
Ganan masih dengan posisinya, bahkan mendekati istrinya pun tidak. Justru hanya tersenyum tipis saat melihat istrinya meringis kesakitan.
"Kalai begitu, Maura masuk kamar ya, Ma..." pinta Maura.
"Tapi, benar kamu tidak apa apa?" tanya Ibu mertua sedikit kepikiran dengan keadaan Maura.
"Tidak apa apa kok, Ma... nanti juga hilang rasa sakitnya."'Jawab Maura sambil menahan rasa sakit. Sedangkan Ganan masih saja senyum senyum menggoda menatap istrinya, Maura yang melihatnya bukannya kesal tetapi bergidik ngeri.
"Dan kamu kenapa masih duduk santai, lihatlah istrimu menahan rasa sakit tidak kamu hiraukan." Ucap sang Ibu ke arah putranya.
"Nanti Ganan akan menemui Mama, untuk sekarang Ganan mau mengobati Maura. Tidak apa apa kan, Ma?" jawab Ganan langsung berdiri dan menarik tangan Maura, mengajaknya untuk masuk kekamar. Sedangkan sang Ibu hanya geleng geleng kepala melihat anak dan menantunya.
Ganan dan Maura segera masuk ke kamar, dan mengunci pintunya. Dengan pelan Ganan mendorong tubuh istrinya, hingga Maura terpojok ditempat tidur. Tidak berpikir panjang, Ganan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya hanya berjarak sejengkal. Setelah itu dengan pelan Tangan Ganan mendorong istrinya ketempat tidur. Ganan pun segera menindih tubuh istrinya, keduanya saling beradu dalam pandangannya masing masing.
"Sejak kapan kamu menguping?" tanya Ganan mengintimidasi.
"Aku belum menguping, serius." Jawab Maura beralasan.
__ADS_1
"Berani sekali kamu bohong, sejak kapan kamu belajar berbohong, hah?" ucap Ganan dengan tatapan yang serius. Maura yang menatap kedua mata milik suaminya seakan mau memangsanya, membuat Maura gugup.
"Maaf," jawab Maura singkat dan cemas tentunya.
"Maaf kata kamu, tidak aku beri maaf." Ucap eyyGanan semakin mendekatkan wajahnya.
"Aku benar benar tidak sengaja mendengarkannya, aku mau keluar pun sudah terlanjur mematung." Jawabnya lesu, sedangkan Ganan segera bangun dan duduk disamping istrinya. Begitu juga dengan Maura yang juga ikut duduk.
"Aku akan menemui Mama dan juga Papa, kamu masuklah ke ruang kerjaku. Aku menyimpannya di komputer, kamu bukan anak SD yang baru lulus sekolah, kan? bahkan kamu menyelesaikan kuliah kamu dengan baik. Maka kamu bisa membuka rahasiaku di komputer tersebut. Maka aku tidak perlu menjelaskannya kepadamu." Ucap Ganan dengan tatapan serius, Maura yang mendengarkannya pun hanya mengangguk.
"Satu lagi, aku paling tidak suka dimintai penjelasan. Kamu mengerti?" ucapnya lagi, dan Maura tetap hanya bisa mengangguk.
Meski terkadang anggapan Ganan sangatlah salah, tetapi apalah seorang Ganan yang lebih suka menghadapi masalahnya sendiri. Tetapi kini Ganan sudah mulai terbuka terhadap istrinya, meski hanya sebagian. Itupun suruh menerkanya sendiri, tanpa penjelasan darinya.
Maura dengan serius menyalakan komputernya, dan dimulai untuk mencari sesuatu yang menjadi rahasia suaminya. Satu persatu Maura membuka file yang tersimpan. Namun tetap saja, Maura tidak menemukannya. Dirinya pun prustasi, karena begitu rumitnya mencari rahasia suaminya.
Tiba tiba kedua mata Maura terbelalak saat melihat judul yang membuatnya aneh.
__ADS_1
"Judul macam apa ini, apa sudah tidak ada judul yang lebih konyol mungkin. Tapi kenapa aku penasaran, apa aku buka aja ya?" gerutu Maura sambil menatap layar komputer.
