Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter #14


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kini kakek Angga beserta ketiga cucu kembarnya telah sampai di halaman rumah.


Didepan rumah sudah disambut hangat oleh Omma Qinan yang sudah berdiri diambang pintu.


"Omma... kita jalan jalan yuk.." ajak Nayla sambil berlari menghampirinya dan diikuti kedua kakak laki lakinya dari belakang yang ikut berlari.


"Kita masuk dulu ke rumah, kalian harus mengganti pakaian kalian. Setelah itu, baru kita jalan jalan."


"Kakek juga, kan?" tanya Zakka.


"Tentu saja, kita akan jalan jalan bersama kakek juga." Jawabnya lalu segera masuk kedalam rumah untuk menggantikan pakaian ketiga cucu kembarnya.


Kedekatan Zakka terhadap sang kakek sangat lah lengket. Sedangkan Reynan lebih dekat dengan sang papa. sedangkan Neyla lebih dekat dengan Omma dan ibunya. Namun, ketiganya sama sama super aktif dalam segala hal. Hanya saja, diantara ketiganya mempunyai sifat yang berbeda.


Setelah sudah bersiap siap, kini waktunya berangkat untuk jalan jalan. Sebelum berangkat, tiba tiba Neyla teringat dengan sang ibu.


"Omma, mama ada dimana?" tanyanya sambil celingukan.


"Mama sedang menemani papa bekerja. Selagi ada Omma, kamu dan kakak kakak kamu tidak perlu khawatir. Bukannya masih ada kakek juga.." jawabnya dan tersenyum.


"Iya, Omma.. padahal Ney pingin jalan jalan bersama mama dan papa juga. Ada kakek dan ada Omma, pasti rame." Jawabnya sedikit lesu.


"Kita kan dijadwalkan satu bulan sekali untuk jalan jalan bersama. Selain itu, hanya dengan Omma dan Kakek. Kamu mengerti kan, Ney .." ucapnya menjelaskan. Sedangkan Neyla hanya mengangguk.


"Sudah siap semuanya? kalau sudah siap, ayo kita berangkat jalan jalan." Ajak sang kakek.


"Sudah siap, kek." Jawab Reynan dan juga Zakka serempak.


Saat hendak berangkat jalan jalan, tiba tiba ada sebuah mobil masuk kehalaman rumah. Kakek Angga maupun Omma Qinan bingung dibuatnya.


"Siapa yang datang, Omma?" tanya Ney ingin tahu.

__ADS_1


"Omma tidak tahu, mungkin kakek yang mempunyai janji." Jawab Omma Qinan yang juga tidak mengetahuinya.


"Kakek juga tidak mempunyai janji, lantas siapa? tapi sepertinya mobil keluarga kita. Lalu siapa? apa Ganan yang membawa mobil?" jawabnya yang juga bertanya tanya.


Tidak lama kemudian, satu persatu keluar dari mobil, Kakek Angga dan Omma Qinan pun terbelalak tidak percaya saat melihatnya.


Kakek Angga maupun kakek Omma Qinan segera lari lari kecil menghampirinya.


"Papa...." sapa kakek Angga kepada ayah tercintanya, yang tidak lain adalah Uyut Wilyam.


"Angga, putraku.." Tanpa diminta, uyut Wilyam menitikan air matanya saat pertemuan diantara keduanya dalam pelukan hangat dari seorang anak dan orang tua. Kemudian diikuti sang istri mencium punggung ayah mertuanya kemudian segera mengajaknya masuk kedalam beserta menantunya yaitu Serly dan juga anaknya beserta menantu dan cucunya siapa lagi kalau bukan nyonya Zeil dan tuan Alfan beserta putri kesayangannya yang sangat cantik yang bernama Adelyn dan juga besannya uyut Wilyam yang tidak lain adalah uyut kosim yang masih sehat seperti uyut Wilyam.


"Kakak..." sapa dari sang adik kemudian saling memeluk erat keduanya. Siapa lagi kalau bukan kakek Zio, putra angkat dari uyut Wilyam.


"Bagaimana kabar kamu, Zio? apakah kamu sudah mendapatkan beritanya?" tanya sang kakak penasaran.


"Masih saja belum didapatkan beritanya, kak. Kami sudah mencarinya berbagai macam cara, namun tetap saja belum kami dapatkan beritanya."


"Terimakasih, kak. Aku hanya bisa berharap, agar putriku dan menantuku bisa bahagia seperti Ganan." Jawabnya bersedih.


"Masih ada Adelyn, Zio. Kamu jangan putus asa, masih ada waktu untuk mengungkap semuanya." Ucap sang kakak untuk selalu meyakinkan sang adik.


