Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Permintaan yang menyulitkan


__ADS_3

Setelah permasalahan sudah diselesaikan, namun sang Ayah masih merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh putranya.


"Tunggu, Nak..." seru sang Ayah menghentikan langkah kaki putranya. Ganan yang mendengarnya langsung berhenti dan balik badan.


"Ada apa, Pa?" tanya Ganan. Sang Ibu pun ikut penasaran, yang dimana tiba tiba suaminya menghentikan langkah kaki Ganan.


"Apakah masih ada yang kamu sembunyikan? katakan. Jika kamu merasa belum nyaman, Papa siap mendengar celotehanmu." Tanya sang Ayah menyelidik. Sedangkan Ganan segera mendekati Ayahnya.


"Apakah keluarga Wilyam mempunyai masa lalu?" tanya Ganan dengan tatapan serius.


"Jangankan keluarga Wilyam, keluarga Danuarta saja memiliki masa lalu. Kenapa kamu bertanya seperti itu, ada apa?" jawab sang Ayah balik bertanya.


"Maksud Ayah?" tanya Ganan semakin bingung.


"Untuk apa kamu menanyakan masa lalu, apakah masa lalu telah menghantuimu?" jawab sang Ayah bertanya.


"Karena Ganan ingin mengetahuinya, Pa? apakah salah?" jawabnya yang masih penasaran.


"Tentu saja tidak, Papa tidak bisa menjelaskannya. Sudahlah, kamu tidak perlu membuka masa lalu. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah masa depan kamu bersama istrimu dan anak anakmu kelak." Ucap sang Ayah mengingatkan.


"Apakah Papa mempunyai saudara selain Paman Zio?" tanya Ganan penuh rasa penasaran.


"Ada, kenapa?" jawab sang Ayah sedikit curiga.


Berarti benar dugaanku, berarti selama ini aku tidak salah menduganya. Batin Ganan mengingat.


"Kenapa masih diam?" tanya sang Ayah lagi.


"Tidak, Pa... kalau begitu, Ganan masuk kamar. Maaf ya, Ma.. Pa... jika Ganan sudah membuat Mama dan Papa kecewa." Jawab Ganan merasa malu.


"Kamu tidal bersalah, semua salah Mama dan Papa. Yang tidak pernah menceritakan masa lalu. Dan ternyata benar, kamu telah salah sangka akan cerita sesungguhnya." Ucap sang Ibu meyakinkan. Setelah itu, Ganan segera keluar dari ruang privat.


Tiba tiba Ibunya teringat, bahwa hari ini akan berangkat ke kampung halaman Maura. Nyonya Qinan segera mengejar langkah Ganan.


"Sayang, tunggu." seru sang Ibu memanggil putra kesayangannya. Ganan yang merasa dipanggil, segera membalikkan bannya kebelakang.

__ADS_1


"Ada apa, Ma?" tanya Ganan.


"Sekarang juga kita akan berangkat, sekarang bersiap siaplah." Jawab sang Ibu.


"Loh, katanya besok kita berangkat. Kenapa harus sekarang, Ma?" tanya Ganan.


"Karena agar kamu bisa istirahat, dan acara resepsinya tidak jauh beda dengan Tirta. Jadi, kamu perlu istirahat yang cukup." Jawab sang Ibu menjelaskan.


"Baik, Ma..." ucapnya.


Ganan pun segera masuk ke kamar, untuk memberitahu istrinya. Bahwa sekarang juga akan berangkat, mau tidak mau.


Ceklek, Ganan membuka pintu kamar. Dan dilihat istrinya yang sudah tertidur lelap. Dengan pelan Ganan mendekati istrinya, dan ikut membaringkan tubuhnya disamping istrinya. Dilihatnya sosok istrinya yang selalu terlihat cantik, membuat Ganan selalu tergoda. Apalagi dengan sikap manjanya yang terkadang menurutnya aneh, membuat Ganan semakin gemas dengan tingkah istrinya.


Pelan pelan Ganan semakin mendekati istrinya.


"Sayang, bangun... kita akan berangkat ke kampung sekarang juga. Apa kamu tidak merindukan sosok Mama yang sudah membesarkan kamu? baiklah jika tidak mau." Ucap Ganan berbisik, sedangkan Maura kaget dibuatnya.


"Kamu tadi bilang apa, sayang... kita akan berangkat ke kampung sekarang?" tanya Maura penuh girang.


"Ketahuan, rupanya kamu sudah bangun. Hmmm..." jawab Ganan sambil memanyunkan bibirnya. Maura yang melihat ekspresi suaminya yang begitu menggemaskan, membuat dirinya ingin memcubit pipinya.


