
Setelah Ganan dan Dana pulang, kini tinggal Tirta yang masih berada di Restoran. Tirta segera menemui Ibunya untuk menanyakan perkembangan Restoran.
"Dimana Ganan dan Dana?" tanya sang Ibu sambil celingukan mencari sosok keponakannya.
"Ganan sudah pulang bersama Dana, Ma... ada apa?" jawab Tirta balik bertanya dan duduk di dekat Ibunya.
"Tidak apa apa, kamu tidak langsung pulang? kenapa masih berada di Restoran, ada apa?" ucap sang Ibu bertanya kembali.
"Tirta hanya ingin memeriksa perkembangan Restoran ini, dan juga Tirta rencananya ingin membuka cabang di daerah sekitar rumah orang tuanya Nessa, Ma... bolehkah?" jawab Tirta meminta pendapat.
"Tentu saja boleh, tetapi siapa yang akan dipercaya?" tanya Ibunya lagi.
"Ada, Ma... pokoknya sudah ada yang akan mengelolanya. Kalau begitu, Tirta pamit pulang dulu ya, Ma." Jawab Tirta pamit pulang.
"Hati hati," ucap Ibunya. Tirta pun mengangguk dan segera bergegas pergi meninggalkan Restorannya.
Didalam perjalanan pulang, Tirta kembali menatap ponselnya. Dan dilihatnya tingkah istrinya yang menggemaskan, sampai sampai sudah tidak sabar ingin ingin bertemu dengan istrinya. Tirta tidak ada henti hentinya untuk tersenyum yang tidak jelas saat menatap ponselnya, pak Sopi yang melihatnya dibuat heran kepada Majikannya.
Dan sampailah didepan rumah mertua, Tirta segera turun dari mobilnya, sedangkan pak Sopi langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kemudian Tirta segera masuk dalam rumah, yang dimana kedua mata Tirta tertuju dengan sebuah kueh yang mirip kueh ulang tahun diatas meja.
__ADS_1
Kenapa sepi, pada kemana semuanya? ini kueh sebenarnya untuk apaan, dan apa ada orang yang pesan? batin Tirta mencoba menebak.
Tirta masih berusaha menerka nerka apa maksud dari kueh tersebut. Namun masih saja belum mengetahui jawabannya. Karena dirinya malas pusing, Tirta pun langsung masuk kedalam kamarnya.
Ceklek, suara membuka pintu kamar rupanya tidak mengagetkan Nessa yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Tanpa pikir panjang, Tirta menjatuhkan badannya ke tempat tidur. Nessa yang sedang asik melamun, tiba tiba baru tersadar jika dikagetkan keberadaan suaminya yang sudah berada di sebelahnya. Nessa segera mengganti posisinya berubah menjadi berhadapan dengan suaminya. Dengan lekat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Sayang, kamu ngagetin saja. Kenapa tidak ketuk pintu dulu, sih..." ucap Nessa yang merasa dikagetkan.
"Kamu itu yang kebanyakan melamun, sampai sampai baru menyadarinya. Kamu sedang melamunin siapa? hah?" jawab Tirta bertanya balik.
"Aku sedang melamunin ketampanan kamu, sayang... kamu yang terlihat galak rupanya tidak segalak saat kueh ulang tahun melayang kearah kamu." Ucap Nessa hanya tersenyum dan menahan tawa.
"Baik lah, sekarang segera mandi. Agar badan kamu tidak lusuh. Ayo, cepat bangun dan segeralah mandi." Perintah Nessa, suaminya pun menurutinya apa yang sudah dimintainya.
Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Nessa masih merebahkan badannya diatas tempat tidur.
Tidak pernah aku menyangka, akan bersuamikan dengan orang yang sudah aku membuatnya kesal. Ternyata... jodoh itu tidak pernah diduga. Bukankah sangat mustahil, aku yang hanya gadis pinggiran yang bermimpi mendapatkan pangeran yang sempurna. Kini mimpiku itu telah nyata adanya, bahkan sampai saat ini aku masih seperti mimpi. Bayangkan saja, dia yang tampan, tajir, bahkan wanita yang sejajar dengannya pun mengantri. Lah, apalah aku. Yang dipaksa menikah dengannya aku tolak. Sungguh diluar nalarku, bahkan aku beragumen seburuk buruknya tentangnya. Batin Nessa yang tanpa disadari, wajah suaminya sudah berada diatasnya yang sedang memandangi wajah istrinya yang senyum senyum sendiri tidak jelas.
