
Rafasya duduk di samping Mila menautkan jemari tangannya ke tangan Mila
"mil, ikut sih"pinta rafasya dengan wajah memelas
Mila menggeleng "enggak sya, nanti kamu kecapean kalau harus bolak-balik, disana kan aku banyak urusan dari satu ke tempat lain, dan pasti kamu akan ngikut kemanapun aku pergi" balas mila tahu jalan pikiran suaminya
"kamu beda sekarang, dulu saja selalu ngikutin aku kemanapun, giliran sekarang saat aku jadi suamimu kamu mau dekat denganku" keluh rafasya menundukan wajahnya
"ya ampun sya" mila menangkup wajah rafasya dengan kedua tangannya "aku bahagia banget kamu mau nemenin aku sya, tapi kesehatanmu jauh lebih penting dari segalanya. kamu masih menjalani pengobatan dan kau diminta tidak terlalu lelah sayang" ucap Mila dengan nada sehalus mungkin
"tapi, pengen ikut" rafasya masih tetap ingin ikut Mila
"gimana kalau saat aku pulang nanti, kita honeymoon kedua" tawar Mila
rafasya langsung mendongak dengan wajah berbinar mendengar kata honeymoon kedua "beneran mau honeeymoon kedua?" tanya rafasya
"iya" balas Mila mengangguk
rafasya memeluk Mila erat "terima kasih sayang, tapi pokonya kita harus sampai pagi, jangan jam 12 malam sudah di suruh istirahat" pinta rafasya mencebikkan bibirnya
"kalau pengen sampai pagi, harus rajin dan fisioterapi, kalau dokter mengizinkan kamu olahraga berat, aku akan menemanimu sampai pagi" balas Mila
***
Mila berada dijepang selama 2 bulan untuk mengurus segala urusan yang ada di sana, seperti tempat tinggalnya di jepang yang ia putuskan untuk ia sewakan saja agar sewaktu-waktu ingin ke jepang dia tak perlu mencari tempat lain. lalu pemindahan tempat kerjanya ke salah satu rumah sakit di Indonesia yang mama kaila miliki
Rafasya berjalan mondar-mandir di depan tempat penjemputan penumpang di bandara dengan harap-harap cemas
"lama banget sih, gak sampai-sampai" gumam rafasya melirik jam tangannya
"harusnya kan 2 menit lalu nyampe" gerutu rafasya melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 14.27, padahal di jadwal pesawat akan sampai pukul 14.25
bagaimana tidak rafasya terus menggerutu, rafasya menunggu di bandara sejak jam 12 siang karena sudah tak sabar bertemu dengan istri tercintanya. Padahal dulu saat bersama ningrum dia tak sampai seperti ini, bahkan dia sering tak bertemu hingga beberapa minggu tapi rafasya tak sampai gelisah seperti ini
"apa macet ya pesawatnya" gumam rafasya lagi
"sayang" panggil seseorang
rafasysa menoleh "Mila" rafasya langsung berlari menghampur memeluk Mila
"aku kangen sekali" rafasya menciumi aroma tubuh rafasya yang sudah 2 bulan ini sangat ia rindukan
"aku juga kangen kamu, sayang" balas Mila memeluk erat rafasya
"pokoknya aku gak mau di tinggal lagi, kalau harus di tinggal kaya gini mending kamu gak usah pergi, aku ikat saja kamu di kamar" keluh rafasya seraya mencebikkan bibirnya
mila terkekeh "aku gak akan pergi lama lagi kok" balas mila mengurai pelukannya
"oh ya sya, gimana urusanmu dengan ningrum?" tanya mila
"sudah selesai, aku sudah menemuinya dan juga jonathan dan sudah menyelesaikan maslah di anatara kami. tante kaila juga mengenalkan aku pada dokter untuk memabantu kita punya anak" balas rafasya
mila menggenggam kedua tangan rafasya "denger ya sya, aku gak mau kamu tertekan dengan uusan anak, jika nanti kita tak punya anak jangan pernah kecewa ya, karena aku akan selalu mencintaimu" ucap Mila
"iya sayang, aku tahu itu tapi tak ada salahnya kita coba" balas rafasya
