
Hari pindahan rumah ningrum pun di gelar dengan sederhana, dan di hadiri kerabat dekat juga kenalan dekat ningrum dan rafasya
mama kaila dan mama karin sibuk menyambut tamu, membantu ningrum yang masih pemula dalam hal menyambut tamu
Julian dan raka berjalan beriringan membawa kotak besar sebagai hadiah pindahan rumah ningrum dan rafasya “hai rum” sapa Julian memeluk ningrum
“makasih sudah datang ke rumah ningrum yang sederhana ini” balas ningrum membalas pelukan Julian
“rumahmu emang keliatan sederhana dari luar tapi desainnya begitu unik tahu rum, aku sedikit-sedikit tahu. Rumah ini pasti merogoh kocek dalam untuk membuatnya” balas Julian memindai sudut rumah ningrum
rafasya menautkan kedua alisnya “masa sih? Tapi rumah ini aku beli dengan harga di
bawah pasaran tahu” balas rafasya terheran ikut memindai isi rumah barunya dan ningrum
“berarti kamu dapat untung besar sya” balas Julian melirik interior rumah ningrum “emang beli berapa kamu?” tanya Julian penasaran
“800 juta” balas rafasya
“apa?!” teriak Julian “gila tuh orang! Paling gak tuh 10 M kali rumah ini. Luas bangunannya aja sudah bisa dapet 6 M belum lokasinya yang bagus harusan 7 M lah kalau gak tahu desain rumah ini . Aku aja kalau suruh bayar 12 M, langsung aku beli” balas Julian semangat
“plak” raka memukul kepala Julian kasar “kaya punya duit segitu aja kamu” ejek raka
“aku gak punya, tapi kan sahabatku yang ini punya” Julian bergelanjut manja di lengan raka “jadi bisa pinjam dulu, tanpa bunga lagi” kekeh Julian membanggakan raka yang memang tak pernah perhitungan pada teman-temannya
“idih” raka mendorong Julian sampai terjatuh lalu bergegas menghampiri kerabatnya yang lain untuk mengobrol dan bertegur sapa
Rafasya menautkan kedua alisnya tampak berpikir keras “apa iya ya rum yang di omongin Julian?” tanya rafasya merasa tak nyaman dengan pernyataan julian
Ningrum memegang lengan rafasya “udah ah bang, gak usah di pikirin, kalaupun benar mungkin dia lagi butuh uang cepat jadi jual dengan harga segitu”balas ningrum
“iya mungkin” rafasya mengajak ningrum untuk mengobrol dengan para tamunya
***
“rum, mama sama ayah pulang ya” ucap orang tua ningrum pamit pulang
“kami juga pamit ya” tambah kedua orang tua rafasya yang ikut pamit pulang
__ADS_1
“iya mah, yah” balas ningrum dan rafasya memeluk orang tua mereka secara bergantian
Rafasya, ningrum, raka dan Julian duduk di ruang tamu rumah baru ningrum seusai para tamu pamit pulang “ngomong-ngomong rum, rumahmu nempel banget dengan rumah jonathan ya?” tanya raka melirik dinding samping rumah ningrum sangat berdekatan dengan rumah jonathan, dan rumah jonathan yang begitu terlihat jelas dari rumah ningrum dan rafasya
“ah” ningrum menengok kearah pandangan raka “ mungkin karena ini rumah mas jo kali ya, jadi dibikin dekat banget dengan rumah kasih” batin ningrum
“aku baru sadar sekarang ya om, kemarin gak sadar” balas ningrum
“untung tetangga kamu jonathan, kakak kasih jadi gak masalah” balas raka terkekeh
“ngomong-ngomong jonathan memberikan kau hadiah taman bunga itu?” tanya raka yang melihat tatanan taman rumah ningrum
“iya, katanya rumah ini terlalu sepi jadi mas jo menyuruh orang menata taman itu” balas ningrum senang dengan tatanan taman yang di atur jonathan
“soal menata rumah emang dia yang paling jago” ucap raka mengacungkan jempolnya
“iya juga ya, pantesan dia pengusaha properti yang mumpuni” tambah Julian menganggukan kepalanya
“ya sudah, karena sudah malam kami pulang dulu ya rum , nanti takut kasih ngambek kalau aku kelamaan pulangnya, soalnya dia kan gak om izinin ikut gara-gara mual seharian ” ucap raka berpamitan dengan ningrum dan rafasya
Ningrum dan rafasya mengantar kepergian raka dan Julian sampai depan pintu rumahnya
“istirahat yuk rum, kakak capek banget” ajak rafasya
“tapi rumah masih berantakan kak” balas ningrum
melihat isi rumahnya yang masih berantakan dan pembantu yang di minta rafasya
belum mulai berangkat bekerja
“besok saja beresinnya, pembantu juga kan datangnya
besok” balas rafasya
“ya sudah” balas ningrum mengikuti langkah suaminya menuju
lantai 2 tempat kamarnya berada
__ADS_1
Rafasya membawa ningrum masuk ke kamar yang akan
mereka tempati
“loh kita di sini tidurnya kak?” tanya ningrum
“iya, yang di sana kakak jadiin tempat pakaian kita, soalnya di sana lebih luas” balas rafasya menunjuk kearah kamar yang bersebelahan langsung dengan rumah kasih, eits rumah jonathan sekarang
“ya sudah ayuk tidur” ajak rafasya menggandeng tangan ningrum
“ningrum mau mandi dulu kak” ucap ningrum menuju kamar mandi
“ya sudah kakak tidur ya” balas rafasya langsung naik ke atas ranjang
Ningrum berendam air hangat cukup lama untuk menetralkan rasa lelahnya seharian mengurus acara selamatan rumah barunya
“ceklek” ningrum membuka pintu melihat suaminya sudah pulas tertidur. Ningrum menghampiri
rafasya membenarkan selimut suaminya itu
Ningrum yang belum mengantuk memilih melihat kamar pakaian yang disiapkan rafasya untuknya
“ah rapih bangret “ gumam ningrum melihat tatanan pakaian dirinya dan rafasya di ruangan paling luas di rumahnya
“ah ada apa di sana?” ningrum berjalan kearah tirai yang ada di ruangan itu
“prak” ningrum membuka gorden dengan gerakan cepat
“wah jendelanya gede banget” ningrum melihat kearah rumah jonathan “kalau disini keliatan banget rumah mas jo” gumam ningrum kembali melihat tatanan ruangan pakaiannya dengan seksama
***
“brugh” seorang pria terjatuh karena terkejut “buset bikin kaget saja” gumam mas jo melihat ningrum membuka tirai gorden rumahnya dan kebetulan jendela kamar jonathan yang bersebelahan dengan ruang pakaian ningrum
“ngapa dulu aku terlalu khawatir sama kasih saat bikin rumah itu” gumam jonathan menepuk kepalanya melihat ningrum yang terlihat jelas dari balik jendela “gak bisa” jonathan langsung menutup gorden kamarnya dengan gerakan cepat agar ningrum tak menyadarinya
“aku harus cari akal, bisa salah paham kalau mereka tahu kamar itu, bisa melihat rumah ini dengan jelas apalagi kalau mereka tahu, jalan itu” gumam jonathan membayangkan jalan pintas kedua rumah yang ia buat saat membangun rumah yang di tempati ningrum sekarang
__ADS_1