
Dirumah Ibu Romlah, Ganan dan Maura kini sedang sibuk bersiap siap untuk berangkat ke Gunung.
"Sayang, sudah siap belum?" tanya Ganan pada istri tercintanya.
"Sudah, sayang.. ayo kita berangkat, aku sudah tidak sabar nih." Jawab Maura yang sudah tidak sabar.
"Iya iya.... jangan lupa pamit sama Mama." Ucap Ganan mengingatkan.
"Iya, sayang..." jawab Maura segera keluar dati kamar dan diikuti Suaminya dari belakangnya untuk menemui Ibunya.
Dan benar saja, Ibu Romlah sudah duduk di ruang tamu. Yang dimana sedang menunggu anak dan menantunya keluar dari kamar, dan disaat itu juga Ganan dan Maura sudah berada di ruang tamu. Sedangkan Maura langsung mendekati Ibunya dan sekaligus berpamitan.
"Mama... Maura dan Suami Maura mau pergi ke Gunung, boleh kan?" tanya Maura memohon.
"Mau ngapain ke Gunung? nyari duren? di warung buah kan banyak, Nak... kasihan suami kamu. Terus siapa yang mau manjat pohonnya? tanya sang Ibu.
"Bondan dan Soni, Ma.. itu orangnya sudah didepan. Memangnya Mama tidak tahu, jika Soni sudah ada disini?" jawab Maura dan bertanya.
"Mama sudah tau, tapi pohonnya tinggi tinggi semua. Soni dan Bondan juga bakalan tidak bisa manjat pohon durennya. Bagaimana coba? mending kamu beli saja. Mudah, kan? tidak capek lagi." Ucap sang Ibu mengingatkan. Sedangkan Maura masih bersikukuh untuk pergi ke Gunung.
"Tidak apa apa kok, Ma.. yang terpenting permintaan calon cucu Mama terpenuhi. Kasihan Maura jika keinginannya gagal, asal tidak menapaki lautan tidak masalah." Jawab Ganan menimpali dan dibarengi senyum.
"Ya sudah, kalian berdua hati hati di perjalanan. Jangan aneh aneh di gunung, dan ingat! jangan pergi ke pantai." Ucap sang Ibu mengingatkan.
"Baik, Ma... kalau begitu kita berangkat ya, Ma..." jawab Maura tersenyum dan memeluk sang Ibu dan mencium punggung tangannya. Begitu juga dengan Ganan, ikut mencium punggung tangan Ibu mertua. Ibu Romlah pun segera keluar dan menghampiri Bondan dan juga Soni.
"Bon, Son.. Ibu titip anak dan menantu Ibu, ya.. ingat! Ibu melarangnya untuk pergi ke Pantai. Kalian berdua mengerti, kan?" Ucap Ibu Romlah memberi pesan.
__ADS_1
"Baik Bu, tenang saja. Kita berdua akan menjaga Bos Ganan dan juga Neng Maura." Jawab Bondan meyakinkan.
"Iya, Bu. Tenang saja, kita berdua siap menjadi pengawal Neng Maura dan Bos Ganan." Ucap Soni ikut menimpali.
"Terimakasih, Ibu percaya sama kalian berdua. Ya sudah, hati hati untuk kalian semua. Jika sudah mendapatkan duren, segeralah pulang. Jangan mampir mampir ke tempat siapapun." Ucap Ibu Romlah mengingatkan.
Setelah semuanya bersiap siap, dan juga sudah berpamitan. Kemudian masuk kedalam mobil, dan Soni yang menyetir mobilnya. Sedangkan Ganan dan Maura duduk dibelakangnya sambil menyandarkan dirinya ke pundak suaminya. Ganan sendiri menyandarkan kepalanya dipintu jendela kaca mobil. sambil mengelus elus pipi kenyal milik istrinya.
Didalam perjalanan perasaan Maura berasa berbunga bunga. Yang dimana suami tercintanya begitu perhatian terhadapnya. Maura masih saja tidak percaya, jika dirinya begitu beruntung mendapatkan suami yang jauh dari khayalannya.
"Sayang..." ucap Maura terhenti.
"Iya, ada apa sayang?" tanya suaminya sambil menatap kedepan.
"Lihat aku... kenapa kamu menatapnya kedepan?" jawab Maura dibuat cemberut sambil mendongakkan wajahnya ke atas sambil menatap wajah suaminya.
