
Ganan sedang berada diruang privat, yang dimana tempat untuk berdiskusi atau berbicara penting. Ganan tidak sendirian, kini kedua orang tuanya didalam ruangan yang sama.
Ganan masih berdiam diri tanpa bersuara, begitu juga dengan Ayahnya yang masih mematung tanpa berbicara sepatah katapun.
"Sampai kapan kalian berdua akan tetap seperti ini, dan apakah diantara kalian tidak memiliki rasa hampa mungkin, rasa sakit mungkin, atau bahkan rasa kosong pun tidak ada? hah?" ucap Nyonya Qinan dengan sedikit geram. Karena sudah tidak tahan melihat kedua jagoannya sama sama berhati keras seperti batu. Pikirnya.
Ganan maupun Ayahnya hanya saling menatap, keduanya bagaikan kakak beradik yang sedang kesal ataupun berantem. Tidak anak, tidak Ayah, sama sama kaku dan dingin.
"Kalau sampai kalian berdua tidak ada yang memulai pembicaraan, maka aku akan pergi jauh dari hadapan kalian berdua. Adil, kan?' ucap Nyonya Qinan menantang. Meski sebenarnya sangat takut atas sikap dari sang anak maupun suami.
"Baiklah, aku yang akan menanyakan semua ini. Duduklah, dan jangan pergi meninggalkan ruangan ini sebelum semua terselesaikan." Jawab Tuan Angga meyakinkan istrinya, sedangkan Nyonya Qinan nurut dengan apa yang dikatakan suaminya dan segera duduk kembali ketempat semula.
Tuan Angga menatap lekat putranya yang berada di depannya. Dengan yakin, Tuan Angga segera berdiri tegap di hadapan putranya. Begitu juga dengan Ganan, yang juga ikut berdiri tegap seperti Ayahnya. Keduanya masih terlihat kakak beradik, meski terpaut usianya yang jauh.
"Anakku.. katakan kepada Papamu, apa yang membuatmu kecewa pada Papa? katakan." Ucap Ayahnya dan bertanya.
Ganan masih mematung didepan Ayahnya, terasa berat untuk mengungkapkannya. Karena Ganan menyadari, bahwa dirinya sudah menjadi seorang suami. Dan apakah pantas untuk membentak Ayahnya, dan memakainya. Begitulah yang terlintas dalam pikiran Ganan, merasa benci tetapi tidak berani menegur.
Sedangkan sang Ibu sedang menunggu jawaban dari putranya, berharap akan menemukan titik terang. Namun Ganan masih terlihat enggan untume menjawab pertanyaan dari Ayahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam, katakan. Agar Papa tahu kesalahan Papa, jika memang Papa memiliki salah kepadamu. Katakan saja, Papa siap untuk menjawabnya. Apa kamu masih sanggup untuk menahan rasa kecewa mungkin, atau bahkan benci sekalipun." Ucap Ayahnya kembali dengan tegas.
Sedangkan Ganan masih berusaha menenangkan pikirannya, agar tidak terbawa emosi. Meski sebenarnya emosinya memuncak, Ganan tetap santai untuk menyikapinya. Sedangkan sang Ibu masih berusaha untuk diam, agar putranya leluasa untuk mengeluarkan beban pikirannya yang sudah menggumpal.
"Aku benci sama Papa, bahkan sangat kecewa dengan Papa. Dan Papa sama sekali tidak memberi contoh yang baik untuk Ganan. Baik lah, lihat baik baik itu rekaman video. Dengan yakin, Ganan menyalakan laptopnya yang sudah ada video yang dimaksud.
Dengan lekat, kedua orang tua Ganan menatap layar laptop dengan serius. Video pun sedang mulai berputar durasinya, Ganan pun sudah geram terlebih dahulu sebelum video tersebut terlihat sangat jelas.
Sedangkan kedua orang tua Ganan masih penasaran dengan isi video tersebut.
Duueer....
Kedua orang tua Ganan saling beradu pandang. Perasaan Tuan Angga benar benar terasa teriris, saat dirinya melihat sosok dirinya yang begitu kejam terhadap istrinya. Kenangan buruk itupun harus teringat kembali, dan yang membuka kenangannya adalah Putranya sendiri. Yang dimana sangat membencinya sejak usia masih belasan tahun.
