Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Merasa pusing


__ADS_3

Nessa masih menahan rasa mualnya, kepalanya pun ikut terasa pusing. Tidak lama kemudian sudah sampai di rumah sakit.


"Sayang, kita pulang saja yuk... aku tidak kuat bau aroma didalam rumah sakit." Ucap Nessa yang benar benar sudah tidak tahan.


"Tapi sayang, kamu harus diperiksa. Agar kamu mendapat penanganan yang baik, apa kamu tidak kasihan dengan yang ada didalam rahim kamu?" jawab Tirta mengingatkan.


"Tapi aku sudah tidak kuat, kepalaku tambah pusing. Kita pulang saja, pakai tespack juga bisa kok, sayang..." pinta Nessa sambil merengek, Tirta yang melihat ekspresi sang istri merasa tidak bisa menolak keinginan sang istri.


"Baiklah, jika itu yang kamu mau. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan hasilnya, tetapi kamu sendiri tidak mau untuk diperiksa. Ya sudahlah, aku akan beli tespacknya. Kamu tunggu dimobil." Jawab Tirta, lalu segera membeli tespack. Sedangkan Nessa segera masuk kedalam mobil.


Tidak lama kemudian, Tirta sudah kembali dan segera masuk kedalam mobil.


"Barangnya ni kan, sayang..." tanya Tirta takut salah membeli.


"Benar, terimakasih sayang. Kok belinya banyak banget, untuk apa?" tanya Nessa heran.


"Siapa tahu ada yang tidak akurat, setidaknya lima benda itu dipakai semua. Biar lebih jelas hasilnya." Jawab Tirta dengan enteng, sedangkan Nessa hanya tersenyum melihat sikap sang suami.


Didalam perjalanan Nessa hanya bersandar kepada suaminya sambil memegangi perutnya yang masih terasa mual. Sedangkan Tirta masih fokus pandangannya kedepan.


"Sayang, besok loh kita pulangnya. Sebenarnya hari ini, tapi karena semua penasaran akan hasilnya maka jadwal untuk pulang diurungkan." Ucap Tirta membuka suara.


"Baiklah, kita periksanya di Tanah Air saja. Tapi bukan dirumah sakit, aku tidak kuat bau aroma rumah sakit." Jawab Nessa sambil menahan rasa mualnya didalam perutnya.


"Baiklah, sayang.. kamu tidak perlu khawatir. Aku akan antarkan kamu ke Dokter spesial kandungan khusus untukmu, sayang.." ucap Tirta tersenyum bahagia.


"Oh iya sayang, masih mual tidak?" tanya Tirta.

__ADS_1


"Lumayan, kepalaku pun ikut terasa pusing. Terasa berat untuk beraktivitas." Jawab Nessa.


"Kamu sih, diajak periksa tidak mau. Kita balik lagi ke rumah sakit, bagaimana?" ajak sang suami yang tidak tega melihat istrinya menahan rasa mual.


"Aku tidak apa apa, mungkin memang benar kalau aku sedang hamil. Karena yang aku rasakan benar benar tidak karuan, sayang..." jawab Nessa dengan lesu.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan yang cukup lama, kini telah sampai didepan halaman rumah Tuan Zio. Nessa dan Tirta segera turun dari mobil.


"Nanti kita jawab apa coba, kalau ternyata kamu belum periksa kandungan." Ucap Tirta bingung.


"Kita jawab sesuai kenyataan, kalau aku benar benar tidak kuat untuk menahan rasa mualnya." Jawab Nessa tersenyum, Tirta pun hanya mengangguk. Kemudian keduanya segera masuk kedalam rumah.


"Loh... kak Tirta kenapa sudah pulang?" tanya Zeil heran.


"Kakak kamu tidak mau diperiksa, katanya tidak kuat dengan aroma didalam rumah sakit. Mungkin maunya Periksanya di warung makan nasi padang kali ya, Zeil..." jawab Tirta dan didengarkan oleh yang lainnya. Semua ikut tertawa lepas mendengar jawaban dari Tirta. Sedangkan Nessa tersipu malu atas jawaban dari sang suami.


"Ada ada saja nih, Tirta..." ucap kakek Wilyam yang ikut menimpali.


"Loh, kenapa mesti ke rumah warung makan? bukankah ada Restoran Merpati Jaya?" ucap Tuan Zio ikut menimpali.


"Wah... rame sekali, ada apa ini." Tanya Tuan Angga yang baru saja ikut berkumpul di ruang tamu.


