
Mendapat tatapan kasih, raka menyunggingkan senyumnya “sudah makan dulu, nanti kita bicara setelah makan” pinta raka
kasih menuruti keinginan raka untuk makan malam terlebih dahulu, kasih makan dengan banyak pikiran melintas di pikirannya
Seusai makan raka membawa kasih ke kabin belakang “bisa kita duduk dulu”ajak raka duduk di kursi panjang yang ada di situ
Kasih duduk di kursi panjang bersebelahan dengan raka “bisa kau menemaniku setiap hari seperti ini?” tanya raka menoleh ke arah kasih
“apa?” balas kasih takut salah mendengar ucapan raka
“pergi bersamaku setiap hari” balas raka
kasih mengkerutkan keninganya “untuk apa?” tanya kasih
Raka mengedikkan bahunya “entahlah, aku ingin saja” balas raka
kasih menyunggingkan sudut bibirnya “abang suka kasih?” tanya kasih dengan ragu
“entahlah” balas raka
"Apa maksud pria ini sebenarnya?" batin kasih
kasih menyipirkan matanya menatap raka“apa abang sering seperti ini dengan setiap wanita?” tanya kasih
“tentu saja tidak pernah” balas raka
“terus, maksud abang apa? Kasih jadi bingung” balas kasih tak mengerti dengan sikap dan ucapan raka
raka menggarukmtengkuknya yang tak gatal “abang saja bingung, apalagi kau ” balas raka terkekeh
kasih menatap tajam raka “apaan sih bang, muter-muter gak jelas” balas kasih mulai kesal
“abang bener-bener gak tahu, makanya abang minta kita ketemu setiap hari untuk menyakinkan apa yang abang inginkan” balas raka meminta pengertian kasih
“kalau kasih gak mau, abang mau apa?” tanya kasih melipat tangannya sebatas dada
raka menghela nafas panjang “aku ingin melihatmu terus, dan ingin berada di dekatmu. Aku hanya ingin tahu lebih
jelas kenapa aku seperti ini . Jadi tetaplah dekat denganku seperti ini” balas raka
Kasih terkekeh “abang aneh” gumam kasih menggelengkan kepalanya
“itu juga yang abang rasakan ke kamu, aneh”balas raka menekankan kata aneh
“ah terserah abang saja” balas kasih menyerah dengan raka
“ini kapal abang?” tanya kasih mengalihkan pembicaraan
“iya”balas raka
“terus ini mau kemana?” tanya kasih karena kapalnya masih berjalan sedari tadi
“kamu maunya kemana?” tanya raka datar
“plak”kasih memukul lengan raka dengan bantal yang ada di kursi “ngeselin banget sih jawabnya bang” balas kasih
__ADS_1
raka menangkap bantal yang dipukul kasih “mending kita nikmati lihat bintang, kita jarang lihat bintang seperti ini kan?” balas raka mengingat di kota tempat ia tinggal jarang terlihat bintang karena padatnya lampu-lampu jalanan ibukota
kasih menautkan kedua alisnya “abang biasa kaya gini sama perempuan ya?” tanya kasih
Raka menggelengkan kepalanya “kalau sudah biasa, pasti mama gak akan berisik jodohin abang" balas” raka
“terus kenapa abang gak punya pacar seperti keinginan tante?” tanya kasih
“kalau kamu apa sudah punya pacar?” tanya raka balik
Kasih mencebikkan bibirnya kesal “kok malah balik nanya sih bang, abang aja belum balas pertanyaan kasih” balas kasih membuang mukanya kesal
raka terkekeh melihat kasih yang mulai merajuk “ya sudah kamu jawab duluan, baru abang kasih tahu kenapa abang gak punya pacar ” balas raka
Kasih menatap bintang di langit begitupun raka yang ikut menatap langit “kenapa ya? Kasih juga gak tahu. Kasih tuh orang yang kurang bisa bergaul, dan memang karena di batasi keluarga kasih sih. Tapi kalau dengan ningrum beda, kasih nyaman berteman dengannya dan juga om john gak pernah protes kasih bergaul dengan keluarga ningrum, katanya sih karena om
sudah kenal dengan ayah dan mama ningrum dengan baik “ balas kasih
“kalau denganku bagaimana? Apa kau bisa dekat denganku?” tanya raka
Kasih menoleh, menautkan kedua alisnya “abang maunya aku jawab apa?” balas kasih
Raka menoleh ke arah kasih, menarik pinggang kasih mendekat tak menyisakan jarak 1 cm pun dengan dirinya “ abang maunya kau dekat dengan abang” raka menatap intensi bibir ranum kasih mengusap ujung bibirnya dengan
