
Karena rafasya yang sudah lelah memasak, untuk
cuci piring, menjadi giliran ningrum
Ningrum menghampiri rafasya yang sedang menonton acara olahraga di TV ruang keluarga “sudah selesai cuci piringnya?” tanya rafasya
Ningrum mengangguk “sudah”
Ningrum bersandar di lengan rafasya, mendongak
menatap suaminya “besok kakak kuliah jam berapa?” tanya ningrum
“untuk besok kakak belum ada jadwal, kuliah kakak kan Cuma di hari selasa, rabu dan kamis, selebihnya kakak ke kantor” balas rafasya
“yah ningrum sendirian dong” rengek ningrum
Rafasya menoleh ke samping “kamu kangen ya sama kakak?” tanya rafasya menggerlingkan sebelah matanya
“pisah aja belum dah di tanya kangen” bantah ningrum memanyunkan bibirnya
“besok kan kamu kuliah Cuma sampai siang, nanti
kakak jemput deh, ikut kakak ke kantor biar gak bosen”ucap rafasya
ningrum menghela nafas panjang “coba ada Miranda ya, pasti gak terlalu kesepian
deh” gumam ningrum
rafasya mengacak rambut ningrum “nanti kamu juga dapat temen di kampus, itu karena kamu belum sosialisasi aja” ucap rafsya
“di kampus tuh banyak teman satu sekolah ningrum tau kak, tapi ningrum gak ada yang kenal. Itu gara-gara kakak dan kakak-kakak
yang lain pada kelewat protektif sama ningrum”ucap ningrum
“ya itu karena kami mengkhawatirkan kamu rum,
lagian dia antara 6 keluarga hanya kamu anak perempuan satu-satunya jadi kita sebagai pria ingin menjagamu lebih” balas rafasya
“iya kak” balas ningrum
“mama Karin tadi telfon, katanya minggu depan kita suruh nginep sana. Bilangnya sih kangen kakak” tambah ningrum
“ok”balas rafasya
***
“hati-hati ya rum” ucap rafasya mengecup kening
ningrum
“iya kak” balas ningrum
Ningrum turun dari mobil melambaikan tangannya
melepas kepergian suaminya.
Ningrum bergegas menuju kelasnya untuk belajar.
Ningrum belajar dengan serius dan mencatat setiap poin yang di sampaikan dosennya
“jangan lupa kumpulkan tugas kalian saat pertemuan selanjutnya, dan jangan lupa kerjakan tugas presentasi kalian” ucap dosen
ningrum menutup perkuliahannya
“kamu mau kemana rum abis ini?” tanya kasih teman baru ningrum
“palingan ke kantor kak rafasya, kenapa emangnya?” tanya ningrum
“pengen ajak kamu jalan ke mal, tapi kamu malah
mau nyusul pacarmu” balas kasih
“ya sudah kita ke mal saja” balas ningrum
__ADS_1
kasih menautkan kedua alisnya “katanya mau ke kantor kak rafasya?” tanya kasih
“aku ke sana karena bingung mau ngapain, tapi
kalau ada temen mending aku jalan saja, lagian di sana aku juga hanya duduk diam nungguin dia kerja” balas ningrum
“beneran?” tanya kasih semangat
“iya, aku telfon kakak dulu ya” ningrum
menghubungi rafasya untuk meminta izin pergi dengan kasih
“yuk sih, kata kakak gak papa, kita jalan. Kamu
bawa mobil kan? Kalau gak kata kakak nanti dia kirim mobil buat kita” ucap
ningrum
“bawa kok” kasih menggandeng ningrum dengan
semangat menuju parkiran
***
ningrum dan kasih belanja beberapa keperluan
harian mereka “ Kamu punya saudara berapa rum?” tanya kasih saat mencoba gaun
mini dress berwarna abu-abu
“aku punya dua kakak, yang satu sedang ada bisnis di inggris dan yang satu kuliah di sana” balas ningrum duduk mengamati pilihan
kasih
“wah seneng ya kamu rum punya 2 kakak” ucap kasih
“seneng apa? , yang ada rempong”balas ningrum membayangkan protektifnya kakak-kakak ningrum
Kasih menekuk bajunya duduk di samping ningrum “harusnya kamu seneng punya 2 kakak yang sayang kamu, gak kaya aku yang Cuma
dirinya yang suka tinggal sendiri di rumah karena orang tuanya punya bisnis di beberapa negara
