
Ningrum berjalan memilih berbagai macam barang, sedangkan rafasya berjalan mengikuti langkah ningrum dengan mendorong troli belanjaan
“makan apa ya kak?” tanya ningrum bingung memilih apa untuk dimakan
“pilih saja yang kamu mau” jawab rafasya
Ningrum mulai memilih bahan masakan yang ia suka dan rafasya menambahkannya beberapa yang terlewat oleh ningrum
ningrum menoleh ke arah rafasya “camilan boleh gak?” tanya ningrum penuh harap
rafasya mengangguk “tentu saja, tapi kita pilih yang sehat saja” balas rafasya
Ningrum mulai mengambil berbagai macam camilan yang ia sukai dengan semangat 45
Rafasya tersenyum mengambil barang yang ningrum ambil saat ningrum tak melihatnya dan merapihkan nya kembali di rak
ningrum berjalan di samping deretan makanan ringan, sambil menelaah makanan mana yang ningrum inginkan “seneng deh kak, belanja sama kakak, biasanya kalau sama mama pasti di ocehin gak boleh ambil yang ini, gak bagus lah, gak sehatlah” gumam ningrum meletakkan camilan yang ia pilih ke troli
“loh kak” ningrum menatap rafasya kesal karena camilan yang ambil, hanya tersisa 1 di dalam troli padahal ningrum begitu banyak
Rafasya terkekeh “orang tuamu menitipkan mu pada kakak untuk di jaga bukan di buat sakit karena makan makanan tak sehat" balas rafasya
“tapi kan kak” rengek ningrum
rafasya merangkul pundak ningrum, mengusap lengannya lembut "lebih baik kamu ambil bahan untuk membuat camilan yang kamu inginkan, biar kakak saja yang buatkan jangan beli sembarangan” usul rafasya
senyum merekah terpancar dari wajah ningrum “kakak mau buatin camilan untuk ningrum?” tanya ningrum semangat
ningrum tahu betul kalau rafasya hebat dalam memasak, masakannya sangat enak. ketrampilannya entah turun dari mana karena ayah dan mamanya tak ada yang bisa memasak
“iya” balas rafasya
Ningrum semangat mengambil bahan-bahan untuk membuat camilan yang ia sukai . Sedangkan rafasya mengambil kebutuhan rumah ningrum yang sudah mulai menipis
***
setelah berbelanja Rafasya menyerahkan kartu untuk membayar “ nih mba”
Ningrum buru-buru menahannya “kok malah kakak yang bayar, ini kan kebutuhan rumah ningrum, jadi ningrum yang bayar” ucap ningrum memberikan kartunya pada kasir
Rafasya tersenyum “gak masalah rum, kakak kan make juga” balas rafasya
“tapi kak” bantah ningrum
__ADS_1
“kamu pakai untuk keperluan kamu saja. Kali ini biar kakak yang bayar” rafasya menahan kartu ningrum dan menyuruh kasir untuk menggunakan kartunya
“nih”rafasya memberikan kartunya pada ningrum, Lalu bergegas meminta pelayan mall untuk mengantar belanjaannya yang cukup banyak (sampai 4 troli loh😆😆😆, orang kaya mah beda ya)
rafasya menggandeng tangan ningrum keluar mall “kok malah kakak yang bayar sih? kan ningrum jadi gak enak ” ucap ningrum tak enak hati
“Cuma segitu doang rum, gak papa. Lagian ayahmu kemarin nambahin bonus kakak waktu terbang ke jerman, dan itu cukup banyak loh “ balas rafasya
***
Ningrum sedang duduk di sofa menonton acara drama di TV besar miliknya yang berada di ruang tamu
“nih rum”rafasya memberikan camilan pada ningrum yang tengah duduk bersila menonton drama kesukaannya
“makasih ya kak” balas ningrum tersenyum senang menerima camilan yang di buat rafasya
Rafasya mengacak rambut ningrum gemas. rafasya duduk di samping ningrum untuk menemani ningrum menonton drama yang di sukai ningrum
***
Rafasya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam “sudah malam, tidur yuk rum”ucap rafasya menoleh ke arah ningrum
Rafasya menyunggingkan senyumnya “sudah pulas ternyata”rafasya mengangkat tubuh ningrum naik ke lantai atas tempat kamarnya berada
“jedar!”
