
***
“mama aku ke rumah kasih dulu ya, nanti sekalian pulang ke rumah ” pamit ningrum memeluk mama Karin
mama Karin membalas pelukan ningrum “ya sudah hati-hati ya” balas mama Karin
“rum, besok aku main ke rumahmu ya” pinta rebeca
“tentu saja boleh, kapanpun kau datang ke rumahku , aku akan menyambut mu dengan senang hati” balas ningrum
***
sekitar Jam 3 sore ningrum sampai di rumah kasih
“kasih”panggil ningrum saat memasuki kediaman kasih
bi rania yang melihat kedatangan ningrum, berjalan mendekat “bi dimana kasih?” tanya ningrum pada bibi rania
“ada di atas non, nona ningrum naik saja ke atas. sekalian ingetin non kasih untuk makan ya non, non kasih gak turun dari kepulangannya jam 10 pagi tadi. Padahal ia tadi siang tidak mau makan ” ucap bi rania
ningrum mengerutkan keningnya “jam 10? Emang dia dari mana dan dengan siapa ?” tanya ningrum
Bi rania mengedikkan bahunya “ saya kurang tahu perginya kemana, non kasih tidak cerita ke saya, yang saya tahu ada pria yang yang menjemputnya semalam dan mereka pergi dari malam lalu non kasih pulang jam 10 pagi tadi , kalau nona
gak ngomong ke kita, saya gak berani tanya, tapi pria yang nganterin non kasih wajahnya agak mirip non ningrum” jelas bi rania
“mirip aku” gumam ningrum memikirkan dengan siapa kasih pergi semalaman “apa om” batin
ningrum
“ya sudah bi, ningrum langsung ke kamarnya aja ya” ningrum bergegas menaiki lift menuju kamar kasih
“tok tok tok”kasih mengetuk pintu berkali-kali tapi tak kunjung mendapat jawaban
“kasih, kamu ngapain sih lama amat” tanya ningrum
Tak kunjung mendapat jawaban dari kasih, ningrum mulai merasa cemas, ia memutuskan
meminta kunci kamar kasih pada bi rania , dan membukanya
“ceklek" pintu kamar kasih terbuka, ningrum masuk ke kamar kasih tapi tak mendapati keberadaan sahabatnya itu
"bi Rani lanjut kerja saja, saya mau ngobrol sama kasih" ucap ningrum pada bi rania
"baik non, kalau butuh sesuatu tinggal panggil saya ya non" balas bi rania
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi “kamu lagi mandi ya sih?” tanya
ningrum mendekatkan telinganya ke daun pintu
“sih” panggil ningrum tak kunjung mendapat jawaban dari kasih
ningrum cemas dengan kasih “aku masuk ya” ningrum membuka pintu, matanya terbelalak lebar
“kasih” ningrum bergegas mematikan shower dan meraih handuk memakaikan ke tubuh polos
kasih
“kamu sudah mandi berapa lama? Badanmu sampai biru gini?” tanya ningrum melihat kasih
__ADS_1
terduduk dengan tubuh yang sudah menggigil
“ningrum” kasih meraung memeluk ningrum
Ningrum menepuk-nepuk bahu kasih “kamu kenapa sih?” tanya ningrum
Kasih hanya menangis tanpa menjawab
Setelah tangisan kasih sedikit mereda, ningrum membantu kasih memakai handuk kimononya,
membawa kasih masuk kamar agar lebih hangat “aku minta bi rania bikin teh hangat untukmu ya” ucap ningrum meninggalkan kasih menuju dapur
Ningrum kembali dengan membawa nampan berisi minuman hangat serta makanan
“sih makan dulu ya, kata bi rania kamu belum makan” ajak ningrum membuka selimut
kasih, membantu kasih duduk
“rum, aku salah” gumam kasih kembali menangis
“kamu kenapa kasih, aneh sekali gak seperti biasanya?” tanya ningrum bingung dengan sikap sahabatnya itu
Ningrum membenarkan rambut kasih yang masih berantakan dan basah “apa ini sih? Tanya
ningrum melihat tanda kemerahan di dada kasih, tanda yang sama yang diberikan suaminya saat sedang memadu kasih
