
“aku tak tahu selera makan kalian, jadi aku menyiapkan beberapa macam hidangan” ucap
mama Karin
Om Robert melihat banyaknya aneka makanan yang ada di meja, mulai dari makanan
perancis dan masakan khas Indonesia “ ini juga sudah sangat banyak Karin, kami
sangat berterima kasih kalian sudah repot-repot menyiapkan makanan untuk kami” balas om Robert
“ini bukan apa-apa, hanya hidangan sederhana" balas mama Karin tersenyum ramah
Semua orang mulai makan dalam diam, dan hanya suara sendok yang saling bersautan “keluarga ini terlalu kaku” batin ningrum menggelengkan kepalanya melirik keluarga yang terlalu fokus saat makan, Ningrum kembali melanjutkan acara makannya
Setelah makan mereka selesai, para pelayan mulai membereskan makananan dan mengganti
dengan makanan penutup
Jack menatap Ningrum “apa keluarga kita terlalu kaku?” tanya jack ke arah ningrum
“kakak bertanya padaku?” tanya ningrum menunjuk dirinya
“iya, kan aku sedang menatapmu” balas jack
“kalau boleh jujur, ia. Kalian terlihat kaku sekali saat makan” ningrum menaruh
telunjuk tangannya di kening “ lebih mirip patung sedang makan, wajah kalian
terlihat terlalu serius dan fokus" balas ningrum
Jack terkekeh “ memangnya bagaimana keluargamu biasanya saat makan?” tanya jack
menyedokkan salad buah ke mulutnya
“emmm gimana ya, sebenarnya kita kalau makan juga diam sih, karena kakek gak suka kita
banyak bicara saat makan. tapi sebelum
makan kita selalu banyak ngobrol, dan setelah kita makan selalu menghabiskan
makanan penutup di ruang keluarga sambil bercanda ” ningrum menoleh ke arah suaminya
“iya kan kak?” tanya ningrum pada suaminya
Rafasya mengangguk “iya, keluarga Ningrum memang rame, apalagi mama kaila” balas rafasya
“wah, jadi pengen ketemu dengan keluargamu” balas jack penasaran
“mereka sedang di korea, kalau mereka pulang sebelum kau kembali ke perancis, aku akan
mengenalkannya padamu” balas rafasya ramah
“janji ya” pinta jack penuh harap
Rafasya mengangguk” iya”
Tante lisa menatap tajam ke arah anak laki-lakinya itu “ngapain sih kamu mau kenalan
sama keluarga istrinya rafasya sih, mamanya itu pskiater yang gaulnya sama orang gak waras” ucap tante lisa meremehkan mama kaila
Semua orang menatap tajam ke arah tante lisa termasuk om Robert “lisa jaga mulutmu!”
bentak om Robert
tante lisa mengkerut kan keningnya “kenapa memangnya yah, bukannya ucapanku benar?” tanya lisa tak merasa bersalah pada ucapannya
__ADS_1
“jangan lupa! Kaila juga sahabatku. Aku sangat menghargainya. Dan kau tahu betul itu,
tanpa bantuan suami kaila mana mungkin aku masih bisa mengimbangi gaya
borosmu itu!” tunjuk om Robert pada tante lisa
“ayah!” teriak tante lisa tak mau di sudutkan suaminya
“mah, sudah” ucap Rebecca lirih “malu” rebeca memeperingati mamanya yang selalu
merendahkan orang lain seperti makanan sehari-harinya
Om Robert menatap ningrum dengan tatapan sendu “maaf ya nak, kalau istri om menyinggungmu. Mulut istri om ini memang sulit untuk di control” ucap om Robert meminta maaf
pada ningrum
“iya om, gak papa. Lagian yang di omongin tante ada benarnya kalau mama ningrum
pskiater yang gaulnya sama orang gak waras” ningrum menekankan kata gak waras “tapi
gak tahu kenapa banyak orang yang membutuhkan bantuan mamaku, dan selalu peduli
dengan mamaku” ningrum menunjukan chat dari beberapa teman mamanya di ponsel
miliknya “buktinya banyak yang nanya kapan mamaku pulang dari korea, karena
kangen ngobrol sama mamaku” ningrum menscrol chat yang begitu banyak di
