Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter#8


__ADS_3

Lima tahun telah berlalu, usia ketiga cucu kakek Angga kini sudah berusia lima tahun. Semakin banyak tingkah untuk ketiga cucunya, sampai sampai sang kakek kualahan menghadapi ketiga cucunya yang super aktif.


"Kakek, kakek.. kita jalan jalan ke taman dan main bola di komplek rumah, yuk..." rengek Zakka sambil menarik narik kedua tangan sang kakek.


"Iya kek.. kita bermain di taman, yuk..." rengek Reynan dah Neyla bersamaan. Sang kakek tidak bisa menolak permintaan ketiga cucunya, sekali menolak bisa membuat isi rumah berisik. Mau tidak mau sang kakek harus menuruti permintaan cucu cucunya.


"Kalian mau pada kemana?" tanya Omma Qinan mengagetkan.


"Kita mau pergi bermain, Omma..." jawab Zakka yang masih memegangi tangan kanan kakek Angga.


"Mau ngapain kalian ke taman, bukankah dibelakang rumah juga ada taman untuk bermain?" tanya Omma Qinan.


"Di taman belakang Zakka tidak mempunyai teman, Omma..." jawab Zakka. Sedangkan Reynan dan juga Neyla terus menarik tangan sang kakek.


"Iya, iya nak... sabar Reynan, Neyla." Ucap sang kakek sambil menjaga keseimbangannya takut terjatuh, karena ketiga cucunya sama kuatnya jika tarik menarik.


"Ya sudah, kalau kalian mau pergi ke taman. Jangan bikin ulah lagi kamu, Zakka, Reynan, dan kamu Neyla." Pesan dari Omma untuk ketiga cucunya yang selalu membuat masalah jika berada di luar rumah.


Bahkan kedua orang tua si kembar sampai merasa malu karena sering mendapat panggilan dari pihak sekolah. Sedangkan kakek Angga tidak pernah mempermasalahkan tingkah ketiga cucunya, meski sang kakek sering mendapat imbasnya. Namun, tetap saja menyayangi ketiga cucunya.


Setelah berpamitan dengan Omma Qinan, kakek Angga dan ketiga cucunya segera pergi ke taman dekat komplek rumahnya.


Tidak lama berjalan, rupanya sudah sampai di taman xxx. Begitu ramai banyak orang dewasa dan anak anak yang sedang berolahraga di taman. Ada yang mengelilingi taman dengan cara jalan cepat dan berlari, ada pula yang bermain basket. Ada juga anak anak kecil yang bermain dengan permainan yang sudah ada di taman.


Zakka yang sudah membawa bola, kemudian langsung bermain dengan kedua saudaranya. Neyla pun ikut bermain bola bersama kedua kakak laki lakinya.


"Neyla, kamu jangan ikut, ya. Nanti kaki kamu sakit, bagaimana?" ucap Zakka menghentikan langkah Neyla yang hendak ikut bermain bola bersama kedua kakaknya.


"Kakek, kak Zakka nakal. Neyla tidak boleh ikut bermain bola." Ucap Neyla dengan berdecak kesal dan mengerucutkan bibirnya.


"Neyla bermain dengan kakek saja. Lihatlah, ada permainan di sudut taman. Kita kesana, bagaimana? kamu ini perempuan. Kamu tidak pantas bermain bola, masih banyak permainan di taman ini untuk kamu." Ajak sang kakek berusaha merayu cucu perempuannya.


"Tidak mau! Neyla mau ikut kak Zakka dan kak Reynan bermain bola, titik." Ucapnya sambil berdecak kesal. Sedangkan sang kakek sudah mulai merasa takut, jika tiba tiba Neyla memberontak.


"Neyla tetap ikut bermain bola bersama kakak, titik." Ucap Neyla yang tiba tiba sudah merebut bola dari Reynan yang hendak di tendangnya.


"Ney, kamu kan anak perempuan. Kamu mainnya di ujung sana, disana banyak permainan untuk kamu tau." Ucap Reynan yang langsung meraih bola yang berada di tangan Neyla.

__ADS_1


"Kak Reynan....!!!" teriak Neyla semakin kesal.


"Weeeeeekkkk..." ledek Reynan sambil menjulurkan lidahnya dan berlari tanpa melihat sisi kanan dan kiri.


Brukkkkkk!!! "aaaawwwwww" teriak Reynan kesakitan, tanpa sengaja dirinya tersandung batu kecil yang tidak terlihat.


"Emang enak..... weeeeekkkk" lagi lagi Neyla membalas mengejek sang kakak yang terjatuh. Sedangkan kakek Angga segera mendekati Reynan membantunya untuk berdiri.


"Neyla, tidak baik seperti itu. Seharusnya kamu membantu kak Rey untuk berdiri, kasihan. Kalian itu saudara kembar. Tidak baik jika saling bermusuhan, cepatan minta maaf dengan kak Rey." Ucap sang kakek menasehati.


"Tidak mau! Neyla mau memaafkan, kalau kak Reynan dan kak Zakka mengizinkan Neyla ikut bermain bersama." Jawab Neyla sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya, kamu boleh kok ikut main."


