
***
Hubungan rebecca dan zian makin mesra dan makin lengket setiap harinya , bahkan seperti pasangan yang baru menikah karena zian yang sering memilih tidur di kamar rebecca dari pada tidur di kamarnya sendiri
"sayang" sapa zian memeluk rebecca dari belakang
“kok om zian sudah pulang jam segini?” tanya rebecca melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 4 sore
zian membalik tubuh rebecca agar menghadap dirinya “gak papa, kangen saja sama bidadariku” ucap zian mengecup bibir rebecca gemas
“ekhem ekhem” ayah virza berdehem keras mengagetkan zian dan rebecca
“eh om dan tante pulang, ucap rebecca langsung berdiri menyambut kepulangan mama kaila dan ayah virza
“kalau gak tahan, nikahin saja, dari pada kamu ngikutin adikmu hamilin anak gadis orang” ucap ayah virza kesal melihat kelakuan anak sulungnya
Zian langsung menoleh kearah rebecca “ya sudah, nikah saja yuk” ajak zian pada rebecca
“zian!” teriak mama kaila “ rebecca masih kuliah semester 3, main ajak nikah saja” ucap mama kaila memperingati zian
“ya tadi kata ayah suruh nikahin saja kalau gak tahan” balas zian menunjuk ayahnya
“dasar kamu ya” ucap ayah virza melempar zian dengan bantal
“kakek mana yah, kok gak ikut pulang?” tanya zian yang tak melihat keberadaan kakeknya
“katanya masih mau tinggal di inggris sama ningrum” balas ayah virza
“oh” balas zian
mama kaila melirik leher rebecca yang ada tanda kemerahan “kalian selama kami tinggal gak tidur sekamar kan?” tanya mama kaila menunjuk zian dan rebecca
“uhuk uhuk uhuk” rebecca terbatu-batuk saking terkejutnya dengan pertanyaan mama kaila
Melihat raut keduanya seolah sudah menjawab pertanyaan mama kaila “ah pasti mereka tidur sekamar mas, nanti pasti kita dapat cucu tambahan lagi” keluh mama kaila mengetahui rebecca dan zian yang tidur sekamar
“ih mama ngomong apaan sih? Zian emang tidur di kamar rebecca tapi gak sampai menyentuhnya kok. Cuma meluk dikit” balas zian terkekeh
“sama aja, awalnya meluk nanti lama-lama pegang yanglain, terus lama-lama bikin kecebong ketemu rumahnya deh” gumam mama kaila mulai berpikir ke mana-mana
“ih mama!” teriak zian malu
“kalau om sama tante khawatir, rebecca tinggal di apartemen kak jack aja. Rebecca bisa belajar hidup sendiri kok” tawar rebecca
“enggak-enggak. Sama aja bohong kalau gitu. Pasti nanti zian yang ikut gak pulang nginep di apartemen kamu. kan kak jack lagi di perancis” ucap ayah zian
“terus gimana?” tanya rebecca
“kamu tinggal saja disini dengan kita. Biar zian yang tinggal di apartemen atau rumah yang lain” balas ayah zian
“ih, kok anak sendiri di usir?” tanya zian kesal karena dirinya di minta tinggal di luar
“biarin! Udah gede ini. Bisa mandi dan makan sendiri gak perlu bantuan orang tua lagi” balas ayah virza
“tapi kalau ngapelin rebecca masih boleh toh?” tanya zian
__ADS_1
Ayah virza menatap tajam zian “dari pada zian ajak main di luar?” ancam zian
Ayah virza menghela nafas panjang “ya sudah, boleh” balas ayah virza
“sudah ah, ayah mau istirahat. Setelah jam 10 malam kamu harus get out “ ucap ayah virza kesal
Mama kaila melirik ayah virza “mama juga mau istirahat dulu” mama kaila menunjuk zian dan rebecca “jangan macam-macam” ucap mama kaila memperingati
“ok mah” balas zian
“ke taman yuk” ajak zian
“ngapain?” tanya rebecca
“ya pacaran lah” balas zian menarik tangan rebecca agar mengikutinya
***
Rafasya sudah mulai berjalan-jalan di luar rumah sakit
“aku sudah capek mil” ucap rafasya yang kelelahan belajar berjalan dengan bantuan mila
“ya sudah kita istirahat dulu” balas mila membantu rafasya duduk di kursi roda