"Kamu tidak lagi kambuh, kan?" tanya Tirta mengagetkan. Kedua mata Nessa pun terbelalak saat kedua mata suaminya tengah menatapnya dengan lekat, dan tidak ada satu jengkal jarak diantara keduanya. Nessa dibuat kikuk oleh suaminya, sampai sampai dirinya tidak bisa mengontrol detak jantungnya.
__ADS_1
"Ayo cepat, aku mau kueh bikinan kueh kamu. Aku minta gantinya yang dulu, kamu tahu... betapa malunya aku waktu itu. Mana mukaku sudah penuh cream kueh, ditambah lagi diguyur hujan. Bayangkan saja sendiri, bagaimana malunya aku. Tidak tahunya istriku sendiri pelakunya, sungguh Dunia ini sempit." Ucap Tirta segera berdiri dan merapihkan pakaiannya. Sedangkan Nessa tersenyum mengembang.
"Maafkan aku, sayang... dulu aku tidak sengaja. Karena gara gara Ibu yang memesan kueh minta dibuka, terus ada anak anak kejar kejaran. Akhirnya kuehnya melayang tepat pada sasaran." Jawab Nessa tanpa mencerna ucapan terakhirnya.
"Apa kamu bilang, tepat pada sasaran?" tanya Tirta menatap wajah istrinya dengan sorotan matanya yang terlihat seperti ingin menerkam.
"Aduh, aku salah ucap. Bukan begitu maksudku, sayang.. jangan percaya dengan omonganku.. ya..." rengek Nessa yang masih saja salah menyusun kosa katanya.
"Apa? jangan percaya sama omongan kamu. Ngeri sekali ucapanmu. Aaaah sudah lah, ayo keluar. Aku sudah tidak sabar ingin menikmati kueh bikinan kamu." Ucap Tirta yang lupa akan dirinya yang sudah melihat aktivitas istrinya lewat ponselnya melalui CCTV yang terpasang dirumah orang tua Nessa.
"Tahu dari mana kamu, kalau aku membuat kueh. Perasaan aku belum mengatakannya kepadamu, kalau membuat kueh." Jawab Nessa balik bertanya dan mencoba mengingatnya, namun tetap saja tidak merasa memberitahu suaminya. Namun tiba tiba dirinya dikejutkan saat menatap kamera yang berada diatas, Nessa pun sadar akan CCTV yang dipasang oleh Suaminya.
"Ooooh jadi kamera itu, yang membuatmu mengetahui tentang aktivitasku. Pantas saja, sok sok tahu seperti peramal. Hemmmm..." ucap Nessa lagi. Tirta sendiri tersenyum lebar.
"Aku hanya tidak ingin terjadi apa apa terhadapmu. Itu saja, dan aku takut ada orang yang akan melukaimu. Sudahlah, ayo kita keluar." Jawab Tirta, keduanya segera keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
Sedangkan Putri yang sedari tadi sedang sibuk memainkan ponselnya, entah apa yang sedang dilihatnya. Nessa sendiri penasaran dan segera duduk disamping kakaknya. Tirta yang sudah tidak sabar, akhirnya memotong kueh buatan istrinya.
"Kak Putri sedang sibuk ngapain, kak..?" tanya Nessa penasaran.
__ADS_1
"Kakak lagi sibuk memilih baju untuk dihari pernikahan kakak, karena kakak ingin terlihat cantik. Pernikahan hanya sekali, jadi harus dibuat spesial." Jawab sang kakak mrnjelaskan, sedangkan suami Nessa masih fokus menikati kueh buatan istrinya. Meski suami Nessa mendengarkan obrolan istrinya bersama kakaknya, Tirta sama sekali tidak meresponnya. Karena obrolan Nessa hanya obrolan para wanita. Pikir Tirta sambil menikmati kuehnya.