"Terimakasih.. mana bolanya, Neyla mau belajar menendang." Pinta Neyla dengan raut wajah yang ceria.


"Ini, kamu nendangnya hati hati."


"Iya, kak Reynan dan kak Zakka jaga bolanya disana." Perintah Neyla sambil menujukan kearah yang ditunjukkan untuk kedua kakaknya masing masing.


"Terus kakek jadi apa?"


"Baiklah." Jawab sang kakek menyemangati ketiga cucunya.


"Siap ya, kak.. Neyla tendang bolanya." Ucap Neyla sambil mengambil arah untuk menendang bolanya.


Deng!!!!! bola pun melayang jauh kearah bapak bapak yang botak melingkar. Kedua bola mata kakek Angga dan kedua cucu laki lakinya mengikuti arah bola yang ditendang oleh Neyla dengan kekuatannya yang super kuat.


Duuuuug!!! Tieng.....!!! pandangan orang tersebut tiba tiba berasa berkunang kunang dan pingsan dibuatnya.


"Ayah... bangun..." teriak ibu ibu paruh baya terkejut melihat sang suami tiba tiba pingsan setelah bola tendang mengenai kepala sang suami.


Kedua bola mata ibu ibu mencari sumber bola berawal ditendang, dan kedua matanya tertuju kearah ketiga cucu kakek Angga.


"Kakek..!!!" teriak Neyla ketakutan sambil berjongkok. Reynan dan Zakka segera mendekati Neyla mencoba menenangkan agar tidak ketakutan.


Sedangkan kakek Angga segera menghampiri orang sudah mendapat serangan dari cucunya.

__ADS_1


"Maaf tuan, maafkan saya." Ucap kakek Angga sambil menepuk nepuk kedua pipi pria paruh baya yang sedang pingsan, berharap segera sadarkan diri. Sedangkan ketiga cucunya merasa takut, terlebih lagi Neyla yang tanpa sengaja melayangkan bolanya hingga mengenai kepala seseorang yang sedang berdiri disekitaran taman.


"Saya tidak mau tahu, sekarang anda harus bertanggung jawab suami saya." Ucap ibu paruh baya yang tidak lain suami korban bola.


"Baik, mari saya antar ke klinik terdekat." Jawab kakek Angga berusaha sebaik mungkin.


"Biar saya dan anak saya yang akan ke klinik, saya meminta cek saja sama Tuan. Saya rasa, anda orang punya. Pasti mampu untuk memberikan biaya pengobatan kepada suami saya." Ucapnya menekan.


"Tidak bisa, saya harus memastikannya sendiri. Dan saya yang akan membayarkannya langsung." Jawab kakek Angga.


"Kalau tidak mau, ya sudah. Saya tidak akan memberi biaya pengobatan kepada Anda."


"Oooh, berani beraninya anda membiarkan korban begitu saja. Anak saya polisi loh, apa perlu saya laporkan ke polisi. Baik lah, akan saya hubungi anak saya. Agar anda tercoreng nama baiknya." Ucapnya semakin menekan, sedangkan kakek Angga hanya tersenyum.


"Silahkan kalau berani, saya tunggu anak anda datang kemari." Jawab kakek Angga santai, Reynan dan Zakka maupun Neyla semakin takut. Jika tiba tiba Neyla akan di penjara, pikir ketiga cucunya.


Ibu paruh baya tersebut segera menghubungi putranya untuk segera datang ke taman xxx.


"Lihatllah, sebentar lagi putraku dan atasannya akan segera datang. Aku pastikan, anda akan bermasalah." Ucapnya dengan bangga. Kakek Angga masih tersenyum mendengar penuturan dari ibu paruh baya tersebut.


Tidak lama kemudian, putranya datang bersama atasannya. Ibunya pun tersenyum lebar, karena sebentar lagi akan tercapai tujuannya.


"Ibu, ada masalah apa menelfonku." Tanyanya penasaran.


"Ini ada orang yang sudah membuat ayah kamu pingsan. Orangnya tidak mau bertanggung jawab." Jawabnya beralasan.


"Selamat sore Tuan Angga Wilyam, maafkan saya yang tidak memperhatikan keberadaan Tuan." Sapa salah seorang yang datang bersama putra dari orang yang sudah terkena tendangan bola oleh cucu kakek Angga.


JEDDUAR!!! suami istri mendadak kaget.


'Apa.... tuan Angga Wilyam yang terkaya di Negeri ini?' gumamnya kemudian bangkit dan berdiri lalu kabur begitu saja bersama istrinya terbirit-birit.


"Ayah... ibu... kenapa kalian berdua lari.." seru sang anak memanggilnya sambil mengejar kedua orang tuanya.


Sedangkan kakek Angga dan temannya tersenyum mengembang.


"Apa kabarnya kamu, tuan Angga." Sapanya lalu memeluknya sebentar.

__ADS_1


"Kabarku seperti yang kamu lihat, kamu sendiri bagaimana kabarnya? dan kapan kamu akan pensiun." Jawabnya menyapa balik.


"Kabarku seperti yang kamu lihat juga. Soal pensiun, sebentar lagi." Jawabnya.


__ADS_2