Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
aku mencintaimu ningrum (season 2)


__ADS_3

Acara kelulusan ningrum berjalan dengan meriah dan gelak tawa dari para undangan yang datang.


tapi itu bagi teman-teman ningrum, tidak untuknya. sepanjang jalannya acara ningrum banyak diam dan melamun


sekitar jam 12 malam acara pun selesai, semua orang mulai pulang dari acara tersebut, sedangkan   Rafasya dan ningrum pulang terkahir karena mendapat titipan hadiah untuk ayah virza sebagai ketua yayasan sekolah aira  dari pihak sekolah


Rafasya memencet tombol kunci mobilnya “tit “ rafasya bergegas menuju mobilnya dengan


ningrum mengikuti di belakangnya


Ningrum menatap punggung belakang rafasya menghentikan langkahnya menatap langkah rafasya


“yuk rum” panggil rafasya menoleh kesamping


"rum" rafasya mengedarkan pandangannya ke sekitar halaman parkir mencari ningrum


Rafasya menatap ningrum heran yang berada agak jauh darinya “kamu gak mau pulang? Ini


sudah tengah malam loh rum” ucap rafasya memperingati


“apa maksud kakak tadi?” tanya ningrum


Rafasya menautkan kedua alisnya tak paham maksud ningrum “kakak gak ngerti rum” balas rafasya


“ngajak dansa ningrum?” ucap ningrum memperjelas


“oh”rafasya berjalan mendekat ke  arah ningrum, berdiri di hadapan ningrum “kakak Cuma


pengen meramaikan acara kelulusan mu saja” balas rafasya


“bohong!”teriak ningrum


jantung rafasya berdetak dengan cepat mendengar teriakan rafasya “apa maksudmu rum? kakak  gak bohong” balas rafasya mulai cemas meraih tangan ningrum

__ADS_1


Ningrum melepaskan kasar tangan rafasya “kalau ningrum gak denger ucapan temen ningrum tadi mungkin ningrum percaya saja sama kakak”


ningrum menatap rafasya dengan mata berkaca-kaca “mereka bilang ke ningrum seperti ini :  pacar kamu cinta banget sama kamu ya rum dan itu terlihat dari tatapan matanya untukmu rum” ucap ningrum menceritakan ucapan teman-temannya sehabis ningrum berdansa dengan rafasya


Rafasya mulai gugup dengan pernyataan ningrum “denger rum” rafasya meraih tangan ningrum


ningrum menatap sendu ke arah rafasya “apa benar kakak cinta ningrum sebagai seorang wanita, bukan sayang seorang kakak pada adiknya?” tanya ningrum


Rafasya menatap ningrum dengan wajah bingung, bingung harus menjawab apa “ kita bicara di tempat lain” rafasya meraih tangan ningrum masuk ke dalam mobil. ningrum hanya  pasrah mengikuti tangan rafasya membawanya


Rafasya melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Ningrum hanya


terdiam  melihat jalanan tanpa menatap rafasya, rafasya melirik ningrum dengan cemas


1 jam berkendara akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Rafasya turun dari mobilnya terlebih dulu lalu membukakan pintu untuk ningrum “ayok turun rum”ajak rafasya


Ningrum diam saja, tak menuruti permintaan rafasya “ayok” rafasya menarik tangan ningrum agar segera turun dari mobil


“kamu marah sama kakak?” tanya balik rafasya


ningrum mulai merasa kesal dengan rafasya “kenapa malah balik tanya sih kak? Itu gak penting kan? Sekarang yang penting  ningrum  pengen tahu apa alasan kakak tadi ngajak dansa ningrum?” balas ningrum


rafasya menatap manik mata ningrum lekat “bagi kakak itu penting rum, kamu marah sama kakak atau tidak?” tanya rafasya


Ningrum menghela nafas, memilih berjalan ke dekat pantai dan duduk di sana “ningrum gak


marah kak, Cuma kaget aja, kenapa mereka bilang kakak cinta ningrum” ucap ningrum


“apa kamu gak suka kalau kakak cinta sama kamu?” tanya rafasya


ningrum menatap tajam rafasya “kakak itu kakak ningrum mana mungkin kakak cinta sama ningrum” balas ningrum


rafasya memejamkan mata, menahan sesak di dadanya karena ucapan ningrum  “kita bukan kakak karena sedarah dan hanya panggilan karena orang tua kita bersahabat dan aku mengenalmu sejak kau lahir.  jadi aku bebas mencintaimu!” balas rafasya penuh penekanan

__ADS_1


Ningrum membelalakan matanya lebar “kakak jangan ngada-ngada deh, masa kakak cinta ningrum sih?” tanya ningrum


“kakak gak ngada-ngada rum. Kakak beneran cinta kamu, sejak dulu dan sampai sekarang juga nanti” balas rafasya lirih dengan mata mulai berkabut


Air mata ningrum akhirnya pun  jatuh dari sudut matanya “kakak”lirih ningrum


“kakak minta maaf rum, kakak emang beneran cinta kamu” ucap rafasya terisak


“ningrum..” ucap ningrum menggantung membuang mukanya menjauh dari tatapan mata rafasya karena tak sanggup berkata-kata


Rafasya menarik tangan ningrum agar menghadapnya “jangan marah rum, kakak mohon”


ningrum hanya diam saja


Rafasya menangkup pipi ningrum “cup” rafasya mencium sekilas bibir ningrum


ningrum membelalakan mata lebar, kaget dengan perlakuan rafasya yang begitu tiba-tiba tapi ia tak sanggup untuk marah ataupun menolak “kakak mohon” pinta rafasya


“emang kakak peduli ningrum marah atau enggak?” tanya  ningrum dengan suara terisak “ cup” rafasya kembali mengecup bibir ningrum


“tentu saja kakak peduli, sangat peduli rum. Kakak gak bisa kalau kamu marah lama sama kakak “ balas rafasya "kakak gak akan sanggup" tambah rafasya


ningrum terisak dengan perlakuan rafasya “tapi ningrum gak mau pacaran sama kakak, ningrum pengen kakak tetap  jadi kakak ningrum” balas ningrum dengan suara sesenggukan


Rafasya melepaskan genggamannya dan terduduk lesu, mencoba menetralisir perasaannya


ningrum meraih lengan rafasya “ningrum pengen kita tetap seperti sebelumnya kak” ucap ningrum mengguncang lengan rafasya


Rafasya menarik nafas dalam, menoleh pada ningrum “kita akan tetap seperti biasanya, kamu adik kakak yang paling kakak sayang” ucap rafsya memaksakan senyumnya


Ningrum memeluk rafasya erat “terima kasih kak” balas ningrum


Rafasyamengangguk, membalas pelukan ningrum  “iya” balas rafasya

__ADS_1


__ADS_2