Menikah Karena Perjodohan

Menikah Karena Perjodohan
Bonus Chapter #15


__ADS_3

Setelah banyak bercerita dan mengobrol bersama di ruang keluarga, kini saatnya untuk beristirahat. Sedangkan nyonya Maura dan nyonya Zeil menghabiskan waktunya untuk bersenda gurau bersama, dimana lagi kalau bukan di taman belakang.


Sedangkan anak anak dari Ganan dan Alfan kini sedang bermain bersama, mereka semua ditemani beberapa pelayan rumah. Tuan Ganan dan tuan Alfan kini pergi keluar untuk pergi ke Restoran tuan Tirta, ingin banyak bercerita dan juga bertukar pendapat tentunya.


Didalam perjalanan, tuan Ganan banyak bercerita maupun bersenda gurau. Keduanya nampak akrab dan tidak ada lagi rasa canggung untuk tuan Alfan. Meski awalnya sebagai supir dan juga anak buah tuan Ganan, namun tidak membuat tuan Alfan merasa minder.


"Kak Ganan, bagaimana kabarnya tuan Tirta dan juga tuan Dana? sudah lama aku tidak pernah kontak dengannya. Apakah tuan Dana sudah memiliki anak?" tanya tuan Alfan membuka suara.


"Sama, aku pun tidak pernah mendapatkan kabar dari Dana. Terakhir aku dengar berita, bahwa istri Dana mengalami kecelakaan pada pesawat yang di tungganginya."


"Jadi.... Dana belum sempat menikah?" tanya tuan Alfan dengan penasaran.


"Benar, aku mencoba untuk menemuinya tetapi tidak dapat aku temui. Aku dengar dari keluarganya pergi entah kemana, dan sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengannya."


"Aku kira masih dengan Elin, dan mempunyai anak. Rupanya belum mencapai kebahagiaannya sudah diuji yang sangat berat. Semoga kita dapat dipertemukan kembali dengan Dana."


"Semoga, begitu juga dengan kamu. Apa yang kamu harapkan dan yang kamu nantikan dapat terwujud seperti harapan kamu. Aku dan papa sudah berusaha untuk mencari informasi, nemu tidak kunjung ditemukan."


"Sama saja, aku di Amerika sudah melakukan penyelidikan secara detail juga tidak aku dapatkan jawabannya. Mungkin belum saatnya semua akan terungkap, aku dan istriku sedang dalam ujian. Aku akan tetap sabar untuk menunggu, walaupun dengan pikiran yang gelisah sekalipun."


"Aku yakin, kamu pasti kuat. Kamu dan istrimu pasti bisa melewatinya, sekarang yang terpenting kamu tetap melakukan penyelidikan."


"Tentu saja, aku tidak akan pernah berhenti untuk mencari informasi."


"Baguslah, begitu juga denganku dan papa akan melakukan penyelidikan sampai benar benar informasi yang akurat dapat aku dapatkan." Ucap tuan Ganan mencoba menyakinkan saudaranya, agar perasaan khawatirnya tidak mengganggu kesehstannya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, tuan Ganan dan tuan Alfan kini telah sampai di depan Restoran milik sepupunya. Siapa lagi kalau bulan tuan Tirta Danuarta, putra semata wayang.


Setelah sampai diparkiran, Keduanya segera melepas sabuk pengaman. Kemudian langsung turun dan mencari keberadaan saudaranya. Keduanya celingukan kesana kemari untuk mencari sosok tuan Tirta.

__ADS_1


"Aku rasa tempatnya banyak perubahan, apa aku yang sudah amnesia."


"Tentu saja dirubah, wajah istri kamu saja banyak polesan. Apalagi ini, banyak pengunjung. Tentu saja banyak perubahan, apa kamu mau menetap di Tanah Air?" jawabnya dan bertanya.


"Aku belum tahu, akan aku pertimbangkan kembali."


"Kalau menurutku, sepertinya informasi yang kamu cari berasa di tanah air saja. Tidak jauh dari pandangan kita, mungkin kitanya yang kurang jeli."


"Sepemikiran kalau begitu, ayo kita cari tuan Tirta. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu."


"Baiklah, ayo ikut aku. Sekarang ruang pertemuannya ada disudut sebelah sana. Lebih adem dan tenang, kalau disini banyak anak anak muda memesan tempat untuk berkumpul." Ucapnya sambil menunjuk kearah yang di sebutkan oleh tuan Ganan.


