
Ningrum dan rafasya duduk berdampingan untuk sarapan “kok di tekuk gitu sih rum wajahnya?” tanya rafasya melihat ningrum yang makan sambil mengerecutkan bibirnya
ningrum melirik sekilas rafasya “ya kakak gak biarin ningrum turun dari tadi, kan ningrum laper kak” balas ningrum
kesal
rafasya mengusap kepala ningrum lembut “ya,deh kakak minta maaf sudah bikin sarapanmu telat” balas rafasya
Ningrum berkacak pinggang melototi rafasya “sarapan apa? Liat itu jam berapa?” tunjuk ningrum pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang
Rafasya terkekeh “kan kita bisa sekalian makan siang rum, gak perlu repot-repot sarapan langsung makan siang jadi satu” balas rafasya tanpa rasa bersalah
Ningrum membuang mukanya kasar “sudah lah, susah bicara sama kakak” balas ningrum kembali melanjutkan makannya
Rafasya tersenyum melihat istrinya yang sedang ngambek, merasa ningrum cantik dan menggemaskan
“kita ke kampus yuk rum” ajak rafasya
Ningrum menoleh ke arah rafasya menautkan kedua alisnya “ngapain? kan ospeknya hari senin” tanya ningrum
rafasya menyendokkan nasi ke mulutnya “liat kampus lah, kan kamu belum pernah ke sana, biar gak asing dan bisa beradaptasi dengan baik saat kita akan ospek senin besok” jawab rafasya
“oh ya, ini sudah hari sabtu ya kak?” tanya ningrum yang di jawab anggukan kepala oleh rafasya
“ ngomong-ngomong kakak tetap kerja saat kita kuliah?” tanya ningrum
“masih rum, kakak kan bisa ngurus kerjaan kakak dari jauh. pulang kuliah kakak bisa balik
ke kantor lagi” balas rafasya
“kakak gak capek, harus bolak balik?” tanya ningrum
Rafasya mengusap kepala ningrum lembut “dulu juga kakak sering bolak-balik ke kampus dan
antar jemput kamu, nemenin kamu dan ngurus kamu yang lagi ngambek” balas rafasya
Ningrum terkekeh “gitu ya ka” gumam ningrum
ningrum teringat bahwa dirinya yang memang sering ngambek dan tak ada satupun keluarganya yang bisa mengatasi ningrum, hanya rafasya yang bisa membuat mood ningrum kembali baik
***
__ADS_1
Ningrum dan rafasya mendatangi kampus nusa bangsa untuk melihat lokasi yang akan menjadi tempat osbeknya dan menjadi tempat belajarnya nanti, selama menempuh S1
rafasya menggandeng tangan ningrum melihat kampus nusa bangsa “ra, kamu mau ngadain resepsi pernikahan kita kapan?” tanya rafasya di sela-sela acara berkelilingnya
Ningrum menghentikan langkahnya, rafasya menoleh ke arah ningrum, menaikan sebelah alisnya “bisa gak nanti saja kita ngadain acara resepsinya , paling gak sampe kakak selesai S2 nya lah” ucap ningrum dengan suara lirih, takut menyinggung rafasya
Rafasya mengkerutkan keningnya “kenapa?” tanya rafasya
“kita nikahnya kan gitu, jadi nanti saja ya kita adain acara resepsinya” balas ningrum
Rafasya menunduk “kamu nyesel nikah sama kakak?” tanya rafasya dengan suara lirih
Ningrum menghela nafas, menangkup wajah rafasya “tentu saja tidak kak, ningrum bahagia
nikah sama kakak, tapi bisa kan kita tunda dulu. Kita bisa mulai dengan pacaran dulu ” ucap ningrum tersenyum lembut
Rafasya tersenyum sumringah “ehmm” rafasya mengangguk
Rafasya memperkenalkan area kampus yang sudah ia pahami betul, karena ia yang memang berkuliah S1 di sini selama 4 tahun
“gimana rum, sudah paham belum area-area kampus?” tanya rafasya
Ningrum menggeleng “ belum” balas ningrum
Ningrum meraih tangan rafasya “gak perlu kali ka, yang penting ningrum tahu gedung jurusan
