Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Permintaan kedua orang tua


__ADS_3

Nessa yang sibuk melihat contoh pakaian pernikahan, sampai sampai lupa dengan suaminya yang kini tengah menikmati kuehnya. Karena merasa sudah cukup melihat foto foto model baju pernikahan, Nessa langsung menengok ke arah samping. Dan benar saja, suaminya tengah menikmati kuehnya entah sudah berapa potong masuk kedalam perutnya.


"Sayang... maafkan aku, tadi aku asikan melihat model baju pernikahan. Habisnya cantik cantik modelnya, jadi sampai lupa kalau suamiku sedang menikmati kueh." Ucap Nessa merasa bersalah dan perasaannya pun ikut cemas.


"Sudah kenyang. Aku mau istirahat, kamu lanjutkan saja mengobrolnya. Jangan lupa, buatkan kueh untuk kita bawa pulang, karena aku sangat ketagihan." Jawab Tirta dan memintanya lagi. Nessa yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.


Sedangkan Putri, masih fokus dengan ponselnya. Sampai sampai tidak mendengar obrolan Nessa dengan Tirta.


"Kak, Mama ada dimana?" tanya Nessa.


"Diteras samping rumah," jawabnya sambil memainkan ponselnya. Nessa segera memotong kuehnya dan dibawa ke teras samping rumah, untuk menikmati kueh dan teh hangat bersama kedua orang tuanya.


"Ma... Pa... Nessa bawa kueh, tenang... rasa manisnya hanya samar samar di lidah. Dan minumannya hanya teh pahit, bukankah kita selalu menikmatinya bersama, kan?" ucap Nessa mengagetkan.


"Nessa, bikin Mama dan Papa kaget saja. Kasihan Papa jika dikagetin begitu. Oh iya, suami kamu mana? sudah diambilkan kuehnya belum?" Jawab Ibunya dan bertanya.


"Suami Nessa sudah motong kueh duluan, Ma... Oh iya, kapan kak Putri akan menikah?" tanya Nessa penasaran.


"Sebentar lagi, pernikahannya saja tidak ada resepsi. Kakak kamu menolaknya, katanya mau menikah di KUA saja. Mama sebenarnya ingin menggelar resepsi, tapi kakak kamu tetap saja menolak." Jawab Ibunya sedih.


"Kenapa kak Putri menolak, Ma? pasti ada sebabnya." tanya Nessa masih penasaran.


"Kakak kamu malu, jika nanti mendapat omongan dari para tetangga maupun orang lain. Karena masa lalu kakak kamu, hingga memilih untuk menikah di KUA." Jawab sangat Ibu.


"Nanti Nessa yang akan mencoba untuk merayu kak Putri, semoga saja kak Putri mau mengikuti omongan Nessa ya, Ma..." ucap Putri meyakinkan. Nessa tidak ingin melihat Ibunya terlihat sedih. Ditambah lagi putrinya akan segera menikah dalam waktu dekat.


"Semoga saja, kakak kamu mau menuruti omongan kamu." Jawab Ibunya.


"Kalau begitu, Nessa mau menemui kakak sebentar ya, Ma." Ucap Nessa segera mememui sang kakak. Ibu dan Ayahnya mengangguk.

__ADS_1


Karena tidak ingin melihat kedua orang tuanya bersedih, Nessa sebisa mungkin untuk membujuk kakaknya. Agar keingan kedua orang tuanya tercapai, meski harus mengemis sekalipun. Nessa akan berusaha meyakinkan kakaknya, karena mau bagaimanapun kakaknya adalah bagian keluarganya. Meski bukan darah daging dari kedua orang tuanya.


Tok tok tok suara ketukan pintu terdengar oleh Putri, kemudian Putri segera membukanya.


Ceklek, Putri membuka pintu kamarnya.


"Kak Putri, aku boleh masuk, kan?" tanya Nessa.


"Boleh, ada apa?" jawab Putri, dan Nessa pun masuk ke kamar kakaknya dan juga langsung menutup pintu kamar.


"Kak," ucap Nessa.


"Iya, ada apa? katakan." tanya sang kakak penasaran.


"Benarkah, kak putri menikahnya mau di KUA?" tanya Nessa sedikit cemas.


"Kak, katakan." Pinta Nessa penuh harap.


"Baiklah, akan kakak jawab pertanyaan kamu. Sebenarnya kakak juga ingin menikah tidak di KUA, dan kakak inginnya dirumah ini yang akan menjadi saksi pernikahan kakak. Tetapi... kakak malu, kakak takut menjadi bahan omongan orang orang diluar sana. Kakak tidak ingin Ibu mendengarnya, jadi kakak putuskan untuk menikah di KUA. Meski Ezal juga menolak, tetapi kakak sudah memohon dengan Ezal untuk menuruti keinginan kakak. Dan benar, Ezal mau menuruti kemauan kakak." Jawab sang kakak menjelaskan.


