Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
pembicaraan yang tak ada hasil (season 2)


__ADS_3

Kasih berjalan dengan ragu menuju apotek, tapi kasih memberanikan diri untuk masuk


membeli sesuatu yang di butuhkan nya


Kasih berjalan ke arah penjaga apotek “mba mau beli alat tes kehamilan” pinta kasih pada penjaga apotek


penjaga apotek tersenyum ramah “mau


yang biasa atau yang bagus?” tanya penjaga apotek sopan


kasih nampak menimbang “yang bagusan mba,  5 ya” pinta kasih


Penjaga apotik mengambilkan pesanan kasih dan menaruh dalam paper bag, lalu memberikannya


pada kasih "nih mba pesanannya, semuanya 180 ribu"


kasih menerimanya dan memberikan uang 2 lembar 100 ribuan " ambil saja kembaliannya mba"


"Terima kasih" balas


Kasih memasukkan belanjaannya dalam tas yang ia bawa, yang kebetulan berukuran sedang


sehingga muat dengan belanjaan alat tes kehamilannya itu.


Kasih berjalan menghampiri ningrum yang kebetulan sudah selesai makan


“sudah selesai makan rum?” tanya kasih melihat meja ningrum yang sudah rapih


Ningrum mengangguk “sudah, yuk pergi” ningrum mengambil belanjaannya menggandeng tangan kasih menuju parkiran mall


Ningrum memasukan belanjaannya di kursi bagian belakang mobilnya


“yuk kasih”ajak ningrum stelah ia selesai memasukkan belanjaannya


kasih berjalan menuju kursi penumpang bagian depan


“tunggu” kasih mengenali tangan yang menahannya membuat jantungnya berpacu dengan cepat


raka memegang tangan kasih mengejutkan ningrum dan kasih karena kedatangan


Raka yang tiba-tiba


Kasih melepaskan tangan raka yang menggenggamnya “ gak perlu ada yang dibicarakan” balas kasih datar


“abang mohon kasih,  bicara lah dengan abang


sebentar saja” pinta raka


Kasih tak memperdulikan permintaan raka, berniat masuk mobil tapi di tahan raka “kita


harus bicara” ajak raka menarik tangan kasih paksa


“om jangan asal bawa kasih dong” teriak ningrum kesal melihat raka yang memaksa kasih mengikutinya


Raka menoleh ke arah ningrum tanpa melepaskan genggamannya walaupun kasih terus meronta untuk di lepaskan “ om harus bicara dengannya, kalau kamu masih sayang nyawa om, bantu om. Kalau tidak laporkan saja” raka membawa kasih masuk mobilnya dan bergegas membawa mobilnya menjauh


“om!” teriak ningrum kesal melihat mobil raka yang sudah menjauh


***

__ADS_1


Raka melajukan mobilnya membelah jalanan sedangkan kasih hanya terdiam menyandarkan kepalanya di jendela mobil raka


“kasih” panggil raka lirih


“hmmm” balas kasih datar


“abang mohon bicara lah, kalau kau ingin marah. Marahlah. Jika ingin menampar? Tampar


saja. Jangan diam saja” pinta raka tetap fokus dengan kemudinya


“aku gak marah sama abang” balas kasih


“lalu kenapa kau diam saja” balas raka


“aku tak tahu” balas kasih mulai berkaca-kaca


“tolong jangan membuatku bingung kasih. Apa yang harus aku lakukan? Apa kau ingin aku


menikahi mu?” tanya raka


Kasih tersenyum kecut “kalau kasih minta abang nikahin kasih, emang abang mau nikahin


kasih?” tanya kasih


“itu…” raka tak sanggup menjawab pertanyaan kasih karena dirinya masih bingung dengan


perasaannya pada kasih


“sudahlah bang, kita lupakan saja hal kemarin. Anggap tak terjadi apa-apa” balas kasih datar


Raka langsung memutar setirnya dan mengerem mendadak “aku gak bisa!” teriak raka menoleh ke arah kasih


balas raka lirih


“aku bilang gak papa, abang gak salah jadi lupakan saja. Anggap kita gak kenal saja” ucap kasih membuka pintu bergegas keluar mobil raka


