Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter#3


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Tirta dan istrinya telah sampai di kediaman orang tua Nessa. Perasaan Nessa pun terasa sangat lega saat turun dari mobil. Berkali kali Nessa menghirup udara dimalam hari tepat didepan rumah orang tuanya.


Sang ibu pun penasaran diwaktu tengah malam tiba tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Dengan pelan dan mengendap endap langkah kakinya, ibu Bella segera mengintip dibalik tirai jendela.


Kedua bola mata ibu Bella terbelalak saat melihat ada yang sudah berdiri di depan pintu.


"Nessa... tengah malam begini datang ke rumah, ada apa? apakah sedang ada masalah dengan suaminya? atau... ada masalah dengan ibu mertuanya." Ucapnya lirih, kemudian segera membuka pintunya.


Ceklek, ibu Bella membuka pintunya, dan dilihatnya Nessa yang sedari tadi tarik ulur nafasnya berkali kali. Sang ibu pun heran dibuatnya, ditambah lagi Nessa yang berkali kali seperti belajar pernafasan.


"Nessa... Tirta... ada apa dengan kalian, kenapa tengah malam datang kerumah? apa kalian sedang berantem?" tanya sang ibu penasaran.


"Eeeh, mama.. Nessa mau tidur dirumah mama, Nessa kangen rumah." Jawab Nessa yang kemudian langsung ke rumah dan menuju ke kamarnya. Sedangkan ibunya heran melihat tingkah anaknya yang semakin aneh dilihatnya.


"Tirta, ada apa dengan Nessa?" tanyanya yang masih belum mengerti.


"Nessa ingin tidur dirumah mama, katanya sangat gerah tidur dirumah Tirta." Jawab Tirta.


"Oooh... mungkin sudah bawaan hamil, kamu yang sabar. Ditambah lagi semua yang sudah dianggapnya nyaman akan berubah tidak nyaman. Kalau begitu, ayo masuk. Di luar dingin, dan jugaan masih tengah malam. Lebih baik untuk istirahat." Ucap ibu Bella.


"Iya, ma. Tirta pikir juga begitu, mungkin memang bawaan bayi." Jawabnya lalu segera masuk.


"Istirahatlah, mama juga masih mengantuk. Mama istirahat dulu, ya." ucap sang ibu mertua berpamitan, sedangkan Tirta hanya tersenyum mengembang.


Tirta yang merasa masih mengantuk langsung segera masuk ke kamar.


Setelah sudah berada di dalam kamar, Tirta pun tercengang saat melihat isi kamar. Semua bantal dan juga selimut tersusun rapi diatas kursi.


"Apa maksudnya? kenapa selimut dan semua bantal di dusun rapi? dan sudah pulas lagi tidurnya. Apa iya, aku disuruh tidur di bawah? menyedihkan." Gerutu Tirta dan kemudian mengernyitkan dahinya.


Dengan pelan, Tirta mengambil bantal seperti pencuri agar sang istri tidak terbangun, kemudian Tirta meletakkan bantalnya didekay sang istri.

__ADS_1


"Berhasil." Ucapnya lirih dan segera tidur disampingnya.


Karena rasa kantuknya yang begitu berar dirasakan Nessa dan juga Tirta hingga keduanya tidur dengan sangat pulas.


Dilain sisi, Maura dan Ganan sedang tidur di rumah sakit. Yang dimana sebentar lagi Maura akan melahirkan. Rasa tidak nyaman pun kini dirasakan oleh Maura yang serba salah untuk tidur.


Tiba tiba Maura terbangun dari tidurnya, Maura merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada dirinya sendiri.


"Sayang, bangun.." Maura membangunkan Ganan suara khas bangun tidur, yang dimana tubuhnya terasa lemas.


"Ganan yang tidurnya serasa setengah mimpi, dirinya segera bangun karena terdengar suara Maura yang tengah membangunkannya.


"Iya, sayang. Ada apa?" tanya Ganan cemas melihat Maura yang seperti menahan sesuatu.


"Perutku merasa tidak nyaman, dan terasa sangat gerah. Perutku terasa sakit, tapi dapat mengartikannya." Jawab Maura sambil mengusap ngusap perutnya.


"Sabar ya, aku panggilkan Dokter." Ucap sang suami langsung menekan tombol.


Tidak lama kemudian, Dokter pun sudah datang dan memeriksa Maura. Perasaan cemas dan takut kini menghantui pikiran Ganan, yang dimana dirinya sangat takut kehilangan sesuatu yang disayanginya. Berkali kali Ganan berdoa dalam hatinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Ganan yang semakin cemas. Sedangkan Maura masih meringik menahan rasa sakit pada bagian pinggulnya.


"Istri tuan sudah saya kasih obat penenang, dan paginya akan dilakukan persalinan. Terpaksa kami akan melakukan operasi terhadap istri bapak." Jawab sang Dokter.


"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya." Ucap Ganan semakin cemas, sedangkan Dokter segera keluar dan meninggalkan Ganan di dalam ruangan.