"Tapi, kak... kedua orang tua kita ingin kakak menikah dirumah ini, meski tidak ada resepsi besar. Setidaknya Mama dan Papa merasa tenang, apa yang diharapkannya terwujud. Jika pernikahan hanya sekali, maka kakak menerima permintaan Papa dan Mama, kak.. aku mohon ya kak.. wujudkan permintaan kedua orang tua kita. Kakak tidak perlu memikirkan biaya, semua pasti akan ada jalan keluarnya. Yang terpenting keinginan kedua orang tua kita terwujud, setidaknya senyumnya tanpa menyimpan perasaan bersalah." Ucap Nessa memohon.


"Baiklah, jika memang Ayah dan Ibu menginginkannya. Kakak akan mewujudkannya, kakak janji tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu." Jawab sang kakak, kemudian segera memeluk Nessa. Keduanya terasa lega, tidak ada lagi beban yang dipikirkan.


"Kalau begitu, aku mau membuat kueh. Karena suamiku memintanya, dan nanti malam aku akan pulang. Aku akan kemari jika pernikahan kakak digelar. Tidak apa apa, kan?" ucap Nessa tersenyum.


"Iya, tidak apa apa. Semoga kamu segera mendapatkan momongan. Aamiin..." jawab sang kakak mendoakan.


"Aamiin.. terimakasih atas doanya kak. Begitu juga dengan kakak, semoga dilancarkan acara pernikahan kakak. Aamiin..." ucap Nessa yang juga mendoakan kakaknya.

__ADS_1


"Aku keluar ya, kakak tidak perlu membantuku membuat kueh. Lebih baik kakak istirahat yang cukup, agar dihari pernikahan kakak tidak merasa capek." Ucap Nessa lagi.


Nessa segera keluar dan menuju dapur, seperti yang diinginkan suaminya. Nessa membuat kueh yang lebih cantik dan juga menggoda, tidak seperti yang tadi siang. Nessa sengaja membuat spongbob, karena dirinya teringat saat melayangkan kueh ulang tahun ke wajah suaminya tanpa sengaja. Tetapi jika sekarang lain, kuehnya lebih menggoda dan seperti kueh untuk pernikahan. Dengan telaten Nessa membuatnya sebagus mungkin, karena kuehnya pun akan diperlihatkan didepan mertuanya.


Setelah semuanya selesai dan dapur pun sudah terlihat bersih. Namun sebelumnya Nessa segera mengganti pakaiannya.


Ceklek, Nessa membuka pintu kamar. Dan dilihatnya sosok laki laki yang terlihat sangat tampan, yang dimana sudah siap untuk pulang.


"Kenapa berkacak pinggang? terlalu tampan kah suami kamu ini?" tanya Tirta sambil senyum menggoda dan juga memicingkan alisnya. Nessa yang melihatnya bukannya terpesona, justru berubah bergidik ngeri.


"Iya, sangat tampan. Bahkan aku sampai pusing melihat ekpresi kamu." Jawabnya ketus.


"Cepetan ganti bajumu, nanti keburu Mama dan Papa kelamaan nunggu kita makan malam di rumah." Perintahnya, Nessa pun segera mengganti pakaiannya. Setelah merasa sudah siap, Nessa dan Tirta segera keluar dari kamar.


Saat sudah berada di ruang tamu, Nessa segera menemui kedua orang tuanya untuk pamit pulang.


Tok tok tok suara ketukan pintu dari Nessa mengagetkan kedua orang tuanya yang sedang di dalam. Ibunya segera membuka pintunya.


Ceklek, Ibunya membuka pintu kamar.


"Masuklah, Ayah sedang tiduran." Ucap Ibunya, Nessa dan juga suaminya kini masuk kekamar dan segera mendekati Ayahnya yang sedang tiduran.


"Pa... Ma.. kita berdua mau pamit pulang. Semoga Papa cepat pulih kembali, karena sebentar lagi kak Putri akan menikah. Besok di hari pernikahan kak Putri, kita berdua akan datang kemari. Tinggal menghitung hari, kan Ma?" ucap Nessa bertanya.


"Iya, tinggal menghitung hari kakak kamu akan segera menikah." Jawab Ibunya.


"Kalau begitu, kita pamit ya Pa.. Ma..." ucap Tirta menimpali.


"Hati hati dijalan," jawab Ibunya. Nessa maupun Tirta segera mencium punggung tangan kedua orang tua dan berpamitan.

__ADS_1


__ADS_2