
Setelah memeriksa berkas di kantornya raka berniat pulang dari kantornya
Raka berkendara perlahan melewati jalanan ibukota yang masih padat karena masih pukul 7 malam
“ningrum sudah pulang belum ya” gumam raka, kemudian menekan panggilan telfon melalui aplikasi di mobilnya
“sya dimana?” tanya raka saat sambungan telponnya sudah di angkat
“lagi jalan pulang, tapi mau mampir nyari makan
dulu, katanya ningrum pengen camilan malam” balas rafasya
“jadi kamu sudah jemput ningrum?” tanya raka
“iya, sudah om” balas rafasya
“ya sudah kalau gitu” raka mengakhiri panggilannya
Raka menyipitkan matanya melihat seorang yang ia kenal sedang berdiri di pinggiran jalan. Raka memutuskan memutar setirnya menepi ke hadapan orang itu
raka membuka jendela mobilnya “sedang apa kau disini?” tanya raka
Perempuan itu menoleh, dan tersenyum ramah “benerin mobil kasih bang” balas kasih menunjuk mobilnya yang sedang terparkir di bengkel dan di periksa oleh montir
raka melirik mobil kasih“mobilmu kenapa?” tanya raka
Kasih mengedikan bahunya “kasih gak tahu, kasih
gak ngerti sama sekali dengan mobil, yang kasih tahu mobilnya gak bisa jalan” balas kasih jujur
Raka memutuskan untuk turun dan bertanya pada
montir bengkel agar masalah mobil kasih bisa lebih jelas ia tahu
Kasih memilih duduk di tempat duduk yang terbuat dari beton itu, menatap raka yang sedang berbincang dengan montir " ternyata gak menunggu waktu lama kita berjumpa lagi" batin kasih menyunggingkan senyumnya ke arah raka
Setelah selesai berbincang raka menghampiri kasih “kamu salah kasih bahan bakar?” tanya raka menautkan kedua alisnya
Kasih menautkan kedua alisnya “apa aku salah ngisi bahan bakar? bukankan semua bahan bakar mobil itu sama? ” balas kasih dengan muka polosnya
Raka membuka mulutnya lebar tak percaya “kamu gak tahu kalau mobilmu harus diisi bahan bakar apa?” tanya raka
Kasih menggeleng “gak, biasanya mas dimas, sopir di rumah yang isiin bensin, kasih tinggal pakai. Tapi tadi salah kasih sih kebanyakan muter-muter dulu, biasanya kan kasih langsung pulang jadi bensinnya keburu abis” balas kasih datar
“terus kamu sudah telfon sopir kamu untuk jemput?” tanya raka
Kasih menggeleng “belum, charger mas montir beda sama punya kasih, charger kasih di rumah, gak dibawa” kasih menunjukkan ponselnya yang mati
Raka menghela nafasnya kasar “emang orang tua kamu gak ngekhawatirin kamu?” tanya raka
Kasih menggeleng “palingan kalau kasih gak
pulang-pulang, mas ojo cariin kasih”jawab kasih polos
raka menaikan sebelah alisnya “mas ojo siapa?” tanya raka
“bodyguard kasih, biasanya ikutin kasih kemanapun, tapi hari ini kasih pengen main jadi kasih minta mas ojo di rumah aja” balas
__ADS_1
kasih
“emang orang tua kamu gak bakal marahin bodyguard kamu, kalau lalai tugas? ” tanya raka
Kasih tersenyum manis “gak, nelfon kasih aja gak
pernah apalagi tahu kalau bodyguard kasih jagain kasih atau tidak” balas kasih
“haaaa? ”raka menganga lebar dengan jawaban kasih
kasih terkekeh melihat ekspresi wajah raka “mami sama papi kasih sibuk bang, yang biasanya
urus pekerja dan gaji mereka aja om kasih yang di jerman” ucap kasih
“ya sudah biar abang yang antar kamu” ucap raka
Kasih tersenyum simpul tatkala raka menyebut
