
Ganan masih berdiam diri didepan pintu rumah kecil, yang dimana dulunya untuk mencari rizki oleh Almarhum pak Sebirun dan Ibu Romlah. Namun, saat pak Sobirun menolong sepasang suami istri dan memiliki satu putra yang pernah terdampar karena ombak tsunami. Almarhum pak Sobirun diberi kesibukan oleh orang tua Ganan, yaitu dibangunkannya toko besar dan juga dibangunkan rumah yang cukup bagus. Dan disaat itulah Ayahnya Maura terkenal sukses.
Meski diberi kesibukan dan juga penghasilan yang lumayan banyak. Almarhum pak Sobirun selalu berbagi kepada warganya. Begitu juga dengan Maura, yang selalu berbagi kepada para tetangga maupun masyarakat lainnya. Namun Maura selalu menyembunyikan identitasnya. hanya Ibunya Lita gadis kecil yang mengetahuinya.
"Bos Ganan. Bagaimana ini? jadi manjat pohon duriannya, tidak?" tanya Bondan sambil celingukan mencari pohon durian yang sekiranya mudah untuk dipanjat.
"Yang benar saja ini, pohon durian?" jawab Ganan tersenyum getir.
"Iya, Bos. Memang pohon apaan yang mau dipanjat sama Bos Ganan?" tanya Soni ikut menimpali.
"Pohon Anggur." Ucap Maura ketus, sedangkan Ganan hanya melirik kearah istrinya yang sedikit terlihat manyun.
"Iya iya sayang.. tapi bagaimana caranya? apa kamu tidak kasihan dengan calon Papa yang ganteng ini manjat pohon durian?" tanya Ganan sambil senyum merayu.
Tiba tiba ada seseorang yang lewat didepan mereka berempat.
"Loh, Bondan... kamu mau ngapain di gunung?" tanya seseorang yang tengah menghampiri Bondan yang sedang celingukkan mencari pohon durian yang buahnya banyak dan mudah dipanjat tentunya.
"Lagi nyari pacar, Udin... ya bukan lah, jelas jelas ke gunung tentunya nyari buah kek, nyari kayu bakar kek, hem.." jawab Bondan dibuat kesal.
"Oh iya, musim durian kan, ya... memang kamu bisa manjat?" ucap si Udin dibarengi tawa lirih.
"Jangan ketawa. Tenang, ada Soni yang ahlinya ahli." Jawab Bondan sambil memicingkan alis tebalnya.
"Seperti pak Ndul saja, ahlinya ahli." Ucap si Udin.
"Oh... rupanya mau mengandalkan aku untuk memanjat pohon durian? lihat noh... ada Bos Ganan yang sudah siap untuk memanjat pohon durian." Ucap Soni sambil menunjuk ke arah Ganan.
"Yang benar Son, Bos Ganan mau memanjat pohon durian?" tanya Bondan tidak percaya.
"Bos kalian? memang kamu bekerja dimana Bon, Son?" tanya si Udin penasaran.
"Dia itu, menantunya Ibu Romlah, yang resepsi kemarin itu. Memangnya kamu tidak melihatnya di televisi?" jawab Bondan dan bertanya.
"Ooooh... si Neng Maura, yang dulu kecilnya imut dan juga cantik. Aku tidak tahu jika pengantinnya Neng Maura. Karena aku belum. pernah pulang ke desa." Ucap si Udin.
"Iya, bener." jawab Bondan.
__ADS_1
Sedangkan Maura dengan Ganan masih celingukan dibawah pohon durian yang tidak jauh dari Bondan dan Soni maupun Udin yang sedang mengobrol.
"Kalau begitu, aku mau menemui Bosku dulu ya, Din." Ucap Bondan langsung menarik tangan Soni untuk menghampiri Ganan dan Maura.
"Bos, bagaimana? jadi memanjat, tidak ?" tanya Soni.
"Lihatlah, cuman pohon ini yang terlihat tidak begitu tinggi dan buahnya pun sangat banyak." Jawab Ganan sambil menunjuk buah durian.
"Masalahnya bukan itu, Bos... tetapi apakah buahnya sudah ada yang matang? kalau belum ya... terpaksa kita mencari yang sudah ada yang matang." Ucap Bondan menimpali.
"Iya, Bos. Kita mencari yang sudah ada yang matang. Kalau belum, ya... terpaksa kita beli." Ucap Soni yang tiba tiba membungkam mulutnya karena keceplosan. Soni takut, jika Maura mendengarnya. Tapi sayangnya, Maura sudah mendengarnya.
"Aku tidak mau beli. Aku yakin, pasti ada yang matang. Kalaupun belum ada, kita bisa memintanya ke kebun tetangga. Tenang.. semua pemilik kebun aku sudah mengenalnya dengan baik." Jawab Maura yang masih bersemangat untuk mendapatkan buah durian. Sedangkan Ganan hanya menelan salivanya.
Sedih sekali nasibmu, Bos.. apakah seperti ini jika wanita hamil. Kalau anaknya Bos saja mintanya manjat pohon durian, lantas seperti apa permintaan calon anakku kelak? apa iya suruh manjat pohon durian alas? batin Bondan sambil garuk garuk kepala.
Aduh, sayang... kenapa harus manjat pohon durian, sayang... batin Ganan dengan cemas.