"Iya kak, aku percaya denganmu. Aku harus banyak belajar dari Kak Ferdi, Bagaimana kabar keluarga Kak Ferdi. Aku dengar memiliki cucu kembar juga. Tetapi sayangnya, nasibku tidak sebagus Kak Ferdi." Jawabnya, lalu keduanya segera masuk kedalam rumah untuk berkumpul bersama keluarga besar Wilyam.


Semua yang berada didalam ruangan keluarga sangatlah ramai, ditambah lagi ada empat uyut yang sama besarnya. Hanya tuan Ganan dan nyonya Maura yang belum berkumpul, keduanya masih sibuk dikantor.


Tiba tiba nyonya Zeil menitikan air matanya, tatkala pandangannya pada sosok Zakka dan juga Reynan. Senyum yang terpaksa saat melihat keponakannya sendiri.


Sedangkan Omma Qinan dan Omma Serly ikut merasakan kesedihan dari nyonya Zeil.


Tuan Alfan yang berada didekat sang istri hanya bisa merangkulnya, mencoba memberi ketenangan terhadap sang istri. Dengan pelan, Omma Qinan mendekati keponakannya untuk mencoba menenangkan pikirannya yang sedang bersedih.

__ADS_1


"Zeil ... kamu kenapa menangis? tante tau, kamu pasti sangat terpukul dan tentunya perasaan kamu sangat hancur. Tetapi mau bagaimana lagi, semua sudah takdir. Kita di tanah air sudah berusaha untuk mendapatkan informasi yang akurat, tetapi masih belum mendapatkan jawaban. Percayalah kepada tante, suatu saat nanti kamu akan mendapatkan jawabannya. Untuk saat ini, kamu tetap bersabar. Kamu ingat kembali masa lalu kamu, adakah sesuatu yang tergores dimasa lalu kamu." Ucap sang tante mencoba meyakinkan dan menguatkan keponakannya.


Sedangkan nyonya Zeil hanya mengangguk, pikkrannya masih saja tidak karuan. Ingin rasanya berteriak sekencang mungkin, namun dirinya tidak kuasa untuk melakukannya.


"Sepertinya tidak ada goresan luka dimasa lalu, tante. Tidak tahu dengan mamanya Adelyn, tante. Mungkin saja bisa mengingatnya, karena selama saya menjaga mamanya Adelyn tidak ada seseorang pun yang ikut bersaing untuk mendapatkan mamanya Adelyn." Jawab tuan Alfan ikut menimpali.


"Mungkin saja ada oknum yang tidak disengaja, tetapi itu mustahil." Ucap Omma Qinan yang masih berusaha mencari kebenaran.


"Sudah, sudah ... baru saja kita sampai.. istirahatlah dulu Zeil.. kakek percaya, suatu saat nanti kamu akan menemukan jawabannya. Sabar dulu ya, nak.." ucap uyut Wilyam ikut menimpali.


"Iya, kek.. Zeil hanya merindukannya." Jawabnya lesu.


Setelah cukup lama mengobrol dan saling bercerita, tiba tiba tuan Ganan dan nyonya Maura telah kembali pulang.


"Wah... wah.. rame sekali, sudah sampai rupanya." Ucap tuan Ganan mengagetkan.


"Kakek ..." seru tuan Ganan langsung memeluk sang kakek erat untuk melepas rasa rindu, kemudian setelah itu mencium punggung tangan sang kakek. Begitu juga dengan sang istri yang juga ikut mendekati sang kakek dan mencium punggung tangannya.


"Cucuku ... sekarang kamu sudah menjadi orang tua, tanggung jawabmu sangatlah besar. Banyak banyaklah bersabar untuk mendidik kedua putramu dan satu putrimu." Ucap sang kakek menasehati.


"Iya, kek. Ganan akan selalu ingat semua pesan dari kakek. Lalu, bagaimana kabarnya dengan kakek? kakek akan tinggal dirumah ini lagi, 'kan?" jawabnya dan bertanya.


"Tentu saja, kakek akan menghabiskan hidup bersama kalian." Jawab uyut Wilyam dan tersenyum.


Hei Readers setia... Ada yang penasaran dengan kelanjutan kisah Zeil dan Alfan? ayok intip, semua kisah misterinya akan di kupas tuntas di novel terbaru ya, readers..


Judul Novel barunya yaitu,


"Suamiku Anak Yang Terbuang"


Penasaran? ayo intip yuk... menurut author sih tidak kalah serunya loh. Karena ada keluarga Danuarta, yang diperankan oleh Afnaya anak kembar dari tuan Tirta Danuarta dengan nyonya Nessa. Dan ada saudara kembarnya juga yang bernama Kazza Danuarta yang sikap dinginnya seperti es pelangi loh.. Ciat!! 😀😀

__ADS_1


__ADS_2