“kasian ya kamu, nanti aku akan sering menemanimu deh. Tapi selagi kak rafasya lagi sibuk” kekeh ningrum
“kamu sayang banget sama pacar kamu ya, kamu sudah pacaran berapa lama sama dia?” tanya kasih
Ningrum terkekeh” kamu jangan bilang ke
orang-orang ya" ningrum mendekatkan wajahnya ke telinga kasih "aku Cuma kasih tahu kamu saja” ucap ningrum
Kasih menyipitkan matanya ke arah ningrum " kami sebenarnya sudah menikah, makanya kita sering banget bareng” balas ningrum
Kasih membulatkan matanya lebar “kamu sudah nikah dengan kak rafasya toh! , aku gak nyangka loh” ucap kasih
“kami belum lama sih nikah, baru 2 mingguan lah” balas ningrum
“masih pengantin baru dong?” tanya kasih
“iya masih, makanya masih lengket-lengketnya kita” balas ningrum malu-malu
“tapi yang aku dengar dari orang-orang kampus,
kalau kamu sudah lengket sama kak rafasya sejak kalian masih kecil?” tanya kasih penuh selidik
ningrum menggaruk tengkuknya yang tak gatal “iya sih, keluarga kami memang dekat, jadi kamis
sudah kenal sejak kecil bahkan sejak aku masih dalam perut, dia sudah kenal aku” kekeh ningrum
“asyik ya rum” ucap kasih
“nanti kapan-kapan aku kenalin dengan kakak-kakak aku deh”usul ningrum
“nunggu kakak kamu pulang dari inggris?” tanya
__ADS_1
kasih
“bisa jadi sih" ningrum memikirkan kedua kakaknya " tapi aku juga masih punya beberapa kakak yang tinggal di Jakarta, juga ada 1 om yang usianya gak jauh dari kak rafasya” jelas ningrum
"loh kamu masih punya kakak yang lain? " tanya kasih
"iya, nanti aku jelasin tentang mereka kalau kamu sudah ketemu mereka. yang penting kamu mau kan aku kenalin kakakku? " tanya ningrum
“boleh” balas kasih semangat
“makan yuk, aku lapar nih”ajak ningrum
“ayuk” ningrum dan kasih memutuskan makan di salah satu restoran yang ada di mall
“rumahmu dimana rum, biar aku antar sekalian” ucap kasih di sela makannya
“gak usah, om ku bilang mau jemput aku,
katanya nenek sama kakekku kangen padaku” balas ningrum meletakan ponselnya setelah membalas pesan om raka
“oh”kasih mengangguk
Ningrum dan kasih menikmati makannya dengan canda tawa “ningrum” panggil raka melambaikan tangannya ke arah ningrum
“hai om” ningrum melambaikan tangannya ke arah
raka
raka menghampiri ningrum dan kasih yang duduk berhadapan “om susah cari ningrum ya?” tanya ningrum
“gak kok rum, kakak masuk cari restoran ini terus
ketemu kamu” balas raka
“oh ya kenalin dia teman baru aku di kampus,
namanya kasih” ucap ningrum memperkenalkan kasih pada om nya
Raka tersenyum ramah pada kasih “raka” raka
menjabat tangannya ke arah kasih
Kasih terdiam terpaku melihat ketampanan raka
“dia kenapa rum?” tanya raka menoleh pada ningrum, karena kasih yang hanya diam saja
“sih”panggil ningrum menyadarkan lamunan kasih
“ah”kasih tersadar dari lamunannya menjabat tangan raka “kasih” balas kasih
“kamu teman ningrum ya?” tanya raka
“iya om, eh raka, eh….”kasih menggaruk alisnya
bingung harus memanggil apa
Raka terkekeh “kamu panggil sesukamu saja, kalau kakak-kakak ningrum yang lain sih panggil saya om, karena ngikutin kakak
ningrum, walaupun sebenarnya umur kita tak jauh berbeda” jelas raka
“ya sudah abang saja” balas kasih
“ah” raka terkejut dengan panggilan yang dibuat
teman keponakannya itu
“gak masalah kan? Soalnya kalau manggil om,
keliatan masih muda gak enak, kalau panggi nama terkesan gak sopan jadi panggil abang
saja” balas kasih
Raka menaikan sebelah alisnya “kenapa tidak kakak, atau mas saja?” tanya raka memberi opsi lain
__ADS_1
Kasih tersenyum “itu karena” ucap kasih masih menggantung ucapannya