Hatinya bagai dicambuk yang begitu kuat. Tuan Angga dan juga Nyonya Qinan akhirnya menemukan jawaban yang selama ini sudah menghantui pikirannya.
Tuan Angga pun segera mendekati putranya untuk menyelesaikan permasalahannya.
"Anakku, sampai segitukah kamu membenci Papa kamu sendiri. Kenapa kamu hanya melihat perlakuan buruk Papa dengan Mama kamu. kenapa kamu tidak melihatnya sampai akhir cerita Papa dan Mama. Begitukah cara kamu menelan sebuah berita dengan mentah mentah. Tidakkah kamu melihat ketulusan Papa dalam mencintai Mama kamu, apakah keburukan yang paling utama untuk dipandang." Ucap sang Papa menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi kenapa Papa tidak ada rasa baik sedikitpun, tanpa harus mengeluarkan kata kata kasar dan telunjuk yang dijadikan remot kontrol." Jawab Ganan yang masih dikuasai emosinya.
"Papa minta maaf, Papa mengaku salah. Dan kenapa kamu tidak sepenuhnya mau mencari tahu tentang Papa. Lalu, kamu mendapatkan video itu dari mana? bukankah video itu didalam kamar Papa? katakan." Ucap sang Ayah bertanya.
"Ganan menemukan video tersebut dari ruang kerja Kakek, saat itu Ganan sedang mengambil ponsel Kakek, tetapi kedua mata Ganan tertuju dengan sebuah flasdisk dimeja kakek. Lalu Ganan mengambilnya, dan Ganan menyimpan bukti itu sampai sekarang." Jawab Ganan jujur.
"Anakku, yang kamu simpan rasa kebencianmu itu adalah penyiksaan. Kamu tahu, Mama sama sekali tidak pernah merasa sakit hati karena sikap Papa kamu yang dahulu. Itu kenangan manis, apakah kamu tahu? karena sikap Papa kamu yang terlihat kejam itu menyimpan rasa sakit yang mungkin saja kamu sendiri tidak dapat mengontrolnya. Apakah kamu tahu, Papa kamu dipaksa menikah dengan Mama tanpa dasar rasa cinta. Bayangkan, Papa kamu menikah dengan kondisi yang tidak sempurna. Bahkan istrinya tidak dikenalinya. Bagaimana tidak hancur, menikah dalam kondisi tidak sempurna?" Ucap sang Ibu menimpali dan menjelaskan kebenarannya.
Seketika itu juga, pikiran Ganan melayang entah dimana. Dirinya pun tidak dapat mengurai kosa kata yang diutarakan oleh sang Ibu. Ganan merasa malu, sungguh sangat malu, bahkan hatinya terasa teriris oleh pisau belati. Ganan tertunduk malu, Ganan tidak bisa berucap sepatah katapun.
Sang Ayah yang melihat putranya dirundung rasa bersalah atas kebodohannya selama ini. Kini hanya berdiri dan diam membisu. Ingin mengucap sebuah kata maaf saja, bibirnya terasa kelu.
"Peluklah Papa, jika itu yang membuatmu akan tenang. Buanglah rasa egomu itu, tidak cuman kamu yang ingin marah karena keadaan. Tapi itu semua tidak mungkin, bukan berarti yang kita pandang buruk akan buruk sepenuhnya. Tidak, anakku..." Ucap sang Ayah meyakinkan.
Ganan pun tidak dapat membendung air matanya, dan tidak dapat menahan perasaannya. Ganan pun memeluk erat sang Ayah yang berdiri tegap. Sang Ayah membalas pelukannya dengan erat. Keduanya menitikan air mata bahagia, karena sekian lama tidak pernah merasakan kehangatan antara anak dan sang Ayah.
Sang Ibu yang melihatnya pun terharu akan kebahagiaan yang sudah lama dinanti. Dan kini sudah tidak ada lagi keresahan diantara anak dan sang Ayah. Nyonya Ainan kini juga ikut memeluk dua lelaki yang dijadikan jagoannya.
"Pa... maafkan Ganan, atas perlakuan Ganan selama ini. Yang selalu menutupi masalah Ganan sendiri, sungguh Ganan sangat menyesal." Ucap Ganan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan mengungkit masa lalu yang suram. Lebih baik kita fokus dengan tujuan hidup kita, Nak..." ucap sang Ibu menenangkan.