“kasih” panggil raka


Raka bergegas mengejar kasih memeluk kasih dari belakang dengan erat


“maafkan aku kasih, aku harus apa? Kalau kau merasa aku kurang ajar karena menyentuhmu


padahal kita belum ada ikatan apapun , aku akan minta maaf padamu bila perlu pada orang tuamu dan memohon pengampunan mu juga keluargamu” ucap raka memohon


Kasih mendorong tubuh raka kasar “jangan berani-berani berkata apapun pada orang


tuaku!” bentak kasih


“lalu aku harus apa?!” tanya raka tak kalah berteriak


“menjauh lah dariku” balas kasih tajam


Raka menggeleng “aku gak bisa, aku benar-benar gak bisa kasih. Kau mengabaikan ku sebulan ini saja sudah benar-benar menyiksaku apalagi jika kita bersikap seolah tak saling mengenal” balas raka memegang dadanya “rasanya aku sulit bernafas karena kau mengabaikan ku” tambah raka


“itu hanya karena rasa bersalah abang sama kasih. Tapi kasih gak papa bang, lupakan


saja. seiring berjalannya waktu abang pasti bisa lupain kasih” pinta kasih


“andai ini semudah yang kau ucapkan, pasti akan abang lakukan. Kau tak tahu seberapa menderitanya aku selama 1 bulan ini” ucap raka lirih

__ADS_1


Kasih melihat jam tangannya, mulai khawatir “kita pulang sekarang bang” pinta kasih


lirih


“abang belum selesai bicara” balas raka


kasih memegang pelipisnya “jangan membuatku pusing bang!” teriak kasih


“kau jauh lebih membuatku pusing!” balas raka tak kalah berteriak


Kasih menghela nafas kasar “hari ini aku sudah janji pulang jam 6 sore dan ini sudah


jam 7, dia pasti mencari ku? Harusnya kau tahu saat abang berani mengusikku apa yang bisa dilakukan pengawal ku padamu” ucap kasih memberi peringatan


Raka mengingat peringatan orang tuanya semalam “apa hal tentangnya itu benar? ”


tanya  raka mulai gelisah


“semuanya


benar. Jadi kita pulang sekarang ” ajak kasih


***


Raka mengantarkan kasih sampai depan rumah “abang mohon balas pesan abang atau angkat


telpon abang” pinta raka


“lihat saja nanti” balas kasih bergegas keluar mobil raka  karena ini sudah pukul 8 malam, lewat dari janjinya dengan mas ojo yang melenceng cukup jauh


Kasih berjalan memasuki rumahnya dengan langkah tergesa-gesa


“nona baru pulang?” tanya mas ojo yang menunggu di ruang tamu


“iya mas, tadi keasyikan ngobrol ”balas kasih tersenyum menutupi kegugupannya


Mas ojo menghampiri kasih “ ya sudah tidur ya non, tadi non ningrum sudah antar


belanjaan nona pakai sopirnya, barang belanjaan nona sudah di kamar” ucap  mas ojo


Kasih mengangguk “iya mas, kasih ke atas dulu ya, sudah ngantuk pengen tidur” balas kasih bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai 3


“iya non” balas  mas ojo tersenyum


Mas ojo melihat langkah kasih yang makin menjauh menuju kamarnya yang berada di


lantai 3. Mas ojo  langsung merubah raut


wajahnya yang tersenyum menjadi dingin


Mas ojo berjalan ke halaman belakang yang sudah di tunggu para anak buahnya “


kalian sudah siap?” tanya mas ojo tegas


“siap pak” balas para bawahan mas ojo serempak


“ingat bi, jangan ijinkan non kasih keluar besok, dan juga jangan biarkan ada orang


lain yang masuk ke rumah ini” pinta mas ojo pada bi rania dengan tegas. Bi rania mengangguk patuh

__ADS_1


Mas ojo dan ke 8 bawahannya memasuki mobil hitam dengan beriringan


__ADS_2