
Ningrum menunggu di parkiran dengan cemas “ mana kasih ya “ gumam ningrum melangkah
bolak-balik menunggu kedatangan kasih di area parkiran kampus
Kasih yang barusan datang, bingung dengan tingkah ningrum yang bolak-balik tak jelas “ kamu kenapa rum?” tanya kasih yang baru sampai kampus di antar mas ojo
Ningrum menoleh ke arah kasih “kasih” ningrum langsung menghambur memeluk kasih
“kamu kenapa sih rum?” tanya kasih melonggarkan pelukannya bingung pada sahabatnya
“non, saya pulang dulu ya, nanti telpon saja kalau sudah jadwal anda pulang” ucap mas ojo pamit pada kasih dan ningrum menunduk memberi hormat
Ningrum menatap was-was ke arah mas ojo “kamu tahu tentang pengawal ku ya rum?” tanya
kasih yang seolah tahu arti tatapan mata ningrum pada pengawalnya
“hah?” ningrum menoleh kearah kasih bingung untuk menjawab pertanyaan kasih
“kalau kamu ingin menjauh dariku karena takut dengan mas ojo gak maslah kok, toh biasanya aku juga sendiri” ucap kasih bergegas pergi untuk menuju kelasnya
Ningrum menoleh pada kasih yang sudah berjalan menjauh. Kasih bergegas mengikuti kasih “ bukan seperti itu sih, aku cuman agak ngeri saat kakek bilang pengawal mu itu bisa membuat kepala om raka terpisah dari badannya dengan mudah” balas ningrum mengingat cerita semalam
Kasih menautkan kedua alisnya, menoleh kearah Ningrum" kenapa om sakti bisa bicara seperti itu?” tanya kasih
Ningrum tak enak hati dengan kasih “kakek sudah tahu perbuatan om raka ke kamu” ucap ningrum gugup
“deg”
jantung kasih seakan berhenti mendengar penuturan ningrum
“mereka sudah tahu?” gumam kasih lirih dengan wajah tertunduk
Ningrum menggenggam tangan kasih “mereka gak nyalahin kamu kasih, om raka yang salah
jadi mereka hanya menyalahkan om raka” jelas ningrum
Kasih menatap ningrum dengan tatapan memohon “jangan sampai mas ojo tahu semua ini ya?” pinta kasih
Ningrum mengangguk “iya kasih, kakek sudah mengingatkanku tentang hal itu” balas ningrum
“tapi maaf ya kasih, kalau boleh aku tanya, kok
kamu gak takut ataupun risih sama mas ojo sih? , padahal kan dari cerita kakek diab nyeremin banget” tanya ningrum ingin tahu alasan kasih tetap dekat dengan mas ojo
Kasih tersenyum “bagi orang-orang mungkin dia terkesan menakutkan tapi bagiku, dia
penyelamat hidupku, tanpa dia mana mungkin aku masih bisa hidup dan bertemu denganmu” kasih menggandeng lengan ningrum sambil berjalan menuju kelasnya “ Dan dia juga orang yang paling menyayangi dan mengerti diriku lebih dari siapapun di dunia ini. Dia juga yang selalu ada untukku saat aku membutuhkan sandaran
yang tidak diberikan orang lain bahkan orang tuaku sekalipun” balas kasih
Ningrum hanya menatap heran kasih tanpa bisa berkata-kata, karena jujur ia tak paham
dengan yang di rasakan kasih, karena memang Ningrum yang terlahir dengan kasih sayang penuh
__ADS_1
dari keluarga para sahabat dan orang terdekat orang tuanya berbeda dengan kasih
***
Jam kuliah kasih dan ningrum pun sudah selesai “kasih kita main yuk” ajak ningrum
“boleh”balas kasih merapihkan tas dan bukunya
“sekalian nanti kita beli hadiah untuk Rebecca ya, dia mau kembali ke perancis soalnya” tambah ningrum
“dia akan pulang ke perancis? Kapan?” tanya kasih
“iya, besok dia akan pulang. dia harus
menyelesaikan high scholl nya dulu, baru balik kesini melanjutkan kuliahnya” jelas ningrum
