Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter#9


__ADS_3

Neyla masih merasa takut dengan kedatangan polisi, meski polisi tersebut sudah pergi jauh. Neyla tetap saja ada rasa takut.


"Kakek, pak polisinya sudah pergi kan! kita tidak akan dipenjara kan, kek? Ney takut." Tanya Neyla ketakutan dan sambil memegangi lengan kakek Angga sebelah kanan.


"Kita tidak akan di penjara, dan pak polisi tadi adalah teman sekolah kakek dahulu. Dan orang yang mendapat serangan bola dari kamu, orangnya hanya mau memanfaatkan keadaan. Jadi.. ayo kita pulang, besok besok kalian jangan bermain bola lagi di taman. Mengerti, kan?" jawab kakek Angga sembari menasehati ketiga cucunya. Sedangkan ketiga cucunya hanya mengangguk.


Kakek Angga akhirnya memutuskan untuk segera pulang bersama ketiga cucunya, tiba tiba sorot kedua mata Zakka menangkap seseorang yang sedang berjualan disisi taman.


"Kakek, Zakka ingin beli makanan. Sepertinya itu enak, soalnya banyak yang beli. Boleh ya, kek..." rengek Zakka yang terus merayu sang kakek agar di penuhi permintaannya sambil menunjuk kearah pedagang.


"Tapi, Zakka... dirumah banyak makanan." Jawab sang kakek memberi alasan.


"Neyla juga mau, kek..." Neyla juga ikut merengek.


"Reynan juga kek..." ucap Reynan yang juga merayu.


"Tapi awas loh, kalau sampai tidak dimakan. Ya sudah, ayo kita kesana." Jawab sang kakek berusaha memberi peringatan.


Kakek Angga akhirnya menyerah dengan permintaan ketiga cucunya. Sambil melewati ponggiran jalan di taman, sang kakek menggandeng kedua cucunya. Sedangkan Zakka melenggang kakung berjalan tanpa ada yang menggandeng tangan miliknya.


Dan sampailah didepan penjual makanan keliling.


"Maaf Pak, saya beli somay tiga porsi."


"Kok tiga sih kek.. kakek tidak beli?"


"Kalian saja yang makan, nanti Omma marah jika kakek sudah kenyang." Ujarnya mencari alasan.


Zakka pun akhirnya mencari ide, entah apa yang sudah dibisikkan kepada kedua saudaranya.


"Somaynya penuh, Zakka lapar."


"Neyla juga."


"Reynan juga lapar.

__ADS_1


" Nanti kalau tidak habis, bagaimana kalian?" ucapnya berusaha untuk tidak memesan terlalu banyak.


"Ney lapar, kakek."


"Iya, Reynan juga lapar."


"Tenang, Zakka akan habiskan."


Ketiga cucunya pun menjawabnya dengan sangat tenang dan santai, bahkan tidak ada rasa takut sedikit pun.


Ketiga cucu kakek Angga memesan makanan yang ukuran orang dewasa, entah apa maksudnya dari ketiga cucunya. Sedangkan kakek Angga merasa ada yang aneh dengan sikap ketiga cucunya.


Kakek Angga berusaha menerka nerka dengan yang dibisikkan oleh Zakka. Namun, kakek Angga tetap belum bisa menebaknya.


"Silahkan di nikmati adik adik.." ucap penjual somay sambil menyerahkan piringnya satu satu kepada ketiga cucu kakek Angga.


Sedangkan kakek Angga hanya mengamati ketiga cucunya yang sedang menikmati makanan yang dibelinya.


Zakka maupun Rey dan juga Ney terlihat sangat lahap memakannya. Namun tiba tiba Ney meringis sambil makan melihat sang kakek tengah memperhatikan cucunya.


"Kakek, Ney sudah kenyang. Kakek yang habisin ya, kek..." rengek Neyla sambil menyodorkan piringnya di depan sang kakek.


"Reynan juga sudah kenyang kek."


"Zakka juga sudah kenyang kek.." ucap Reynan dan Zakka yang tiba tiba menyodorkan sisa makanannya kepada sang kakek. Dengan tatapan kesalnya yang semakin terlihat, kakek Angga hanya menarik nafas dengan berat. Mau tidak mau kakek Angga menghabiskan sisa makanan milik Reynan dan Zakka, cucunya.