terdengar suara keras menggema di penjuru ruangan
“akkkh!”
teriak ningrum ketakutan langsung memeluk rafasya erat saat melihat rafasya yang ada di dekatnya
“tenang rum, itu Cuma suara petir” ucap rafasya mengusap punggung ningrum lembut agar ningrum lebih tenang
“takut kak” rengek ningrum menyembunyikan kepalanya di ceruk leher rafasya melingkarkan kedua tangannya di pinggang rafasya
“sudah gak papa” ucap rafasya mendorong pelan tubuh ningrum
“jedar!”
terdengar kembali suara petir yang kali ini cukup keras di iringi hujan yang cukup lebat
“takut kak, temenin” pinta ningrum memeluk rafasya erat
__ADS_1
rafasya menghela nafas “ya sudah kakak temenin kamu sampai tidur” ucap rafasya membaringkan tubuh ningrum kembali di ranjang
“dep” siisi ruangan menjadi gelap membuat ningrum makin ketakutan mengeratkan pegangan tangannya pada rafasya
rafasya melihat sisi ruangan menjadi gelap “kamu tunggu sini ya, kakak periksa dulu saklarnya, mati lampu atau tidak. kalau mati lampu kakak hidupin lampu emergency di bawah” ucap rafasya
ningrum menggeleng “biarin pelayan aja yang urus kak, ningrum gak mau sendirian” balas ningrum memegang lengan rafasya erat
rafasya menghela nafas “kamu lupa ya rum, kita malam ini kan Cuma berdua, para pelayan di rumah lagi bantu di rumah kakek sakti karena ada acara besok di sana, menyambut kepulangan nenek angel sama om raka” balas rafasya
“ya sudah, gak usah hidupin aja, kakak sini aja temenin ningrum” pinta ningrum
“emang kamu mau gelap-gelapan sampai pagi?” tanya rafasya
“biarin! kan ada kakak” ningrum menarik tubuh rafasya tidur di sebelahnya dan memeluknya erat
jantung rafasya berdegup dengan kencang karena posisi mereka saat ini “kamu gak salah posisi kita begini?” tanya rafasya
ningrum menyembunyikan kepalanya di lengan rafasya “enggak, ningrum takut kak” ucap ningrum
“tapi ini gak pantes rum, nanti orang bilang apa kalau ampe liat kita seperti ini ” ucap rafasya mengingatkan
“biarin, ningrum gak peduli. Pokoknya ningrum pengen di temani kakak, titik” kekeh ningrum yang tak bisa di bantah
ningrum tak sadar dengan posisinya saat ini bisa mengundang kesalahpahaman orang padanya
Rafasya menghela nafas panjang “terserah kamu saja” rafasya mengelus kepala bagian belakang ningrum dan memeluknya erat karena hujan yang mengguyur cukup deras membuat cuaca dingin menyeruak ke seluruh tubuh ningrum dan rafasya
***
Cahaya mulai masuk ke sela mata rafasya, merayu rafasya agar segera membuka mata rafasya pun mengerjabkan matanya “ah sudah pagi” rafasya mengedarkan pandangannya ke suadut ruangan, ruang kamar yang bukan biasa ia tempati
Rafasya menoleh ke samping, terdapat ningrum di sana “cantik” rafasya memiringkan tubuhnya ke samping memandangi tubuh ningrum yang masih tertidur dalam pelukannya , mata ningrum mulai bergerak karena sorot
cahaya matahari dari sela gordennya
Rafasya menghalau cahaya dengan tangannya, agar tidur ningrum tak terganggu “cup”
rafasya tersenyum mengecup bibir ningrum yang tak terganggu sama sekali dengan perbuatan rafasya itu
“rafasya!”
teriak seorang pria menggema mengagetkan aktivitas pagi rafasya
__ADS_1