Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
membantumu tidur (season 2)


__ADS_3

Zian tersenyum melihat reaksi rebecca “jangan


marah-marah terus geh” ucap zian memeluk rebecca


“aku bukan orang yang bisa dengan mudah mengutarakan


cinta pada seseorang, tapi aku akan berusaha belajar untuk itu. Tapi sampai aku


bisa berkata-kata lihatlah tulusnya aku menjalin hubungan denganmu” ucap zian


Rebecca membalas pelukkan zian “baik, rebecca akan


lihat kerja keras om” balas rebecca tersenyum


“sudah makan dulu yuk” ajak zian


“iya om” balas rebecca


Mereka makan sambil bercanda, dan bertengkar kecil


tapi kembali tertawa


“sudah selesai makannya?” tanya zian


“sudah om” balas rebecca


“kita jalan-jalan dulu yuk, sekalian buat membantu


mencerna makanan kita tadi” ajak zian menadahkan tangannya


Rebecca tersenyum menyambut tangan zian “ayok om”


balas rebecca menggandeng lengan zian


Zian dan rebecca berjalan-jalan sambil berhandengan


tangan sepanjang jalanan resort “ini resort lama ya om?” tanya rebecca


“lumayan sih, ini dulu di bangun kakek hafizhan, dan


kebetulan diberikan padaku” balas zian


“oh, ini punya om toh?” tanya rebecca


“ini juga nanti jadi milikmu” balas zian mencubit


hidung rebecca


“kenapa jadi milikku, kan punya om jadi bagaimana


bisa jadi milikku nanti?” tanya rebecca


Zian terkekeh “kalau kau jadi istriku nanti kan


otomatis semua jadi milikmu juga” balas zian


“bisa gitu ya?” tanya rebecca polos


“sudah ah, jalan saja” balas zian


Rebecca melihat hamparan taman bunga krisan serta


bunga matahari “itu taman bunga krisannya bagus ya om?” tanya rebecca


“kamu suka itu?” tanya zian


“iya suka” balas rebecca mengangguk


“awalnya itu akan di ratakan dan di gantikan dengan


tanaman lain agar menarik perhatian pengunjung. Tapi kalau kamu suka, aku bisa


membatalkannya” balas zian


“ih jangan om, nanti rebecca yang atur deh biar


lebih rapih dan lebih cantik untuk menarik pengunjung ke resort om zian” ucap


rebecca


“emangnya bisa?” tanya zian


“kalau belum di coba mana tahu bisa atau enggak” balas


rebecca


“om” panggil rebecca


‘ya” balas zian


“emangnya om gak malu apa pacaran sama pasien mama


om zian?” tanya rebecca


“kenapa harus malu?” tanya zian


“kan biasanya orang yang berobat ke psikiater


berarti orang bermasalah mental om, dan itu berarti rebecca punya penyakit


mental” balas rebecca


Zian menggenggam tangan rebecca dan mengambil satu


tangan rebecca yang masih bebas untuk digenggam bersama “ sakit mental itu ada

__ADS_1


berbagai macam. Mama selalu bilang jangan menjauhi orang yang punya penyakit


mental tapi kita harus merangkulnya dan selalu mendukungnya agar orang itu


lepas dari belenggunya” balas zian


“tapi mungkin aku akan susah sembuh om” balas


rebecca


“kenapa kau yakin begitu” tanya zian


“aku sampai sekarang gak bisa menceritakan penyebab


aku mulai punya gangguan tidur selain dengan tante kaila” ucap rebecca “dan


tante bilang ke rebecca kalau yang bisa melepaskan belenggu dalam diri rebecca


adalah rebecca sendiri” tambah rebecca


“kalau gak mau cerita juga gak akan maksa kamu untuk


cerita, biarkan mengalir apa adanya saja” zian menautkan jari-jari tangannya


dengan jari-jari tangan rebecca “aku bisa tetap mendampingimu jika kau


kesulitan tidur, aku juga bisa menemanimu begadang loh, seperti kemarin” balas


zian


Rebecca tersenyum kearah zian “terima kasih om” ucap


rebecca


Zian balas tersenyum pada rebecca


“kita sudah jalan cukup jauh, lebih baik kita kembali


agar kau bisa tidur” ucap zian yang ingin mengantar rebecca ke kamar


“iya om” balas rebecca


Zian mengantar sampai depan kamar rebecca “sudah


sampai, tidur sana” ucap zian


Rebecca menahan tangan zian “ada apa?” tanya zian


saat tangannya ditahan rebecca


“bisa gak om temani rebecca dulu sampai tidur?”


tanya rebecca


“ah, kamu masih kecil mau ngajak yang aneh-aneh ya”


Rebecca langsung menabok lengan zian “sembarangan!”