Maura mulai sedikit tenang dan tidak lagi meringik menahan rasa tidak karuan dibagian perutnya.


"Sayang, kamu yang kuat dan sabar, ya.. aku akan selalu berada didekatmu. Aku akan selalu ada untukmu demi anak anak dan kamu. Sekarang, tidurlah. Sekarang sudah hampir pagi. Lumayan ada waktu dua jam untuk istirahat." Ucap Ganan sambil mengusap usap perut Maura dengan lembut.


"Iya, sayang. Semoga aku dan anak anak kita selamat, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." Jawab Maura yang kemudian tersenyum mengembang. Ganan pun langsung mencium kening istrinya penuh kasih sayang.

__ADS_1


Kebahagiaan benar benar Maura dapatkan, yang dimana dirinya dikelilingi oleh orang orang yang menyayanginya. Ditambah lagi dirinya sedang hamil anak kembar, keluarga Wilyam sangat bahagia. Dari dulu hanya memiliki anak satu itupun laki laki tidak pernah memiliki keturunan anak perempuan.


Dan kini tinggal menunggu beberapa jam lagi keluarga Wilyam akan mendapati bayi yang lucu lucu. Dan berharap akan menjadi penerus keluarga Wilyam.


Setelah melewati waktu dua jam, Maura dan Ganan terbangun dari tidurnya. Perasaan cemas kembali menghantui Keduanya. Tidak lama kemudian Kedua orang tua Ganan dan ibunya Maura sudah datang di rumah sakit.


Ceklek, Nyonya Qinan membuka pintu ruangan dan langsung masuk kedalam diikuti ibu Romlah dan juga tuan Angga.


"Mama... Papa.." sapa Ganan dan Maura pada orang tuanya. Sedangkan ibu Romlah segera mendekati putrinya dan mencium kening Maura dengan perasaannya yang merindukan putrinya. Begitu juga dengan Maura, mencium pipi sang ibu dan juga mencium punggung tangan ibunya dengan lembut. Perasaan bahagia kini terpancar diwajah Maura, meski perutnya terasa tidak karuan. Namun disaat orang orang yang menyanyanginya berada di dekatnya membuat Maura sangat bahagia.


"Bagaimana kabar kamu, nak? ibu sangat merindukanmu." Tanya sang ibu yang begitu merindukan gadis kecilnya dulu.


"Kabar Maura sangat baik, Ma.. sebentar lagi Maura akan menjalani persalinan. Doakan Maura ya, ma.. semoga Maura dan cucu cucu mama sehat dan juga selamat." Jawab Maura yang kemudian menitikan air matanya, karena dirinya baru pertama kalinya menghadapi persalinan. Ditambah lagi anak yang dikandungnya kembar, perasaan was was selalu menghantui pikiran Maura.


"Mama dan kita semua selalu mendoakan kamu, semoga semuanya sehat dan selamat. Kamu harus yakin, bahwa kamu pasti bisa melewatinya." Jawab sang ibu menyemangati.


"Iya, sayang. Kamu harus semangat, mama dan papa selalu mendoakan kamu dan anak anak kamu. Semoga ibu dan anak anak kamu sehat dan lahir dengan selamat." Ucap ibu mertua yang juga ikut menyemangati.


"Aamiin.." jawab semua serempak.


Setelah cukup lama menunggu, Ganan yang sedari tadi mondar mandir mengurus persalinan untuk Maura kini tibalah saatnya Maura akan melakukan persalinan melalui jalan operasi. Maura dibawa ke ruangan operasi dengan perasaan campur aduk. Dirinya benar benar tidak menyangka jika dirinya akan berjuang antara hidup dan mati demi sang buah hati yang dinanti nantikannya.


Maura yang tanpa suami yang menemaninya, Maura berjuang dengan para Dokter didalam ruangan. Hanya Doa dari sang suami dan kedua mertuanya dan juga ibunya sendiri.


Dengan memakan waktu yang cukup lama, Ganan maupun yang lainnya mondar mandir menunggu operasinya selesai. Semua mengatupkan kedua tangannya masing masing dengan perasaan cemas dan berkali kali mendoakan keselamatan Maura dan juga anak anaknya.


Setelah cukup lama menunggu, dan tibalah waktu yang ditunggu tunggu kini telah datang senyum dari seorang Dokter yang keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan istri dan anak anak saya Dok?" tanya Ganan penasaran dan masih menyimpan rasa cemas.


"Semua baik baik saja, selamat kepada tuan. Yang dimana tuan mendapatkan rizki sekaligus tiga. Keduanya laki laki dan yang satu perempuan. Sekali lagi selamat untuk tuan." Jawab sang Dokter memberi ucapan selamat dan segera pergi meninggalkan Ganan.

__ADS_1


Perasaan Ganan sangatlah bahagia, yang dimana dirinya mempunyai anak sekaligus tiga. Semua tidak ada yang menyangkanya, jika Maura dan Ganan memiliki seorang dua putra dan satu putri.


__ADS_2