
***
“yuk pulang” ajak zian menggenggam tangan rebecca agar keluar gedung pesta
Rebecca melepas genggaman zian, dan berjalan lebih dulu keluar gedung pesta
“kamu kenapa?” tanya zian mengikuti rebecca yang berjalan dengan cepat meninggalkan dirinya
Saat berada di depan mobilnya yang ada di parkiran rebecca menoleh dengan tiba-tiba membuat zian terkejut dan memegang dadanya yang berdetak tak karuan karena terkejut “om lihat jam berapa ini?” tanya rebecca menarik pergelangan tangan zian yang ada jam tangan dan mengarahkannya pada zian
Zian memandang tangannya yang di sentuh rebecca, jantungnya berdegup kencang “jam” ucap zian dengan gugup
Rebecca melempar tangan zian kasar membuat zian tersadar “jam 12 malam” balas zian
“om ingat engga ucapanku saat di butik?” tanya rebecca
Zian berusaha mengingatnya, tapi ia kesulitan mengingat apa yang di maksud rebecca
rebecca membuang nafas kasar karena kesal dengan zian yang tak mengingat peringatannya “ah nyebelin” ucap rebecca langsung masuk mobilnya karena kesal pada zian yang tak mengingat peringatannya
“apa sih” gumam zian masih tak mengingat apa yang di maksud rebecca
“apa?” tanya zian memasuki mobil rebecca dan menoleh ke arah rebecca
rebecca melipat tangannya di dada menatap tajam ke arah zian “aku kan sudah bilang sama om kalau kita pulang sebelum jam 11 malam , aku gak mau waktu tidurku terganggu om. Aku biasa tidur di jam itu, tapi ini apa?
Kita masih ada di luar padahal sudah lewat jam tidurku” balas rebecca kesal karena jadwal tidurnya terganggu
zian menautkan kedua alisnya “ya ampun rebecca, lewat jam tidurmu sehari saja memang begitu masalah?” tanya zian
“tentu saja masalah” balas rebecca melipat tangannya di dada membuang mukanya kasar
***
di sebuah restoran mewah di Inggris, Aditya dan Miranda sedang makan malam berdua dengan suasana romantis
“sayang” panggil aditya
“iya mas” balas Miranda
"kamu suka dengan acara makan malam kita?" tanya aditya
miranda mengedarkan pandangannya kestiap sudat ruang makan private yang sudah di hias aditya dan menu makanan yang ia suka
miranda mengangguk "suka, miranda suka dengan tatanan yang mas bikin buat miranda" balas miranda
__ADS_1
"syukurlah kalau kamu suka" balas zian
"miranda" panggil aditya
"iya mas" balas miranda
“kapan kita menikah?” tanya aditya menatap wajah miranda penuh harap
miranda mendongak, menatap wajah aditya “kenapa mas tiba-tiba nanya itu?” tanya Miranda
“yakan kamu sudah menyelesaikan kuliahmu tinggal tunggu acara wisudanya saja, mas pingin hubungan kita jauh lebih jelas saja. jadi kapan kita menikah?” tanya aditya
Miranda terkekeh “emangnya ngelamar sesederhana itu mas? Cincin gak ada? Bunga juga gak ada?” kekeh Miranda melirik aditya yang tak membawa apapun
“kalau ada semuanya emang kamu mau nikah dengan mas?” tanya aditya
“apaan sih mas?” tanya Miranda terkekeh
“prok prok prok” aditya bertepuk tangan 3 kali
Terdengar suara lagu di nyanyikan “ayo berdansa denganku?”
