
Ganan yang mendengar penuturan dari istrinya pun kaget. Yang dimana dirinya sudah berusaha untuk menuruti keinginan istrinya. Namun tiba tiba Maura tidak menyukainya, Ganan segera mendekati istrinya.
"Sayang, katanya kamu pingin durian. Kenapa setelah aku mendapatkannya, justru kamu tidak menyukainya?" tanya Ganan penasaran.
"Aku tidak munyukai aroma durian, sayang... kita pulang saja, yuk..." jawab Maura mengajak pulang.
"Apa..! kamu tidak menyukai buah durian? Yang benar saja, sayang... tadi kamu sangat menginginkan buah durian. Kenapa selera kamu sudah berubah?" tanya Ganan lesu.
"Maafkan aku,sayang.. aku tidak kuat mencium aroma durian. Sekarang kita pulang saja, yuk..." jawab Maura berulang ulang merengek mengajak pulang.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Tunggu disini dulu, aku mau memanggil Bondan dan Soni." Ucap Ganan yang langsung memanggil Bondan dan Soni untuk diajaknya pulang. Sedangkan Maura segera masuk ke mobil.
"Bondan, Soni.. kita pulang. Istriku tidak kuat mencium bau durian. Terus, itu buah duren taruh dibagasi. Kalian berdua duduk dibelakang, Biar aku yang mengendarai mobilnya." Ucap Ganan.
"Tapi Bos... biar aku saja yang menyetir. Kasihan Neng Maura kalau mau tidur, nanti bersandar dibahu siapa?" jawab Soni polos.
"Tapi nanti bau durennya menyengat dihidung istriku bagaimana? tambah pusing nanti." Ucap Ganan.
"Baiklah, tapi Bos Ganan bisa mengendarai mobilnya, kan?" tanya Soni yang khawatir.
"Tenang, aku ini pembalap." Jawab Ganan asal.
"Iya iya, Bos.." ucap Soni. Sedangkan Ganan hanya tersenyum tipis.
Setelah itu, Ganan dan Bondan mapun Soni segera masuk ke mobil.
"Sayang, kamu duduk di depan. Aku yang akan menyetir, karena dibelakang takut masih ada aroma durian." Pinta Ganan pada istrinya.
__ADS_1
"Tapi... apa kamu bisa? ini kan jalan gunung. Banyak tanjakan yang berliku." Jawab Maura cemas.
"Tenang, suami kamu ini pembalap. Jangankan nanjak gunung, mengobrak ngabrik jiwa kamu sampai basah kuyup saja aku bisa." Bisik Ganan didekat telinga istrinya, seraya sedang memberi kode. Bahwa suaminya sedang meminta jatahnya, Maura yang mendengarkannya pun bergidik ngeri dan hanya menelan salivanya.
"Tenang, jika bau badan kamu hilang dan bau mulut kamu hilang. Maka aku siap dan tidak akan menolaknya. Tapi untuk saat ini aku benar benar tidak kuat untuk berdekatan terlalu dekat dengan kamu. Rasanya aku benci banget sama kamu, sayang... maaf, sayang.." jawab Maura lirih.
"Baiklah, mungkin aku harus puasa demi calon anakku yang ganteng maupun cantik seperti Bundanya." Ucap Ganan senyum menggoda. Maura yang merasakan sikap suaminya yang sedikit aneh, dirinya selalu berusaha menepis pikiran kotornya.
"Bos, jadi pulang tidak?" tanya Bondan yang sedari tadi lumayan cukup mendengar obrolan Ganan dengan istrinya, membuat keduanya merasa malu.
"Oh iya, sampai lupa kalau kita mau pulang. Maaf Bon, Son.." jawab Ganan sedikit malu, karena mendapat teguran dari Bondan.
Badan Maura terasa sangat lelah karena perjalanan yang lumayan cukup lama, hingga dirinya menyandarkan kepalanya di jendela kaca. Ganan yang melihat istrinya yang terlihat sangat lelah, tidak tega jika dirinya tetap yang menyetir mobilnya. Akhirnya Ganan menyerah, danemilih untuk duduk dibelakang.
"Sayang.. kita pindah dibelakang saja, yuk. Nanti kamu bisa tidur dipangkuanku." Ajak Ganan berusaha merayu.
"Yakin," jawab Maura singkat.
"Baiklah," jawab Maura senyum tipis.
"Tuh, kan... apa aku bilang, Bos... neng Maura pasti capek, dan lihatlah wajah neng Maura terlihat lesu." Ucap Bondan.