"Aku nurut saja dengan kamu." Jawabnya kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan khusus untuk pertemuan.


Tidak lama kemudian, langkah kaki dari tuan Ganan dan tuan Alfan terhenti didepan ruangan yang ditunjuk oleh tuan Ganan. Sedangkan tuan Tirta sudah duduk manis dan bersantai.


"Tentu saja, kabarku sangat baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" jawabnya. Kemudian langsung memeluk saudara sekaligus sahabat.


"Kabarku sangat baik, makanya aku datang kemari." Tuan Alfan kemudian segera melepaskan pelukannya.


"Kenapa kalian hanya berdua, dimana anak dan istri kalian?" tanya tuan Tirta basa basi.


"Tentu saja ada di rumah, ini pertemuan diantara kita. Jadi.... tidak ada yang dapat mengganggu kita." Jawab tuan Ganan beralasan.


Sedangkan tuan Tirta yang mendengarnya pun hanya tertawa, karena dirinya tahu jika tuan Ganan mengajak anak kembarnya dan juga istrinya tidak akan bisa duduk dengan santai. Jangankan untuk duduk, terkadang untuk berdiri saja kualahan.


"Kenapa kamu tertawa, hei!" jawab tuan Ganan sambil menggembungkan kedua pipinya.


"Kamu saja tidak mengajak anak istrimu kemari. Hemmm ...." ucap tuan Alfan ikut menimpali.

__ADS_1


"Biasa, tuan Tirta juga tidak bisa diganggu gugat jika urusannya duduk santai." Sindir tuan Ganan sambil meninggikan satu alisnya.


"Aaah! sudah lah, ayo kita duduk. Aku sudah pesankan makanan untuk kita, sebentar lagi para pelayan datang."


"Sekali kali itu kamu yang menyiapkannya, jangan pelayan terus dong. Tunjukkan kharismatik kamu itu, jadi kita merasa tamu istimewa." Ledek tuan Ganan, sedangkan tuan Tirta hanya melirik kearah saudaranya. Ganan pun membalas dengan kedipan matanya.


"Gile, kamu. Akan aku laporkan ke nyonya Maura bahwa suaminya suka main mata, nyahok kamu."


"Aaah! sudah sudah.. kapan kita akan berbagi cerita kalau kalian berdua selalu mengejek."


"Iya, iya..." jawab keduanya.


Para pelayan pun sudah datang membawa beberapa makanan kesukaan ketiganya, tuan Alfan yang sudah lama tidak kembali ke tanah air terasa sangat merindukan makanan makanan dari tanah air.


Diantara ketiganya tidak ada yang bersuara saat menyantap dan menikmati makanannya, semua terdiam dan hanya ada suara sendok yang sedang menyapu piringnya masing masing.


Setelah merasa sudah kenyang, ketiganya segera menyapu piringnya masing masing hingga tidak tersisa. Dan akhirnya, ketiganya telah menghabiskan porsinya masing masing. Kemudian mereka bertiga melanjutkan obrolannya.


Sambil menikmati buah, ketiga bersenda gurau layaknya masih muda. Dikala ketiganya masih baru mengenal rasanya anak muda yang bebas nongkrong.


"Bagaimana kabar selanjutnya, tuan Alfan? aku dengar kamu belum mendapatkan informasi. Benarkah begitu?" tanya tuan Tirta penasaran.


"Benar, sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya. Seandainya saja, tapi kenyataannya tidak bisa aku andaikan. Semua masih semu, dan sulit untukku dipecahkan."


"Kamu yang sabar, aku doakan semoga kamu cepat mendapatkan informasi yang baik. Aku hanya bisa membantumu melalui tuan Ganan, selebihnya hanya doa yang bisa aku lakukan."


"Terimakasih, itu sudah lebih dari cukup. Aku pun masih dalam penyelidikan, entah kapan dan seperti apapun itu jawabannya akan aku terima dengan lapang dada."


"Aku yakin, kamu pasti bisa mendapatkan informasi. Bukankah kamu pernah menjadi kaki tangan tuan Ganan, kamu saja bisa melakukan penyelidikan yang sangat sulit untukku menyelidiki. Tapi kamu bisa melakukannya, dan untuk kasus kamu sendiri mungkin kamu harus banyak bersabar." Ucap tuan Tirta berusaha menenangkan dan meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2