dirinya abang “terima kasih” kasih masuk ke dalam mobil raka
raka melakukan mobilnya perlahan mengikuti GPS yang di atur kasih untuk menuju rumahnyan
“aku dengar dari ningrum kamu tinggal sendiri?” tanya raka di sela-sela kegiatan mengemudinya
“enggak kok, kasih gak sendiri” balas kasih
“bukannya ningrum bilang kalau orangtuamu tinggal di belanda dan kamu anak tunggal” ucap raka
kasih terkekeh “gak nyangka ningrum cerita ini ke abang” gumam kasih
“hah?” tanya raka takut salah mendengar
berapa ya” kasih mengingat –ingat jumlah pegawai di rumahnya “kalau gak salah
30 apa ya…. Ah pokoknya sekitaran itu deh. jadi kasih kan gak sendirian di rumah" balas kasih agak lupa jumlah pegawainya
“berarti rumahmu cukup besar?” tanya raka yang merasa dengan jumlah pegawai segitu cukup banyak, di rumahnya saja hanya 18 pekerja
“besar gak ya” kasih tampak berpikir “mungkin
cukup besar karena kasih sering ngerasa sendiri di sana” balas kasih tersenyum ramah
Raka menggelengkan kepalanya melihat kelakuan
kasih yang aneh menurutnya
“nanti depan sana belok ya bang” pinta kasih
menunjukkan jalan ke rumahnya yang tak terlihat jelas di GPS saat sudah masuk kompleks, karena rumah kasih berlokasi di pinggiran kota
Raka menuruti arahan kasih “sampai” gumam kasih menunjukkan rumah kasih
yang terbilang cukup besar, lebih besar dari rumahnya tapi mungkin tak kalah dengan rumah mama kaila kakaknya yang terbilang cukup besar
“kamu tinggal disini?” tanya raka memindai rumah kasih
“iya bang, yuk masuk”ajak kasih sopan
__ADS_1
Raka turun dari mobilnya tanpa sadar mengikuti
kasih masuk ke dalam rumahnya
“rumahmu sepi ya?” tanya raka melirik sekeliling yang tak terlihat 1 orang pun hanya satpam yang berjaga di pintu gerbang saja
“kalau jam segini iya bang, soalnya mereka tinggal
di rumah belakang “tunjuk kasih pada rumah yang cukup besar tapi tak sebesar rumah utama yang berada di bagian belakang rumah utama
“emangnya rumah kamu rame jam berapa?” tanya raka
“pagi, saat bersih-bersih.”balas kasih
“aku buatin minum dulu ya” kasih menuju pantry
untuk membuatkan minuman untuk raka
Raka melirik sekeliling, terdapat banyak foto
kasih di sana
“nih kak” kasih menyodorkan minuman hangat untuk raka
“foto orang tuamu gak ada?” tanya raka yang hanya
melihat foto kasih tanpa ada foto lain
“gak, mereka gak suka foto, jadi Cuma ada foto
kasih” balas kasih tersenyum
Raka menghabiskan sisa minumannya “abang pulang ya, sudah malam” pamit raka melirik jam dinding rumah kasih yang sudah menunjukkan pukul 8.30 malam
Kasih mengangguk "iya, terima kasih ya bang sudah anter kasih pulang ke rumah" balas kasih
mengantarkan raka sampai depan pintu
Setelah mobil raka keluar dari gerbang rumahnya,
kasih merubah raut wajahnya seketika
“sendiri lagi”gumam kasih berjalan tertatih menuju
kamarnya yang berada di lantai 3 rumahnya
padahal di rumahnya terdapat lift tapi kasih lebih memilih berjalan kaki untuk naik ke lantai 3
***
Kasih berpapasan dengan ningrum di parkiran
jurusan mereka “kamu ganti mobil lagi?” tanya ningrum yang melihat mobil kasih
berbeda dengan mobil yang mereka pakai kemarin
“enggak, mobilku kemarin rusak, jadi pakai yang
__ADS_1
ini untuk ke kampus”balas kasih datar
“oh”balas ningrum mengangguk "banyak juga mobilnya ya " batin ningrum