"Ini, istri keponakan kamu tidak kuat dengan aroma rumah sakit. Lalu kata Tirta, sukanya dengan aroma rumah warung makan." Jawab kakek Wilyam.


Semua tertawa lepas bersama, terasa hangat dalam kekeluargaan. Setelah itu semua menikmati hari terakhirnya di Amerika, tepatnya di rumah Tuan Zio.


"Kek, besok mau ikut pulang, tidak?" tanya Tirta pada kakek Wilyam.

__ADS_1


"Sepertinya kakek belum bisa pulang, karena kakek harus bergantian untuk tinggal bersama paman kamu, Zio." Jawab sang kakek.


"Oooh, syukurlah. Paman Zio dan tante Serly pasti sangat senang, keduanya bisa tinggal bersama orang tua masing masing." Ucap Tirta.


"Kamu tidak marah kan, kak? jika Papa tinggal bersamaku untuk saat ini." Tanya Tuan Zio kepada sang kakak, yang tidak lain adalah Tuan Angga.


"Untuk apa aku marah, kamu juga punya hak untuk tinggal bersama Papa. Kamu pun juga anaknya, jadi... tidak ada alasan untuk menyayangi orang tua. Aku hanya berpesan, jaga Papa dengan kasih sayang. Itu saja, karena kamu pun berhak untuk tinggal bersama Papa." Jawab Tuan Angga meyakinkan.


"Terimakasih, Kak... aku akan memberikan kasih sayangku untuk Papa. Kakak tidak perlu khawatir, seperti janji kita dulu. Kita akan bersama sama menjaga Papa dan memberinya kasih sayang." Ucap Tuan Zio dengan tatapan serius.


Kakek Wilyam sangat terharu akan sikap kedua putranya. Meski Tuan Zio bukanlah putra kandungnya, namun kakek Wilyam sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Kakek Wilyam tidak pernah membeda bedakan untuk kedua putranya. Begitu juga dengan Tuan Angga, yang juga tidak merasa iri atau dengki. Bahkan Tuan Angga juga sudah menganggap Tuan Zio seperti adik kandungnya sendiri. Meski pernah ada peesilisihan diantara keduanya, namun tidak menyudutkan untuk murka atau membencinya. Hanya saja ada rasa tidak enak hati atau merasa bersalah diantara keduanya. Tetapi persaudaraan tetap persaimudaraan, tidak ada kata membenci atau untuk mengalahkan bahkan menyingkirkan. Keduanya tetap akrab sebagaimana mestinya kakak beradik yang tidak akan ada permusuhan.


"Sudahlah, ayo kita nikmati cemilan buatan Zeil. Sepertinya sangat menggoda dan ingin segera menghabiskan." Ucap Nyonya Qinan.


"Wah... sejak kapan kamu bisa membuat cemilan kueh ini, Zeil.. biasanya kamu hanya bisa mengoleksi pernak pernik dan boneka." Sindir Tirta yang langsung mengambil sepotong kueh.


"Aku diajarin sama tante Qinan, bukankah tante Qinan sangat lihai dalam dunia memasak dan membuat kueh. Bukankah kak Nessa juga pakarnya membuat kueh? iya, kan?" jawab Zeil tersenyum.


"Aaah iya, tante Qinan dulu pernah bekerja ditempat Restoran kakek. Padahal itu Restoran milik keluarga tante sendiri, tetapi tante belum mengetahuinya." Ucap Tirta.


"Ternyata bumi seperti daun kelor, ya... buktinya kini bisa berkumpul menjadi satu keluarga." Ucap kakek Kosim ikut menimpali.


"Untung saja, Papa kamu tidak jatuh hati dengan tante kamu, Tirta." Ledek Tuan Zio.


"Aaah tidak bisa aku bayangkan." Jawab Tirta tertawa. Sedangkan Alfan hanya senyum senyum mendengar setiap ucapan yang diucapkan oleh Tirta.


"Aaah kamu, Alfan. Dari tadi kamu tidak bersuara, sariawan?" ledek Tirta sambil melirik kearah Zeil. Sedangkan Zeil hanya tersenyum mengembang.

__ADS_1


"Iya, aku lagi sariawan." Jawabnya singkat, sedangkan yang lainnya hanya tersenyum melihat ekspresi Alfan.


Percaya... yang lagi sibuk garap junior, sampai sampai lupa untuk mengobrol. Apakah Alfan sedang menyiapkan metode yang lainnya? aaah entah lah, kenapa pikiranku menjadi kotor begini? Sialan. Batin Tirta.


__ADS_2