rafasya menggandeng tangan mila menuju mobilnya yang ada di oarkiran bandara
"oh ya sya, maafin aku ya gak bisa ngajak kamu bulan madu kedua dalam waktu dekat" ucap rafasya
"kenapa?" tanya mila
"aku harus bantu acara resepsi pernikahan ningrum dan kedua kakaknya" balas rafaysa
"gak masalah kok sya, asal berdua terus denganmu dimanapun juga gak masalah" balas mila
"tambah cinta deh aku" rafasya mengecup bibir mila gemas dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah
__ADS_1
***
"mah, aku mau ketemu temen yang akan dekor tempat acara ningrum, di hotel R" ucap rafasya pamit pada mama karin
"istri kamu ikut?" tanya mama karin
"tentu dong mah, gak mungkin aku tinggal dia" balas rafasya terkekeh
"ya ampun sya" mama karin menggeleng keras ke anaknya
"pertemuannya kan lama, kasihan dia kalau harus nunggu kamu di sana, dia tuh baru pulang kerja loh" ucap mama karin mengingatkan rafasya agar tak membuat Mila lelah karena mengikuti rafasya kemanapun
"ya habisnya, aku kan tadi seharian gak ketemu istriku mah, aku kan kangen dia" balas rafasya mengerucutkan bibirnya
"dasar, pria bucin tingkat akut" keluh mama karin menggelengkan kepalanya
"yuk sya, aku dah siap" ucap mila menghampiri rafasya dan mama mertuanya
"ya sayang" balas rafasya
mila menoleh ke arah mama karin "mila pergi dulu ya mah" pamit Mila memeluk mama karin
"iya sayang, hati-hati" balas mama karin
kini rafasya memeluk mama karin "kunci pintu saja mah, aku mau nginep sana saja biar gak bolak-balik. kata mama kan matu mama gak boleh capek " bisik rafasya
mama karin berdecih "dasar modus" kekeh mama karin
mila bingung dengan mertua dan suami di hadapannya "modus apa mah?" tanya mila
"gak papa sayang, yuk berangkat keburu kesorean" ucap rafasya segera menarik tangan mila menjauh
***
mila tertidur menunggu suaminya selesai meeting. awalnya mila menemani rafasya meeting, tapi melihat mila yang terus menguap dan terlihat lelah rafasya menjadi tak tega, dan akhirnya rafasya memutuskan untuk memesan kamar hotel untuk mila beristirahat sedangkan rafasya kembali lanjut meeting
sekitar jam 9 malam, rafasya telah menyelesaikan meetingnya dan menuju kamar yang di tempati Mila
melihat istrinya yang sudah tertidur pulas, rafasya berjalan perlahan menghampiri mila, mengusap pip Mila lembut "tidur saja cantik" gumam rafasya membelai pipi Mila
merasa badannya yang lengket, rafasya memutuskan untuk membersihkan diri
rafasya sudah berganti pakaian kaos dan celana pendek yang sudah ada di dalam kamar, yang ia pesan dari asisten untuk membawakan pakaian untuk dirinya dan Mila
rafasya duduk di samping mila memandangi wajah tidur, istrinya. mengecup cukup lama kening mila
merasa ada yang mengusik tidurnya, mila membuka mata
"euuughhh" Mila menggeliat meregangkan otot tubuhnya
"kamu sudah selesai meetingnya?" tanya mila
"sudah sayang" balas rafasya mengecup bibir mila
"maaf ya sya, aku malah ketiduran bukannya nemenin kamu" ucap mila
"gak papa, kamu juga pasti capek seharian bekerja, jadi pasti butuh waktu istirahat" balas rafasya
"ya sudah kamu juga pasti capek, ayok istirahat" ucap mila menarik tubuh rafasya untuk tidur disebelahnya
"tidurnya nanti dulu, kita olahraga malam dulu" balas rafasya
mila mengerutkan keningnya "olahraga apa? jam segini?" tanya mila dengan polosnya
rafasya masuk dalam selimut, menutup tubuh dirinya dan Mila, membuang pakaian mila dengan sembarang membuat mila terkekeh dengan tingkah rafasya