"Mama yang mengatakannya, karena takut kita kurang iatirahat. Jika kita sampai di kampung sudah ramai acaranya." Jawab Ganan.


"Baiklah, aku akan bersiap siap." Ucap Maura tersenyum bahagia. Sedangkan Ganan tiba tiba merasa ada yang aneh dengan kedua mata istrinya. Terlihat seperti habis menangis.


"Sayang, tunggu. Kesini sebentar, cepetan." Pinta Ganan. Sedangkan Maura yang tidak mengerti, dirinya segera mendekati suaminya.


"Ada apa, sayang?" tanya Maura penasaran.


"Duduklah," perintah Ganan sambil menepuk nepuk disampingnya. Maura pun segera duduk sesuai perintah suaminya.


"Katakan, ada apa?" jawab Maura bertanya.


"Kamu habis menangis? ada apa? apa kamu sudah menemukan sesuatu yang sudah aku katakan? tanya Ganan berbagai macam pertanyaan.

__ADS_1


"Iya, aku melihatnya. Dan kenapa videonya tidak full, seharusnya ada video yang mengharukan. Bukan Video yang setengah setengah." Jawab Maura yang masih penasaran.


"Sudahlah, yang terpenting aku sudah tidak lagi mempercayai Video yang berdurasi pendek. Justru sekarang yang aku fikirkan akan keselamatan kita, aku tidak bisa menjamin jika kita selamat. Tapi, aku akan selalu menjaga kamu dan juga Mama, Papa dan juga kakek." Ucap Ganan menjelaskan.


"Maksudnya? keselamatan kita itu apa?" tanya Maura yang masih penasaran.


"Suatu saat nanti kita akan mendapatkan masalah, aku yakin itu. Sekarang kita masih dalam rencana orang yang akan menghancurkan hidup kita. Sudah lah, lain kali aku ceritakan kembali. Sekarang kita bersiap siap, nanti keburu terlambat." Jawab Ganan menjelaskan.


"Baiklah, akupun sudah tidak sabar untuk segera sampai di Kampung halamanku." Ucap Maura tersenyum bahagia, Ganan yang melihatnya pun ikut bahagia.


Tidak lama kemudian, setelah Ganan dan juga Maura sudah selesai bersiap siap. Keduanya segera keluar dari kamar.


Dengan langkah pelan, keduanya menuruni anak tangga. Dan dilihatnya, kedua orang tua yang sudah berada di ruang tamu dengan penampilan yang sangat rapi.


"Mama dan Papa sudah siap?" tanya Ganan.


"Memangnya yang kamu lihat kita sedang apa? hmmm.." jawab sang Ibu menggelengkan kepalanya. Sedangkan Ganan hanya tersenyum.


"Kalau sudah siap, ayo kita berangkat. Nanti kita telat, mau?" ajak sang Ayah yang sudah terlihat tidak dingin dan kaku.


"Tidak, Ganan ingin secepatnya sampai. Karena Ganan sudah merindukan suasana di kampung yang sangat asri." Jawab Ganan sambil mengekor dibelakang Ayahnya. Kemudian menaiki mobil yang akan mengantarkan ke kampung halaman.


"Kenapa kita tidak naik pesawat?" tanya Ganan.


"Karena naik mobil jauh lebih menyenangkan, kita akan menyeberang laut menaiki kapal." Jswab sang Ibu tersenyum.


"Benarkah? baik lah, Ganan pun ingin mencobanya." Ucap Ganan semangat, sedangkan Maura tiba tiba berubah menjadi aneh sikapnya. Bahkan sedari tadi hanya diam, Ganan sendiri heran dibuatnya.


"Sayang, kamu kenapa dari tadi diam?" tanya Ganan penasaran.


"Aku hanya ingin sesuatu, tapi masih lama." Jawab Maura.


"Kamu ingin apa, sayang?" tanya Ibu mertua.


"Maura pingin duren, tapi suami Maura yang manjat." Jawab Maura dengan penuh harap. Sedangkan Ayah mertua dan Ibu mertua maupun Ganan melongo mendengarkannya.

__ADS_1


"Apa? manjat pohon duren? yang benar saja sayang.... permintaan kamu itu sungguh aneh, kenapa tidak beli gitu. Dan kenapa mesti manjat, sayang... kita kan tidak mempunyai kebun." Jawab Ganan tidak percaya.


"Tenang saja, bulan ini musim duren. Dan orang tuaku mempunyai kebon yang cukup luas, dan pohonnya tidak hanya satu. Jadi kita tidak susah payah meminta tempat orang lain." Ucap Maura tersenyum mengembang, sedangkan Ganan tersenyum getir.


__ADS_2