Kasih gugup lalu cepat-cepat menutupinya
mata Ningrum menatap tajam ke arah kasih “sama siapa kamu pergi semalam?” tanya ningrum dengan suara meninggi
Kasih hanya diam saja, suaranya serasa tercekat tak mampu menjawab “kamu pergi dengan
Bukannya menjawab, kasih malah makin histeris, ningrum yang akhirnya hanya memeluk kasih
menenangkan kasih agar berhenti menangis
Setelah kasih tertidur, ningrum menyelimutinya
sebatas dada lalu bergegas menelfon om nya itu
“tut tut tut” ningrum menunggu panggilnnya tersambung
“ada apa rum?” tanya raka dengan suara khas bangun tidur
Ningrum melangkah menjauh dari kamar kasih, menutupnya perlahan “om ajak kemana temanku
semalaman!?” tanya ningrum dengan suara beberapa oktaf karena kesal
Raka menjatuhkan ponselnya karena saking terkejutnya “jawab om!” teriak ningrum
Raka buru-buru mengambil ponselnya “ kasih bilang apa sama kamu rum?” tanya raka dengan suara gugup
“jadi bener om yang bawa kasih pergi semalaman” balas ningrum
“tunggu rum, ini gak seperti yang kamu fikirin kok” ucap raka
“emang apa yang ningrum fikirin?” tanya ningrum dengan deru nafas memburu karena terlalu banyak berteriak
“ningrum tunggu 20 menit, om harus sampai sini. Kalau engga ningrum minta om boy seret, om raka kesini!” teriak ningrum menutup telfonnya sepihak
__ADS_1
Raka langsung berlari, meraih jaketnya, bergegas turun dari tangga dengan tergesa-gesa
“kamu mau ke mana raka?” tanya nenek angel yang melihat anaknya berlari seperti orang
gugup
“ada perlu mah” balas raka tak menghentikan langkahnya
“kenapa tuh anak”gumam nenek angel
Raka berlari menuju mobil pribadinya yang
terparkir di garasi, melakukannya dengan buru-buru
***
Raka mengerem mobilnya dengan gesit saat berada di halaman rumah kasih. Raka
langsung berlari memasuki rumah kasih
memasuki ruang tamu rumah kasih, Di sana sudah ada ningrum yang berkacak pinggang dengan raut penuh amarah, seakan
menuntut jawaban dari omnya. Melihat itu raka memperlambat langkahnya menuju ke
arah ningrum
“rum”sapa raka
“om telat 1 menit” balas ningrum tajam
“ya ampun rum, Cuma 1 menit doang” balas raka
“om, gak tahu seberapa lamanya waktu satu menit ningrum nunggu om disini!” bentak ningrum
Raka menunduk “kasih sudah cerita sama kamu
ya?” tanya raka mengeratkan tangannya dengan tangan yang saling bertautan untuk menahan kegugupan dalam dadanya
“kasih gak ngomong apapun ke ningrum, makanya om yang harus jelasin ke ningrum ” balas ningrum
Raka bernafas lega “gitu ya” balas raka mengusap dadanya
Ningrum menatap tajam om raka “tapi jangan om kira ningrum anak bodoh yang gak tahu
apa-apa ya, jangan lupa ningrum sudah lebih dulu menikah. Ningrum paham betul tanda apa di dada kasih. Dan om yang ngajak kasih menginap semalaman!” bentak ningrum langsung mengenai sasaran tanpa bisa membuat raka mengelak
“dia itu temanku om, dia wanita baik-baik. Tega ya om ngerusak dia! Dia sampai ketakutan gitu gara-gara om!” bentak ningrum
Raka kembali menunduk “maaf rum, om salah” ucap raka
Ningrum memilih duduk di sofa “sekarang cerita kejadiannya sama ningrum. Dan ingat om!
Jangan lewatkan satupun. Atau ku buat kakek gantung om di lapangan!” ucap
ningrum memperingati!
“glek” raka menelan salivanya kasar
bisa mati kalau sampai ayahnya tahu dia tidur dengan anak gadis orang semalam
__ADS_1
raka menghela nafas panjang “baik om akan cerita semuanya” balas raka