
***
Ningrum sedang bermanja dalam pelukan jonathan “mas” panggil ningrum mengusap dada bidang jonathan lembut
“iya” jonathan menarik satu tangan ningrum yang mengusap dadanya dan mengecupnya
Ningrum tersenyum dengan perlakuan jonathan padanya
“nanti ningrum, mau main sama Miranda boleh gak?” tanya ningrum
“lama gak?” tanya jonathan
“gak tahu” balas ningrum mengedikkan bahunya
jonathan mengusap kepala ningrum yang masih berada dalam pelukannya “boleh saja sih rum, tapi jangan kelamaan nanti
kecapean. Perutmu kan sudah mulai kelihatan besar” ucap jonathan mengusap perut
ningrum yang sudah mulai terlihat membuncit, karena sudah masuk bulan ke 4
“iya ya mas, gak kerasa ya kandungan ningrum sudah
masuk bulan ke 4” balas ningrum mengusap perutnya
Ningrum mendongak kearah jonathan “mas kita jahat gak sih? Mereka sudah merayakan 7 bulanan ningrum di Indonesia tau ” ucap ningrum menyusupkan
kepalanya di dada bidang suaminya
Jonathan menghela nafas “nanti pada saatnya kita pasti bilang tentang anak kita ini. Dan mas jo akan minta maaf pada keluarga
rafasya” balas jonathan
“iya mas” balas ningrum mengiyakan ucapan suaminya
Ningrum makin menyusup ke pelukan jonathan “kita mau
bangun, apa mau di ranjang aja sampai sore? Mas sih oke-oke saja. Secara kan mas bosnya jadi gak ke kantor gak masalah” tanya jonathan
“emang jam berapa sih mas?” tanya ningrum melirik jam dinding di kamarnya
“ya ampun, sudah jam 8. Ningrum kuliah mas” teriak ningrum panik berniat untuk berlari
Jonathan menahan tangan ningrum “ada apa mas?” tanya
ningrum yang melirik tangannya yang masih di tahan suaminya
“jangan buru-buru, ingat kau sedang hamil” ucap jonathan memperingati ningrum agar lebih berhati-hati
Ningrum melirik perutnya “oh iya, maaf mas suka lupa” balas ningrum terkekeh
“ya sudah, ayo mandi” jonathan membopong ningrum menuju kamar mandi dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun ditubuhnya
Ningrum mengalungkan tangannya ke leher jonathan “sekarang mas jo gak perduli lagi telanjang bulet depan ningrum ya?” tanya ningrum,
melirik tubuh suaminya yang polos seperti bayi
Jonathan mendudukkan ningrum di atas closet, dan mengisi bath up dengan air hangat untuk ningrum mandi
setelah terisi penuh, Jonathan mengangkat tubuh ningrum kembali untuk masuk dalam bath up begitupun dirinya yang ikut masuk dalam bath up menemani ningrum
“ngapain malu sayang. Kita kan suami istri yang sah. Dan aku sangat suka melihat tubuh indah istriku” balas jonathan mengecup bibir ningrum
__ADS_1
“tapi kan perut ningrum lagi buncit mas? pasti jelek?” tanya ningrum melirik perut buncit nya
“bagi mas jo, kamu wanita paling cantik” balas jonathan kembali mengecup bibir ningrum
***
Ningrum sibuk mengurus pengajuan judul untuk skripsinya
“ahh akhirnya” gumam ningrum membawa selembar kertas keluar dari ruang dosen pembimbingnya
melihat ningrum keluar ruangan, miranda bergegas menghampirinya “ningrum, gimana?” tanya Miranda yang menunggu ningrum sejak pagi di luar ruangan dosen
“berhasil dong. Untung saja mata kuliah di Indonesia dengan di sini tak beda jauh jadi aku tak kesulitan mengajukan judul skripsiku”
ucap ningrum
“iya, syukur ya rum, semoga kamu bisa garap skripsi sambil tetap menyelesaikan mata kuliah
yang harus kamu tetap ambil ya rum” balas Miranda
“iya Miranda. Aku usahain deh wisuda bareng kamu” ucap ningrum pada Miranda yang sudah lebih dulu menggarap skripsi di banding ningrum
“suamimu bolehin kita main kan?” tanya Miranda
“iya, tapi dia kasih sopir buat anter kita. Katanya aku gak boleh capek” balas ningrum
“enak banget jadi kamu ya rum, suami kamu tuh manjain kamu banget. ya walaupun masih
ngelarang sana-sini sih. Tapi kan semua buat kebaikan kamu” ucap Miranda mengingat perhatian jonathan untuk ningrum yang terlihat sangat jelas
“iya mir, aku bahagia banget nikah sama mas jo” balas ningrum tersenyum bahagia memikirkan suaminya yang begitu perhatian
