Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Mencari ide


__ADS_3

Ganan masih bingung harus bagaimana agar indra penciuman istrinya normal.


Tok tok tok suara ketukan pintu mengagetkan Maura dan Ganan yang sedang mencari ide untuk tidur. Ganan pun segera membuka pintu kamar.


Ceklek, Ganan membuka pintu kamar.


"Mama, ada apa?" tanya Ganan pada Ibunya.


"Ajak Maura makan malam, karena kita akan makan malam bersama." Jawab sang Ibu kemudian segera pergi ke ruang makan.


"Baik, Ma..." ucap Ganan dan segera memanggil istrinya.


"Sayang, ayo kita keluar. Mama menyuruh kita untuk makan malam bersama, kita sudah ditungguin." Ajak Ganan.


"Iya, sayang.. aku mau cuci muka sebentar, agar wajahku tidak terlihat kusam." Jawab Maura, sedangkan Ganan hanya mengangguk.


Setelah selesai cuci muka, Maura masih sempat sempatnya membenarkan make up nya. Ganan yang melihatnya pun terasa aneh dengan tingkahnya yang sulit diartikan.


"Kenapa mesti dandan loh, sayang... kita mau makan malam dirumah. Bukan di Restoran, lagian kamu di kota saja tidak suka dandan." Ucap Ganan, sedangkan Maura yang mendengarkannya saja merasa sensitif.


"Aku dandan untuk kamu, sayang. Kenapa kamu berkomentar seperti itu, seharusnya kamu itu senang. Karena istrimu terlihat cantik, dan anggun." Jawab Maura dengan lesu.


"Aneh saja, kamu tidak biasanya bersikap di luar dugaanku. Waktu diperjalanan kamu meminta duren, aku disuruh memanjat pula. Dan barusan kamu mengira bahwa badanku begitu bau tidak enak. Sekarang dandan, lalu setelah ini apa lagi, sayang?" tanya Ganan penasaran dengan sikap Istrinya yang membingungkan.


"Setelah ini aku tidak tahu." Jawab Maura tersenyum.


"Hmmm.. ya sudahlah, ayo kita makan malam bersama." Ajak Ganan langsung keluar menuju ruang makan.


Keduanya tidak berjalan iringan, melainkan depan belakang. Kedua orang Ganan melihatnya sedikit curiga akan sikap keduanya.

__ADS_1


Ada apa dengan putraku? biasanya itu anak selalu menggandeng tangan istrinya. Apa mungkin malu karena di kampung? tapi kenapa Maura dandan begitu rapi. Mau kemana mereka berdua? batin Nyonya Qinan berusaha menebak sikap anak dan menantunya.


"Ayo duduklah, kita sudah menunggu kalian berdua." Pinta Ibunya Maura.


"Iya, Ma..." jawab Maura dan Ganan.


Kedua orang tua Ganan dan Ibunya Maura, menatap putra putrinya diluar dugaan. Pasalnya tidak biasanya duduknya renggang, ingin bertanya namun takut tersinggung.


Maura tiba tiba berubah menjadi pusing dan juga mual setelah menghirup aroma masakan yang sudah tersaji dimeja makan. Maura dengan sigap langsung menutup hidungnya dengan kedua telapak tangannya, semua yang ada didekatnya pun heran dengan tingkah Maura.


"Kamu kenapa? ada yang tidak enak lagi bau badannya?" tanya Ganan menebak. Sedangkan kedua orang tuanya maupun Ibu mertua kaget saat mendengar ucapan Ganan.


"Bukan, tidak ada yang bau badan kecuali kamu." Jawab Maura dengan enteng, lagi dan lagi yang mendengarkan ucapan Maura semua masih bingung dibuatnya.


"Terus aku harus menyingkir, begitu?" tanya Ganan sedikit bingung.


"Tidak, aku hanya tidak menyukai masakan yang ada bumbu bawang merah dan bawang putih. Perutku mual mencium bau masakan. Apalagi itu nasi, baunya sama sekali tidak enak." Jawab Maura yang tidak mengerti dengan kondisinya sendiri.


"Apa, Ma? ngidam? apa itu ngidam?" ucap Ganan dan bertanya. Sedangkan Maura masih bengong, antara percaya dan tidak percaya. Dirinya masih bingung untuk mengartikan perasaannya, karena pikirannya masih entah ada dimana. Karena bagi maura begitu dasyatnya merasakan ngidam, ditambah lagi baru pertama merasakan perubahan pada dirinya sendiri.