teriak rebecca “rebecca hanya gak terbiasa di tempat jauh om takut gak bisa


tidur. Dulu saja waktu pertama menginap di rumah om, kan rebecca tidur sama


ningrum dan kasih” ucap rebecca


“ya sudah, aku temani sampai kau tertidur” balas


zian ikut masuk kamar rebecca


Zian memilih duduk di sofa dan memainkan ponselnya “sudah


tidur sana” ucap zian


“iya om” balas rebecca masuk dalam selimut


Lama zian melihat layar ponselnya untuk mengecek


email masuk “ah sudah jam segini” gumam zian meilihat sudah pukul 23.10


Zian mendongak melihat rebecca yang masih bolak


balik tak jelas untuk mencari posisi tidur ternyamannya


“kamu belum tidur?” tanya zian


“ah, belum om. Mata rebecca gak bisa terpejam dari


tadi” balas rebecca


“bukannya kamu bilang kalau kamu akan susah tidur


jika melewati jam 11 malam?” tanya zian


“iya, tapi dari tadi gak bisa tidur” balas rebecca


“biasanya kau tidur dengan bantuan apa?” tanya zian


menghampiri rebecca


“biasanya di kamar rebecca ada beberapa tanaman yang


membantu rebecca tidur” balas rebecca



(kamar rebecca)

__ADS_1


Zian mengingat mendapati kamar rebecca penuh dengan


banyak tanaman saat pernah memanggil rebecca ke kamarnya “ah aku ingat di


kamarmu banyak tanaman yang bisa membantu tidur” ucap zian


“iya om, biasanya mereka yang membantuku tidur”


balas rebecca memanyunkan bibirnya


“tapi kemarin saat kita pulang sampai lewat tengah


malam, bukannya kau bisa tidur?” tanya zian


“iya juga om, tapi rebecca gak tahu karena apa


rebecca bisa tidur” balas rebecca


“waktu itu kana da tv da nada aku” zian tampak


berpikir “bagaimana kalau kita coba buat ngulang itu, kita tidur disini sambil


nonton?” tanya zian


“emmmm” rebecca tampak berpikir


“kalau kamu merasa gak nyaman, ya sudah aku temani


kau mengobrol saja” balas zian mengusap kepala rebecca


“tapi om juga butuh tidur. Ya sudah kita tidur


sambil nonton saja” rebecca menggeser tubuhnya dan menepuk ranjang agar zian


tidur disebelahnya


Zian masuk dalam selimut dan menyetel TV yang ada di


dalam kamar tempat mereka menginap


“kira-kira kalau orang tua kita sampai tahu kita


tidur sekamar gini? Gimana ya reaksinya?” tanya zian


“paling kita di suruh nikah. Soalnya keluarga


rebecca termasuk keluarga kolot walaupun di Negara kami bebas tidur dengan


sembarang orang tapi tidak dengan keluarga besarku. Itu makanya dulu tante Karin


boleh nikah sama om kevin walau sebenarnya saat itu mereka belum punya anak” balas


rebecca


“tahu dari mana kamu cerita itu?” tanya zian


“dari mama” balas rebecca


“kirain Cuma aku dan para orang tua saja yang tahu. Ternyata


kamu tahu juga” ucap zian


“tentu saja aku tahu, mamaku kan orang yang suka


ngomong gak ada rem nya. Suka nyerocos sembarangan dan kadang suka menyakiti


perasaan orang lain” ucap rebecca mengeratkan pegangannya pada selimut yang


menutupi kakinya


Zian melihat hal itu “kalau keluargaku, mungkin akan


langsung berteriak padaku” zian menggenggam tangan rebecca “mamaku akan


berteriak seperti biasa. Dan ayahku paling bilang biarin saja kan zian sudah


besar jadi bisa memutuskan jalan hidupnya sendiri” cerita zian tentang karakter


orang tuanya


“sepertinya hidup di keluarga om sangat bahagia”


tanya rebecca menyandarkan kepalanya di lengan zian


“keluarga kami memang cuku bahagia. Ya walaupun


keluargaku sering dapat masalah tapi sejauh ini kebahagian yang kami rasakan


jauh lebih banyak. Aku punya kedua orang tua yang menyayangiku. Kakek hafizhan,


kakek sakti dan nenek angel yang memanjakanku. Juga punya om yang sekaligus


jadi sahabatku dan juga punya dua adik yang selalu membuatku kesal sekaligus


bahagia setiap kami bertengkar ” ucap zian menceritakan keluarganya


Terdengar suara dengkuran halus membuat zian menoleh


kearah rebecca “sudah tidur ternyata” gumam zian membenarkan posisi tidur


rebecca


“kau terlihat sangat cantik saat tertidur” gumam


zian mengecu kening rebecca

__ADS_1


Zian bukannya keluar tapi malah ikut tidur memeluk


rebecca


__ADS_2