
Ganan yang sudah berada di depan warung bakso, dan dilihatnya sosok istrinya yang sudah menunggunya.
"Maaf ya, sayang.. jika aku membuatmu menunggu lama." Ucap Ganan mengagetkan.
"Tidak apa apa, kok. Oh iya, aku pingin martabak. Boleh, kan?" pinta Maura dengan senyum mengembang.
"Tentu saja boleh, tapi kalau sate aku tidak mau membelikannya. Nanti ujung ujungnya aku disuruh menghabiskan." Jawabnya.
"Iya, aku minta maaf. Soalnya tiba tiba aku kepingin bakso, soal makan bakso atau tidak itu belum ada dipikiranku tadi." Ucap Maura tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita menghampiri penjual martabak." Jawab Ganan yang langsung menggandeng tangan istrinya dan segera menghampiri penjual martabak.
"Maaf Pak, saya mau pesan martabaknya 20 loyang." Ucap Maura dengan entengnya, sedangkan Ganan yang melihatnya bengong seketika.
"Sayang, kamu beli martabak banyak banget untuk apa?" tanya Ganan penasaran.
"Aku ingin berbagi, boleh kan?" jawab Maura dan bertanya.
"Tentu saja boleh, memang mau berbagi siapa saja. Yakin tidak kurang? nanti kalau kurang kamu dosa loh. Karena tidak bisa berbagi dengan rata." Ucap Ganan sedikit menakuti.
"Tenang kalau kurang, nanti kan bisa kita kasih yang lainnya." Jawab Maura dengan entengnya.
"Baiklah, terserah kamu saja. Karena kamu sekarang sudah menjadi Nyonya Ganan." Ucapnya seraya berguarau, Maura yang mendengarnya pun tersenyum mengembang.
"Terimakasih, sayang.." jawab Maura tersenyum bahagia.
Setelah pesanannya sudah dibayar oleh Ganan, penjual martabak pun menyerahkan martabaknya sesuai jumlah pesanan yang dipesan oleh istrinya.
Sambil melangkahkan kakinya dengan pelan, tiba tiba Maura maupun Ganan mendengar ada seorang anak kecil tengah memanggil Maura.
"Kak, Maura..." seru bocah memanggil nama Maura. Sedangkan Maura yang merasa namanya dipanggil, keduanya segera menoleh kebelakang. Dan benar saja, Maura tengah dipanggil oleh anak kecil.
"Lita..." seru Maura menghampiri gadis kecil.
__ADS_1
"Kakak, dia siapa?" tanya gadis kecil.
"Dia suami kakak, namanya kak Ganan. Oh iya, bagaiman kabar kamu?" jawab Maura balik bertanya.
"Kabar Lita baik kak, dan kabar kak Maura bagaimana? salam kenal kak Ganan. Namaku Lita, jawabnya dan balik bertanya.
"Salam kenal juga gadis kecil.." ucap Ganan tersenyum ramah, begitu juga dengan Kita yang juga ikut tersenyum.
"Kabar kakak baik juga. Kamu keluar malam sama siapa?" tanya Maura sambil celingukan.
"Sama Bunda, kak.." jawab gadis kecil, dan saat itu juga Ibunya menghampirinya.
"Maaf Maura, kalau lita telah mengganggu kamu." Ucap sang ibu gadis kecil itu terasa tidak enak, karena sudah mengetahui siapa suami Maura.
"Tidak kok, Mbak Seni... justru aku sangat senang bertemu dengan Lita, sudah lama aku tidak pernah menggendongnya." Jawab Maura tersenyum.
"Iya, sekarang Lita sudah besar. Kalau begitu, aku pamit pulang duluan ya..." ucap Ibu Reni segera menggandeng gadis kecilnya.
"Ada apa, Maura?" tanyanya penasaran. Maura pun segera mendekati Ibu Seni.
"Ini, tadi aku membeli martabak, kebetulan sengaja membeli banyak untuk dibagi bagikan. Sekalian aku mau minta tolong sama mbak Seni untuk membagikan kepada yang lainnya. Boleh, kan Mbak?" Jawab Maura dan meminta tolong.
"Tapi... baiklah. Sebelumnya terimakasih banyak ya, Maura.. dari dulu kamu selalu berbagi kepada warga." Ucap Ibu Seni berterimakasih.
"Iya, Mbak.. ya sudah kalau begitu, saya pun mau ikut pamit pulang." Jawab Maura tersenyum. Begitu juga dengan Ibu Seni, segera membagi jajan martabak kepada tetangga tetangga lainnya. Sedangkan Ganan sangat senang, karena ternyata istrinya juga suka berbagi.
