
Kini Ganan dan ayahnya sedang dalam perjalanan pulang, keduanya merasa sangat lega. Apa yang dikhawatirkannya kini dapat terselesaikan dengan kepala dingin. Tidak perlu membalasnya dengan emosi ataupun kekerasan.
"Akhirnya, apa yang kita takutkan telah terselesaikan ya, Pa.. Ganan sempat shok jika papa dan Alfan datang terlambat. Ganan tidak tahu apa jadinya, jika satu detik saja papa tidak datang. Mungkin Ganan dan Maura dan juga calon anak Ganan tidak terselamatkan jika papa dan Alfan datang terlambat." Ucap Ganan didalam perjalanan pulang.
"Ini semua berkat Alfan, jika bukan Alfan yang mengendarai mobil mungkin bisa saja jalan di tempat. Karena begitu macet perjalanan tadi." Jawab sang ayah.
"Aaah paman tidak perlu berlebihan, ini semua sudah menjadi kehendak Tuhan." Ucap Alfan menimpali.
"Sudah sudah... nanti malam kita makan bersama di Restoran Tirta. Dan besok kita akan mengadakan berbagi dengan anak anak yatim piatu dan warga yang kurang mampu, seperti yang dilakukan oleh keluarga kakek Danuarta." Ucap tuan Angga.
"Iya..." jawab keduanya.
Tidak lama kemudian, Ganan dan Ayahnya sudah sampai di rumah. Maura, Zell dan juga nyonya Qinan sudah menunggu didepan rumah. Karena sedari tadi Maura gelisah, Maura masih mengkhawatirkan keadaan suaminya dan juga papa mertuanya.
Ganan pun segera turun dari mobil, Maura yang melihat sosok suaminya segera menghamburkan pelukannya kepada sang suami. Ganan pun menerima pelukan dari sang istri.
"Aku baik baik saja, nukan? kamu tidak perlu takut, semua kekhawatiran kamu sudah dibayar lunas. Dika dan Revan sudah menyadari perbuatannya." Ucap Ganan meyakinkan.
"Benarkah? syukurlah kalau begitu. Akhirnya tidak terjadi pertumpahan darah, dan pikiranku sudah sedikit tenang." Jawab Maura tersenyum mengembang.
"Sudah sudah... ayo kita semua masuk." Ajak nyonya Qinan. Semua ikut masuk dan segera membersihkan diri di kamar masing masing. Sedangkan kakek Jaya masih beristirahat di dalam kamar.
Didalam kamar, Ganan segera membersihkan diri karena badannya terasa gerah dan lengket. Sedangkan Maura berbaring diatas tempat tidur, karena perasaannya kini sudah merasa lega. Apa yang ditakutkan sudah dapat diselesaikan dengan baik.
__ADS_1
Setelah semuanya sudah bersiap siap, kini Ganan dan Maura maupun yang lainnya segera berkumpul di ruang tamu. Karena akan menikmati makan malam bersama di Restoran Merpati Jaya.
"Pa, mana kakek Jaya. Kok belum keluar?" tanya Ganan pada ayahnya.
"Sebentar lagi, Alfan sedang mengajaknya. Tunggu dulu sebentar, karena malam ini tidak hanya kita yang akan malam bersama. Tetapi keluarga besar Wilyam dan juga keluarga besar Danuarta dan juga yang lainnya ikut menikmati makan malam bersama kita." Jawab sang ayah.
"Wah... bakalan ramai nih kumpul bersama untuk makan malamnya." Ucap Zeil ikut menimpali.
"Iya, kita akan menikmati kebersamaan dengan orang orang terdekat kita." Jawab nyonya Qinan yang juga ikut menimpali.
Setelah sudah siap, semua langsung keluar dan menaiki mobil masing masing.
Didalam perjalanan Ganan maupun yang lainnya sudah tidak lagi merasakan kekhawatiran akan keselamatan karena ancaman.
Keluarga Danuarta menyambut hangat kedatangan keluarga Wilyam. Hanya saja kakek Wilyam tidak bisa ikut dalam acara tersebut, karena kakek Wilyam ingin menikmati sisa hidupnya bersama Zio.
