
Zian tersenyum melihat reaksi rebecca “jangan
marah-marah terus geh” ucap zian memeluk rebecca
“aku bukan orang yang bisa dengan mudah mengutarakan
cinta pada seseorang, tapi aku akan berusaha belajar untuk itu. Tapi sampai aku
bisa berkata-kata lihatlah tulusnya aku menjalin hubungan denganmu” ucap zian
Rebecca membalas pelukkan zian “baik, rebecca akan
lihat kerja keras om” balas rebecca tersenyum
“sudah makan dulu yuk” ajak zian
“iya om” balas rebecca
Mereka makan sambil bercanda, dan bertengkar kecil
tapi kembali tertawa
“sudah selesai makannya?” tanya zian
“sudah om” balas rebecca
“kita jalan-jalan dulu yuk, sekalian buat membantu
mencerna makanan kita tadi” ajak zian menadahkan tangannya
Rebecca tersenyum menyambut tangan zian “ayok om”
balas rebecca menggandeng lengan zian
Zian dan rebecca berjalan-jalan sambil berhandengan
tangan sepanjang jalanan resort “ini resort lama ya om?” tanya rebecca
“lumayan sih, ini dulu di bangun kakek hafizhan, dan
kebetulan diberikan padaku” balas zian
“oh, ini punya om toh?” tanya rebecca
“ini juga nanti jadi milikmu” balas zian mencubit
hidung rebecca
“kenapa jadi milikku, kan punya om jadi bagaimana
bisa jadi milikku nanti?” tanya rebecca
Zian terkekeh “kalau kau jadi istriku nanti kan
otomatis semua jadi milikmu juga” balas zian
“bisa gitu ya?” tanya rebecca polos
“sudah ah, jalan saja” balas zian
Rebecca melihat hamparan taman bunga krisan serta
bunga matahari “itu taman bunga krisannya bagus ya om?” tanya rebecca
“kamu suka itu?” tanya zian
“iya suka” balas rebecca mengangguk
“awalnya itu akan di ratakan dan di gantikan dengan
tanaman lain agar menarik perhatian pengunjung. Tapi kalau kamu suka, aku bisa
membatalkannya” balas zian
“ih jangan om, nanti rebecca yang atur deh biar
lebih rapih dan lebih cantik untuk menarik pengunjung ke resort om zian” ucap
rebecca
“emangnya bisa?” tanya zian
“kalau belum di coba mana tahu bisa atau enggak” balas
rebecca
“om” panggil rebecca
‘ya” balas zian
“emangnya om gak malu apa pacaran sama pasien mama
om zian?” tanya rebecca
“kenapa harus malu?” tanya zian
“kan biasanya orang yang berobat ke psikiater
berarti orang bermasalah mental om, dan itu berarti rebecca punya penyakit
mental” balas rebecca
Zian menggenggam tangan rebecca dan mengambil satu
tangan rebecca yang masih bebas untuk digenggam bersama “ sakit mental itu ada
__ADS_1
berbagai macam. Mama selalu bilang jangan menjauhi orang yang punya penyakit
mental tapi kita harus merangkulnya dan selalu mendukungnya agar orang itu
lepas dari belenggunya” balas zian
“tapi mungkin aku akan susah sembuh om” balas
rebecca
“kenapa kau yakin begitu” tanya zian
“aku sampai sekarang gak bisa menceritakan penyebab
aku mulai punya gangguan tidur selain dengan tante kaila” ucap rebecca “dan
tante bilang ke rebecca kalau yang bisa melepaskan belenggu dalam diri rebecca
adalah rebecca sendiri” tambah rebecca
“kalau gak mau cerita juga gak akan maksa kamu untuk
cerita, biarkan mengalir apa adanya saja” zian menautkan jari-jari tangannya
dengan jari-jari tangan rebecca “aku bisa tetap mendampingimu jika kau
kesulitan tidur, aku juga bisa menemanimu begadang loh, seperti kemarin” balas
zian
Rebecca tersenyum kearah zian “terima kasih om” ucap
rebecca
Zian balas tersenyum pada rebecca
“kita sudah jalan cukup jauh, lebih baik kita kembali
agar kau bisa tidur” ucap zian yang ingin mengantar rebecca ke kamar
“iya om” balas rebecca
Zian mengantar sampai depan kamar rebecca “sudah
sampai, tidur sana” ucap zian
Rebecca menahan tangan zian “ada apa?” tanya zian
saat tangannya ditahan rebecca
“bisa gak om temani rebecca dulu sampai tidur?”
tanya rebecca
“ah, kamu masih kecil mau ngajak yang aneh-aneh ya”
Rebecca langsung menabok lengan zian “sembarangan!”