ponselnya menanyakan mama kaila pada ningrum
Tante lisa berdecih, membuang mukanya kasar "sombong" gumam tante lisa
"sombong kalau sesuai kenyataan sih gak masalah, ketimbang sombong tapi gak benar" gumam ayah kevin
Rebecca yang duduk bersebelahan dengan ningrum menggenggam tangan ningrum lembut “maafin mama aku ya?” pinta Rebecca
“iya, aku sudah maafin kok, Cuma mulutku gak bisa kalau gak jawab omongan mama kamu. Maaf ya” balas ningrum merasa tak enak pada rebeca karena berdebat dengan mamanya
“gak masalah, emang sesekali mamaku harus di lawan” balas rebeca sopan
“oh ya Robert, aku sudah menyiapkan kamar untukmu di lantai 1 dan untuk anak-anakmu
di lantai 2 “ ucap ayah kevin
“terima kasih, maaf merepotkan” balas om Robert
"gak masalah" balas ayah kevin
***
Kasih tengah berdiri di depan cermin berputar-putar meneliti penampilannya “sudah
bagus belum ya” gumam kasih melirik pakaianya
Kasih melirik ranjangnya yang berserakan banyak baju “apa aku sudah ganti segitu banyak? ” tanya kasih pada dirinya sendiri sambil menutup mulutnya dengan tangan
Kasih melirik jam dindingnya “ah sudah lah, abang pasti bentar lagi sampai” gumam kasih meraih tas selempangnya, keluar dari kamarnya menuju lantai bawah
kasih melihat wanita usia 40 tahunan berada tak jauh dari tangga "bi" panggil kasih
bibin pelayan itu pun menoleh ke arah majikannya “bi, kasih mau pergi nanti, bilang sama mas ojo jangan ikutin kasih” ucap kasih pada
kepala pelayan rumahnya
“iya nona” balas bi ranti kepala pelayan rumah kasih
__ADS_1
“ya sudah kalian bisa istrirahat “ ucap kasih mempersilahkan pelayannya pergi
Kasih menunggu kedatangan raka di ruang tamu sambil menonton acara tv
***
“ting tong” terdengar suara bel pintu
Kasih berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu
“malam” sapa raka memberikan sebuket bunga mawar
Kasih menerima buket bunga itu dengan bingung “ini untuk apa?” tanya kasih bingung
“hanya pengen kasih aja, tadi liat pengen beli” balas raka
“hah?” kasih membuka mulutnya lebar, tak menyangka jawaban yang di berikan Raka untuknya
“sudah ah keburu malam” ajak raka membawa kasih menuju mobilnya
Kasih memasang sabuk pengamanya “kita mau kemana loh bang?” tanya kasih
“makan” balas raka datar
“abang belum makan?” tanya kasih melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam
Raka menggeleng “belum, tidak sempat” raka melajukan mobilnya meninggalkan kediaman
kasih
“kau sudah makan ya?” tanya raka
Kasih menggeleng “belum” balas kasih
“kenapa? Bukannya ini sudah lewat jam makan?’ tanya raka
“ah” kasih menggaruknya tengkuknya yang tak gatal bingung mau menjawab apa “masa aku
bilang kalau aku sibuk ganti baju dari tadi” batin kasih
“ah sudah lah, toh kita akan makan juga” balas raka
“abang gak capek?” tanya kasih
“capek” balas raka datar
“terus kenapa malah ngajak kasih makan di luar?” tanya kasih
“ingin saja” balas raka
45 menit perjalanan mereka pun sampai di tempat tujuan
Kasih melirik sekeliling yang terlihat gelap dan sepi “kita gak salah, makan disini?”
tanya kasih mengerutkan keningnya
“gak, kan di depan kita ada makanan” balas raka datar menunjuk meja berbentuk persegi yang sudah terdapat banyak makanan
Terdengar suara debaran ombak, dan desiran angin malam yang berhembus “tapi masa kita
harus makan di atas kapal sih bang?” protes kasih
“sudah makan saja, apa perlu abang suapi?” tanya raka
Kasih membelalakan matanya lebar menatap raka
__ADS_1