Pelan dengan pelan Maura melihat video video yang berjejer rapi di layar komputer. Maura menatap lekat layar komputer tersebut. Maura begitu takut untuk membukanya, tangannya pun gemetar saat ingin menggerakkan jari jemarinya untuk memilih video yang akan dibuka.
Jantung milik Maura berdegup sangat kencang, bukan karena menatap wajah suaminya. Melainkan menatap layar komputer, rasa cemas dan takut kini tengah menghantui pikirannya. Mau tidak mau Maura harus membukanya. Dengan terpaksa Maura membuka video tersebut, dan...... betapa terkejutnya Maura melihat video yang terpampang didepannya kedua matanya terbelalak, telinganya pun terasa panas. Hatinya terasa teriris melebihi pedang samurai mengibasnya.
Tangannya gemetar seketika, kedua matanya berkaca kaca. Bahkan kedua pipinya sudah dibanjiri air mata yang tidak bisa untuk di usapnya.
Bagaimana aku bisa sekuat itu, apa aku mampu menjalaninya. Bahkan hinaan demi hinaan diterima dengan lapang, aku tidak pernah melihatnya bersedih. Bahkan tatapan matanya pun sangat teduh, sekuat apakah untuk menjalaninya. Apalah aku ini, yang tidak jauh beda atas perbuatanku. Apa jadinya jika aku mendapatkan perlakuan itu dari anakku.
Air mata Maura masih mengalir deras, bahkan dirinya terasa berat untuk menopang tubuhnya. Maura berusaha untuk menenangkan pikirannya, agar tidak terngiang ngiang dengan suara lantang yang begitu menakutkan.
"Jangan bermimpi untuk tidur bersamaku diatas ranjang ini. Karena terlalu kotor jika kamu tidur bersamaku," Kalimat itulah yang tidak bisa hilang dari pendengaran Maura, tubuhnya lemas tidak tertahan. Maura tidak berani membuka kelanjutannya, terlalu sakit untuk didengar.
"Mana aku bisa melihatnya lagi, ucapan itu saja sudah sangat sakit ditelingaku, bahkan diulu hatiku." Gerutu Maura yang tidak kuat untuk melihatnya kembali. Maura segera mamatikan komputernya, karena dirinya benar benar sudah tidak kuat untuk mengontrol pernapasannya yang begitu sesak di dadanya.
"Dapat video ini dari mana? tidak mungkin keluarganya memberikan video ini yang membuatnya membenci Papanya. Pasti ada seseorang yang melakukannya, aku yakin. Bagaimana aku akan menanyainya, yang ada aku akan mendapat masalah. Tetapi apa salahnya aku mencoba untuk bicara baik baik dengannya, aku kan belum mencobanya." Gerutu Maura dengan pikirannya yang sangat kacau. Kedua matanya pun berubah menjadi bengkak, efek dari air matanya yang begitu deras membasahi pipinya.
__ADS_1
Dengan tubuhnya yang gontai, Maura berusaha untuk bisa melangkahkan kakinya. Meski sangat sulit untuk menjaga keseimbangan dalam melangkah, Maura bisa kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Maura menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan dilihatnya langit langit kamarnya.
Sungguh aku sangat sakit melihatnya, tapi... pasti ada sebabnya. Tidak mungkin tidak ada sebab, aku yakin pasti ada video yang tidak pernah aku duga. Mana mungkin aku menjawab dengan enteng minta kelanjutan video itu. Mustahil aku mendapatkannya, ini rumah siapa? apa iya, aku harus melakukan pencarian kelanjutan video itu. Lantas kenapa Dia tidak menunjukkannya langsung, kenapa harus membencinya secara diam diam. Dimana letak kepribadiannya. Sungguh menguras emosiku, awalnya aku terbawa suasana itu. Tapi ada yang mengganjal bagiku, tapi apa itu... aaah mana dua hari lagi acara resepsi pernikahanku. Perjalanan yang cukup lama, mana mungkin malam ini akan selesai masalah ini. Sedangkan buktinya saja belum ditemukan. Batin Maura sambil memandangi langit langit kamar.