"Aah tidak jadi, aku sudah lupa." Jawab Maura dibuat cemberut.
"Coba diingat ingat, siapa tahu saja masih diingat." Tanya Ganan mencoba merayu.
"Aah sudahlah, aku sudah lupa." Jawab Maura kemudian ikut menatap lurus kedepan.
"Bondan, kenapa lama sekali. Kapan kita akan sampai? kamu tidak lupa jalannya, kan?" tanya Maura yang sudah tidak sabar.
"Bentar lagi kita akan sampai, Neng... bersabarlah." Jawab Bondan menenangkan.
"Sabar ya, Neng.. sudah tidak lama lagi kita akan sampai. Lihatlah, banyak pohon duren di pinggir jalan. Setidaknya buat cuci mata, tapi sayangnya pohon duren milik Neng Maura tinggi tinggi pohonnya." Ucap Soni ikut menimpali.
__ADS_1
Sedangkan Ganan bengong ketika mendengar bahwa pohon durennya tinggi tinggi. Ganan pun sampai kesulitan untuk menelan salivanya, karena bingung harus berbuat apa jika istrinya tetap memintanya untuk manjat pohon duren.
Wah... ekspresi Bos Ganan lucu juga, ya... aku yakin, pasti Bos Ganan sedang memikirkan nasibnya setelah sampai nanti. Dipikirannya pasti tentang manjat pohon duren. Kasihan..
Neng Maura nih, ngidam permintaannya aneh aneh. Kenapa tidak suruh manjat pohon jambu atau anggur sekalian. Batin Soni sambil melihat ekspresi Ganan yang terlihat lucu dan greget.
Tidak lama kemudian, Mobil yang ditumpangi Ganan dan Maura kini sudah berada di depan Gubuk yang terlihat sangat sederhana. Ganan masih bengong dan melamun karena dirinya teringat saat pergi ke Gunung bersama Ibu mertuanya dan juga Maura, dan kini rupanya terulang kembali pergi ke Gunung.
"Bos, kita sudah sampai." Ucap Bondan mengagetkan, sedangkan Maura dan Ganan kaget dibuatnya.
"Kita sudah sampai, Bon?" tanya Ganan tidak percaya.
"Iya, kita sudah sampai. Dan sebentar lagi kita akan manjat pohon duren, maksudku itu Bos Ganan yang akan memanjat pohon duren. Lihatlah Bos, pohonnya tinggi tinggi dan buahnya semua diatas." Jawab Bondan sedikit meledek. Sedangkan Ganan mengernyitkan dahinya paksa.
Gile... yang benar saja, apa iya aku yang harus memanjat pohonnya? mana aku bisa. Semoga saja istriku berubah pikiran, dan tidak menyulitkanku. Batin Ganan yang masih sibuk melamun, karena permintaan istrinya yang menurutnya mustahil untuk bisa manjat pohon duren.
"Sayang, ayo kita turun. Aku sudah tidak sabar nih, aku pingin makan duren. Apalagi yang sudah matang sempurna, wah.... mantap pokoknya, sayang.. buruan ayo turun." Perintah Maura yang sudah tidak sabar ingin menikmati buah duren.
Sedangkan Ganan bingung dibuatnya, karena dirinya bingung untuk mencari cara agar bisa mendapatkan buah durian tanpa harus memanjatnya.
"Sayang, dengerin aku bicara tidak sih... ayo turun, sayang..." pinta Maura yang terus merengek. Sedangkan Bondan dan Soni sudah turun, dan juga sudah berdiri di depan pintu rumah kecil yang sangat sederhana.
"Iya, sayang.. ayo kita turun." Jawab Ganan dan mengajak istrinya untuk segera turun dari mobil. Perasaan Ganan pun campur aduk dibuatnya. Mau tidak mau dirinya tetap turun, apapun resikonya. Pikir Ganan didalam benaknya.
Perasaan Maura sangat senang, pasalnya kini apa yang diinginkannya telah terpenuhi. Meski sang suami belum mendapatkan buah duren ditangannya. Tetapi Maura yakin, bahwa dirinya akan menikmati buah duren yang sudah diinginkannya sejak perjalanan berangkat ke kampung halamannya.
Maura mapun Ganan celingukan mencari pohon duren disekitarnya. Tiba tiba kedua mata Maura terbelalak melihat pohon duren yang begitu banyak buahnya. Dan benar benar sudah tidak sabar untuk menikmati buah duren.
__ADS_1