
Jack dan raka masih menunggu kasih di halaman rumah kasih yang sampai sekarang belum pulang padahal waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam
“ngapain kamu masih tetap disini, pulang sana” pinta raka tak suka melihat keberadaan jack
yang berada di depan rumah kasih sama seperti dirinya
“lah anda siapa? saya kan kesini mau ketemu
kasih bukan ketemu anda” balas jack
Raka mulai kesal, mencengkeram kerah jack berniat melayangkan pukulan pada jack
“om!” teriak rafasa dari balik jendela mobilnya
Rafasya turun dengan tergesa-gesa “kasih belum
pulang?” tanya rafasya melirik rumah kasih yang terlihat sepi
“kalau dia sudah pulang gak mungkin kita disini kan? ” balas raka kesal dengan pertanyaan rafasya
Rafasya bernafas lega “bagus kalau gitu, ayok pulang” ajak rafasya menarik tangan raka
Om belum mau pulang, om belum ketemu kasih” ucap raka menahan tangan rafasya yang ingin membawanya pergi
“kita harus pulang, semua keluarga kita sudah tahu perbuatan mu!” jelas rafasya
“ya sudah kalau sudah tahu, pokoknya om harus
bicara dulu dengan kasih” balas raka tak
perduli dengan masalah yang akan menimpanya di rumah
“om jangan ngeyel, om bisa mati kalau sampai pengawal kasih tahu perbuatan om padanya!” bentak rafasya memperingati raka
Jack membelalakkan matanya lebar “apa maksudnya kalau pengawal kasih bakal bunuh dia
kalau sampai perbuatannya pada kasih ketahuan?” tanya jack menatap tajam rafasya
Rafasya hanya diam saja tak mampu menjawab pertanyaan jack sepupunya “apa yang kau lakukan
pada kasih!” bentak jack mencengkeram kuat kerah raka
Raka melepaskan cengkeraman jack kasar “ini sama sekali bukan urusanmu!” balas raka
“tentu saja urusanku, dia adalah wanita yang paling berharga di hidupku” balas jack menatap
tajam raka
Raka tak suka dengan ucapan Jack “dia milikku! Dan dia juga orang paling berharga bagiku!” bentak raka
Jack menatap tajam ke arah raka begitu pula sebaliknya raka yang menatap tajam ke arah jack
__ADS_1
Julian dan rafasya saling lempar pandangan bingung harus apa
***
Rafasya membawa raka kembali ke rumah ningrum dengan muka sudah babak belur karena perdebatannya dengan jack setelah tahu raka pernah tidur dengan kasih dari mulut raka sendiri
Kakek sakti yang melihat kedatangan raka langsung berjalan mendekat “bugh” kakek
sakti langsung menghadiahi bogem mentah di pipi raka yang sudah babak belur makin membuat muka raka tak karuan
“om” teriak mama kaila melarang kakek sakti memukuli raka yang sudah babak belur
Kakek sakti tak memperdulikan ucapan mama kaila “apa kau sudah gila!” bentak kakek sakti menunjuk wajah Raka
Raka langsung berlutut di hadapan ayahnya "maaf yah” pinta raka memegang pipinya yang habis kena pukul oleh kakek sakti
“bagaimana bisa kamu berbuat kurang ajar pada kasih seperti itu?” tanya nenek angel
Raka memejamkan matanya “aku kelepasan mah” balas raka takut-takut
Kakek sakti ingin menghajar raka lagi tapi di tahan ayah virza “jangan om, lihat wajahnya” tunjuk ayah virza dengan lirikan matanya dengan kondisi Raka yang sudah babak belur
Kakek sakti berusaha meredam emosinya, duduk di sofa agak jauh dari raka
Ayah virza menghampiri raka dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Raka “terus apa yang akan kau lakukan pada kasih sekarang? ” tanya ayah virza
Raka tertunduk “aku gak tahu mas, aku ingin minta maaf pada kasih tapi dia tak pernah mengizinkan aku mendekat, bahkan kasih pernah minta pengawalnya memintaku menjauh dan membuat tanganku patah. Aku sama sekali bukan lawan
Kakek sakti menatap tajam ke arah raka “sudah untung, Cuma tanganmu yang patah. Kalau
dia tahu apa yang kamu lakukan gak Cuma tanganmu yang patah, tapi lehermu bisa
pisah dari badanmu kalau sampai si pria berdarah dingin pengawal kasih itu tahu kau sudah menodai tuannya . Sudah untung kasih gak cerita ke pengawalnya itu!” bentak kakek sakti menunjuk-nunjuk raka emosi