ibu jarinya “kenapa ini begitu lembut?” tanya raka menatap manik mata kasih
Jantung kasih seperti akan melompat keluar dari tempatnya, tapi ia seakan bisu tak bisa berkata apapun, hanya wajahnya yang bersemu merah, menahan panas yang merasuk ke tubuhnya
“jadilah milikku?” pinta raka penuh harap
Kasih hanya terdiam menatap manik mata raka tanpa berkedip
***
“rum” panggil rafasya membangunkan ningrum yang tidur dalam pelukannya
ningrum mengeratkan pelukannya “masih ngantuk kak” balas ningrum masih memejamkan matanya
“sudah siang rum, kakak hari ini ke kantor keluargamu, ngehendel pekerjaan ayahmu” rafasya sedikit menggeser tubuh ningrum agar ia bisa bangun
“ini akhir pekan loh kak, harusnya libur” balas ningrum mencebikkan bibirnya
“gak bisa gitu rum, ayah virza sudah nitipin kamu dan peusahaannya sama kakak selama beliau dan kakakmu belum pulang” balas rafasya
“ya sudah, kakak mandi aja dulu, ningrum siapin baju kakak dulu” ucap ningrum bergegas bangun dari ranjangnya
Rafasyaberjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri
***
Rafasya dan ningrum berjalan menuruni tangga sambil bergandengan tangan
“pagi mah” sapa ningrum menghampiri mama Karin
“pagi ningrum” balas mama Karin
__ADS_1
“maafin ningrum gak bantuin masak ya mah, ningrum baru bangun”kekeh ningrum
“gak masalah rum, yang masak juga bukan mama tapi pelayan” balas mama Karin
mama karin tidak bisa memasak, untuk memasak telur saja pernah gosong jadi mama karin tak pernah memasak, dan untung saja ayah kevin tak pernah mempermasalahkannya
“ningrum lupa, kalau mama sama kaya ningrum gak bisa masak” kekeh ningrum
“sudah yuk makan” ajak rafasya menarik kursi untuk ningrum duduk
“ayah mana mah?” tanya rafasya
“ayahmu lagi jogging sama om Robert dan jack, kalau tantemu masih tidur, sedangkan
rebeca menyiram tanaman di depan” balas mama Karin menunjuk rebeca yang sedang sibuk menyiram tanaman
ningrum mengamati rebeca yang sibuk dengan tanaman-tanaman mama karin “wah rebeca rajin sekali, malu-maluin aja ningrum ini, baru bangun tidur jam segini” ucap ningrum merasa tak enak hati
“gak papa kok rum, mama ngerti jam kerja malam kamu yang masih pengantin baru” kekeh mama Karin yang melirik ada bekas tanda kemerahan di leher yang tak tertutup rambut
Ningrum melihat arah lirikan mama Karin lalu menutupinya dengan rambut “kakak sih,
bikin ningrum malu” ningrum mencubit lengan rafasya karena malu
“aduh” rafasya mengaduh kesakitan mengusap lengannya yang terkena cubitan “kok kakak yang kena sih rum?” tanya rafasya
“sudah-sudah” ucap mama Karin agar anak dan menantunya itu tak berdebat kembali
“oh ya rum, nanti kamu pulang ke rumah minta di antar sopir ya” ucap rafasya
“kakak sibuk banget ya?” tanya ningrum
“lumayan, soalnya kakak harus gantiin rapat klien ayah sama kakakmu, belum lagi ada rapat di kantor ayahku juga” balas rafasya
“ya sudah nanti ningrum pulang di anter sopir, tapi paling mau mampir tempat kasih dulu, boleh kan?” tanya ningrum
“boleh saja, tapi kamu pulang sebelum kakak pulang ya, kakak pulang sekitar jam 9 “
pinta rafasya
“ok suamiku” balas ningrum tersenyum
***
Ningrum mengantar keberangkatan rafasya suaminya sampai halaman depan
“hati-hati ya kak” ucap ningrum melambaikan tangannya pada rafasya
Melihat mobil rafasya yang sudah menjauh, ningrum menghampiri rebeca yang masih sibuk menata tanaman mama Karin “kamu suka banget sama tanaman ya?” tanya ningrum
Rebeca mengangguk “iya suka sekali, di perancis susah sekali menanam tanaman yang akusuka, tapi disini mudah sekali” rebeca memasukkan bibit tanaman yang bari ia beli ke dalam pot yang sudah ia siapkan
“di rumahku jauh lebih banyak tanaman seperti ini” ucap ningrum
Mata rebeca langsung berbinar “benarkah? Apa boleh aku melihatnya” tanya rebeca
__ADS_1
“tentu saja, kapanpun kau sempat datang ke rumah, aku akan menunjukkannya padamu” balas ningrum
“terima kasih” balas rebeca mengembangkan senyumnya