ningrum, kalau tempat lain kan masih ada kakak yang bisa anter jemput ningrum” ucap ningrum mengedipkan sebelah matanya
Rafasya merangkul pundak ningrum mendekatkan ke dada bidangnya “iya juga. Abang akan
selalu nemenin kamu di sini” balas rafasya
ningrum mendongak ke arah rafasya “makan yuk kak”ajak ningrum
“ya sudah, yuk” balas rafasya
Ningrum dan rafasya bergandengan tangan menuju parkiran sambil bercanda gurau
“rafasya” panggil sesorang
Rafasya dan ningrum menoleh “kau” gumam rafasya
__ADS_1
Ningrum menatap tak suka perempuan di hadapannya yang datang mendekat kea rah mereka “kau
disini?” tanya gadis muda dengan penampilan seksi dan terkesan high class itu
Rafasya mengangguk “iya”
“ah kau lanjut kuliah disini? Ternyata kita berjodoh ya” balas mila tersenyum bahagia mengetahui rafasya melanjutkan S2 di kampus yang sama seperti dirinya
Ningrum yang mulai kesal, menggeser tubuh rafasya menjauh “jangan lupa, aku juga kuliah disini, ternyata kita juga berjodoh ya” ucap ningrum tersenyum tapi mengeluarkan tatapan tajam setajam sinar laser
Mila menatap jengah ningrum “kau mengikuti kakakmu ke sini toh” ucap mila dengan tatapan meremehkan pada Mila
“apa?” balas ningrum berkacak pinggang
Rafasya merangkul pundak ningrum “kalau kekasihku , ingin satu kampus denganku tak masalah kan?” tanya rafasya
Mila mendengus kesal “kekasih?” tanya mila
“iya, dia kekasihku” balas rafasya mengeratkan tangannya di pundak ningrum
Ningrum tersenyum senang dengan perlakuan rafasya “kau dengar kan, gak masalah kalau aku ngikutin kekasihku kuliah di mana” ucap ningrum tersenyum menang
Mila menghela nafas “selamat kalau gitu, permisi” mila memutuskan pergi dari hadapan ningrum dan rafasaya
Ningrum menatap kepergian mila dengan sorot mata tajam “jangan terlalu kuat melototnya sayang, nanti jatuh matanya” ejek rafasya
Ningrum berkacak pinggang “kakak nyebelin” balas ningrum
“nyebelin kenapa?” tanya rafasya
“ya nyebelin aja, sudah ada yang ngirim sinyal radar pelakor ke kakak aja” balas ningrum
Rafasya terkekeh “denger ya ningrum, mau ada yang suka kakak kaya gimana, itu sama sekali bukan urusan kakak karena yang kakak cintai itu kamu, bukan orang lain” balas rafasya
Ningrum memeluk erat rafasya “iya kak, ningrum percaya kok” balas ningrum
rafasya balas memeluk erat ningrum mencium keningnya "terima kasih sayang" ucap rafasya
***
Setelah cukup jauh dari rafasya dan ningrum, menoleh ke belakang, melipat tangannya di dada, menatap tajam ningrum “mungkin sekarang kau kekasihnya, tapi itu tak akan bertahan lama. Aku Mila Rahadian pasti akan mendapatkan apa yang di inginkannya.” Gumam mila menatap tajam ningrum “dan kau yang berusaha menghalangiku, aku pasti akan menyingkirkanmu sejauh mungkin, bila perlu membuatmu tak bisa kembali lagi” mila menyunggingkan sudut bibirnya bergegas pergi
__ADS_1
tak jauh dari tempat ningrum dan rafasya ada seorang pria melihat dengan tatapan tajam. ia berdiri di samping pohon besar memukulnya dengan tangan kanannya cukup keras, mengepalnya kuat memeperlihatkan buku-buku tangannya "aku tak akan merelakanmu dengan siapapun! kau hanya boleh jadi milikku hanya untukku! "gumam pria tersebut mengeratkan rahangnya menggertakan giginya kuat menahan amarah yang terlihat jelas dari sorot matanya yang sangat tak suka melihat rafasya dan ningrum berpelukan