
“sya kamu beneran mau pindah?” tanya mama kaila
lirih
“mama biarin saja, anakmu sudah menikah jadi sudah
harus mandiri. Mas sudah lihat rumahnya kok dan itu lumayan bagus” ucap ayah
virza mengingatkan mama kaila untuk terlalu ikut campur urusan rumah tangga
anaknya
“iya mah, nanti ningrum sering-sering mampir sini
kok” balas ningrum
“iya mah, nanti kita bakal sering nginep sini”
tambah rafasya
“iya bagus kalau kalian mau belajar mandiri. Oh ya
rumah kalian dekat rumah kasih ya?” tanya kakek hafizhan memastikan letak rumah
ningrum dan rafasya yang baru
“iya kek, kebetulan ayah punya kenalan yang jual
rumah di samping rumah kasih itu. Dan ayah lihat rumahnya lumayan dan juga
harga yang mampu rafasya keluarkan” balas rafasya
Mama kaila tak terlalu mendengar cerita rumah
ningrum, dia hanya focus menatap ningrum tak rela jika ia pindah rumah “tapi
kamu gak bisa masak nak, nanti gimana?” tanya mama kaila khawatir
“ningrum sudah bilang mau belajar masak sama bi
rania, pelayan rumah kasih kok mah. Bi rania pintar masak. Jugaan kakak sudah
siapin pelayan untuk masak sampai ningrum bisa masak” ucap ningrum
“iya mah, rafasya sudah siapin 2 pembantu di sana
untuk membantu pekerjaan ningrum jadi mama jangan khawatir” balas rafasya
“tapi rum” mama kaila menggenggam tangan ningrum tak rela melepas kepergian anak bungsunya
“anak perempuan harus ikut suaminya kai” ucap ayah
virza mengingatkan mama kaila
Mama kaila menunduk patuh ucapan suaminya “iya mas”
balas mama kaila
***
Ningrum memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya
dengan menenteng buku kuliahnya
“kasih” sapa ningrum saat melihat kasih di antar
raka tak jauh dari tempat ia memarkir mobil
“om” ningrum menyium pinggung tangan om raka “kamu gak di antar rafasya ?” tanya raka
yang melihat ningrum berangkat seorang diri
“engga om, kakak lagi sibuk. Lagian nanti ningrum
mau belanja perabotan rumah jadi lebih baik bawa mobil sendiri ” balas ningrum
“kamu mau beli perabotan? Kok kamu gak bilang? Aku
sudah terlanjur bikin janji ke dokter” kasih menoleh kearah raka “apa kita tunda jadwal periksa kandungan ya
bang?” tanya kasih meminta pendapat suaminya
“jangan kasih, aku bisa belanja sendiri kok” tolak ningrum tak enak hati
“beneran gak papa?” tanya raka memastikan
__ADS_1
“gak papa om, kan ningrum strong” ucap ningrum
mengepalkan tangannya ke atas
“ya sudah yuk masuk kelas rum”ajak kasih menggandeng tangan ningrum untuk masuk ke
kelas mereka
“hati-hati ya bang” ucap kasih melambaikan tangannya
pada raka
Ningrum tersenyum melihat raut muka kasih yang
begitu berbinar
“cerah banget sih yang sudah nikah?” tanya ningrum
menyenggol lengan kasih
“iya dong, kamu juga dulu gitu” balas kasih
“sekarang juga masih” balas ningrum terkekeh
Sepanjang perjalanan ke kelas mereka kasih
mendapatkan ucapan selamat atas pernikahannya. Semua orang tahu pernikahan
kasih karena pernikahan mereka muncul di surat kabar dan headline berita,
karena kasih dan raka adalah anak pengusaha terkenal
Kasih dan ningrum duduk menunggu dosennya masuk
“kamu gak umumin pernikahanmu?” tanya kasih
“nanti saja, lagian kan rencananya kita adain
resepsi setelah kak rafasya menyelesaikan S2, nya” ucap ningrum
“terserah gimana baiknya kamu aja rum” balas kasih
“sekarang aku panggilnya kasih atau tante nih?’