pinta aditya menengadahkan tangannya
“apaan sih mas?” tanya Miranda
“ingin saja mengajakmu menari dengan mas” balas aditya tersenyum ke arah miranda
aditya mengajak miranda menari dengan alunan musik yang dimainkan para pegawai restoran “Miranda” panggil zian memutar tubuh Miranda lalu menangkapnya
“apa kau mencintaiku?” tanya aditya melanjutkan gerakan dansanya
“iya lah mas, tentu saja Miranda cinta mas, kalau gak mana mungkin Miranda milih gak pernah pulang ke rumah dan tetap disini sama mas” balas Miranda tersenyum ke arah aditya
Aditya menghentikan tariannya menatap tajam Miranda dengan tetap meletakkan kedua tangannya di pinggang Miranda “bukan seperti ini yang aku inginkan Miranda. Kita sudah bersama selama 3 tahun. Aku ingin
hubungan kita lebih jelas” ucap aditya dengan wajah serius
miranda menyipitkan matanya “mas kenapa sih, gak biasanya kaya gini?” tanya Miranda
“coba mas tanya, kapan kita beritahu orang tuamu tentang hubungan kita?” tanya aditya memastikan
“nanti mas, nanti pasti Miranda kasih tahu orang tua Miranda”balas Miranda
“ya tepatnya kapan?” tanya aditya
__ADS_1
“miranda bilang nanti, ya nanti” balas Miranda mulai kesal
aditya menatap miranda dengan gurat wajah sedih “sampai kapan kita mau seperti ini Miranda? Kita itu bukan anak kecil lagi yang harus main petak umpet seperti ini” ucap aditya mulai kesal dengan penundaan Miranda yang terus menerus
Miranda melepaskan tangan aditya yang berada di pinggangya dengan kasar, membuat lagu berhenti dimainkan dan suasana menjadi tegang “mas kenapa sih maksain sekali kita ngomong sama orang tua Miranda?” tanya Miranda
"ya karena mas mau serius dengan kamu Miranda. Tapi bagaimana kita bisa serius kalau kamu saja gak mau menjelaskan ke orang tuamu tentang hubungan kita” balas aditya
“kan kita sudah sering membahasnya mas , Miranda bilang nanti pasti ada waktu miranda menjelaskan ke orang tua miranda ” balas Miranda
“ya makanya mas nanya, nanti itu kapan? “ tanya aditya
miranda menatap tajam aditya “kan mas sudah tahu alasan Miranda menunda ini. Miranda sudah di jodohkan sejak kecil mas, makanya Miranda gak pernah di bolehkan pacaran sejak dulu” balas Miranda
Aditya menggenggam tangan Miranda “makanya, kita datangi orang tuamu kita hadapi bersama keluargamu, bila perlu mas akan datang ke keluarga arjuna Wirawan , dan akan meminta dia melepaskanmu” ucap aditya
miranda melepas tangan aditya yang menggenggamnya dengan kasar “mas itu gak kenal dengan ayahku, gimana sifat kerasnya dia yang tidak akan berkompromi dengan apapun. Mas gak akan bisa menghadapi
ayahku” balas Miranda
aditya melihat tangannya yang dihempas miranda tersenyum kecut “jadi itu anggapanmu pada mas selama ini?” tanya aditya menatap miranda tajam
“aku saja anaknya gak bisa membuatnya menyerah dengan perjodohanku, gimana mas bisa?” tanya Miranda
“itu karena kita gak pernah mencobanya, dan kau gak pernah mengijinkannya! untuk aku menemui orang tuamu tanpa adanya dirimu !” teriak aditya yang mulai hilang kesabaran
"kalau kau sebegitu yakinnya ayahmu tak akan membatalkan perjodohanmu. kenapa dulu kau bilang mencintaiku dan ingin berusaha agar ayahmu membatalkan perjodohan itu ?" tanya aditya yang matanya sudah mulai berkabut
miranda menatap tak percaya ke arah aditya “kenapa? mas mulai gak sabar dengan hubungan ini? Mas
sudah gak kuat pacaran sama Miranda?” tanya Miranda yang juga sudah mulai mengembun
Aditya menghela nafas, dan mulai mengontrol emosinya “bukan gitu Miranda. Mas Cuma pengen hubungan kita jadi lebih jelas dan gak dalam ketakutan terus seperti ini” balas aditya
miranda mundur beberapa langkah menjauhi aditya “kalau mas sudah gak kuat pacaran sama Miranda ya
sudah kita putus saja” ucap Miranda menangis
Aditya mengusap mukanya kasar “lagi, lagi dan lagi kau minta putus setiap kita membahas ini!” teriak aditya menatap Miranda “kau selalu minta putus, saat mas minta kejelasan tentang hubungan kita" aditya menengadahkan kepalanya, matanya sudah mulai tak kuasa membendung air mata dari pelupuk matanya “sebegitu tak berartinya kah aku dimatamu?” tanya aditya
melihat wajah aditya miranda merasa seperti salah bicara “bukannya gitu mas” Miranda mencoba meraih tangan aditya tapi aditya menepisnya
“kau bilang aku lelah kan?” tanya aditya “iya aku lelah menghadapi keraguanmu selama 3 tahun ini” ucap zian meninggalkan Miranda
aditya menghentikkan langkahnya “kau ingin kita putus kan? Baik. mulai hari ini kita putus. Mau menikah tidak menikah terserah saja” balas aditya pergi meninggalkan Miranda seorang diri
__ADS_1
“mas” teriak Miranda memanggil aditya tapi aditya tak menghiraukannya
Miranda jatuh terduduk “mas”gumam Miranda terisak melihat kepergian aditya begitu saja