***
__ADS_1
seperti biasa rafasya terus menempel Mila " kamu tuh kenapa sih sya, nemplok terus dari tadi?" tanya Mila melihat suaminya yang selalu nemplok mila kemanapun
"pengen deket sama kamu terus bawaannya sayang, kalau jauh dari kamu rasanya pusing dan pengen muntah" balas rafasya masih terus mencium aroma tubuh istrinya
mama karina yang melihat kelakuan rafasya menggelengkan kepalanya "kamu tuh udah kaya anak lagi manja sama ibunya sya, mila tuh mau makan sya" ucap mama karin
"ya sudah makan saja, rafasya kan gak larang Mila makan" balas rafasya tak perduli dengan ucapan mamanya
"oh ya, kamu hari ini kontrol lagi ke dokter kan?" tanya ayah kevin
"iya yah, abis nemenin rafasya ke kantor sebentar kita ke klinik untuk konsul ke dokter lagi" balas mila
"semoga usaha kalian membuahkan hasil ya " ucap mamakarin
"amiiiin" balas rafasya dan Mila kompak
***
rafasya dan mila datang ke klinik untuk melanjutkan konsultasi pengobatan rafasya agar bisa memiliki keturunan
"sya, nanti dulu sih jadi cicaknya, malu" ucap mila
rafasya mengerutkan keningnya "ngapain jadi cicak?" tanya rafasya
"ya ini, jadi cicak, nemplok terus" balas mila
"ya aku mual loh mil, kalau jauh" balas rafasya mengerucutkan bibirnya dan kembali mengalungkan tangannya di lengan mila
"ibu mila" panggil ssuster
"iya sus, saya" mila dan rafasya memutuskan masuk ke dalam ruangan dokter halimah
"siang dok" sapa mila berniat menyalami tangan dokter tapi lagi-lagi rafasya tak mau melepaskan tangan mila
"lepas dulu sya, mau salaman dulu" ucap mila
rafasya menoleh ke arah dokter "gak salaman gak masalah kan dok?" tanya rafasya
dokter halimah terkekeh "gak masalah pak" balas dokter halimah
"maaf ya dok, gak tahu nih suami saya kesambet, jadi kaya gini kelakuannya" ucap mila
"memang sejak kapan suami anda seperti ini?" tanya dokter
"sepertinya semenjak 2 minggu lalu deh dok, makin hari makin menjadi dia. sampai bilang kalau jauh nanti mual lah, lemes lah pengen marah-marah. sampai-samapai dia kerja dari kantor saya di rumah sakit" balas mila
doker halimah terkekeh "ibu kapan terakhir datang bulan?" tanya dokter
"terakhir..."mila tampak berpikir "seperti bulan kemarin saya tidak datang bulan, padahal harusnya awal bulan saya datang bulan dok" balas mila "tapi apa hubungannya?" tanya mila tak paham pertanyaan dokter dengan pernyataan tentang suaminya barusan
dokter tersenyum "mari bu ikut saya" dokter membawa mila ke brankar untuk berbaring
mila mengikuti perintah dokter halimah, dan menggulung bajunya ke atas,
dokter memberikan gel di perut mila dan mengarahkan alat ke perut mila "coba lihat ke layar di depan sana bapak, ibu" pinta dokter halimah
rafasya mengamati lekat layar yang ada di hadapannya " sepertinya suami anda mengalami kehamilan simpatik, makanya suami anda yang ngidam bukan anda" ucap dokter halimah
mila langsung membelalakan matanya lebar ke arah dokter "itu beneran dok?" tanya mila paham apa yang di maksud mila
sedangkan rafasya mengerutkan keningnya penuh dengan kebingungan " apa sih? aku gak ngerti?" tanya rafasya bingung
"kamu akan jadi ayah sya" ucap mila dengan binar bahagia
"ayah?" tanya rafasya yang dibalas anggukan oleh mila
"aku beneran jadi ayah?" tanya rafasya semangat
__ADS_1
"iya, kita akan jadi orang tua sebentar lagi" balas bila menangis haru karena dirinya tengah hamil
rafasya memeluk erat mila "terima kasih sayang, memberikan kebahagian bertubi-tubi untukku" ucap rafasya memeluk erat Mila