
Suasana keluarga Wilyam kini terasa sangat ramai, tidak seperti biasanya. Sejak kepulangan kakek buyut Wilyam, kini semua kumpul menjadi satu. Kebahagiaan yang benar benar tercipta, dan tanpa ada perselisihan satu sama lainnya.
Waktu pun telah berlalu, kebersamaan yang tercipta tidak dapat dinilai sebesar apapun harganya.
"Kakek, temani Zakka yuk ..." pinta Zakka dengan menarik tangan sang kakek sambil merengek.
"Iya, kek ... temani kita mencari sekolahan yang baik untuk kita." Reynan pun ikut merengek menarik tangan sang kakek sebelahnya.
"Pokoknya kakek harus temani kita, titik." Ucap Neyla sambil berkacak pinggang, seakan penuh pemaksaan kepada sang kakek. Semua yang ada disekelilingnya hanya tertawa, tatkala melihat ekspresi Neyla yang jauh lebih dari kedua kakaknya.
"Mam ... Adelyn mau ikut mereka, Adelyn ingin sekolah di sini. Boleh, ya ..." Rengek Adelyn penuh harap.
"Tidak, sayang .... kita besok harus pulang. Kamu akan belajar di Amerika, nanti jika kamu sudah besar mama izinkan untuk tinggal bersama tante kamu. Kalau Adelyn tinggal ikut tante, mama sendirian dong ..." Jawab sang ibu ikutan memelas sambil berjongkok, agar putrinya dapat luluh dan tidak memintanya untuk tinggal di Tanah Air.
"Baiklah, Adelyn sayang mama. Adelyn tidak akan jauh dari mama, Adelyn akan menggantikan kakak untuk menemani mama. Adelyn sayang mama dan papa." Ucap Adelyn menangis sesunggugukan, tatkala harus menerima permintaan sang ibu.
Kedua orang tua Adelyn langsung memeluk putrinya dan ikut menangis saat putrinya menginginkan saudaranya kembali, Adelyn merasa kesepian hanya seorang diri tanpa saudara.
"Mama dan papa akan terus mencari kakak kamu sampai ketemu, percayalah sama papa dan mama, sayang." Ucap sang ibu sembari menghapus air mata putrinya, Adelyn masih nampak bersedih.
"Mama dan papa harus janji, kakak Devin harus ditemukan." Jawab Adelyn memaksa.
"Iya, sayang ... kita semua pasti akan menemukan kakak Devin. Adelyn harus banyak berdoa, agar kakak cepat ditemukan. Kita semua sangat merindukan kakak, sama seperti Adelyn." Ucap sang ibu berusaha untuk menenangkan putrinya, agar tidak terus terusan bersedih.
Semua yang ada disekelilingnya ikut bersedih, saat melihat Adelyn yang begitu merindukan sang kakak yang lama belum juga dapat ditemukan. Mau bagaimana lagi, usaha untuk mencari putra dari tuan Alfan sudah berbagai macam untuk mencarinya. Namun, tetap saja belum dapat ditemukan.
"Adelyn, ayo ikut kakek temani Zakka, Reynan, dan juga Neyla untuk mencari sekolahan yang diinginkan ketiga saudara kamu." Ajak sang kakek Angga kepada cucunya sang adik, yang tidak lain adalah kakek Zio.
__ADS_1
"Kakek tidak bohong, 'kan? Adelyn mau ikut." Jawab Adelyn yang tiba tiba bersemangay.
"Hore ... Neyla ada temannya." sorak Neyla yang juga bersemangat, Neyla tidak lagi merasa sendirian. Karena jika hanya bertiga, Neyla hanya dicuekin oleh kedua kakaknya.
"Sudah sudah ... ayo, kita berangkat." Ajak sang kakek kepada cucu cucunya.
"Tunggu!!" teriak seorang ibu paruh baya tengah menghentikan langkah kaki sang kakek beserta ke empat cucunya.
"Nenek ...." seru Zakka dan yang lainnya.
Kakek Angga pun tercengang saat melihat penampilan istrinya yang sangat berbeda, Omma Qinan kini terlihat masih muda. Bahkan dapat menghipnotis yang ada disekelilingnya, dan wajah cantiknya pun masih belum pudar, meski sudah memiliki cucu tiga. Kecantikan Omma Qinan menurun ke cucunya, siapa lagi kalau bukan Neyla. Yaitu, putra dari pasangan Ganan dan Maura.
"Omma sangat cantik, Seperti Neyla." Ucap Neyla, lagi lagi membuat yang lainnya tertawa lepas saat mendengar penuturan dari Neyla.