"Cepetan, kalian bertiga manjat." Perintah Maura. Sedangkan Bondan dan juga Soni kaget dibuatnya.
Bukannya Bos Ganan yang disuruh manjat, kenapa mesti aku sama Bondan? aaaah Neng Maura diam diam mau mengerjai kita berdua. Haduh... batin Soni sedikit gelisah.
Akhirnya, lega juga kekhawatiranku. batin Ganan sedikit lega.
Gawat, aku disuruh manjat pohon durian juga. Batin Bondan sedikit cemas dan juga takut tentunya.
"Kenapa kalian bertiga bengong? ayo cepetan. Nanti keburu sore pulangnya, kalau hujan deras bagaimana, coba?" pinta Maura sedikit kesal.
"Iya, sayang. Sabar, ya..." jawab Ganan memohon.
"Sudahlah, Bos. Ayo kita manjat. Kasihan calo anaknya si Bos, dari tadi belum terpenuhi keinginannya." Ajak Soni yang merasa kasihan dengan Maura, yang sedari tadi merengek buah durian.
"Bos, sepertinya pohon yang ini sudah ada yang matang. Tapi.... pohonnya sangat tinggi, hati hati pokoknya." Ucap Bondan sambil menunjuk buah durian.
"Kamu pintar, Bondan." Ucap Maura tersenyum mengembang.
Kemudian Soni dan juga Bondan dijadikan tangga oleh Ganan. Yang dimana keduanya sama sama berjongkok, sedangkan Bondan kini yang jongkoknya dibawah dan Soni diatasnya. Kemudian dengan pelan Ganan memanjat poho durian dibantu oleh Bondan dan Soni.
__ADS_1
Kini Ganan telah sampai dipohon durian, jantung Ganan berdegup sangat kencang. Sedari tadi Ganan mengatur pernapasannya agar tidak karuan.
Berdebar debar jatuh cinta atau belah duren mah enak. Lah ini, berdebar debar seperti jantung mau copot tidak tahunya manjat pohon durian. Apes.. apes.. mana sejak sampai di kampung belum pernah belah duren lagi. payah.. payah... batin Ganan sambil garuk garuk kepala diatas pohon durian.
Setelah Ganan sudah berada di atas pohon durian, kini Bondan dan Soni menyusul Ganan manjat pohon durian. Sedangkan Ganan dari tadi hanya berpegangan batang tanpa berkutik, karena rasa takutnya yang sedang melanda detak jantungnya.
"Bos, jangan takut. Rileks saja, kalau Bos Ganan takut, nanti Bos Ganan bisa jatuh. Lihatlah Soni coba, Bos.. santai kan, Bos?" Ucap Bondan yang sebenarnya sedikit takut.
"Iya benar kata kamu. Tapi aku sangat takut, Bon.." jawab Ganan yang masih sedikit ada rasa takut. Sedangkan Maura tersenyum puas melihat ekspresi suaminya yang begitu gemas saat memanjat pohon durian. Maura pun segera menyingkir tatkala Soni tengah menjatuhkan buah durian dari atas pohon.
Sedangkan Soni dengan lihai sudah menghasilkan 10 buah durian yang terlihat sangat super. Maura tersenyum mengembang.
Tidak lama kemudian Soni dan Bondan sudah turun dari pohon, sedangkan Ganan masih bertahan di pohon durian tersebut.
"Bos, ayo turun." Seru Bondan memanggil Ganan.
"Aku tidak bisa turun, Bon.. Son.. coba kalian berdua jongkok seperti tadi. Agar aku bisa turun." Jawab Ganan yang masih ketakutan diatas pohon.
"Baik, Bos..." jawab keduanya.
Dan benar saja, Ganan dapat turun dari pohon durian karena bantuan dari Bondan dan Soni.
"Terimakasih ya, Bon.. Son.." ucap Ganan merasa lega.
"Sama sama, Bos." Jawab keduanya.
Setelah merasa sudah lega, kini Ganan segera membelah buah durian. Maura dengan semangat menunggu suaminya dapat membukanya.
"Sayang, lihatlah buah durian ini. Sepertinya sangat manis, bau harumnya pun sangat menggoda selera." Ucap Ganan sambil mengambil buah durian yang sudah siap makan dan diberikannya langsung kepada istrinya. Maura pun menerimanya, namun tiba tiba ada sesuatu yang aneh bagi Maura.
Huweek... huwek.... tiba tiba perutnya Maura mual mual, kepalanya pun terasa pusing. Maura segera menyingkir dari aroma buah duren. Maura langsung membungkam hidungnya dengan kedua telapak tangannya. Ganan yang melihat ekspresi istrinya pun heran dan juga kaget.
"Sayang, kamu kenapa? ini buah duriannya sangat enak." Tanya Ganan penasaran.
"Aku tidak suka bau durian sayang... cepat singkirkan buah duriannya." Jawab Maura memberi perintah.
"Bukannya kamu sendiri yang memintanya? aku sudah susah payah memanjat pohonnya, sayang..." ucap Ganan sedikit heran.
__ADS_1
"Maafkan aku, sayang.. aku sudah tidak berselera. Dan kepalaku menjadi pusing saat mencium bau durian." Jawab Maura dari kejauhan.
"Apa.... neng Maura tidak menyukai buah durian?" tanya Bondan melotot keheranan. Begitu juga dengan Soni, seakan shok dan rasanya seperti diputuskan pacar.