“ok, kalau gitu” balas kasih menggandeng tangan ningrum menuju parkiran tempat di mana mobil ningrum terparkir
***
Ningrum tersenyum bergandengan tangan dengan kasih sekaligus membawa banyak bingkisan
di tangannya “seneng ya sih belanja gini” ucap ningrum melirik belanjaannya yang banyak
“biasa aja”balas kasih terkekeh
Ningrum berdecih “iya sih, yang bisa beli barang setoko-tokonya dengan mudah” balas ningrum meledek kasih
“bukannya kamu juga gitu ya?” tanya kasih dengan tersenyum
Ningrum melirik kearah swalayan yang berada dalam Mall “kasih kita mampir ke swalayan
dulu ya, mau beli persediaan tamu bulanan ku” ajak ningrum
“boleh” kasih dan ningrum berjalan membawa troli untuk membeli pembalut untuk tamu bulanan wanita yang rutin di dapatkan ningrum
“kamu gak berencana punya momongan rum?” tanya kasih
“aku sih belum ada pikiran ke sana, sedikasihnya aja. Lagian aku sama kak rafasya nyantai
aja,kita lagi nikmatin indahnya masa berdua” balas ningrum tersipu malu
“iya sih rum, mendingan nanti saja punya momongannya, toh kamu masih muda jadi masih
enak nikmatin masa indah pacaran setelah menikah” balas kasih
Ningrum mulai memindai pembalut yang biasa ia beli “kamu biasanya beli merek apa?” tanya ningrum
“yang itu” tunjuk kasih pada pembalut berwarna
hijau
Ningrum tersenyum “kita sama ya sih, tapi aku sukanya yang ada sayapnya soalnya aku
__ADS_1
suka tumpah-tumpah kalau hari pertama” ucap ningrum mengambil beberapa bungkus pembalut berwarna hijau itu
“kamu ambilnya banyak amat rum?” tanya kasih heran melihat ningrum yang memasukkan beberapa bungkus besar sekaligus ke dalam troli
“biar gak bolak-balik, aku memang biasa stok untuk beberapa bulan. Kalau kamu
biasanya gimana?” tanya ningrum
“aku sih biasa beli hanya untuk satu bulan saja” balas kasih
“biasanya sih di akhir-akhir bulan, tamuku datang ” tambah kasih
“ya sudah kamu beli sekalian saja buat stok, ini kan sudah mau memasuki akhir
bulan” balas ningrum memasukkan beberapa bungkus lagi untuk persediaan kasih
“akhir bulan sebentar lagi” gumam kasih mengingat persediaannya masih ada di rumah
“sepertinya aku belum dapat tamu bulanan dari bulan kemarin, berarti aku telat berapa
minggu” batin kasih menghitung waktu ia telat datang bulan
“yuk sih” ajak ningrum membuyarkan lamunan kasih
Kasih tersadar dari lamunannya “iya rum” balas kasih mulai was-was
***
Ningrum dan kasih memesan nasi goreng kambing, makanan yang di inginkan ningrum
tiba-tiba
Pesanan ningrum sudah datang membuat ningrum ingin segera menyantapnya “enak banget
baunya ya kasih” ucap ningrum semangat
melihat nasi goreng yang ia pesan sudah di hadapannya
Kasih sedikit terganggu dengan bau yang di
timbulkan nasi goreng ningrum “ baunya gak enak sih rum” ucap kasih menutup hidungnya ingin muntah di depan ningrum
“masa iya sih? Bau kambingnya gak begitu menyengat kok” balas ningrum tak merasa bau
nasi goreng kambing yang ia pesan bau tak enak
“ya udah kamu makan saja ya rum, aku ke apotek bentar beli vitamin ya” ucap kasih ingin bergegas pergi
“ih bareng aja” tolak ningrum tak enak hati pada kasih yang pergi sendirian
“gak papa, kamu lanjutin makan aja, kan tadi emang aku gak kepingin makan. Aku Cuma
bentar kok. Lagian apoteknya di depan” tunjuk kasih pada apotik dalam mall yang tak jauh dari tempat makan yang ningrum dan kasih singgahi
__ADS_1
“ya sudah, jangan lama-lama ya” pinta ningrum
“iya” balas kasih tersenyum