"Ngidam itu.... hamil, Nak... sebentar lagi kamu akan menjadi orang tua. Apakah kamu sudah siap untuk menjadi orang tua?" jawab Ibu mertua mengingatkan dan juga menjelaskan. Ganan sendiri seperti tidak percaya, namun tetap harus percaya.


"Benarkah? kamu sedang hamil,sayang?" tanya Ganan sambil menatap wajah istrinya.


"Aku kurang tahu, karena aku belum memeriksanya." Jawab Maura yang masih bingung.


"Nanti biar Papa yang nyuruh pak Tono untuk membeli tespack di apotek terdekat." Ucap sang Ayah menimpali.


"Selamat ya, sayang.. Semoga hasilnya benar benar positif, dan sebentar lagi kalian berdua akan menjadi seorang Ayah dan Ibu." Ucap sang Ibu memberi selamat.

__ADS_1


"Aamiin, terimakasih Ma.." jawab keduanya.


"Alhamdulillah, semoga benar positif ya, Nak.." ucap Ibunya Maura merasa sangat bahagaia mendengar anaknya tengah hamil. Meski belum benar kenyataannya.


"Ngobrolnya nanti lagi, sekarang kita lanjutkan makan malamnya. Nanti keburu dingin tidak enak loh. Dan buat kamu Maura, katakan saja apa yang kamu inginkan. Nanti biar Mama carikan makanan yang kamu inginkan." Ucap Ibu mertua.


"Maura pingin makan buah Apel dan Pir saja Ma, sepertinya sangat segar." Jawab Maura.


"Baik lah, biar Mama yang akan mengambilkan buah Apel dan Pir." Ucap Ibunya menimpali.


"Tidak usah, Ma.. biar Maura yang mengambilnya. Mama nikmati saja makan malamnya, Maura cuman mengambil buah saja." Jawab Maura yang langsung bergegas pergi kedapur untuk mengambil buah di dalam kulkas.


Sampai di dapur, Maura segera mengambil buah dan mengupasnya. Setelah selesai, Maura kembali ke ruang makan. Sedangkan Maura sendiri menikmati buah yang sudah dikupasnya, buah tersebut tidak pakai lama telah habis disapu oleh Maura dalam wadah. Semua heran melihat pola makannya, karena Maura biasanya hanya bisa menghabisi separuh apel dan separuh Pir. Tetapi saat ini bisa makan buah Pir dua biji dan apel dua biji.


Setelah menikmati makan malam, kini saatnya untuk beristirahat. Ganan dan Maura dan juga kedua orang tuanya segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


Didalam kamar, Ganan masih mencari ide agar dirinya masih bisa tidur di atas tempat tidur yang sama.


Kenapa harus bingung, pakai pembatas guling pun bisa. Gampang... jika istriku sudah terlelap tidurnya aku buang itu guling. Aku yakin Maura tidak bisa lepas dari kebiasaannya. Batin Ganan senyum mengembang.


"Sayang, kita tidurnya pakai pembatas guling saja ya, sayang... boleh kan?" pinta Ganan merayu.


"Boleh, tapi awas peluk peluk. Aku tidak mau, karena badanmu itu baunya tidak enak." Jawab Maura, dan Ganan pun sangat senang karena apa yang dipikirkan telah berhasil.


"Ingat! jangan memelukku." Ucap Maura memberi peringatan.


"Siap, Nona muda... aku akan patuhi prosedur dari kamu." Jawab Ganan tersenyum puas.


Lihat saja nanti, bahkan kamu tidak mau melepaskan pelukanmu. Aku yakin, kamu tidak bisa tidur nyenyak tanpa memeluk suamimu yang tampan ini. Batin Ganan penuh kemenangan.

__ADS_1


Karena rasa kantuknya yang tidak dapat ditahan, kini Maura terlelap dari tidurnya. Sedangkan Ganan langsung melakukan aksinya, yang dimana bantal gulingnya disingkirkan. Dan benar saja, Maura memeluk suaminya. Terlihat diwajah Ganan terasa seperti mendapatkan kemenangan.


__ADS_2