Mila mengusap keringat yang membasahi kening rafasya
“jangan terus seperti ini mila” pinta rafasya menghentikan gerakan tangan rafasya
“apa?” tanya mila pura-pura tak paham dengan maksud rafasya dan kembali mengusap keringat rafasya
rafasya
“aku gak berharap padamu” balas mila tersenyum
“kenapa kau jadi beda sih mil? Dulu kamu gak seperti ini?” tanya rafasya yang ingat betul bagaimana angkuhnya mila dulu
“aku gak berubah kok sya, aku masih mila wanita angkuh yang kamu kenal dulu” balas mila terkekeh mengingat dirinya yang dulu begitu angkuh dan percaya diri
“tapi dulu kamu pasti marah-marah saat ada orang yang membuatmu kesal. sekarang kok gak marah” balas rafasaya
Mila tersenyum “ternyata kau dulu memperhatikanku?” Tanya mila
“aku akan pulang ke Indonesia tahun depan” ucap rafasya
“deg” hati mila seakan tertusuk tapi mila seakan menutupinya dengan seyumannya “aku ikut senang jika kau ingin kembali pulang ke sana” balas mila
“kata mama kamu mau ikut menemani kami pulang?” tanya rafasya
Mila mengangguk “iya aku menemanimu sampai kau mendapatkan hak asuh anakmu dan mendapat seorang istri” balas mila tersenyum
“jangan tersenyum!” bentak rafasya
Mila terkekeh“terus aku harus bagaimana?” tanya mila
“apa harus menangis?” tambah mila
__ADS_1
“gak seperti ini mil, kau yang seperti ini malah membebaniku” balas mila
“jangan pikirkan tentang aku, ini hanya bentuk penebusan dosaku karena dulu aku sempat ingin bekerjasama dengan raksa untuk menghancurkan pernikahanmu dulu” ucap mila
“tapi pernikahanku hancur bukan karena kamu mila. Ini karena keadaan” balas rafasya
“terima kasih menganggapnya seperti itu” balas mila tersenyum
***
Rebecca berjalan menyusuri kantor zian untuk membawakan bekal makanan
“om zian pasti senang, aku bawakan makanan untuknya” gumam rebecca berjalan menuju kantor zian
Setelah sampai di lantai tempat zian bekerja, rebecca berjalan menuju ruangan zian
“hai om Jeremy” sapa rebecca
Jeremy sedikit gusar dengan kehadiran rebecca “nona disini?” tanya Jeremy
Rebecca melihat raut wajah Jeremy yang mencurigakan “ada apa?” tanya rebecca
Jeremy langsung menggeleng “enggak ada” balas Jeremy
“ya sudah, aku mau masuk” ucap rebecca berniat masuk ruangan zian
“jangan nona” ucap Jeremy menahan rebecca agar tidak masuk ruangan zian
“kenapa?” tanya rebecca bingung
“tuan ada tamu” balas Jeremy
“ya sudah aku tunggu di meja sekertaris saja” balas rebecca berjalan menuju meja sekertaris yang ada di depan ruangan zian
“jangan nona, lebih baik di ruangan saya saja biar lebih nyaman” balas Jeremy mengusulkan
“ya sudah” rebecca berniat berjalan menuju ruangan Jeremy
“aku mencintaimu zian!” teriak seorang wanita dari dalam ruangan zian
Rebecca menghentikan langkahnya mendengar suara teriakan seorang wanita “siapa?” tanya rebecca pada Jeremy
Jeremy bingung harus menjawab apa” ya sudah diam saja” ucap rebecca mengode Jeremy dengan tangannya
Rebecca menempelkan tellinganya di balik pintu menajamkan pendengarannya
“aku sangat-sangat mencintaimu zian” ucap zivanca lirih, air matanya sudah tumpah sedari tadi
“jangan seperti ini zivanca, kita itu berteman sejak dulu” balas zian tak ingin menyakiti hati zivanca
“tapi aku gak mau berteman denganmu aku maunya kamu jadi kekasihku” balas zivanca
“aku sudah punya kekasih, tolong jangan seperti ini” ucap zian
“bohong! Kamu gak mungkin punya pacar” balas zivanca tak percaya kalau zian punya kekasih
__ADS_1
Rebecca membuka pintu kasar “aku kekasihnya” ucap rebecca lantang kearah zivanca