"Kalau begitu, ayo kita tukar tempat. Kasihan neng Maura." Ucap Soni menimpali. Kemudian setelah itu tukar tempat, sedangkan Soni dan Bondan duduk seperti semula waktu berangkat ke gunung. Dan Soni lagi yang menyetir mobilnya.
Kini Ganan dan istrinya telah duduk di belakang. Maura yang terasa ngantuk dan juga capek langsung tidur dipanggung suaminya. Dan tidak menunggu lama, Maura terlelap dari tidurnya. Begitu juga dengan Ganan, yang merasakan capek dan juga lelah ikut tertidur bersandarkan jendela kaca mobil.
Sedangkan Bondan dan Soni masih fokus menatap lurus kedepan.
__ADS_1
"Bon, sepertinya menikah itu enak loh. Lihatlah, Bos Ganan dan juga neng Maura sangat bahagia. Tidur dibelakang sama sama tertidur, dan gemesnya itu loh, tidur dipangkuan suaminya. Jadi kepingin cepat cepat menikah Bon, bagaimana kalau menurut kamu." Ucap Soni membuka obrolan, karena merasa sepi didalam mobil.
"Kamu itu kalau melihat yang enaknya saja, dan kamu lupa awal pernikahan Bos Ganan? masih ingat, tidak?" jawab Bondan bertanya.
"Oooh iya, ya... perjuangan keduanya benar benar penuh perjuangan. Neng Maura saja sampai menyusul Bos Ganan di kota. Untung saja, kita dipertemukan dengan saudaranya Bos Ganan. Kalau tidak, entahlah. Mungkin nasib kita akan berubah tragis juga." Ucap Soni yang teringat akan waktu berangkat ke Kota bersama Maura.
"Makanya kita jangan memandang yang enaknya saja, lihatlah Bos Ganan yang memiliki segalanya saja masih penuh q liyoperjuangan. Apalagi kita? yang semuanya butuh perjuangan. Dari segi ekonomi saja kita masih berjuang keras, apalagi cinta." Jawab Bondan mengingatkan.
"Benar, kata kamu Bon, pacar saja kita tidak punya. Nyari saja tidak dapat dapat." Ucap Soni gelak tawa akan nasib dirinya sendiri.
"Kapan kamu nyari pacar, yang ada kamu itu cuman menggoda. Cih..." ledek Bondan hingga terdengar oleh Ganan.
"Kalian berdua ributin apa, hemmm?" tanya Ganan mengagetkan.
"Eeeh Bos Ganan, sudah bangun?" jawab Soni alih alih bertanya.
"Sudah hampir sampai belum, Son?" tanya Ganan.
"Sebentar lagi kita sampai kok, Bos... bersabarlah." Jawab Soni.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Soni telah sampai di depan rumah Ibu Romlah. Perasaan Ganan terasa lega, karena tidak lagi menghadapi permintaan yang aneh aneh. Satu aneh saja sudah kebingungan, apalagi macam macam aneh. Pikir Ganan sambil tarik nafas karena telah sampai.
Sedangkan Maura masih pulsa tidurnya, Ganan yang merasa tidak ingin membangunkan istrinya berusaha menggendongnya sampai kamar. Dan benar saja, Maura pun tidak terbangun saat digendong suaminya. Dengan pelan, Ganan menidurkan istrinya di atas tempat tidur.
Semoga kamu dan calon anak kita selalu diberi kesehatan, aku akan menjaga kalian berdua. Kalian kalian berdua adalah nafas hidupku, aku akan selalu menyayangi kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan kalian bersedih. Batin Ganan dan mengecup kening istrinya dengan lembut.
Ganan merasa risih dan bau keringat, akhirnya segera mandi untuk membersihkan diri. Agar terasa segar badannya dan tidak terasa lengket.
__ADS_1
Setelah selesai ritual membersihkan diri, Ganan ikut merebahkan tubuhnya disamping istrinya untuk mengobati rasa pegal pada bagian punggungnya. Ganan menatap langit langit kamar seperti tidak percaya. Dirinya selalu teringat kenangan bersama Istrinya, yang dimana dirinya mencintai dengan cara diam diam. Ganan pun senyum senyum tidak jelas saat menatap langit langit, tanpa disadari bahwa istrinya sudah menatap suaminya. Namun Ganan tidak menyadarinya, dan masih fokus dengan lamunannya disertai senyum tidak jelas.
Hei readers... besok adalah hari pernikahan Zeil dan Alfan. Jangan lupa datang ya... ada babang tirta dan juga Nessa loh... hayo.. siapa yang sudah kangen dengan sosok babang Tirta.. merapat merapat.. 😍