang. Terima kasih hadir dalam hidupku, menemaniku dan mencintaiku” ucap rafasya
Mila mengambil MIC di tangan rafasya, megusap air matanya yang sudah mengalir bebas sedari tadi “mungkin orang lain melihat kau sangat beruntung ada aku menemanimu di saat tersulitmu. Tapi mereka tak tahu kalau aku juga sangat beruntung kau ada dihidupku” ucap mila
Mila menatap manik mata rafasya “semua orang tahu kalau aku mencintaimu sejak dulu. Tapi orang-orang tak tahu alasan sebenarnya aku mencintaimu” ucap mila
__ADS_1
Rafasya menyipitkan matanya memandang mila, ikut merasa penasaran dengan alasan mila mencintainya “kau ingat saat aku duduk di taman belakang kampus kita dan kau melempar sebuah bunga, yang jelas-jelas itu bukan untukku” Tanya mila mengingatkan kejadian mereka di masalalu
Rafasya Nampak mengingat “iya ingat" balas rafasya
“saat itu adalah seminggu setelah kepergian oma untuk selama-lamanya, meninggalkan aku seorang diri” ucap mila
Rafasya langsung menggenggam tangan mila yang tengah bebas untuk memberi dukungan
“saat itu kau marah padaku “apaan sih nangis siang-siang. Masih banyak hal yang harus dirayakan dan membuat bahagia bukan hanya menangis di bawah pohon seperti ini” lalu kau menunjuk bunga di pangkuanku dan kembali bilang padaku “karena aku gak butuh bunga itu,jadi buat kamu aja deh, jadi jangan nangis lagi, ok” kau mengucapkan itu di saat hatiku sedang hancur” mila menarik nafas dalam dan menghembuskannya
" mungkin saat itu kau tak berniat menghiburku sama sekali, dan mungkin saja saaat itu kau hanya ingin melempar bunga yang tak kau inginkan karena kau hampir setiap hari mendapat bunga dari para penggemarmu di kampus" ucap mila
mila memandang suaminya dengan penuh cinta " tapi bagiku itu adalah dukungan terbesar bagi hidupku. Hal yang bisa membuatku bertahan sampai detik ini dan sejak saat itu lah, aku bilang pada diriku sendiri kalau kau akan jadi pria satu-satunya dalam hidupku” jelas mila
“masa karena itu sih mil?” protes rafasya tak terima alasan mila mencintainya hanya karena sebuah lemparan bunga dan ucapan sembarangan yang terlontar dari bibirnya kala itu
Mila terkekeh “kenapa?” Tanya mila
“masa jatuh cinta, gara-gara di lempar bunga” balas rafasya kesal
“mungkin menurutmu itu Cuma hal sepele, tapi dari kata-katamu menyadarkanku banyak kebahagiaan yang bisa di raih walaupun aku hanya sendiri. Andai kau tahu betapa kesepiaannya aku saat itu” ucap mila membayangkan perasaannya kala itu
“kau memang tampan, kaya dan pintar tapi yang jauh lebih baik darimu juga banyak kali” ledek mila
Rafasya mengerucutkan bibirnya mendengarkan penuturan mila membuat mila tersenyum senang “tapi dari sekian banyak orang dengan segala kelebihannya aku tetap jatuh hati pada rafasya revandra suamiku saat ini, orang yang ada di hadapanku sekarang dan juga orang yang akan menemaniku di sisa umurku. Orang yang baik, tampan dan sangat menyayangiku” tambah mila
Rafasya langsung memeluk mila dan mengecup bibir mila cukup lama
“aku mencintaimu Mila Rahadian” ucap rafasya
“aku juga, mencintaimu” balas mila dengan senyum mengembang
semua orang bertepuk tangan haru dan meneteskan air amtanya mendengar pernyataan cinta rafasya dan mila
__ADS_1