teriak rebecca “rebecca hanya gak terbiasa di tempat jauh om takut gak bisa
tidur. Dulu saja waktu pertama menginap di rumah om, kan rebecca tidur sama
ningrum dan kasih” ucap rebecca
“ya sudah, aku temani sampai kau tertidur” balas
zian ikut masuk kamar rebecca
Zian memilih duduk di sofa dan memainkan ponselnya “sudah
tidur sana” ucap zian
“iya om” balas rebecca masuk dalam selimut
Lama zian melihat layar ponselnya untuk mengecek
email masuk “ah sudah jam segini” gumam zian meilihat sudah pukul 23.10
Zian mendongak melihat rebecca yang masih bolak
balik tak jelas untuk mencari posisi tidur ternyamannya
“kamu belum tidur?” tanya zian
“ah, belum om. Mata rebecca gak bisa terpejam dari
tadi” balas rebecca
“bukannya kamu bilang kalau kamu akan susah tidur
jika melewati jam 11 malam?” tanya zian
“iya, tapi dari tadi gak bisa tidur” balas rebecca
“biasanya kau tidur dengan bantuan apa?” tanya zian
menghampiri rebecca
“biasanya di kamar rebecca ada beberapa tanaman yang
membantu rebecca tidur” balas rebecca
(kamar rebecca)
__ADS_1
Zian mengingat mendapati kamar rebecca penuh dengan
banyak tanaman saat pernah memanggil rebecca ke kamarnya “ah aku ingat di
kamarmu banyak tanaman yang bisa membantu tidur” ucap zian
“iya om, biasanya mereka yang membantuku tidur”
balas rebecca memanyunkan bibirnya
“tapi kemarin saat kita pulang sampai lewat tengah
malam, bukannya kau bisa tidur?” tanya zian
“iya juga om, tapi rebecca gak tahu karena apa
rebecca bisa tidur” balas rebecca
“waktu itu kana da tv da nada aku” zian tampak
berpikir “bagaimana kalau kita coba buat ngulang itu, kita tidur disini sambil
nonton?” tanya zian
“emmmm” rebecca tampak berpikir
“kalau kamu merasa gak nyaman, ya sudah aku temani
kau mengobrol saja” balas zian mengusap kepala rebecca
“tapi om juga butuh tidur. Ya sudah kita tidur
sambil nonton saja” rebecca menggeser tubuhnya dan menepuk ranjang agar zian
tidur disebelahnya
Zian masuk dalam selimut dan menyetel TV yang ada di
dalam kamar tempat mereka menginap
“kira-kira kalau orang tua kita sampai tahu kita
tidur sekamar gini? Gimana ya reaksinya?” tanya zian
“paling kita di suruh nikah. Soalnya keluarga
rebecca termasuk keluarga kolot walaupun di Negara kami bebas tidur dengan
sembarang orang tapi tidak dengan keluarga besarku. Itu makanya dulu tante Karin
boleh nikah sama om kevin walau sebenarnya saat itu mereka belum punya anak” balas
rebecca
“tahu dari mana kamu cerita itu?” tanya zian
“dari mama” balas rebecca
“kirain Cuma aku dan para orang tua saja yang tahu. Ternyata
kamu tahu juga” ucap zian
“tentu saja aku tahu, mamaku kan orang yang suka
ngomong gak ada rem nya. Suka nyerocos sembarangan dan kadang suka menyakiti
perasaan orang lain” ucap rebecca mengeratkan pegangannya pada selimut yang
menutupi kakinya
Zian melihat hal itu “kalau keluargaku, mungkin akan
langsung berteriak padaku” zian menggenggam tangan rebecca “mamaku akan
berteriak seperti biasa. Dan ayahku paling bilang biarin saja kan zian sudah
besar jadi bisa memutuskan jalan hidupnya sendiri” cerita zian tentang karakter
orang tuanya
“sepertinya hidup di keluarga om sangat bahagia”
tanya rebecca menyandarkan kepalanya di lengan zian
“keluarga kami memang cuku bahagia. Ya walaupun
keluargaku sering dapat masalah tapi sejauh ini kebahagian yang kami rasakan
jauh lebih banyak. Aku punya kedua orang tua yang menyayangiku. Kakek hafizhan,
kakek sakti dan nenek angel yang memanjakanku. Juga punya om yang sekaligus
jadi sahabatku dan juga punya dua adik yang selalu membuatku kesal sekaligus
bahagia setiap kami bertengkar ” ucap zian menceritakan keluarganya
Terdengar suara dengkuran halus membuat zian menoleh
kearah rebecca “sudah tidur ternyata” gumam zian membenarkan posisi tidur
rebecca
“kau terlihat sangat cantik saat tertidur” gumam
zian mengecu kening rebecca
__ADS_1
Zian bukannya keluar tapi malah ikut tidur memeluk
rebecca