Kakek Jaya tersenyum bahagia, yang dimana dirinya dapat dipertemukan kembali bersama sahabatnya yang tidak lain adalah kakek Danuarta. Begitu juga dengan kakek Danuarta yang sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan sahabatnya yang tidak lain adalah kakek Jaya.
"Jaya Karsa... bagaimana kabar kamu?" sapa kakek Danu lalu memeluk erat sahabatnya. Semua terharu akan persahabatan keduanya, tuan Angga maupun tuan Ferdi sangat terharu melihat persahabatan yang sudah begitu lama tidak pernah bertemu.
"Kabarku seperti yang kamu lihat, Danu. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" jawab kakek Jaya dan menyapa balik.
"Begitu juga denganku, kabarku seperti yang kamu lihat, Jaya.." jawab kakek Danu tersenyum mengembang.
__ADS_1
Tuan Angga pun berharap akan persahabatannya dengan Galuh dan juga Vino terjalin kembali tanpa rasa kebencian. Tuan Ferdi yang melihat tuan Angga menitikan air matanya segera menghampiri.
"Tidak cuman kamu yang merindukan persahabatan kita dulu, aku pun demikian. Aku pun berharap, semoga Galuh dan juga Vino dibukakan pintu hatinya dan segera bertobat dan kembali lagi persahabatan kita." Ucap tuan Ferdi yang kemudian merangkul tuan Angga yang dimana dahulunya memiliki persahabatan yang begitu erat.
"Aku masih berharap, jika Galuh akan merubah pikirannya dan kembali menjadi lebih baik." Jawab tuan Angga.
"Sudahlah, kita tinggal doakan saja untuk mereka berdua. Semoga harapan kita terkabul." Ucap tuan Ferdi meyakinkan.
"Sudah sudah.. nostalgianya nanti kita lanjut lagi. Sekarang kita menikmati makan malam dulu, para pelayan sudah menyiapkannya sedari tadi." Ucap kakek Danu mengganti topik, agar tidak larut dalam masa lalu.
Semuanya pun nurut apa yang kakek Danu ucapkan, semua segera menuju ke ruangan khusus. Didalam ruangan semua menikmati makan malamnya, suara detingan sendok saling beradu hingga menyuarakan kebersamaan dalam pertemuan yang sudah lama tidak terjalin.
Kebahagiaan yang benar benar kini dirasakan, namun tidak bagi kakek Jaya yang sedang memikirkan putra dan cucunya. Ditambah lagi dalam tahanan, disaat menikmati makan malamnya tiba tiba air mata kakek Jaya jatuh tanpa disadarinya.
"Paman... kenapa menangis?" tanya tuan Angga penasaran.
"Aku merindukan putraku dan juga cucuku." Jawab kakek Jaya bersedih.
"Besok akan aku antarkan paman ke tempat dimana Vino dan juga Revan. Paman tidak perlu khawatir, semuanya akan terbebas dari masa hukuman." Ucap tuan Angga meyakinkan. Meski dalam pikiran Angga masih kurang yakin jika Galuh dan Vino akan segera berubah menjadi lebih baik. Namun apa salahnya berprasangka baik, bisa jadi apa yang diprasangkakannya akan kenyataan.
"Benarkah? terimakasih ya, Angga... paman begitu merepotkan kamu dan menyulitkan kamu. Maafkan putra paman dan juga cucu paman." Ucap kakek Jaya merasa tidak enak hati terhadap keluarga Wilyam.
"Sekarang paman habiskan makan malamnya, setelah ini kita akan jalan jalan di suatu tempat. Paman mau, kan?" Jawab tuan Angga menenangkan pikiran kakek Jaya.
__ADS_1
"Baiklah, Angga. Paman percaya sama kamu, karena kamu tidak jauh beda dari papa kamu yang selalu memberi kejutan untuk paman. Sayangnya, papa kamu tidak di Tanah Air. Seandainya masih bisa berkumpul pasti akan terasa bahagia berlipat lipat. Paman sangat merindukan masa lalu kita yang dimana kamu dan Vino begitu akrab dan juga dengan Ferdi dan Galuh. Kalian berempat sangatlah akrab waktu kecil, tidak ada rasa kebencian diantara kalian. Namun kebencian itu datang setelah kalian dewasa. Paman berharap semua akan kembali seperti masanya yang sudah kalian lewati." Ucap kakek Jaya teringat masa lalu.