“kasih saja ah, aneh kalau kamu manggil aku tante”
balas kasih
“tapi kan kamu istri om aku” balas ningrum
“ya tapi aneh rum” balas kasih
“iya ya” kekeh ningrum
***
Ningrum berjalan melihat-lihat furniture di salah
satu toko furniture terbesar di Jakarta “apa ya?” gumam ningrum bingung memilih
sofa yang akan ia pakai
“sedang lihat apa non?” tanya jonathan berdiri di belakang ningrum mendekat ke
telinga ningrum
“astaga” ningrum memegang dadanya terkejut dengan
kedatangan jonathan yang tiba-tiba
Jonathan terkekeh melihat reaksi ningrum “maaf,
mengagetkanmu ya?” tanya jonathan
Ningrum sempat terenyuh meliht senyuman
jonathan tapi segera menepisnya “ah gak
papa mas, lagi apa di sini?” tanya ningrum
“ah lagi ngecek persediaan barang sama laporan
keuangan disini” balas jonathan
“ini perusahaan mas?” tanya ningrum
__ADS_1
“emm gimana ya bilangnya? Intinya aku bertugas
mengurus cabang ini” balas jonathan tersenyum
“oh” balas ningrum mengangguk
“kau sedang memilih perabotan untuk rumah barumu
ya?” tanya jonathan
“iya” balas ningrum
“ya sudah kau pilih saja mana yang kau suka, nanti
pegawaiku akan mengantar ke rumahmu dengan selamat” ucap jonathan ramah
“tapi aku bingung mas, mau pilih yang mana? Ucap
ningrum meletakkan tangannya di dagu melihat contoh furniture yang akan ningrum
pilih
“mau mas bantu pilih?” tanya jonathan
“boleh” balas ningrum mengangguk
Akhirnya ningrum dan jonathan memilih beberapa
furniture rumah baru ningrum dengan cepat karena bantuan jonathan yang memang
menguasai bidang ini dengan baik
“makasih ya mas sudah bantu ningrum, dengan bantuan
mas jadi lebih cepet deh ningrum pilihnya” ucap ningrum
“iya
sama-sama. Kebetulan mas jago di bidang ini jadi lebih mudah” balas jonathan
Jonathan memanggil pegawai tokonya dan memerintahkan
beberapa hal padanya
“rum, tadi mas sudah suruh anter furniture kamu ke
rumah barumu ” ucap jonathan
Ningrum menautkan kedua alisnya “emangnya mas jo
tahu rumah ningrum di mana?” tanya ningrum
“di sebelah rumah ku kan?” balas jonathan
Ningrum membuka matanya “dari mana kakak tahu?”
tanya ningrum
“karena itu rumahku dulu jadi mas tahu dong , mas
yang desain sendiri loh” jelas jonathan
“loh kenapa malah mas jual? Perasaan mas gak butuh
uang deh ” tanya ningrum penasaran
“gak papa, lagian rumah kasih kan sekarang
dilimpahkan ke mas, dan rumah itu juga jarang di pakai jadi biar ada yang
mengurusnya. Lagian kebetulan waktu itu aku dengar mertuamu sedang mencari
rumah untukmu jadi aku memberikannya padamu” balas jonathan
“terima kasih ya mas, pantesan harga rumah itu
segitu. Padahal rumah itu harusnya lebih mahal dari yang di beli kak rafasya”
balas ningrum
“tapi rum, jangan bilang ke rafasya ya, kalau itu dulunya rumah mas , takut dia
tak nyaman. Suami kamu masih dalam proses mandiri” ucap jonathan
Ningrum mengangguk “iya mas” balas ningrum mengangguk
__ADS_1