Meski sedikit kesal dengan sikap cucunya, kakek Angga tidak berani memarahi cucu cucunya di khalayak umum, apalagi yang terlihat ramai. Prinsip kakek Angga enggan, jika memarahi atau menasehati didepan orang orang. Kakek Angga selalu menterapkan untuk menasehati seorang anak ada tempatnya sendiri. Meski akan selalu mengulangi kesalahan, tetap saja menasehati didalam ruangan khusus.


Karena bagi kakek Angga, kita jika menasehati di depan orang banyak sama saja membuka keburukan orang yang dinasehati.


Kakek Angga sudah dibiasakan sejak kecil oleh sang ayah, yang tidak lain adalah tuan Wilyam. Dan kini kakek Angga menerapkannya kepada putranya yang bernama Ganan, dan juga kepada ketiga cucunya.


Biarpun memiliki sikap dingin dan terlihat sombong sekalipun, tetap memiliki jiwa yang baik. Pikir sang kakek dengan prinsipnya.


Setelah selesai menghabiskan makanan milik ketiga cucunya, sang kakek segera membayar tagihannya.

__ADS_1


"Berapa pak, semuanya."


"Tiga puluh ribu saja, Pak.." jawab penjual somay.


"Ini, pak. Sisanya buat bapak, saya ikhlas. Itu Rizki untuk anak dan istri bapak." Ucapnya sambil menyodorkan lembaran kertas.


"Tapi ini sisa terlalu banyak, pak." Jawabnya merasa tidak enak hati.


'Ini bukan pesugihan, kan?' gumamnya sedikit takut dan tidak percaya dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


"Itu rizki untuk bapak dan keluarga. Karena bapak begitu sabar menunggu saya dan cucu saya menikmati makanan yang dihidangkan oleh bapak."


"Terimakasih banyak, pak. Semoga Bapak sekeluarga diberi kesehatan dan diberi rizki yang barokah." Jawabnya sambil mendoakan dan tersenyum bahagia. Sedangkan kakek Angga mengangguk dan pamit pergi.


Dengan langkah kaki yang malas, kakek Angga duduk sejenak di sudut pinggiran taman karena merasa kekenyangan dan merasa eneg pada perutnya akibat kebanyakan makan somay dengan porsi yang tidak tanggung tanggung.


"Kakek, kenapa?" tanya Nayla sambil ikut duduk disamping sang kakek. Zakia dan Reynan hanya berdiri dibelakang kakeknya.


"Perut kakek engap, karena kakek banyak makan somay." Jawab sang kakek sambil mengatur pernafasannya karena merasa sudah sangat kenyang.


"Tapi enak kan, kak..." Reynan ikut menimpali.


"Sangat enak, dan sampai sampai kakek kekenyangan." Jawabnya sambil menarik nafas panjang.


"Besok kita beli lagi ya, kek.." ucap Zakka bersemangat. Sedangkan kakek Angga hanya tercengang mendengar ucapan dari Zakka.


"Sudah, sudah... ayo kita pulang. Nanti Omma marah, jika kita pulang terlambat."


"Iya, kek.." jawab ketiga cucunya serempak.


Setelah merasa sudah nyaman, Kakek Angga dan ketiga cucunya segera beranjak pergi dari tempat yang didudukinya.


Kakek Angga tidak lepas menggandeng ketiga cucunya sambil berjalan. Tidak terasa sudah sampai di halaman rumah, tiba tiba kedua mata sang kakek tertuju dengan sosok wanita yang masih terlihat cantik meski sudah paruh baya. Siapa lagi kalau bukan istri tercintanya, Yaitu Omma Qinan yang sudah berdiri di depan pintu.


"Kenapa baru pulang? jangan bilang kalau kalian kehabisan alasan." Ucap Omma Qinan menyelidiki.

__ADS_1


"Tidak, semua alasan sudah tersusun rapi." Jawab sang kakek sambil meninggikan satu alisnya, sedangkan Omma Qinan dapat menangkap ucapan dari sang suami.


"Kalian bertiga, ayo segera masuk. Jangan lupa langsung mandi yang bersih ya, sayang..." ucap Omma Qinan. Ketiga cucu kembarnya langsung berlari menuju kamarnya masing masing.


__ADS_2