
***
Rafasya duduk di balkon kamar tempat ia menginap dengan di temani Mila
rafasya memandang hamparan bintang di langit “kamu mau tinggal lama di Jepang?” Tanya rafasya
Mila juga ikut memandangi bintang yang tak bisa di lihat di jakarta “entah lah, aku belum memutuskannya” balas Mila
“bagaimana kalau ada tawaran kerja di tempat lain, apa kau akan pergi?” Tanya rafasya
Mila menoleh kearah rafasya “kalau tawaran kerja. banyak kali sya, dari chili juga ada. Tapi sempet kepikiran mau terima tawaran yang dariThailand biar gak terlalu jauh dari Indonesia” balas Miranda
“kalau ada tawaran di Indonesia bagaimana?” Tanya rafasya
“emmmmmm” Mila kembali menatap langit “kalau di Indonesia sebenarnya jauh lebih banyak tapi kayanya aku gak pengen tinggal di Indonesia” balas Mila
rafasya menoleh kearah mila dengan tatapan tak suka “kenapa?” Tanya Rafasya
Mila menoleh kembali kearah Rafasya sembari mendesah “ahhhh" mila meregangkan otot tibihnya "di sini tak ada yang benar-benar mengharapkanku jadi aku malas tinggal di sini” balas Mila
“bagaimana kalau ada yang menginginkanu untuk tinggal di sini?” Tanya rafasya
Mila terkekeh “emang siapa? Ibuku saja tak menginginkanku jadi siapa lagi yang menginginkanku” balas Mila terkekeh
“bagaimana kalau aku?” Tanya rafasya
Mila membelalakkan matanya lebar “jangan asal ngomong rafasya “ balas Mila kembali terkekeh
“iya benar, aku ingin mempekerjakanmu untuk merawatku” ucap rafasya
awalnya ada rasa bahagia saat rafasaya mengucapkan ia ingin mila tinggal disini, tapi saat rafasya bilang ingin memperkerjakannya pikiran itu langsung menguap begitu saja “kalau itu jangan khawatir sya, aku pasti akan
merawatmu sampai sembuh, kalau perlu aku akan menambah cutiku di jepang bila perlu juga, aku akan mengundurkan diri dari sana. Jadi aku bisa merawatmu sampai sembuh” balas Mila
Mila tersenyum kearah rafasya “setelah kau benar-benar sembuh baru aku akan pergi. Kau juga tak perlu menggajiku, aku ikhlas kok merawatmu” tambah Mila
rafasya tak suka mendengar saat Mila tak ingin di gaji “aku ingin memperkejakanmu dengan gaji seluruh hartaku bukan dengan sukarela” balas rafasya
Mila terkekeh “gak usah sampai segitunya kali sya, pakai semua harta kamu pula? Nanti kalau kamu sudah sembuh dan aku pergi, emang kamu mau makan apa?” Tanya Mila
“aku inginnya mempekerjakanmu seumur hidup jadi bayarannya seluruh hartaku” balas rafasya
Mila kembali terkekeh “emangnya aku gak pengen nikah sama orang apa? Kerja sama kamu seumur hidup?” Tanya Mila menggelengkan kepalanya
“aku ingin memperkerjakanmu merawatku seumur hidup sebagai istriku” ucap rafasya
__ADS_1
"DEG" jantung Mila seakan berhenti berdetak
tapi Mila berusaha menepis perasaannya “hahahahah jangan bercanda sya?” Tanya mila dengan tertawa tapi rafasya hanya diam dan terlihat serius
melihat tatapan mata rafasya yang terlihat serius dan tak sedang dalam mode bercanda Mila langsung menghentikan tawanya “kamu serius?” Tanya mila
“tentu saja serius. Tapi resiko pekerjaanmu banyak sekali” ucap rafasya menatap manik mata Mila
“aku mungkin gak bisa apa-apa kalau tanpa bantuan kamu, dan mungkin aku juga gak bisa membuatmu punya anak. kau kan pernah dengar ucapan dokter kalau tubuh bagian bawahku lemah. Dan juga mungkin aku juga gak
bisa mengurus perusahaan secara maksimal dengan kondisi tubuhku jadi kemungkinan aku bangkrut nantinya besar” jelas rafasya membicarakan resiko pekerjaan yang di tawarkan rafasya
Rafasya mendongak kearah mila yang hanya diam terpaku “mungkin kau fikir aku bercanda tapi aku serius dengan hal ini mila. Aku gak bisa berkata sekarang aku mencintaimu karena itu terlihat sekali aku
bohong. Tapi kehadiranmu lah yang paling membuatku nyaman dan tenang. Denganmu aku merasa begitu di cintai dan diperhatikan. Walaupun hanya ada kita berdua kau yang paling membuatku merasa hangat dengan segala perhatian yang kau berikan” rafasya meraih tangan Mila “jika kau mau menikah denganku, aku akan