"Iya, dong ... tidak hanya Neyla, tetapi juga Adelyn. Kalian berdua sama cantiknya, pasti besar nanti tambah cantik." Puji Omma Qinan sambil tersenyum, kedua cucunya pun ikut tersenyum saat omma Qinan mencubit gemas kedua pipi Neyla dan Adelyn secara bergantian.
"Kita mau berangkat atau mau pamer kecantikan?" sindir kakek Angga kepada istrinya.
Setelah itu, kini kakek Angga dan istrinya beserta keempat cucunya dalam perjalanan menuju sekolahan yang akan dijadikan tempat belajarnya. Waktu yang ditempuh pun lumayan memakan waktu yang cukup lama, hingga tidak terasa kini telah sampai dihalaman sekolah.
Banyak orang tua yang mengantarkan putra putrinya untuk mendaftar menjadi murid di sekolahan tersebut.
Zakka maupun Reynan menatap sekeliling sekolahan tersebut dengan seksama, seakan sedang menilai isi dalam sekolahan.
"Reynan, Zakka. Ayo kita turun, sayang ... kenapa kalian berdua hanya celingukan. Apakah ada sesuatu yang sedang kalian pikirkan?" ucap Omma bertanya dengan penasaran.
"Zakka tidak mau sekolah di tempat ini, sepertinya tidak nyaman." Celetuk Zakka begitu saja.
__ADS_1
"Iya, Reynan juga tidak menyukai sekolahan ini. Reynan tidak mau sekolah ditempat ini, Rey mau memilih yang lainnya." Ucap Reynan ikut menimpali sang adik.
Sedangkan Neyla masih diam, mencoba berpikir akan penuturan dari kedua kakaknya. Neyla seakan sedang menimbang nimbang untuk memberi pendapat yang baik dan adil, Neyla pun akhirnya mendapatkan jawabannya setelah berpikir dengan matang.
"Neyla juga tidak mau sekolah di tempat ini, kek. Pokoknya tidak mau, titik." Ucap Neyla yang langsung ikut berkomentar.
"Kenapa kalian tidak mau sekolah ditempat ini, padahal Adelyn menyukai tempat ini." Adelyn pun ikut berkomentar, meski dirinya tidak akan bersekolah di tanah air.
"Aku tidak menyukainya, jadi jangan paksa untuk menyukainya." Jawab Neyla ketus sambil berkacak pinggang, seakan tidak mau mendapat komentar dari siapapun.
Begitulah sikap Neyla, yang tidak bisa dirubah keputusannya. Apapun yang sudah menjadi pilihannya, tidak ada yang bisa merubahnya. Sekalipun mendapat tawaran yang lebih menggiurkan, Neyla tetap pada pendiriannya.
Tidak hanya itu, Zakka pun tidak jauh dari Neyla. Apapun yang sudah menjadi keputusannya akan terus dipertahankan, meski akan ada godaan yang lainnya.
Berbeda dengan Reynan, entah kenapa berbeda sendiri. Meski jahil terhadap saudaranya sendiri, namun tetap mengikuti kemauan diantara saudaranya. Karena jika tidak mengikuti keinginan saudaranya, maka akan merasa menyakiti perasaan saudaranya.
Ketiganya memanglah masih sangat kecil, tetapi keluarganya mendidiknya dengan sangat hati hati. Agar kelak menjadi penerus keluarga Wilyam, karena siapa lagi kalau bukan dari keturunannya.
"Baiklah, kita mencari sekolahan yang menurut kalian nyaman." Ucap Omma Qinan meyakinkan ketiga cucunya.
"Asyik ...." jawab ketiganya serempak, sedangkan Adelyn hanya terdiam. Karena dirinya merasa tidak akan bisa bersekolah bersama ketiga saudaranya.
"Adelyn, jangan bersedih. Omma yakin, di Amerika akan banyak teman. Dan percayalah dengan Omma, kakak Devin pasti akan segera ditemukan." Ucap Omma Qinan meyakinkan dan merangkulnya penuh kasih sayang.
Lanjutan cerita ini ada di novel Suamiku Anak Yang Terbuang
Yang berkenan, silahkan mampir dicerita recehan otor. Monggo ... dengan senang hati.
__ADS_1
Authornya sangat berterimakasih banget pokoknya.
Hilangnya putra dari tuan Alfan dan Zeil akan dikupas tuntas di novel yang sudah disebutkan di atas. Terimakasih ... sudah 100 bab ke atas loh, dan pastinya tidak kalah serunya loh..