"Sayang, rupanya kamu suka berbagi. Kenapa tidak pernah bercerita, apa itu rahasia?" tanya Ganan penasaran.
"Benarkah? lalu tadi kamu mentraktir pelanggan bakso didalam itu kenapa tidak mengatakannya kepadaku? dan kamu juga memberi beberapa lembar untuk kakek, kan?" jawab Maura yang juga menbuat Ganan kaget.
"Kamu mengintip ya? jujur." tanya suaminya.
"Benar, aku tadi tidak sengaja mengintip." Jawab Maura sedikit takut, jika perbuatan mengintipnya membuatnya kesal.
__ADS_1
"Kalau kamu suka berbagi, kenapa kamu tidak mengenal kakek tadi?" tanya suaminya penasaran.
"Karena aku tidak pernah menyebutkan namaku, hanya Ibu Seni yang mengetahuinya. Karena Ibu Seni lah tangan keduaku, yang dimana menjadi kepercayaanku." Jawab Maura menjelaskan, sedangkan Ganan merasa malu. Karena dirinya menunjukkan batang hidungnya jika dirinya berbagi.
"Rupanya istriku yang tercinta ini menyembunyikan kedermawanannya, hanya saja mudah terpengaruh cinta abal abalan." Ucap Ganan yang menyindir istrinya tentang cinta abal abalan, sedangkan Maura hanya tersenyum malu.
"Ye... itu kan dulu, aku masih labil. Meski usiaku dewasa, namanya cinta itu membutakan kemampuan kita. Aaah sudahlah, sekarang orangnya sudah menjadi tukang sayur. Kasihan jika digosipin terus, nanti telinganya bising nguing nguing." Jawab Maura tersebyum
"Iya, iya... kasihan juga ya dia. Aaah sudahlah, ayo kita pulang. Nanti keburu martabaknya tidak enak." Ucap Suaminya.
Tidak lama kemudian, Ganan dan Maura telah sampai di rumah. Kedua orang tuanya Ganan dan juga ibu Romlah sedang mengobrol di ruang tamu. Dan dilihatnya anak dan juga menantu yang baru pulang dari jalan jalan malam.
"Kalian dari mana saja, kenapa baru pulang?" tanya Ibu Romlah.
"Kita tadi habis cari angin malam, Ma.. kebetulan bertemu tetangga, jadi... ngobrol deh." Jawab Maura beralasan.
"Oh iya, kita berdua tadi beli martabak. Ayo kita makan bersama, masih anget loh..." ucap Ganan sambil membuka martabak.
"Wah... sepertinya menggoda selera nih.." ucap Ibunya Ganan sambil mengambil martabak untuk dirinya dan juga suaminya.
Begitu juga Ibunya Maura dan juga Maura maupun Ganan ikut menikmati martabak. Dan semua terlihat menikmatinya.
Setelah selesai menikmati martabak, diantaranya kembali ke kamar masing masing untuk beristirahat.
"Maura... tadi Ibu sudah membeli vitamin dan juga susu Ibu hamil untuk kamu, dan kamu jangan lupa, minum vitamin dan juga susu ibu hamilnya. Kasihan calon bayi kamu, butuh nutrisi. Kasihan kan? jika hanya makan martabak saja." Ucap Ibu mertua mengingatkan.
"Iya, Ma.. nanti Maura minum vitamin dan juga susunya. Terimakasih ma, sudah membelikan susu dan vitamin untuk Maura. Tadi pagi waktu periksa, Maura lupa untuk membeli susu dan vitamin." Jawab Maura tidak enak hati.
"Tidak apa apa, anak kamu kan juga cucu Mama nantinya. Yang terpenting, jaga kesehatan kamu. Jangan jajan sembarangan, lebih baik dibanyakin makan buah." Ucap Ibu mertua mengingatkan.
"Ya sudah kalau begitu, kalian berdua istirahatlah. Ibu dan Papa juga mau istirahat, karena besok pagi Papa dan Mama mau pulang lebih awal. Karena Mama dan Papa harus berangkat ke Amerika, Zeil dan Alfan akan segera menikah. Jadi.. nikmati hari libur kalian di kampung ini, anggap saja bulan madu kedua." Ucapnya lagi.
"Baik, Ma... kita berdua akan menikmati hari libur ini di kampung. Tenang... ada Bondan dan Soni." Jawab Ganan tersenyum bahagia. Kemudian segera masuk ke kamar untuk istirahat.
__ADS_1