
Menikah Karena Perjodohan
Kicauan merdu nan riang, milik burung-burung kecil telah terdengar di pagi hari. Bersamaan dengan terbitnya sang mentari, yang mulai bersinar di upuk timur. Cahaya mentari pagi itu menyelinap dan berhasil lolos di sela-sela dedaunan hijau, hingga menembus dinding kaca kamar, sebuah rumah besar bertingkat dua tersebut. Sinarnya yang terang nan hangat, mampu mengusik tidur seorang gadis, yang masih terlelap pagi itu.
"Eugh ...." Lenguhan dari seorang gadis. Gadis tersebut mulai mengerjapkan kedua matanya, ketika cahaya matahari pagi itu menerpa wajah cantiknya. Gadis itu adalah Clarisa, putri semata wayang keluarga Wijaya.
"Bangun, Sayang! Ini sudah jam berapa, kamu harus pergi ke sekolah hari ini. Ayo, cepat ... kamu mandi dan siap-siap!" titah Mami Evi, yang tak lain adalah Ibu kandung dari Clarisa.
"Mami ... Clarisa masih ngantuk nih, lima menit lagi ya, Mi," sahut Clarisa, seraya menutup matanya kembali.
"Enggak boleh Risa, lihatlah! Ini sudah hampir jam 7.00 loh, hari ini adalah hari pertama kamu masuk sekolah. Kamu harus berubah, Nak," ucap Mami Evi, yang tengah berusaha membangunkan anak semata wayangnya tersebut.
"Pokonya, Mami enggak mau tau, ya! Mami, tunggu di bawah sepuluh menit lagi. Papi kamu sudah menunggu di bawah," sambung Mami Evi. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan kamar anaknya itu.
"His, Mami! Iya-iya ... Clarisa mandi nih, sekarang," ucap Clarisa. Gadis itu segera beranjak dari posisinya dan langsung melangkah memasuki kamar mandi.
* * *
Di meja makan pagi itu, terlihat sepasang suami istri yang tengah berbincang.
"Mana Clarisa, Mi?" tanya Bramasta Wijaya, yang tak lain adalah suami dari Mami Evi, Ayah kandung Clarisa.
"Kenapa, tidak ikut turun bersama Mami?" tanyanya lagi kepada sang istri.
__ADS_1
"Dia masih mandi Pih, dibanguninnya susah banget," keluh Mami Evi pada suaminya.
"Anak itu, selalu saja begitu! Tidak ada perubahan sama sekali, sepertinya Papi harus bertindak lebih tegas lagi," ujar Papi Bram.
Ya, sebenarnya Clarisa tidak terlalu dekat dengan sang papi, selain tegas dan sibuk dengan urusan bisnisnya, papinya juga merupakan sosok yang terkesan pemaksa. Apapun yang dikatakannya harus selalu dituruti.
"Pih sudah, kasian Risa," ucap Mami Evi pada suaminya.
"Mami ini, selalu saja membela anak itu," ujar Papi Bram jengah.
Tap! Tap! Tap!
Seorang gadis cantik memakai seragam sekolah lengkap, menuruni anak tangga dengan langkah terlatih. Ia melangkah menuju meja mekan, di sana sudah ada Mami Evi dan Papi Bram yang menunggunya.
"Pagi, Sayang," sahut Mami Evi.
"Pagi juga, No?n," sahut Bi Suryah.
Mami Evi dan Bibi Suryah, keduanya menyahuti sapaan Clarisa seraya tersenyum. Terkecuali, Papi Bram.
Clarisa duduk di kursi tepat di hadapan sang mami, Clarisa sejenak melirik papinya, yang saat itu juga tengah menatap ke arahnya.
"Clarisa ... mau sampai kapan kamu seperti itu," ujar Papi Bram, sambil menatap tajam putrinya.
__ADS_1
"Pih, sudah! Kasian Risa, biarin Risa sarapan dulu ya, Pih. Dia harus pergi ke sekolah hari ini," ucap Mami Evi menenangkan, sambil mengusap bahu suaminya.
"Apa pedulinya Papi? Toh, Papi engga pernah peduli sama Risa selama ini," jawab Clarisa santai, sambil mengambil sarapannya.
"Clarisa! Kenpa kamu berbicara seperti itu, kamu di sekolahkan supaya punya pendidikan, dan saat berbicara dengan orang yang lebih tua, kamu punya sopan santun serta etika. Terlebih, saat berbicara dengan orang tua kamu sendiri," ujar Papi Bram dengan nada geram.
"Jujur, Papi kecewa dengan sikap kamu Clarisa, Papi malu memiliki anak perempuan tidak beretika seperti kamu," sambung Papi Bram. Ia beranjak setelah meletakkan sendok yang tengah dipegangnya tadi, dan berniat untuk pergi meninggalkan meja makan.
"Sopan santun apa? Yang Papi maksud ini?" tanya Clarisa, sambil menyeritkan sebelah alisnya.
Papi Bram mengurungkan niatnya yang hendak pergi, saat mendengar Clarisa berbicara.
"Apa hak Papi, bilang seperti itu? Apa selama ini Papi menganggap Clarisa ini sebagai anak Papi? Apa Papi ada disaat Clarisa butuh papi? Apa papi mengajarkan semua itu padaku? Tidak 'kan, Pih?! sambung Clarisa, dengan suara tinggi dan sedikit berteriak.
PLAK!
Suara tamparan menggema di ruang makan pagi itu, semua itu adalah ulah Papi Bram yang menampar pipi Clarisa.
"Papi! Papi apa-apaan, sih," ucap Mami Evi marah, saat menyaksikan suaminya itu menampar pipi sang putri.
Clarisa tetap terduduk mematung di tempatnya, sambil memegang pipinya yang mulai memerah, akibat tamparan dari sang papi.
CERITA INI SUDAH DIHAPUS DEMI KEPENTINGAN PRIBADI
__ADS_1