berusaha sembuh dan bisa mencintaimu seperti kau mencintaiku atau bahkan jauh lebih mencintaimu nantinya” ucap rafasya
“eh hahaha” Mila tertawa lalu berubah menangis tiba-tiba “hiks hiks hiks “ mila menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis
Rafasya bingun dengan sikap Mila “kau kenapa?” Tanya rafasya yang tak di jawab Mila
wajah rafasya mulai panik“aku salah ya mil? Maaf” pinta rafasya
rafasya membalas pelukan Mila “iya” balas rafasya tersenyum
Mila melonggarkan pelukannya “kalau gitu kita nikah sekarang saja ” ucap mila
“ha?” Ucap rafasya kebingungan
“aku gak mau kamu berubah pikiran dengan tiba-tiba. Jadi harus sekarang” pinta mila
“ya sudah, sekarang” balas rafasya langsung menghubungi ayahnya untuk mengurus pernikahannya dengan Mila
tentu saja orang tua rafasya sangat bahagia dan mendukung pernikahan rafasya dan mila karena orang tua rafasya yang tahu betul bagaimana perjuangan mila merawat rafasya sampai sekarang
setelah selesai menelpon ayahnya, Rafasya mendongak menatap mila “kata ayah, dia sudah minta kenalannya untuk mengurus pernikahan kita di sini, jadi kita tinggal kesana saja untuk ucap ijab qabul sama ambil surat” ucap rafasya setelah menghubungi ayahnya
“kapan? Sekarang bisa?” Tanya mila
rafasya menggaruk tengkuknya yang tak gatal “bisa sih sekarang, tapi kamu yakin mau ke sana jam segini? ” tanya rafasya dengan terbata
“ya sudah ayok” mila langsung mengambil pakaian ganti untuk rafasya dan berganti pakaian dan bergegas menuju ke kantor catatan sipil
Mila dan rafasya ke gedung catatan sipil sekitar jam 8 malam, dan langsung mengucap ijab qabul di sana dan membawa pulang surat nikah mereka
__ADS_1
(hal-hal, yang hanya halu ada di dunia novel saja )
***
Mila dan rafasya duduk di bangku salah satu taman yang tak jauh dari hotel tempat mereka menginap
“ih, harapanku selama ini terkabul” gumam mila mengusap foto dirinya dan rafasya yang ada dalam buku nikahnya
rafasya melirik senyum mengembang di wajah Mila “kamu sesenang itu?” Tanya rafasya
“tentu saja senang” balas Mila menampakan deretan gigi putihnya, tersenyum ke arah rafasya
“tapi kan aku gak kaya dulu lagi mil, kamu kan lihat tubuhku gak kaya dulu lagi banyak luka bakar dan juga kakiku yang sangat sulit untuk jalan” balas rafasya
“hussst” mila meletakkan telunjuknya di depan bibir rafasya
“aku tuh cinta kamu dulu mungkin anggapan kamu hanya sebatas karena fisik kamu" Mila mengingat tampang rafasya dulu " ya emang sih dulu kamu tampan banget, dan salah satu yang bikin aku jatuh cinta sama kamu. tapi yang paling aku suka kamu dulu itu saat kau yang begitu pintar, di mataku kau begitu bersinar setiap kita ada kelas bersama. Aku sangat suka kepedulianmu dengan sahabat-sahabatmu. Aku juga salut padamu
yang dulu sangat menjaga ningrum” jelas mila
Rafasya tersenyum kearah mila dan melahap telunjuk mila “hap”
Mila langsung menarik tangannya dengan reflex “geli tahu sya” ucap mila mengusap-usap tangannya
“abis kamu sukanya ngerayu aku terus” balas rafasya tersenyum jahil
Mila menautkan kedua alisnya “kapan aku ngerayu?” Tanya mila
“setiap hari” rafasya langsung menarik tengkuk mila dan melahap bibir ranum yang ada di hadapannya
Mila melonggarkan pelukannya “malu sya ini di tempat umum” ucap mila mengingatkan
Rafasya tersenyum dan bangun mengandeng tangan mila untuk kembali ke kamar inap mereka dengan langkah cepat
“sya kamu kok jalannya agak cepet, emang gak sakit?” Tanya mila sedikit khawatir melihat rafasya yang berjalan terlalu cepat sepanjang perjalanan ke kamar
Rafasya langsung menarik mila dengan cepat untuk masuk ke dalam kamar dan menguncinya
“gak sakit kok” balas rafasya kembali melahap bibir Mila
Mila mengalungkan tangannya di leher rafasya, mereka saling berpangutan menimbulkan suara khas yang menggema di penjuru ruangan
Rafasya membawa tubuh Mila ke ranjang sembari melucuti apa yang mengganggu di tubuhnya dengan cepat
Mila menahan dada rafasya “tunggu sya, kita mau langsung melakukannya?” Tanya Mila yang sudah polos dan hanya tertutupi benda berenda seperti kacamata itu
__ADS_1