“glek” raka menelan salivanya kasar “apa sampai seperti itu?” tanya raka cemas
“makanya lain kali berbuat pakai otak, gak cuman nafsu saja” balas kakek sakti tajam
Ayah virza menimbang masalah yang di hadapi adik sepupu istrinya itu “ini emang sulit sih” gumam ayah virza menatap Julian dan rafasya “siapa saja yang tahu hal ini?” tanya ayah virza memastikan
“kami bertiga, kalian dan barusan jack tahu saat berdebat di depan ruma kasih" balas rafasya
"berarti tinggal masalah waktu saja, sampai pria itu tahu perbuatan Raka" gumam ayah virza
Ayah virza menatap serius kearah kakek sakti yang memegang pelipisnya “kita harus siap-siap om, kita hubungin kak boy untuk berjaga-jaga disekitar kita. Om tentu tahu betul brutalnya wiliam karena kalian pernah berada di bidang yang sama. Apalagi kalau sampai ada yang mengusik anak satu-satunya. Tentu om masih ingat cerita saat kasih di culik dulu bukan?” ucap ayah virza mengingatkan rahasia umum tentang penculikan kasih saat masih kecil
“iya za, tentu om masih ingat. Bagaimana kejamnya cara William membunuh penculik
anaknya itu” balas kakek sakti mengingat cerita bagaimana william ayah kasih menghabisi penculik anaknya
Mendengar itu ningrum ingin memastikan sesuatu “tunggu yah, ningrum pengen tanya?” tanya
__ADS_1
ningrum mengangkat tangannya
Ayah virza menoleh pada ningrum “apa?” balas ayah virza
“kalau lihat dari ucapan kalian ayahnya kasih sayang banget sama kasih tapi kenapa
kasih merasa orang tuanya gak pernah perduli padanya bahkan mereka tak pernah menemui kasih sama sekali sekedar menelfon saja masih bisa di hitung dengan
jari ” tanya ningrum
“mereka punya alasan kenapa menjauhi kasih selama ini, kami tidak tahu cerita pastinya.
Yang kami tahu mereka menjauh dan menitipkan pada pria berdarah dingin itu sejak kasih di culik saaat masih usia 3 tahun” balas ayah virza “semua orang tua punya caranya masing-masing untuk melindungi dan mencintai anaknya” tambah
ayah virza
“tapi mereka tak pernah khawatir dengan keadaan kasih, menelfon saja tidak pernah” balas ningrum
“jauh, bukan berarti kasih lepas pengawasan William” balas ayah virza
Ningrum menggaruk-garuk kepalanya bingung
***
Kasih memejamkan matanya “mas kasih lelah” ucap kasih lirih dengan masih menatap danau
Mas ojo menoleh ke arah kasih “jangan seperti itu nona” balas mas ojo
Kasih menoleh menatap manik mata mas ojo “aku mencoba mengerti mereka mas, sejauh yang aku
bisa untuk pahami tapi tetap saja kasih
masih gak mengerti” balas kasih tak mengerti jalan pikiran kedua orang tuanya
“jangan mengerti mereka non. Kalau nona pengen benci, benci saja jangan menahannya” balas mas ojo meminta kasih jangan mengerti jalan pikiran orang tua kasih
Kasih terkekeh “apa mereka memasang CCTV di tubuh mas ojo?” tanya kasih
Mas ojo menautkan kedua alisnya “maksud nona?” tanya mas ojo balik
“mereka menyetel mas ojo seperti mereka, mereka seolah menggantikan mas ojo seperti
orang tuaku” balas kasih
“mas ojo ikut ayahmu sejak orang tua mas ojo meninggal, dan saat itu mas ojo masih berusia 10 tahun, dan nona tahu itu kan?” mas ojo menatap kasih sendu “ kau memang keluarga mas ojo satu-satunya, nona sudah seperti anak, adik, kakak
bagi mas , mas ojo melihatmu lahir, belajar merangkak, berjalan makan dan bicara. Mas ojo yang mengurus mu sejak kamu usia 3 tahun sampai detik ini” mas ojo tak mampu membendung air matanya lagi “apapun yang mas ojo lakuin hanya demi kebahagiaanmu dan juga keamanan mu kasih” ucap mas ojo lirih
Kasih berdiri tak sanggup melihat kesedihan mas ojo yang terlalu menyayangi kasih walaupun dengan cara yang menurut sebagian orang langka dan aneh “ah sudahlah” kasih berjalan menuju mobilnya “pulang mas” pinta kasih dan mas ojo langsung mengikuti langkah kasih mengusap
air matanya
__ADS_1