dengannya dan selalu mementingkan keamanan serta kenyamanannya
“inspeksi dadakan” balas Miranda
Ningrum menautkan kedua alisnya “inspeksi dadakan gimana?” tanya ningrum tak mengerti maksud Miranda
“udah ikut saja” ajak Miranda tak memberitahukan rencananya pada ningrum
***
Ningrum dan Miranda memakai kacamata dan selendang menutupi kepalanya agar tak dikenali
“sebenarnya kita ngapain sih mir?” tanya ningrum bingung dengan penampilan yang mereka pakai atas permintaan Miranda
“ husst diam” ucap Miranda saat orang yang di intai sudah datang
Ningrum menoleh kearah pandangan Miranda “ kak
aditya” gumam ningrum menutupi wajahnya dengan majalah
“kamu ngawasin kakakku? Kenapa? Tanya ningrum
penasaran
Miranda menghela nafas kasar “sudah aku ngaku deh, aku pacaran sama kakakmu, dan ini sudah jalan 2 tahun” ucap Miranda
“apa?!” ucap ningrum kaget
“jangan keras-keras rum nanti ketahuan” ucap Miranda memperingati
__ADS_1
“ya terus ngapain kamu malah ngikutin kak aditya kaya gini?” tanya ningrum
“kakakmu jadi aneh belakangan ini, dia jarang menghubungiku rum, dia sibuk dengan dunianya aku merasa di abaikan” balas Miranda mengerucutkan bibirnya
Ningrum membanting majalahnya “ya ampun mir, itu mah karena memang karena kakakku yang sedang sibuk. Kak zian belum lama ini pulang ke Indonesia. Jadi yang urus cabang disini kak aditya sendiri makanya dia sibuk” balas ningrum yang tahu alasan kesibukkan kakaknya
“husstt” Miranda meletakkan telunjuknya di bibirnya meminta ningrum diam agar tak ketahuan aditya
Aditya yang sudah selesai membahas bisnisnya yang hanya sebentar saja karena hanya tandatangan kerjasama. aditya tak sengaja mendengar perbincangan adiknya bersama Miranda tersenyum simpul “dasar pencemburu” gumam aditya
Aditya berjalan kearah ningrum dan Miranda “ngapain kalian di sini?” tanya aditya
Miranda melepas kacamata dan selendang baru ia pakai “makan lah, emang ngapain” balas Miranda membuang mukanya kasar
“sudah makan belum rum?” tanya aditya pada adiknya
“belum kak, persenan nya belum datang” balas ningrum
tersenyum pada kakaknya
Aditya duduk di samping Miranda “ya sudah makan dulu” balas aditya ikut menunggu pesanan ningrum dan Miranda datang
Mereka pun akhirnya makan bertiga dan saling bercanda walaupun Miranda masih manyun sepanjang obrolan mereka bertiga
“rum, kamu di antar sopir kan?” tanya aditya memastikan cara adiknya pulang
“iya kak, mas jo siapin sopir buat ningrum karena tahu mau jalan-jalan sama Miranda” balas ningrum
“kamu pulang sendiri gak papa kan? Kakak mau pinjam
Miranda dulu ” tanya aditya
Mendengar pertanyaan kakaknya, Ningrum jadi ingin memperjelas apa yang ingin diketahuinya “kakak beneran pacaran sama temen ningrum ini ?” tanya ningrum melirik Miranda
Aditya mengembangkan senyumnya “berarti gak ada yang
perlu di tutupin lagi dong” ucap aditya merangkul Miranda mendekatkan ke tubuhnya
Miranda berusaha melepas tangan aditya yang memegang bahunya “ih ini tempat umum mas” ucap Miranda malu dengan sikap aditya
“waaah, sudah panggil mas loh?” ucap ningrum tak percaya, ningrum menatap aditya “kak zian tahu?” tanya ningrum
“tahu lah, orang dia yang kerjaannya telpon kakak
harus pulang sebelum jam 10 malam, takut pergi sama Miranda” balas aditya terkekeh
Ningrum menepuk tangannya sambil menganga “wah wah
wah gak nyangka ningrum, ketinggalan informasi jauh kaya gini” ucap ningrum
“tapi kamu jangan sampai bilang ke mama sama ayah dulu ya?” pinta aditya
“kenapa? mama pasti seneng denger kakak dapat pacar" tanya ningrum bingung
“kamu mungkin pernah dengar kalau Miranda sudah di
jodohkan sejak kecil" tanya aditya
"iya" balas ningrum mengangguk dengan ragu karena Miranda yang tak suka jika perjodohannya di bahas
"Bisa kena amuk Miranda kalau sampai ketahuan pacaran
__ADS_1
dengan kakak di sini ” tambah aditya
“kakak serius enggak sama Miranda?” tanya ningrum