
Acara kelulusan ningrum berjalan dengan meriah dan gelak tawa dari para undangan yang datang.
tapi itu bagi teman-teman ningrum, tidak untuknya. sepanjang jalannya acara ningrum banyak diam dan melamun
sekitar jam 12 malam acara pun selesai, semua orang mulai pulang dari acara tersebut, sedangkan Rafasya dan ningrum pulang terkahir karena mendapat titipan hadiah untuk ayah virza sebagai ketua yayasan sekolah aira dari pihak sekolah
Rafasya memencet tombol kunci mobilnya “tit “ rafasya bergegas menuju mobilnya dengan
ningrum mengikuti di belakangnya
Ningrum menatap punggung belakang rafasya menghentikan langkahnya menatap langkah rafasya
“yuk rum” panggil rafasya menoleh kesamping
"rum" rafasya mengedarkan pandangannya ke sekitar halaman parkir mencari ningrum
Rafasya menatap ningrum heran yang berada agak jauh darinya “kamu gak mau pulang? Ini
sudah tengah malam loh rum” ucap rafasya memperingati
“apa maksud kakak tadi?” tanya ningrum
Rafasya menautkan kedua alisnya tak paham maksud ningrum “kakak gak ngerti rum” balas rafasya
“ngajak dansa ningrum?” ucap ningrum memperjelas
“oh”rafasya berjalan mendekat ke arah ningrum, berdiri di hadapan ningrum “kakak Cuma
pengen meramaikan acara kelulusan mu saja” balas rafasya
“bohong!”teriak ningrum
jantung rafasya berdetak dengan cepat mendengar teriakan rafasya “apa maksudmu rum? kakak gak bohong” balas rafasya mulai cemas meraih tangan ningrum
__ADS_1
Ningrum melepaskan kasar tangan rafasya “kalau ningrum gak denger ucapan temen ningrum tadi mungkin ningrum percaya saja sama kakak”
ningrum menatap rafasya dengan mata berkaca-kaca “mereka bilang ke ningrum seperti ini : pacar kamu cinta banget sama kamu ya rum dan itu terlihat dari tatapan matanya untukmu rum” ucap ningrum menceritakan ucapan teman-temannya sehabis ningrum berdansa dengan rafasya
Rafasya mulai gugup dengan pernyataan ningrum “denger rum” rafasya meraih tangan ningrum
ningrum menatap sendu ke arah rafasya “apa benar kakak cinta ningrum sebagai seorang wanita, bukan sayang seorang kakak pada adiknya?” tanya ningrum
Rafasya menatap ningrum dengan wajah bingung, bingung harus menjawab apa “ kita bicara di tempat lain” rafasya meraih tangan ningrum masuk ke dalam mobil. ningrum hanya pasrah mengikuti tangan rafasya membawanya
Rafasya melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Ningrum hanya
terdiam melihat jalanan tanpa menatap rafasya, rafasya melirik ningrum dengan cemas
1 jam berkendara akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Rafasya turun dari mobilnya terlebih dulu lalu membukakan pintu untuk ningrum “ayok turun rum”ajak rafasya
Ningrum diam saja, tak menuruti permintaan rafasya “ayok” rafasya menarik tangan ningrum agar segera turun dari mobil
“kamu marah sama kakak?” tanya balik rafasya
ningrum mulai merasa kesal dengan rafasya “kenapa malah balik tanya sih kak? Itu gak penting kan? Sekarang yang penting ningrum pengen tahu apa alasan kakak tadi ngajak dansa ningrum?” balas ningrum
rafasya menatap manik mata ningrum lekat “bagi kakak itu penting rum, kamu marah sama kakak atau tidak?” tanya rafasya
Ningrum menghela nafas, memilih berjalan ke dekat pantai dan duduk di sana “ningrum gak
marah kak, Cuma kaget aja, kenapa mereka bilang kakak cinta ningrum” ucap ningrum
“apa kamu gak suka kalau kakak cinta sama kamu?” tanya rafasya
ningrum menatap tajam rafasya “kakak itu kakak ningrum mana mungkin kakak cinta sama ningrum” balas ningrum
rafasya memejamkan mata, menahan sesak di dadanya karena ucapan ningrum “kita bukan kakak karena sedarah dan hanya panggilan karena orang tua kita bersahabat dan aku mengenalmu sejak kau lahir. jadi aku bebas mencintaimu!” balas rafasya penuh penekanan
__ADS_1
Ningrum membelalakan matanya lebar “kakak jangan ngada-ngada deh, masa kakak cinta ningrum sih?” tanya ningrum
“kakak gak ngada-ngada rum. Kakak beneran cinta kamu, sejak dulu dan sampai sekarang juga nanti” balas rafasya lirih dengan mata mulai berkabut
Air mata ningrum akhirnya pun jatuh dari sudut matanya “kakak”lirih ningrum
“kakak minta maaf rum, kakak emang beneran cinta kamu” ucap rafasya terisak
“ningrum..” ucap ningrum menggantung membuang mukanya menjauh dari tatapan mata rafasya karena tak sanggup berkata-kata
Rafasya menarik tangan ningrum agar menghadapnya “jangan marah rum, kakak mohon”
ningrum hanya diam saja
Rafasya menangkup pipi ningrum “cup” rafasya mencium sekilas bibir ningrum
ningrum membelalakan mata lebar, kaget dengan perlakuan rafasya yang begitu tiba-tiba tapi ia tak sanggup untuk marah ataupun menolak “kakak mohon” pinta rafasya
“emang kakak peduli ningrum marah atau enggak?” tanya ningrum dengan suara terisak “ cup” rafasya kembali mengecup bibir ningrum
“tentu saja kakak peduli, sangat peduli rum. Kakak gak bisa kalau kamu marah lama sama kakak “ balas rafasya "kakak gak akan sanggup" tambah rafasya
ningrum terisak dengan perlakuan rafasya “tapi ningrum gak mau pacaran sama kakak, ningrum pengen kakak tetap jadi kakak ningrum” balas ningrum dengan suara sesenggukan
Rafasya melepaskan genggamannya dan terduduk lesu, mencoba menetralisir perasaannya
ningrum meraih lengan rafasya “ningrum pengen kita tetap seperti sebelumnya kak” ucap ningrum mengguncang lengan rafasya
Rafasya menarik nafas dalam, menoleh pada ningrum “kita akan tetap seperti biasanya, kamu adik kakak yang paling kakak sayang” ucap rafsya memaksakan senyumnya
Ningrum memeluk rafasya erat “terima kasih kak” balas ningrum
Rafasyamengangguk, membalas pelukan ningrum “iya” balas rafasya
__ADS_1